Posted in harun, janatin, kko, konfrontasi, marinir, tohir, usman

Usman dan Harun



Sepasang turis bule senior ini nampaknya kebingungan. Mumpung berlibur di Singapura mereka ingin mengambil foto berdua dengan later belakang Istana Park, yaitu kawasan diseberang jalan Istana Kepresidenan Singapur. Namun tidak memiliki tripod. Saya yang kebetulan melewati mereka kemudian menawarkan “Amal Sholeh”. Dua klik, turis ini nampak bahagia bisa berfoto saling berdekapan.

Giliran turis meninggalkan tempat, anak saya terkecil minta di foto ditempat yang sama. Ceklik, ceklik, lalu ia sempat melihat plakat yang bercerita tentang perkembangan negara Singapur.

Keningnya berkerut tatkala membaca pada bagian tengah yang mengatakan negara tercinta ditulis sebagai teroris yang mengacau negara muda Singapore dengan meledakkan bangunan Mac Donald pada 1965.

Sejak bergabungnya Malaya, Singapore menjadi negara Malaysia pada 1963, Presiden Sukarno memang amat garang menentang pembentukan negara tersebut. Apalagi Indonesia masih dalam tahap euphoria dengan berakhirnya operasi Trikora mengambil Irian Barat dari tangan Belanda.

Lalu pada 3 Mei 1964 Presiden Sukarno menyanangkan gelar “Dwikora” atau Dwi Komando Rakyat yang intinya membubarkan Malaysia. Repotnya pasukan Sekutu terutama Inggris berada di belakang Malaysia sehingga diakali dengan cara memobilisasi masa untuk mengirimkan “relawan dan relawati” yang sebetulnya pasukan reguler tanpa pengenal. Lalu berduyun-duyun orang mendaftarkan diri sebagai sukarelawan untuk membubarkan Malaysia. Ibu rumah tangga yang biasa memegang kuali dan wajan penggorengan, mereka mahir baris berbaris dan menembak jitu. Untuk memasuki daerah musuh agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama di sini disesuaikan dengan nama-nama dimana daerah lawan yang dimasuki.

Demikian halnya dengan prajurit KKO Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali. Sehingga nama samaran ini lengkapnya Usman bin Haji Muhammad Ali. Sedangkan prajurit Tohir menggunakan nama samaran Harun, dan lengkapnya Harun bin Said. Dengan nama samaran ini Usman, Harun dan Gani melakukan penyusupan ke daerah Singapura untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian tempat-tempat yang dianggap penting.

Pada 10 Maret 1965, di sebuah gedung “MacDonald” kawasan Orchard Road mereka berhasil memasang bom waktu. Bom Meledak pada kantor Hongkong dan Shanghai Bank pada pukul 15:07 sore menewaskan dua orang Cina dan seorang Melayu serta menyederai 33 orang lainnya. Inilah bom meledak dalam skala besar sebab masih banyak bom-bom kecil meledak seperti di Geylang Serai – Block 1 Jalan Pasar Baru.

Gani sempat meloloskan diri sementara dua prajurit KKO yang menyamar pedagang agar bisa masuk ke Singapura berhasil ditangkap yaitu Usman dan Harun. Sebenarnya mereka berdua berhasil meloloskan diri dengan berpura-pura menjadi pelayan pada kapal Begama yang akan berlayar ke Bangkok. Namun kapten kapal yang mengetahui mereka bukan awak kapalnya segera mengusir mereka sebab berita peledakan tersebut sudah menjadi buah bibir dunia.

Mereka tahu bahwa kemungkinan lolos sudah sangat kecil sebab Selat Malaka sudah seperti dipagar betisi oleh pasukan pemburu. Sebuah motor boat yang berlabuh segera dirampas.

Namun dalam perjalanan ke pangkalan di Pulau Sambu, nasib apes menimpa mereka berdua, mesinnya mati ditengah laut dan keburu dikejar patroli dan ditangkap pada jam 9:00 13 Maret 1965. Seperti biasa kalau sudah masuk ke departemen “diplomatik” kita banyakan gagal entah itu upaya menyelamatkan nyawa atau pulau.

Pada jam 05:00 pagi setelah sembahyang subuh mereka lalu dibius, nadinya diputus agar lumpuh dan dalam keadaan tak sadar lalu di gantung pada tanggal pukul 06:00 pagi 17 Oktober 1968 di penjara Changi. Pesawat AVIA VIP yang menjemput peti jenasah diberi waktu untuk mendarat atara jam 09:00-9:30 dan harus bertolak pada jam 11:30. Kerewelan terjadi saat peti hendak diselimuti bendera merah putih, pihak Singapur memprotes. Untungkah ada seorang Melayu di penjara Changi yang bersimpati dan memungkinkan bendera merah putih dipakai.

Kedatangan peti mati berselimut bendera merah putih ini disambut dengan rasa emosional sebagian rakyat Indonesia.

Alwi Shahab dalam koran Republika mengenang:
Setibanya kedua jenazah di Tanah Air, kedua prajurit KKO dianugerahi Bintang Sakti dan diangkat sebagai pahlawan nasional. Pangkatnya dinaikkan satu tingkat. Dalam perjalanan dari Bandara Kemayoran ke Markas Hankam di Merdeka Barat, untuk memberikan penghormatan, ratusan ribu rakyat yang datang dari berbagai tempat banyak yang mengeluarkan air mata. Demikian pula ketika jenazah diberangkatkan dari Hankam ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Diperkirakan satu setengah juta atau sepertiga dari penduduk Jakarta waktu itu, tumplek ke jalan-jalan yang dilewati jenazah untuk memberikan penghormatan. Pada acara pemakaman banyak prajurit dan perwira KKO yang meneteskan air mata. Demikian meluapnya emosi dan kemarahan rakyat pada Singapura.

Panglima KKO Mayjen Mukiyat menegaskan, ”kalau diperintah KKO sanggup merebut Singapura.” Sedangkan ketua MPRS Jenderal AH Nasution juga tidak dapat mengendalikan emosinya. ”Penghinaan lebih dari permusuhan,” katanya penuh kemarahan. Bahkan Nasution menegaskan, dalam masalah kehormatan bangsa, tidak boleh perhitungan-perhitungan dagang dijadikan pertimbangan.

“Usman” kelahiran Tawangsari, Purbalingga, 18 Maret 1943, yang nama aselinya adalah Janatin bin Haji Muhamad Ali dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Anumerta KKO, sedangkan “Harun” yang nama aselinya Tohir bin Mandar, kelahiran pulau Bawean 4 April 1943, dianugerahi pemerintah sebagai Kopral Anumerta.

Catatan mengenai militer Indonesia memang tidak main-main. Pertama mengambil alih Irian Jaya dengan Operasi Trikora dan usaha menggagalkan pembentukan Malaysia, lalu invasi Timor Timur membuat beberapa negara tetangga “jiper“.

Dalam poll di Australia misalnya, separuh lebih rakyat sana menganggap Indonesia bukan tetangga yang baik untuk hidup bersama.

Tidak heran Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan bersenjata perlu “diperhitungkan” – upaya memperlemah kekuatan militernya selalu dilakukan. Baik dengan cara embargo penjualan peralatan militer ke Indonesia atau melalui penekanan dari dalam yaitu kelompok LSM dengan senjata andalannya HAM, misalnya, untuk mengucilkan tentara Indonesia di mata dunia.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

6 thoughts on “Usman dan Harun

  1. nama saya fariz…
    cucu dari pahlawan KKO Usman Janatin.
    Beliau adalah orang yang keren…
    Mbah saya pernah bercerita tentang perjuangan adiknya itu…

    Like

  2. salut pada fariz yang punya kakek gagah berani… salut KKO… salut Detasemen Jalamangkara, Salut buat TNI keseluruhan…

    Like

  3. saya juga salut dan bangga atas jasa para pendalulu kami,jaya negeriku ……jayalah INDONESIA!!!!!!!!!!!!

    Like

  4. dalam masalah kehormatan bangsa, tidak boleh perhitungan-perhitungan dagang dijadikan pertimbangan, Salam hormat dan bangga atas jasa pahlawan Usman dan Harun yang tetap setia dan tabah untuk kehormatan dan kejayaan bangsa Indonesia

    Like

  5. salut untuk Usman, Harun dan Gani . Apa yang telah mereka lakukan bisa menjadi pelajaran bagi kita.
    bagai manakah nasib gani ? apakah berhasil lolos dan bagai manakah ceritanya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s