Posted in jlagran, ketandan, mimbar, nasi goreng, yogyakarta

Nasi Goreng Ketandan Yogyakarta


Nasi Goreng yang tak putus dirundung pelanggan setia sampai antri

Bondan Winarno pernah menyebut warung bakmi bersahaja “kareman” alias kesukaan almarhum Umar Khayam ini sebagai bakmi “sepuluh lagi” – pasalnya, sekalipun nama warungnya adalah Ketandan dan ber TKP di jalan Jlagran (300 meter ke utara pertigaan PKU Muhammadiah), namun pembeli yang berjibun membuat pemesan bakmi atau nasi goreng akan di”semayani” (jawab), masih sepuluh piring lagi yang harus dibuat sebelum giliran anda tiba.

Dua anglo arang membara seperti kewalahan melayani masakan porsi per porsi. Letikan bunga api yang meledak sambil berterbangan sekitar arena masak, bau bawang putih yang harum memang ciri khas masakan ini.

Bagi “Poh” – sang juru masak, membuat makanan secara “kodian” akan menyebabkan cita rasa masakan menjadi luntur. Akibatnya, seperti halnya pada bakmi Kadin, anda harus mengikuti tradisi, pasrah van Yogya.

Secara kebetulan saya menscanning warung ini ketika melihat kumpulan orang terutama warga keturunan berkumpul di sebelah barat jalan Jlagran.

Lalu mengamati cara lelaki yang konon masih saudara Hary Tjan Silalahi ini, mempersiapkan nasi goreng sambil terkadang mengangkat penggorengan dari perapian dan menggoyangnya agar masakan tidak melekat pada penggorengan. Sreng, sreng, tok – suara sendok penggorengan diadu dengan wajan agar nasi yang lekat terlepas masuk wajan kembali. Sebuah pemandangan yang menambah nilai sebuah masakan dimata saya. Istrinya, mempersiapkan kekian, irisan ayam, untuk giliran selanjutnya.

Saya mendengar seorang ibu menyebutnya Profeson Poh sambil bercanda tentunya.

Lalu tidak lama kemudian seorang ibu merengut “gi(g)mana siyh, kemarin da(k) teng bakmi sudah abiz, sekarang abiz lagi.”

Ketandan adalah kawasan bisnis dipusat kota Yogyakarta, serupa dengan Glodoknya Jakarta. Saya selalu menggunakan parameter kandungan kaum pebisnis ini untuk menilai sebuah restoran. Kalau anda tidak menyukai suasana berisik dan pengap, sebaiknya pesan dan bungkus masakan ini untuk dinikmati di rumah.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Nasi Goreng Ketandan Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s