Posted in candu, gaya hidup, nikotin, rokok

Tuhan Sembilan Centi – Taufiq Ismail


Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok

Di sawah petani merokok
di pabrik pekerja merokok
di kantor pegawai merokok
di kabinet menteri merokok
di reses parlemen anggota DPR merokok
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok
di perkebunan pemetik buah kopi merokok
di perahu nelayan penjaring ikan merokok
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta
diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru
diam-diam menguasai kita

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap
rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan
bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala
kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok
dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC
penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.

Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu
‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada
zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada
rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi
itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang
mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari
ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan
lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan
longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Advertisements
Posted in hospital, kanker, leukimia, singapore, singapura

Kepingin Gorok Leher Sendiri


Anak saya mengirim email, Pah ! Eyang dan Oom, Tante ada di Apartemenku keperluan mengantarkan cucunya ke Rumah Sakit Singapura – untuk pemeriksaan darah cucunya. Rupanya saat kebingungan mencari apartemen buat menginap selama perawatan, eyang salah satu famili ini saat duduk di teras rumah sakit baru ingat bahwa saya mempunyai anak di Singapura.

Sekalipun tidak memiliki nomor anak saya, untunglah sekarang jaman SMS dalam beberapa menit anak saya sudah terhubung dan dia mengajak eyang sebut saja (Tatik)-nya untuk sharing di kamarnya. “kamarnya kecil eyang, tapi sementara mencari apartemen saya pikir memadailah.”

Lalu kepada eyangnya diajarkan bagaimana cara naik bis gratis yang melalui halte di Holland Drive, apartemennya,  dengan tujuan rumah sakit atau menggunakan bis biasa dengan biaya delapan puluh sen (Rp. 4000).  Namun dasarnya orang Indonesia selalu cari praktis, mereka lebih suka menggunakan Taxi.

Bahkan tatkala diberitahu untuk menggunakan “Phone Card” seharga sepuluh dollar buat menilpun ke Indonesiapun selama tiga jam merekapun tidak sabar harus menekan nomor tertentu, memasukkan kode PIN. Akibatnya handphone Indonesia roaming dari Singapore ke Indonesia. Lalu oleh anak saya disiapkan nomor Singapore. Lagi-lagi alasannya nomor baru ini susah dihapal oleh pemilik maupun keluarga di Indonesia. Bisa dimaklumi keadaan panik, eyang-eyang pula. Sudah bagus demi cucu dan anaknya ia rela berkorban uang dan tenaga.

Tetapi kami yakin sejalan dengan waktu, keluarga ini akan belajar menyesuaikan diri dengan cara hidup Singapura.

Cucunya diperkirakan harus tinggal di Singapura untuk perawatan selama dua tahun. Pasalnya menurut dokter setempat banyak pasien yang dinyatakan sudah sembuh di Singapura ketika dibawa ke Indonesia langsung kambuh lagi.

Apalagi mamanya si sakit masih meninggalkan bayi kembar delapan bulan di tanah air. Mirip kata Shakespeare, “bila kesusahan sedang menghampiri kita, datangnya satu batalion.

Dugaan sementara saat pasien kembali ke Indonesia, merasa sudah bebas 100% lalu makan tidak teratur, mengonsumsi makanan yang sudah di”nget” dipanaskan kembali, makanan terawetkan seperti mie instan, berbahan pengawet, makanan fermentasi seperti tempe, tape, oncom. Bagi  yang sensitif mampu memicu kembali datangnya kanker. Penderita kanker harus makan masakan baru dimasak.

Kedua orang tua si sakit yang dokter spesialis saat berada di Singapura sempat terheran ketika operasi pengambilan contoh tulang sumsum biasanya di Indonesia menimbulkan trauma lantaran sakit. Di Singapura, bocah polos ini malahan seperti tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya sibuk menonton Video kartun dan bertanya mengapa TV di Singapura tidak ada sinetron si Eneng.

Satunya keluhan adalah perawatnya kalau bicara pakai bahasa aneh. Niat perawat sih “mengudang.. ta.. liu… lia.. liu ” tetapi sianak merasa aneh ditelinganya.

Untungnya banyak juga pasien kanker lain dari Indonesia sehingga sisakit dan keluarganya tidak merasa terpencil. Ada yang yang sudah bertahan selama 13 tahun. Mereka inilah yang menghibur keluarga yang baru tertimpa musibah.

Biaya perawatan sudah diberitahukan pihak rumah sakit sebesar 650 juta uang Indonesia. Ini kelebihan rumah sakit di Singapura yang sudah langsung memberitahu biaya, begitu kita berhadapan muka dengan dokter ahlinya.

Biaya tersebut tentunya belum biaya penginapan sehari-hari di Singapura.

Tidak heran seorang keluarga pasien sebelah mengatakan “kadang kepingin begini nih,” sambil meletakkan telunjuknya dileher dan menggerakkannya dari kiri ke kanan. 

Posted in pengarang, penulis

Mission Comes First


Pengarang buku Thieves of Bagdad, Matthew Bogdanos, seorang kolonel pemegang penghargaan “bronze star” dari satuan Marinir  Amerika, petinju amatir, ahli filsafat, ahli hukum, juga ahli strategi militer ini memiliki kisah masa kecil yang selalu dikenang olehnya. Bagi umumnya pria Yunani memasak adalah hiburan.  Di New York ayahnya yang berdarah Yunani membuka restoran masakan Yunani. Sesibuk apapun hari, selalu ada waktu yang diluangkan oleh ayahnya untuk bermain dengan anak-anak lelaki mereka, dua diantaranya kembar.

Restoran milik ayahnya selalu mengosongkan meja nomor satu. Karena anak-anaknya harus mengerjakan PR di meja tersebut. Bagi ayahnya sekolah hanyalah merupakan bagian dari bermain sang anak. Ia tidak menuntut terlalu tinggi kepada anak-anaknya. 

Kadang-kadang ada pengunjung yang justru membantu kesulitan mereka mengerjakan PR terutama matematika. Salah satu pengunjung kelak menjadi Hakim legendaris New York masih mengingat saat mengajari Matthew, 8 tahun, sehingga dalam sidang resmi dikemudian hari, pak Hakim terkadang menyelipkan joke soal mengajar matematika. 

Hari Jumat malam adalah hari sibuk untuk restoran mereka. Matt kecil membantu mengambil daftar pesanan makanan, lalu diberikan ke orang tuanya. Duplikasi bon atau pesanan ditusukkan pada sebatang paku tegak yang didirikan diatas sepotong papan. Peralatan standar pada kedai makan kecil ataupun pedagang beras dipasar-pasar tradisional. Karena pesanan silih berganti beberapa lembar pesanan ditumpuk lalu ditekan agar bagian tengah bon tertusuk ujung paku yang runcing.  Namun karena cukup tebal, tidak semua kertas tertusuk. Dengan telapak tangannya, kertas-kertas tadi di “tepak” sambil ditekan keras-keras pakai telapak tangan sampai , bles,  semua bon  tertusuk seperti sate. 

Tahu-tahu ujung paku yang runcing sudah muncul dibelakang punggung tangannya.

Sebelum darah sempat mengalir mengenai makanan, ayahnya datang menyerbu dan menarik tangan anaknya yang tertembus paku menuangkan Clorox (sejenis obat luka baru). Selesai dibebat, tangan anaknya dicium  oleh sang ayah sambil berkata :” Meja Tiga Belas Sudah Menunggu Masakan..

Sambil kesakitan dan menahan rasa ngilu, ia mengambil piring kosong dengan tangan yang lain. Lalu ia menoleh kepada ibunya minta simpati. Ibu langsung mendekatinya memeluknya sambil mencium dahinya membisikkan, :”jangan lupa meja tigabelas juga perlu air minum.

Bacaan Matt dikala kecil adalah “Illiad” – ia juga sangat mengidolakan Hector yang akhirnya harus bertarung dan kalah terhadap Achilles. Hector tahu bahwa melawan anak Dewa dia tidak akan berdaya. Tetapi bila Hector menghindari musuhnya dan mendahulukan keluarga, namanya tidak akan pernah dikenang oleh dunia dan dilecehkan sebagai mangkir dari tugas dan tanggung jawab.

Berangkat dari apa yang diperoleh masa kecil, maka Matt belajar bahwa sesibuk apapun, tugas utama harus dilakukan dengan menyampingkan kepentingan pribadi. Ini yang dilakukannya kendati apartemennya hancur pada saat peristiwa 9/11 ia harus mengungsikan seluruh keluarganya ke rumah mertuanya. Tugas sebagai anggota anti teroris memanggilnya untuk terbang menuju Baghdad.

Posted in blog

Pindah Weblog


Selain di Wikimu berbalas komentar, diam-diam saya, mbak ari, mbak nawita, mbak Agnes, mbak Daun, Surex dan beberapa wikimuer sering mojok melalui forum Friendster.

Disini kami jual beli foto, joke recycle dan “reseh” yang tidak mungkin dimuat di Wikimu. Lalu mbak Ari bilang bahwa ia sedang memindahkan blognya ke wordpress. Katanya lebih flexible, headernya bisa di customize dibandingkan blog lainnya. Saya dasarnya penganut mahzab “email atau blog” cukup satu agar tidak membingungkan sehingga masih masuk mode “pikir-pikir” untuk berpindah. Namun setelah beberapa kali blog saya memang mengalami gangguan, mungkin sudah terlampau penuh anggotanya sehingga tergoda untuk mengikuti petunjuk mbak Ari mengenai cara mengimport dari satu blog ke blog lain.

Ternyata rekomendasinya cespleng, mengimpor lebih dari 1000 artikel saya hanya dalam hitungan detik termasuk gambar, foto dan komentar pembaca. Semua sudah dicopy sehingga sekarang saya memiliki dua blog.

Lalu kabar gembira ini melalui Friendster saya sampaikan kepada mbak Ari.  Dan dibalas dengan laporan bahwa ia “ngekek” melihat sebuah kaos para blogger berbahasa Jawa yang artinya kira-kira, “semua orang punya blog, lantas siapa yang mau baca.” – Tetapi dijawab sendiri bahwa weblog adalah buku harian elektronik sehingga dimana saja kita bisa memperbaharui isinya. Lalu bisa dipilih yang sekiranya bisa menjadi konsumsi publik. 

Dengan Weblog ini ilustrasi foto bisa dikirim guna mendapatkan link sebab di Wikimu untuk memuat foto lebih dari satu, anda harus mengisikan link dan bukan nama file gambar. Kelebihan lain saya memiliki cadangan artikel sekiranya sedang mengedit di Wikimu tiba-tiba terjadi “error” dan permintaan maaf untuk mengulang lain kali.

Dengan weblog segalanya menjadi mudah.

Posted in kertas, pulp

Kertas


  Suatu ketika bekas perusahaan saya kedatangan pejabat dari Perancis yang berdarah Belanda. Sebut saja namanya Lexi.

Karena banyaknya pekerjaan audit yang harus ia lakukan di kantor kami terpaksa makan siangnya  hanya dipesankan dari restoran untuk diantar ke kantor kami. 

Rupanya pihak restoran tidak menyertakan serbet tisue sehingga pembantu kantor segera membawakan segulung tissu baru yang langsung membuat wajah Lexi merah padam.  Pembantu sederhana kami ini sehari-hari mengenal tissue hanyalah kertas “toilet” yang digulung. Bukan serbet tisue.

Pejabat tadi langsung melaporkan hal tersebut kepada pimpinan saya. Terang saja orang kecil macam bu Aci akan gemetar, pucat pasi ketakutan sebab dia tidak pernah menyangka bahwa hal tersebut dianggap kurang pantas.

Lalu saya katakan kepada ibu Aci bahwa yang menurut kita biasa-biasa saja, tetapi bule menganggap seperti membawa sayur dalam pispot.

Kalau menyaksikan container suplai dinaikkan ke rig pengeboran kami, maka diantara bungkusan daging, sayur, buah akan nampak menonjol kotak-kotak kartun bertuliskan Huhtamaki. Isinya cangkir kertas, tissue makan, handuk gulung kertas, piring kertas. 

Sekalipun kebijakan menggunakan kertas oleh Rig sudah digantikan file dalam bentuk PDF dari Acrobat atau penyedia lain, namun bukanberarti kebutuhan akan kertas tidak meningkat. Yang belum bisa digantikan oleh komputer adalah usai makan mereka lebih suka membawa cangkir kertas (dan harus bertutup) ke ruang hiburan. Sebelum seseorang menyentuh makanan sekalipun pakai sendok dan garpu dan pisau, ada keharusan untuk cuci tangan. Maka lagi-lagi handuk kertas dipakai secara terus menerus.

Kertaspun masih terlibat dalam urusan untuk mengeluarkan sisa makanan, karena para bule tidak pernah wawik (cebok) dengan menggunakan air seperti layaknya kita di tanah air, maka kertas tissue lagi-lagi banyak dipakai disini. Belum lagi setiap hari helikopter membawa berpuluh kilo koran untuk bacaan orang rig.

Tak heran pabrik pembuat pulp di Indonesia, seperti Riau, tak habis-habisnya menggenjot produksi mereka untuk memenuhi kebutuhan dunia. Sayangnya kita juga disalahkan dunia  sebagai merusak hutan dengan kecepatan yang mengerikan.

Picture http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a5/Toiletpapier_%28Gobran111%29.jpg

Posted in ayam jago, demonstrasi, monyet

Korbankan Ayam untuk menakuti Monyet


en. “Monkeys are very intelligent animals. Although they can be easily trained, they are often disobedient. Years ago in China, when a monkey did not obey, the trainer would kill a roooster in front of the disobedient monkey to frighten them.

Saya kuatir gerakan moral “demokrasi” di Yangoon akan dihadapi dengan kekerasan senjata. Apalagi kalau junta militer di Rangoon menggunakan Strategi Perang Sun Tzu yang ke 23 yakni Korbankan Ayam untuk mendesak Monyet. Teman saya mengirim email (sebelum ditutup), bahwa kantornya sementara akan dipindahkan ke Bangkok atau Jakarta sementara menunggu kondisi mereda. Ia juga mengatakan tentara sudah mulai mengarahkan moncong senjata otomatisnya ke arah para protestan atau protester yang juga semakin militan.

Monyet adalah binatang cerdas, ia bisa dilatih untuk melakukan apa yang kita inginkan. Memetik kelapa, memetik teh, melakukan akrobat bahkan ekspedisi ke luar angkas menggunakan binatang ini. Namun karena kecerdasannya pula binatang ini cenderung mengukur batas kesabaran pelatihnya.

Ratusan tahun lalu, di Cina, orang akan membantai seekor ayam jago di depan monyet pembangkang. Diharapkan mendengar teriakan dan geleparnya ayam yang malang membuat nyali monyet menciut sehingga mudah untuk dikuasai.

Pada tahun 1989 ketika terjadi demonstrasi mahasiswa di lapangan Tiananmen, mula-mula pemerintah Cina melakukan upaya dengan berunding. Bulan Mei 1989, pemerintahan masih memberikan toleransi atas simpati yang diberikan oleh pers kepada gerakan pro demokrasi. Namun ketika elemen pers ikut bergabung dalam rally-rally menentang pemerintah, maka dikeluarkanlah jurus ke 23 seperti diatas.

CNN yang berada di lapangan langsung didatangi tentara dan diperintahkan dengan paksa untuk mencopot pemancarnya. Penyiar Dan Rather dari CBS langsung dibekap ketika sedang ditengah siaran.

Pemerintah Cina waktu itu tahu, bagaimana reaksi dunia terhadap wartawan kulit putih yang dikirimkannya, isue kemanusiaan, isu kebebasan pers akan membanjiri meja para pejabat yang terkait. Sementara pemerintah Cina sengaja menyampaikan pesan keras dengan mengorbankan wartawan barat, sebagai ayam jantan.

Ketika penyembelihan ayam jantan belum membawa hasil, maka pada 4 Juni 1989 dilakukan pembantaian sesungguhnya di lapangan Tiananmen. Maksudnya jelas untuk membuat rakyat Cina sebagai monyet yang mudah di kontrol. Bagi pemerintah Cina, nilai barat tidak selalu harus dikunyah mentah-mentah sebab belum tentu sesuai dengan nilai masyarakat setempat.

Posted in pasti, sekolah, sosial

IPA vs IPS menang mana?


Pulang sekolah di sebuah SMA di kawasan Lapangan Banteng, putri sulung saya membawa sepucuk surat dari gurunya berupa undangan rapat disekolah. Topiknya adalah mendiskusikan jurusan yang akan dipilih anak pada saat kenaikan kelas nanti.

Pada hari yang ditentukan, dibilangan sekolah yang tetap mempertahankan keasliannya, saya menemui wali kelas. Rupanya beliau ingin menggali lebih dalam, mengapa anak saya yang seyogyanya masuk IPA malahan keukeuh IPS. Apakah ada tekanan dari orang tua, atau ada permintaan dari seseorang.

Saya hanya bilang, “kalau anak saya merasa sreg di IPS, sekalipun saya ingin anak saya menjadi dokter, saya pasrahkan keputusan pada anak.”

Tidak terima dengan alsan saya sang Wali kelas masih terus berjuang mendorong anak saya masuk IPS. Kali ini dengan bau-bau  “intimidasi.”  Misalnya saat mengajar, sambil wajahnya menuju kearah putri saya – beliau selalu menambahkan instruksinya dengan kalimat  “coba anak yang IPA tapi pinginnya IPS maju kedepan.”

Setali Tiga Wang tiba di rumah sang eyang, Tante,  Oomnya semua mencoba membelokkan anak saya ke jalan yang benar.

Mereka heran ada orang tua dan anak sama “gebleknya” bercita-cita cetek “cuma” IPS. Apa dunia mulai kiamat? Arghh.

Sekalipun saya secara diploma adalah ahli perminyakan, namun saat menuntut ilmu di SMA II Tanjung Karang Lampung – jurusan saya adalah Sosial.  Kami saling tos-tosan dengan teman sebab sohib sepermainan semua masuk ke jurang IPS.  Tetapi ada nasib yang tidak disangka. Setiap saya bermain dijalan, saya selalu bertemu dengan bapak Syafrudin Kadaan (guru Bahasa Inggris SMS II) dan guru lain , saya masih ingat seragamnya ala Safari, perokok berat.

Setiap beliau melewati rumah saya, saya selalu memberi salam Selamat Sore atau Selamat Malam. Dan anggukan tak seberapa, nyatanya membekas dalam pak Guru.  Cerita berlanjut, SMA II merasa bingung kenapa jumlah IPA cuma sedikit. Mereka melakukan test masuk IPA bagi yang berminat. Saya mendaftar dan bertemu dengan pak Syarifudin dan guru lain yang biasa saya tegur dengan sopan. Mungkin itulah sebabnya saya “ujuk-ujuk” pindah ke IPA.

ANAK KEDUA ASELI IPS

Anak yang kedua (cuma punya dua buah hati), atau si bungsu memang sepatutnya masuk IPS. Maka ketika saya lagi-lagi ditanya oleh pak wali kelas soal perasaan saya saat mendengar anak masuk IPS, beliaupun bengong melihat saya tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Padahal para orang tua lain sampai menekuk lutut mengatur sembah kepada para guru agar anaknya “diberi kesempatan” masuk IPA.

Diundang Mendongeng di kelas

Rupanya, berita aneh menyebar dari Lapangan Banteng sampai ke Taman Grogol.  Ib Ratna W.

Kepala Sekolah anak kedua saya mendengar laporan “keanehan” keluarga kami dan ingin berkenalan lebih lanjut. Bahkan  beliau meminta saya mendongeng didepan anak-anak SMA yang sebentar lagi harus memilih jurusan dan fakultas. Bukan perkara mudah, sebab para guru lainnya sudah siap-siap mementahkan cara berfikir saya. Sebelum memulai dongeng saya bercerita bahwa ketika orang tua lain cari sekolah SMS kalau bisa “adu pantat dengan Kejaksaan Tinggi” atau lencang kanan dengan markas besar PBNU, saya hanya membawa penggaris yang lurus.   Saya menunjuk sekolah yang dipimpin ibu Ratna untuk mendidik putra saya. Bahkan kalau Ibu Ratna bikin universitas, saya yang pertama mendaftarkan anak saya di Universitas Ibu Ratna. Belakangan saya baru “nyaho” bahwa – ucapan saya sangat membekas dibenak Ibu Ratna dan anak saya sekarang diundang untuk berbicara sebagai Alumni SMA yang tidak dipandang sebelah mata oleh kelompok sekolah Snobis.

Di depan anak-anak saya menerapkan apa yang saya pernah baca yaitu meminta mereka menyebut nama berawalan Rudy yang terkenal di Indonesia. Ternyata cara yang pernah diterapkan oleh Seto Muliadi ini berhasil. Mereka dengan cepat menyebut Rudi Habibi sebagai yang muncul dikepalanya sementara Rudi Salam, Rudi Chairudin, Rudi Suwarno dan Rudi  Hartono, disebut paling belakang sebab kurang pinter matematikanya.

Dari situ saya mulai membawa pesan, bahwa keberhasilan sesorang bukan dinilai dari matematisnya, melainkan kemampuan dan minat  paling menonjol yang dimiliki seseorang.

Kalau seorang Kris Dayanti, dipaksa masuk IPA dan dicekoki les IPA, maka kita tidak pernah mengenal Kris Dayanti. Saya memberikan ilustrasi bahwa bos-bos saya rata-rata bukan Tukang Insinyur, melainkan para lulusan IPS, Sastra yang selama ini selalu dilecehkan sebagai “masa depan sempit.”

Pengacara-pengacara kondang kita, yang kaya raya, mereka dari IPS. Bahkan Rama Mangun bahkan menduga penggolongan IPS dan IPA adalah upaya kolonialis Belanda agar para pemuda tertarik IPA dan hanya sibuk menggambar, menghitung, menjabarkan rumus matematika sehingga melupakan urusan sosial seperti membicarakan nasib bangsa.

Ternyata dongeng saya didepan anak SMA tadi ditanggapi serius oleh beberapa guru mahzab “IPA Ubber Alles” sehingga kembali anak bungsu IPS saya dipanggil. Namun ketika ia mulai mengeritik kebijakan ayahnya, anak saya langsung memberontak.

Tamat SMA IPS  anak saya rasan-rasan kepingin masuk Geologi, lalu saya tanya kesana kemari jurusan Pasti yang membuka kesempatan dari Sosial, ternyata Trisakti satu-satunya Uni yang membuka kesempatan tersebut dan saat saringan masuk. Anakpun lulus rangking pertama di Geologi Trisakti dan sampai sekarang ia betah-betah saja di sana.

Kalaupun Fakultas Kedokteran, AKABRI legawa membuka lowongan bagi anak IPS, saya yakin mereka akan mampu memanfaatkannya. Seperti kata orang tulisan yang bagus bukan lantaran pena yang mahal, namun tangan dibelakangnya.

Picture http://sci-con.org/uploads/2007/01/decision-making.jpg