Posted in pasti, sekolah, sosial

IPA vs IPS menang mana?


Pulang sekolah di sebuah SMA di kawasan Lapangan Banteng, putri sulung saya membawa sepucuk surat dari gurunya berupa undangan rapat disekolah. Topiknya adalah mendiskusikan jurusan yang akan dipilih anak pada saat kenaikan kelas nanti.

Pada hari yang ditentukan, dibilangan sekolah yang tetap mempertahankan keasliannya, saya menemui wali kelas. Rupanya beliau ingin menggali lebih dalam, mengapa anak saya yang seyogyanya masuk IPA malahan keukeuh IPS. Apakah ada tekanan dari orang tua, atau ada permintaan dari seseorang.

Saya hanya bilang, “kalau anak saya merasa sreg di IPS, sekalipun saya ingin anak saya menjadi dokter, saya pasrahkan keputusan pada anak.”

Tidak terima dengan alsan saya sang Wali kelas masih terus berjuang mendorong anak saya masuk IPS. Kali ini dengan bau-bau  “intimidasi.”  Misalnya saat mengajar, sambil wajahnya menuju kearah putri saya – beliau selalu menambahkan instruksinya dengan kalimat  “coba anak yang IPA tapi pinginnya IPS maju kedepan.”

Setali Tiga Wang tiba di rumah sang eyang, Tante,  Oomnya semua mencoba membelokkan anak saya ke jalan yang benar.

Mereka heran ada orang tua dan anak sama “gebleknya” bercita-cita cetek “cuma” IPS. Apa dunia mulai kiamat? Arghh.

Sekalipun saya secara diploma adalah ahli perminyakan, namun saat menuntut ilmu di SMA II Tanjung Karang Lampung – jurusan saya adalah Sosial.  Kami saling tos-tosan dengan teman sebab sohib sepermainan semua masuk ke jurang IPS.  Tetapi ada nasib yang tidak disangka. Setiap saya bermain dijalan, saya selalu bertemu dengan bapak Syafrudin Kadaan (guru Bahasa Inggris SMS II) dan guru lain , saya masih ingat seragamnya ala Safari, perokok berat.

Setiap beliau melewati rumah saya, saya selalu memberi salam Selamat Sore atau Selamat Malam. Dan anggukan tak seberapa, nyatanya membekas dalam pak Guru.  Cerita berlanjut, SMA II merasa bingung kenapa jumlah IPA cuma sedikit. Mereka melakukan test masuk IPA bagi yang berminat. Saya mendaftar dan bertemu dengan pak Syarifudin dan guru lain yang biasa saya tegur dengan sopan. Mungkin itulah sebabnya saya “ujuk-ujuk” pindah ke IPA.

ANAK KEDUA ASELI IPS

Anak yang kedua (cuma punya dua buah hati), atau si bungsu memang sepatutnya masuk IPS. Maka ketika saya lagi-lagi ditanya oleh pak wali kelas soal perasaan saya saat mendengar anak masuk IPS, beliaupun bengong melihat saya tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Padahal para orang tua lain sampai menekuk lutut mengatur sembah kepada para guru agar anaknya “diberi kesempatan” masuk IPA.

Diundang Mendongeng di kelas

Rupanya, berita aneh menyebar dari Lapangan Banteng sampai ke Taman Grogol.  Ib Ratna W.

Kepala Sekolah anak kedua saya mendengar laporan “keanehan” keluarga kami dan ingin berkenalan lebih lanjut. Bahkan  beliau meminta saya mendongeng didepan anak-anak SMA yang sebentar lagi harus memilih jurusan dan fakultas. Bukan perkara mudah, sebab para guru lainnya sudah siap-siap mementahkan cara berfikir saya. Sebelum memulai dongeng saya bercerita bahwa ketika orang tua lain cari sekolah SMS kalau bisa “adu pantat dengan Kejaksaan Tinggi” atau lencang kanan dengan markas besar PBNU, saya hanya membawa penggaris yang lurus.   Saya menunjuk sekolah yang dipimpin ibu Ratna untuk mendidik putra saya. Bahkan kalau Ibu Ratna bikin universitas, saya yang pertama mendaftarkan anak saya di Universitas Ibu Ratna. Belakangan saya baru “nyaho” bahwa – ucapan saya sangat membekas dibenak Ibu Ratna dan anak saya sekarang diundang untuk berbicara sebagai Alumni SMA yang tidak dipandang sebelah mata oleh kelompok sekolah Snobis.

Di depan anak-anak saya menerapkan apa yang saya pernah baca yaitu meminta mereka menyebut nama berawalan Rudy yang terkenal di Indonesia. Ternyata cara yang pernah diterapkan oleh Seto Muliadi ini berhasil. Mereka dengan cepat menyebut Rudi Habibi sebagai yang muncul dikepalanya sementara Rudi Salam, Rudi Chairudin, Rudi Suwarno dan Rudi  Hartono, disebut paling belakang sebab kurang pinter matematikanya.

Dari situ saya mulai membawa pesan, bahwa keberhasilan sesorang bukan dinilai dari matematisnya, melainkan kemampuan dan minat  paling menonjol yang dimiliki seseorang.

Kalau seorang Kris Dayanti, dipaksa masuk IPA dan dicekoki les IPA, maka kita tidak pernah mengenal Kris Dayanti. Saya memberikan ilustrasi bahwa bos-bos saya rata-rata bukan Tukang Insinyur, melainkan para lulusan IPS, Sastra yang selama ini selalu dilecehkan sebagai “masa depan sempit.”

Pengacara-pengacara kondang kita, yang kaya raya, mereka dari IPS. Bahkan Rama Mangun bahkan menduga penggolongan IPS dan IPA adalah upaya kolonialis Belanda agar para pemuda tertarik IPA dan hanya sibuk menggambar, menghitung, menjabarkan rumus matematika sehingga melupakan urusan sosial seperti membicarakan nasib bangsa.

Ternyata dongeng saya didepan anak SMA tadi ditanggapi serius oleh beberapa guru mahzab “IPA Ubber Alles” sehingga kembali anak bungsu IPS saya dipanggil. Namun ketika ia mulai mengeritik kebijakan ayahnya, anak saya langsung memberontak.

Tamat SMA IPS  anak saya rasan-rasan kepingin masuk Geologi, lalu saya tanya kesana kemari jurusan Pasti yang membuka kesempatan dari Sosial, ternyata Trisakti satu-satunya Uni yang membuka kesempatan tersebut dan saat saringan masuk. Anakpun lulus rangking pertama di Geologi Trisakti dan sampai sekarang ia betah-betah saja di sana.

Kalaupun Fakultas Kedokteran, AKABRI legawa membuka lowongan bagi anak IPS, saya yakin mereka akan mampu memanfaatkannya. Seperti kata orang tulisan yang bagus bukan lantaran pena yang mahal, namun tangan dibelakangnya.

Picture http://sci-con.org/uploads/2007/01/decision-making.jpg

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

9 thoughts on “IPA vs IPS menang mana?

  1. SAYA MSH Kls 1,sbntr lg penjurusan. saya bingung…………karena tes IQ dsrnkan d IPA tp saya brminat nd’IPS! Saya ingn IPS bkan aku tak mampu d IPA…….Tp cozsaya ingin mengentaskan nasib bangsa!
    sepandai2nya kita di IPS…..pasti akhirnya kita juga kembali pdbangsa tp kalo kt pnter IPA…..bza2 kta lupa,durhaka ma bgsa sndiri. ya khan?

    Like

  2. saya c pngen ipa.. tapi pas penjurusan dpet ips pdhal nilainya beda dikit.. ya akhirnya setelah dipikirkan ips juga ga jelek krena bos2 juga pada lulusan ips..

    Like

  3. emmmmmmmmmm jhony g’ usah bgg n kcewa gthu dong, you it dr kt2nya nrima IPS coz terpaksa, n Q fikir U akan lebih maju dg kamu berlapang dada.
    mank sich aku pernah hancur gara2 ne
    bayangkan ja neeh, Q yg sdari SD pnter eksak, tes IQ 109 tp pd saat SMA aku gak ada motivasi coz aku hidup sndri,ortuku merantau. jdnya aku wogah2an blajar alhasil dech aku kena IPS Aku……………… hancur!
    tp wat apa sich nd’IPA lok pnternya g’ selangit? wuhh bikin sepet n lecehan org luar aja. ya gak ya?

    Like

  4. hey..hey..
    hrusnya kalian tu bangga terhadap ips,,
    cba liat IPA mreka tdk konsisten terhadap pendirian mreka slama 2th blajar, akhir2nya mereka mengambil lahan ips di setiap univ negri, jdi lah.. tdk ada keadilan trhadap ips,,

    buat para rektor univ negri jurusan anak IPS: HARUSNYA KALIAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA KAMI (IPS) JANGAN MENTANG2 ANAK2 IPA LEBIH UNGGUL TERHADAP ITUNG2NGANNYA, TAPI COBA LIHAT ANK2 IPS MEREKA LEBIH MEMAHAMI DAN LEBIH UNGGUL TENTANG PELAJARAN IPS!!

    KECAMKAN ITU REKTOR YANG TIDAK ADIL………

    Like

  5. menurut gua juga mendingan ips, bukan karna lebih mudah ips daripada ipa. kata gua mah si orang orang ipa haya jago dikandangnya saja sedangkan bayak sekali permasalahan dnegri ini .
    menurut gua juga kalo kita masuk ke ips kita sama saja menyumbang untuk kemajuan negara kita sendiri.
    ok coy!!!!!!!!

    Like

  6. rkalo gw si mank udah niat di IPA..biar pun ga pnter2 amat ngitung..tapi guw udah minat IPA….smpai skrg gw ok2 aja di IPA..jdi mem0tivasi gw yg malez..
    IPS BAGI GW SAMA KAYA IPA!!…YG PNTNG SKULL GAN!! org berglar gajinya gede gfan…hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s