Posted in bibis, clash, mimbar, sate, sigit, soeharto, suharto, tongseng, Yogya

Tongseng Soraren van Pasar Bibis Yogya – kegemaran pak Harto


Kursi yang papannya mengkilat karena kerap diduduki

Siapa mengira bahwa bangun kedai teramat sederhana ini dulu tempat mantan orang nomor satu kita Soeharto menghabiskan waktunya sambil menyantap tongseng, gule dan teh manis hangat dan wangi.

Atau logikanya kita putar, barang siapa ingin hidupnya tenar, maka makanlah sate dan tongseng daging kambing racikan kedai bersahaja ini. Sengaja saya tulis urusan “hokkie”  lantaran bangsa kita kalau sesuatu ada urusan dengan Hokkie, bakalan dikejar sampai manapun.

Di ujung pasar Bibis – Godean Yogyakarta saya melihat sebuah warung tongseng entah mengapa tertarik untuk memasukinya. Pintu masuknya sekedar papan yang disusun tegas bersebelahan. Saya ingat dengan papan amben (ranjang) yang biasa dipasang dibawah  kasur jaman dulu, atau kemiripan dengan usaha bengkel sepeda jaman beheula.

Ibu ini pewaris "gubug reyot" - sangat bahagia sepanjang hayatnya pernah menemani sang ayah ke Cendana

Warung nampak sepi, padahal jam makan siang sekitar pukul 13:00 siang.

Seorang lelaki kecil kurus berkaos oblong “bermerek” sebuah ban sepeda, ditemani isteri dan seorang anak kecil nampak menanti kedatangan pembeli.

Lalu saya pesan Tongseng pada bu Warso, yang mengaku bahwa ia dan suaminya meneruskan usaha sang ayah, Karta atau lebih dikenal pak Senen.

Pak Senen sendiri  sudah berusia lanjut yaitu 90 tahun lebih banyak waktunya dihabiskan dipembaringan.

Iseng saya menanyakan nama resmi warung ini. Ternyata sejak didirikan tahun 1948-an, pak Senen tidak pernah memberi nama pada warungnya kecuali kecuali para tetangga menyebutnya warung SORAREN.

Ini bahasa Jawa dari Ngisor Aren alias bawah pohon Aren (kolang kaling, buah atep, betawi). Bahkan sebelum ganti jalur sate, pak Senen terlebih dahulu dikenal sebagai pengolah masakan Tahu Campur yang kondang.

Sambil mengamati ruang seluas 3×3 meter, beratap genting dengan empat buah genting kaca sehingga cukup untuk penerangan ruangan.  Dua buah bangku kayu besar, mengkilat karena digesek ribuan kali mengalami jaman pendudukan sampai kini oleh pembeli. Lalu saya memperkirakan dimana jejak pak Harto pernah duduk disini. Terbayang senyumnya sehinga ia digelari The Smiling General. Seperti juga penduduk Blitar terhadap bung Karno, penduduk sini sangat hormat menyebut pria yang pernah memperkenalkan kampung halaman mereka.

Dinding anyaman kulit bambu (gedeg) yang besar dan hanya dikapur putih seperti memperkuat dugaan bahwa pemilik warung ini bisa jadi memang sudah terlalu letih mengais nafkah di bidang sate dan tongseng.

Saya memesan 10 tusuk sate dan tongseng sambil memasang mantera untuk mengorek informasi dari seseorang.

Jujur saja, saya agak grogi kalau harus berbahasa Jawa. Ketiak saya rasanya basah. Kalau pakai baju putih lantas dipotret pasti seperti mengenakan baju tambalan di bawah ketiak. Sialnya dari tulang ekorpun seperti soldaritas aksi meneteskan asam keringat. Orang Jawa menyebut keadaan seperti ini dengan “ngetuk” alias ketiak sesubur mata air (tuk)

Tiba-tiba mata saya seperti mau copot dari frame ketika melihat suami bu Warso, dengan sigap menusuki daging tebal tidak menggunakan tusukan bambu melainkan besi jari-jari sepeda. Sebuah jaminan bahwa potongan dagingny pasti gede. Dan tak sengaja saya menemukan sate kondang dari Yogyakarta – yaitu sate Klathak yang biasanya dijajakan di kawasan Bantul, Yogyakarta.

Belakangan saya kecewa karena, saat dihidangkan sang daging merah dengan irisan bawang merah dalam jumlah “melimpah ruah” plus aroma sedikit segar campur sangit hasil reaksi fisika dengan arang batok kelapa, ternyata daging panas dihidangkan tanpa tusuk (jari-jari sepeda). Jadi urung untuk memotret sang klathak. Grrrh.

Saat menghidangkan teh panas kental beraroma melati dan rasa sepat segar, bu Warso bercerita bahwa pak Senen membuka warung ini pada 1946-an yaitu saat berakhirnya “clash” dengan Belanda.

Orang Yogya, selalu menyebut kata “clash” dengan penuh tekanan heroik. Biasanya orang demikian terlibat memanggul senjata dalam perang gerilya melawan Belanda.

Setelah clash, Pak Harto berjuang menjadi militer sementara bapak kulo (saya) berjuang menusuk sate dan tahu guling,” katanya sambil menunjukkan deretan gigi yang ompong.

Rupanya pak Senin ini teman sepermainan pak Harto di kawasan pasar Bibis, Yogyakarta, sehingga iapun sering makan di warung sederhana tersebut.

Deretan nama besar pernah menghias sejarah Indonesia adalah alumni pasar Bibis Godean selain pak Harto, juga Kardono, Karsono dan Bardosono.

Kulo pernah nemanin bapak kulo menghadap Cendana (Jalan Cendana Menteng), rapat pembubaran panitia perkawinan Mas Sigit. Kami membawa angkring lengkap ke istana, bersama pasukan tahu guling, bakmi godog semua makanan favorit pak Harto dari kawasan pasar Bibis.”

Waktu kami memasak, ibu Tien datang dan berbisik Hayo pada Wijik (cuci tangan) – cuci tangan-, Bapak sebentar lagi rawuh (datang), tentunya karena kegemaran pak Harto menyalami orang kecil. Sebuah pelajaran kecil, disamping menghormati pembesar, Bu Tien menanamkan pelajaran bahwa cuci tangan adalah urusan besar.

Maka semua juru masak bersiap untuk bersalaman dengan pak Harto dari pintu depan rumah Sigit Suharto. Yang tidak diduga, justru yang ditunggu-tunggu datang dari arah dapur,” kata bu Warso sambil mengusap bintik air matanya, nampak ia tak kuasa menahan rasa bangga dan haru bahwa masakannya pernah diangkut ke Cendana.

Pikulan ini saksi sejarah pernah jalan-jalan ke Cendana, kini renta menunggu kehancuran

Pengalaman lain adalah, saat berada di jalan Cendana, semua peralatan masak yang tajam dan berkilat berjejer panjang tersedia.

Suatu ketika bu Warso bermaksud mengambil pisau untuk memotong daging.

Sambil berjalan tertunduk dengan penuh takzim.

Namun ia rada kebingungan, maklum bermacam pisau mengkilat tersedia disitu.

Mulai dari pisau fillet, pisau pemotong, pisau pembelah yang tak ia pahami cara penggunaannya.

Di sela kebingunganya tiba-tiba ada suara kecil dalam bahasa jawa “aja wedhi aja wedhi..” – jangan takut, jangan takut.

Hampir saya menjerit, ternyata suara burung beo kesayangan keluarga Cendana,” lagi-lagi tawanya putri kedua dari dua anak pak Senin ini terdengar berderai campur isak terharu.

Rasa tongsengnya cukup lembut dengan kuah yang kental akan rasa kecap manis. Potongan daging sate cukup besar, sekalipun produksinya cukup lama, sesuai dengan motto kepasrahan Jawa. Satenya sendiri tidak menunjukkan masakan istimewa, kadang saya tergigit daging liat.

Sebelum berpisah, saya sempat diajak menengok ke kamar bagian belakang untuk memotret Angkring (pikulan) yang pernah dibawa ke Cendana. Angkring yang teronggok tak berarti ini, bagi mata yang jeli akan menjadi barang antik yang bernilai jutaan rupiah dikemudian hari.

Ada yang tertarik memburunya?. Mudah-mudahan dapat membantu Warung pak Senen alias Soraren alias Tongseng Soeharto agar bisa di renovasi dari kehancuran dimakan usia setua pemiliknya yang kini terbaring sakit uzur.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

6 thoughts on “Tongseng Soraren van Pasar Bibis Yogya – kegemaran pak Harto

  1. sangat mengesankan, pak Senen sahabat pak Harto ini ternyata tidak memanfaatkan kedekatannya dengan sahabatnya ini, biasanya kedekatan atau persahabatan dapat menguntungkan, mudah-mudahan pak Senen sehat kembali, mungkin mbak Tutut dapat membantu.

    Like

  2. saya waktu masih di yogya juga sering beli tongseng atau sate di warung ini.. karena keluarga kami memang suka dengan rasanya yang khas. dan kebetulan rumah kami tidak terlalu jauh.. saya tinggal di sembuh kidul, sidomulyo, sebuah dusun di samping Lapangan Sawo.

    Like

  3. Kula Bowo.. Gancahan 5 …. masa kecil saya habiskan di desa ini….. 17 tahun merantau di jakarta… walau sekarang gancahan sudah banyak berubah…. tapi banyak tempat kenangan yang membuat saya selalu kangen kampung halaman…. Hampir tiap hari saya melewati pasa bibis…. krn sekolah saya di SD Bobkri 2 .. gancahan 8… di blog, saya juga menuliskan tentang kenangan2 indah masa kecil..
    baik artikel saya sendiri maupun saya ambil dari orang lain….. Blog Mimbar saputro memberi inspirasi bagi saya untuk semakin rajin membuat tulisan tentang kampung halaman…. supaya anak cucu nanti tau sejarah orang tuanya….. Salam … Bowo…
    http://ariarmy007.blogspot.com
    http://army0072003.blogspot.com.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s