Posted in herkules

Tante dari Angkatan ya…


Seorang wanita muda, cantik, berkulit sebahu dengan profesi sebagai pengacara, bercerita bahwa ketika ia berjalan bersama pasangannya berbelanja di Pasar Ular, Tanjung Priok menemui keanehan. Pasalnya setiap ia menawar barang, maka sipenjual selalu mengatakan “modal kami sekian Bang, terserah abang mau kasih keuntungan kami berapa…” Lama-lama mereka mulai merasakan ada keanehan sebab jarang-jarang pedagang “katakanlah sejujurnya” mengenai modal mereka. Tanda tanya besar ini terjawab ketika ada seorang pedagang sok akrab memanggil “Bang Herkules.” – rupanya pasangan wanita cantik ini memang kecil, kurus, dengan satu bola mata yang keputihan (rusak) akibat kecelakaan kendaraan. Akibatnya orang sering keliru menyangka mereka sebagai Herkules, tokoh yang disegani di Tanah Abang.

Begitu pula ketika saya berjalan bersama pasangan saya, pedagang seperti sangat kooperatif, sampai akhirnya seseorang bertanya “tante dari Angkatan ya.” kepada isteri saya yang sekalipun dari kawasan Godean Yogyakarta, wajah dan suaranya kadang sorround mirip Butet.  Jadi sering terjadi ia menawar daging sekilo, katakanlah lima belas ribu rupiah, lalu beberapa menit kemudian ia menyuruh pembantu kami membeli barang yang sama di tempat yang sama selalu lebih mahal.

Mohon maaf kepada bang Herkules yang aseli.

Posted in cdma

CDMA seperti jalan Tol


Pernah perhatikan pembangunan jalan tol ? ketika kawasan Jakarta Barat dibangun jalan tol untuk pertama kalinya. Suasana jalan yang sempit makin menciut karena badan jalan disita steger besi, papan cor, besi slof. Berbulan hingga tahun warga diminta bersabar dengan iming-iming. “Kalau jalan ini tol sudah rampung maka kita menuju negeri Teletubis, jalanan lengang, orang tidak perlu menguji kesabaran.”

Lalu jalan tol selesai. Mula mula  nasib pengguna jalan tol memang seperti dinegeri dongeng. Tetapi tidak lama kemudian jalan menjadi kerap macet.  Dan pejabat yang pernah memberi pengarahan sebelumnya tidak ketahuan batang hidungnya lantaran diganti Pejabat lain dengan jurus “Tai Chi” yang disempurnakan. “Kecepatan alir jumlah kendaraan tidak sebanding dengan panjang jalan di Jawa”. Seperti hendak mengatakan, di “kapak-kapakno” – dalam bahasa jawa, dijungkir balik sekalipun, urusan jalan macet sudah sesulit menumbuhkan rambut dikening. Dalam satu kesempatan menunggu kereta api berpendingin udara yang tetap terlambat kedatangannya dari Cirebon, teman seperjalanan saya seperti ikutan ala pejabat berkomentar, “nanti kalau rel ganda selesai dipasang, kereta api bakal tepat waktu .”

Terang saja mendadak sontak “ilmu titen” saya yang sudah khatam berkali-kali ini menolak serangan tersebut dengan mengatakan. “Bukannya malahan kereta api bakalan lebih terlambat sebab bingung berjalan sambil memilih rel saking banyaknya.”

Sekarang saya beralih kepada pelayanan CDMA.  Tentu dengan tidak menyebut mereknya. Mula-mula bisa dimengerti kalau pelayanannya berjalan tersendat, alasan mereka banyak BTS belum dikerjakan sehingga tidak jarang saat ber hola-hila tiba-tiba blep, hubungan terputus.

Instansi yang terkait mengatakan, tunggulah sampai beberapa BTS kami bangun, maka kita akan dinegeri Teletubies. Saya seperti biasa ya manggut-manggut.

Lalu saat proyek pembangunan towerpun usai. Kecuali penglihatan kita yang mulai terhalang dengan bermunculannya tiang besi yang tidak pernah sekalipun terlihat memperindah kota. Saya tidak merasakan adalanya perubahan kualitas.

Bulan Juli 2007, pemakaian CDMA sudah mulai aneh, signal timbul tenggelam.   Lalu muncul pesan-pesan aneh seperti “saldo tidak mencukupi, harap lakukan pengisian ulang.” Lantaran percaya kepada jaman serba digital, pulsa dibeli. Diisikan dengan cara manual yaitu, kerik labelnya, tekan nomor yang tertera diakhiri tanda pagar (#).

Pesan rakuspun muncul lagi. Minta diisi pulsa lagi. Coba to, kalau sudah begini apa tidak menangis Bombay.  Kali ini kami gunakan cara pengisian serba kilat elektrik. Hasilnya kami disuruh mengisi saldo lagi.

Jangan tanya bagaimana usaha menilpun help desk, mendatangi gerai dst.  Sampai saya kadang berfikir, jangan-jangan para HelpDesk ini termasuk aliran sesat yang mengajak umat masuk gerbang neraka. Sebab jawaban yang diterima seperti menyuruh kita menjadi lupa kata sabar.

Pencarian jati diri CDMA belum selesai. Kami menclok dari satu ke lain pelayanan. Entoch seperti kata orang di tumpah darah negeri Brownies, “sarwa keneh” – alias sama saja. Jangan heran kalau pas anda mencoba menghubungi nomor anda sendiri dari pesawat lain lantas ada suara lelaki atau perempuan yang menjawab.

Dalam perjalanan dari kota Brownies ke Kota sejuta Tol, sebuah stasiun radio menyiarkan wawancara dengan pejabat terkait “kami sedang melakukan tune up dengan memindahkan gataran satu ke getaran lain, pelanggan mohon bersabar, akhir Januari 2008, Insya Allah semua sudah selesai.”

Seperti di awal kalimat, saya mencoba meneropong lewat bathin “skeptis” emangnya kalau sudah pindah getaran bakalan tidak byar pet lagi?

Posted in tradisi

Apa Bintang eh Wayang Anda?


Umur dan Wayang

Menurut horoskop Jawa, maka manusia mempunyai  siklus nasib berubah setiap dua belas tahun. Sebuah buku Misteri Pranata Mangsanya Hudoyo Doyodipuro membahas cara meramal peruntungan tanpa diribetkan dengan weton, wuku, pasaran. Simak saja. Andai Amat saat ini berusia 29 tahun, maka ia dikelompokkan Dewa Iswara.  Nah ramalan nasibnya bisa diperlihatkan dalam tabel singkat sifat wayang Dewa Iswara.

• Batara Surya. (usia 1, 13,25,37,49,61,73,85 tahun. Orang dengan simbul Batara Surya umumnya manja namun sangat percaya kepada firasatnya yang tajam. Kelemahannya, kurang berusaha sebab terlalu menggantungkan firasat. Membutuhkan sahabat. Surya dilambangkan sebagai kelinci sehingga barang siapa menikah pada masa ini akan banyak anaknya.
• Batara Brahma. (2,14,26,38,50,62,74,86 tahun). Banyak disukai orang berpangkat sekalipun beberapa diantaranya memanfaatkan jabatan yang disodorkannya. Orang dalam lingkaran Brahma biasanya jarang sakit.
• Batari Durga. (3,15,27,39,51.63,75,87 tahun). Sering ditipu sahabat. Akibatnya seperti kehilangan gairah. Disarankan tidak menikah pada bulan ini sebab akan ketemu kesengsaraan.
• Batara Asmara. (4,16,28,40,52,64,76,88 tahun). Hemat dan gemar menabung. Kalau menikah pada putaran umur ini, akan memiliki anak yang banyak dan hidup rukun dan senang.
• Batara Iswara. (5, 17,29,41,53,,65,77,89 tahun).Pada umur ini orang akan menjadi ambisius. Kalau menikah pada usia ini, semua rencana akan berjalan mulus.
• Batara Nagagini. (6,18,30,42,54,66,78,90 tahun). Memiliki PD yang berlebihan sehingga terkesan arogan terutama saat masih muda. Begitu usianya makin menapak, ia makin menunjukkan kematangannya. Tegas, berwibawa. Tahu kapan bermain dan kapan harus menonton. Mudah tergoda asmara, karena memang memilikipenampilan memukai lawan jenis.
• Batara Kamajaya. (7,19,31,43,55,67,79,91 tahun). Para cukong atau direktur akan menyukai karyawan dibawah naungan dewa dewi yang pencemburu ini. Dengan sifatnya yang protektip, maka ia akan mengetengahkan kepentingan boss daripada kepentingan teman sekerjanya. Karirnya baik terus menanjak. Kalau wiraswastawan banyak relasi.
• Batari Sri, (8,20,32,44,56,68,80.92 tahun).  Pribadi yang enak diajak bergaul sebab pemurah. Sekalipun dirumahnya sendiri masih kekurangan, tetapi hatinya lebih bahagia memberikan pertolongan kepada orang lain. Wajahnya selalu nampak gembira kendati ia sendir sedang dirundung kesedihan. Bilamana ada persoalan yang tidak terselesaikan ia cenderung berpindah tempat. Padahal masalah yang tidak dirampungkan akan berakibat suatu saat “mencakar” wajahnya kembali.
• Batara Bayu,(9,21,33,45,57,69,81,93 tahun). Sifat keras dimiliki manusia berada dalam naungan ini. Sekalipun terkadang ragu-ragu. Kalau ia berada di rumah, seperti mati langkah. Namun begitu keluar dari pintu pagar, otaknya seperti encer dan bereaksi kembali. Resikonya, karena selalu “greng” berada di luar rumah, ada kecenderungan mendapat cobaan berupa disukai oleh banyak teman sepergaulan termasuk “cinlok” – Yang perlu diwaspadai, karena inginnya selalu bergerak, lama-lama akankelelahan sendiri sementara waktu berjalan terus.
• Batara Wisnu (10,22,34,46,58,70,82,94 tahun) – Pengaruh kesaktian ada pada orang dengan naungan wayang Batara Wisnu. Ia menjadi pribadi lebih dewasa dan selalu positif thinking. Akibatnya akan bersikap tanpa kekang. Tidak mau didikte atau diperintah. Manusia dengan kemampuan pribadi “world class”. Jodoh umumnya ditemukan pada usia ini.
• Batara Indra (11,23,35,47,59,71,83,95 tahun)– Jika anda kebetulan pada tahun ini berusia 11tahun atau 23 tahun, atau 35 taun atau 47 tahun atau 59 tahun dst maka tahun ini hidup anda seperti tak putus dirundung bidadari. Serba indah serba nyaman. Sisi buruknya kadang mereka menjadi pasif seperti tidak suka keluar rumah sekalipun untuk hal-hal penting. Sisi baiknya bilamana diperlukan, tanpa dicambukpun ia akan melakukan tugas sampai tuntas. Karena sifat yang damai maka iapun tidak “maksa”mencari rejeki. Cukup makan, pakaian seadanya mereka sudah puas.
• Batara Yamadipati (12,24,36,48,60,72,84,96 tahun )– sifat dasar cemburuan, keras hati, tetapi berjiwa sosial yang tinggi. Orang yang masuk pada siklus usia ini memang wajahnya buruk rupa namun sangat disiplin, welas ati dan pemurah.

Posted in tol

Memasuki Jakarta menuju Bekasi atau Pondok Gede


Sebagai warga Pondok Gede atau Jakarta, maka dibukanya tol Cikunir pada Oktober 2007 ini sangat menolong pengendara yang ingin memasuki Jakarta melalui Pondok Gede.

Ketika menikahkan anak saya Lia, sang camer ternyata penghuni Cigandung Raya Timur No XX sehingga banyak kali saya harus menggunakan kendaraan pribadi menyamperi ke alamat calon besan (saat itu). Kebetulan besan saya juga sangat bersemangat bercerita tentang cara masuk dari Bandung ke kawasan Pondok Indah/Bogor dengan pintu Cikunir 2

Namun tak urung saya sering keder kalau ditanya teman dari luar daerah bagaimana caranya kerumah saya di kawasan Raya Kodau, Bekasi.

Memasuki jalur kiri Tjg Priok, P. Indah, Bogor. Maka anda akan menemukan pintu Tol Cikunir 2 dan bayar uang tol disini. Ambil kekiri jurusan Pondok Indah.

Dari sini telusuri terus jalur tol sampai anda menemukan pintu keluar (38) bertuliskan Cilangkap, Kranggan.

Setelah keluar jalan tol  kendaraan berputar arah (u-turn) mencari bundaran (cirinya disebelah kanan jalan ada RM Padang bernama  Jam Gadang), maka jalan dengan plang nama Pondok Gede Pekayon adalah jalan Raya Kodau.

Posted in online

Pesan Trilogi dapat Triplex


Gara-gara resensi seorang Wikimuer mengenai buku Laskar Pelangi, saya seperti mati langkah. Niat mengebet baca buku habis. Tapi Apa daya.

Pertama saya ada di tengah laut, kedua kalaupun saya sampai di daratan Perth maka toko buku macam Dymocs, Borders jelas tidak akan menjual buku karya Andrea Hirata tersebut. Maka untuk memenuhi hasrat yang berkobar, sebuah toko buku online saya pilih. Maksud hati saat kepulangan ke tanah air, buku sudah tiba. Halaman depan situs ini bertaburan pujian nan tiada kering, cepat, baru klik pesan, tahu-tahu sudah “jleg” di depan mata sehingga membuat saya Muantabz melakukan pesanan online.

Perlahan saya baca resep memesan. Saya klik Laskar Pelangi harga X rupiah, saya klik Sang Pemimpi Y rupiah, saya klik Edensor Z rupiah. Lalu ketiga petikan ini saya masukkan keranjang belanja.

Upacara pesan memesan diakhiri dengan perintah beli. Situs menjumlah tiga deret sederhana. “Jeglek” yang muncul angka kurang pas. Barangkali persamaan hasil persilangan antara Pitagoras dengan rumus membuat KTP karena menghasilkan X+Y+Z = X+X+X.

Gagal bertransaksi, saya cabut dari situs tersebut lalu setelah surfing kesana kemari entah kenapa kepingin balik ke situs awal.

Kelihatannya ada sistem error pada situs tersebut.

Kebetulan pikir saya, kalau ada anomali, bakalan ada berita. Saya nekad memesan tiga buku, bahkan melunasi pembayarannya.

Ada beberapa hari email saya dijawab. Alasannya masih liburan hari Raya. Lalu seorang berinisial “D” menegaskan apa betul saya pesan tiga buku yang sama. Terang saya jawab “Tidak, saya tidak pesan tiga buku yang sama, saya pesan buku jilid 1, Jilid 2 dan Jilid 3″

Email dijawab, baik pak, pesanan sudah diperbaiki.

Dua minggu setelah lebaran, terbaca SMS dari toko buku online. Buku akan dikirim besok tanggal sekian.

Takut saya tidak ada di Jakarta (lha saya kan di Bekasi), status Menunggu Cemas saya naikkan menjadi Waspada Menunggu. Ternyata buku yang dijanjikan tidak datang.

Baik kalau begitu, saya SMS kembali, dan dijawab “Maaf Penerbitnya belum kirim Buku” – Inilah hebatnya cara kita berbisnis, mulai dari karyawan tidak masuk pada saat liburan sudah usai, penerbitan yang lelet, segala macam parameter ikut ditimpakan kepada pelanggan. Jangan-jangan bertengkar dengan istri dirumah gara-gara jatah malam tidak diberikan akan mengajak pelanggan menanggung akibatnya.

Kebetulan status saya turunkan menjadi “masa bodoh” alias tidak terlalu memikirkan pemesanan, di Jakarta, sang kurir datang.

Tolong dicek pak,” katanya sambil mengendorkan jaket dan sarung tangan kulitnya. Sebelum membuka bungkusan bersampul kertas kopi ini, saya meraba ketiga buku.

Saya merasakan ada salah kirim. Mari kita buktikan..

Bret sampul saya buka.

Buku salah kirim. Saya pesan jilid satu, jilid dua, jilid tiga. Ini semuanya buku jilid satu sebanyak tiga buku” – sebab warna buku, ketebalan, dan judulnya sama “Laskar Pelangi.”

Kurir keukueh dengan mengatakan memang ada buku dengan ketebalan dan cover sama, tetapi isinya berbeda Pak.

Maka kali ini buku dibedah. Bab I bertajuk Sepuluh Murid Baru.

Buku lainnya saya buka dan Bab I dengan tajuk serupa saya pelototkan didepan kurir. Kali ini dia menyadari pendapatnya digugurkan.

Saya kan cuma kurir pak! Jauh juga ya pak dari Jatinegara ke Grogol” – keluar ilmu simpanannya.

Kata sakti yang bisa berarti sudah jauh dikirim masak dikembalikan, kasian dong kepada kurir yang sudah buang bensin dan waktu, maklum lebaran belum lama, pegawai masih mengantuk.

Lalu saya tanda tangani formulir berita acara, bahkan masih ada pesan khusus. Bila anda puas dengan pelayanan kami, silakan kirim testimonial ke email addres xxxxgmail.

Dan sekalipun ongkos kirim sudah tertulis 0000, maka seperti biasa saya memberikan uang puas sekedarnya. Maka sekaligus melegitimasi kesalahan dimaafkan. Kapokkah saya dengan toko buku yang ternyata super lelet dan super salah ini. Tidak.

Saya masih kirim SMS, saya pesan Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, tapi tidak pakai salah, tidak pakai lama. Siapa tahu bisa bikin cerita aneh lagi.

Posted in Aliran Sesat

Suatu Subuh di Bandung


Pagi-pagi kantong kemih sudah terisi penuh sehingga perlu di “afblas” di toilet. Saya buka toilet kamar 130 Hotel “TS” kawasan Junjunan Bandung.Ternyata limbah bekas mandi saya semalam belum juga tuntas terbuang membentuk genangan. Sebutir kelereng bisa menyelam didalamnya.

Inikah yang dimaksud Bong, petugas Biro Perjalanan di Jakarta saat saya membeli Voucher sebuah hotel di Bandung. “Nggak salah memilih Hotel ?

Semalam saya mengecek toilet ini ternyata sebuah handuk basah (berarti bekas pakai) masih tergantung di belakang pintu.

Lalu TV menayangkan ulah anak Krakatau muda yang mulai menunjukkan kenakalannya. Berhubung tidak bawa pakaian olah raga, sepatu fantofel kulit pun saya pakai juga dan mulai keluar hotel.

Saya melewati sekelompok masa. Seorang petugas polantas dari nama yang tersemat didadanya Sumpena nampak sedang mengobrol dengan beberapa pria yang nongkrong di kedai rokok depan BTC, Bandung Trade Centre. Mungkin bicara kecelakaan mobil sebab yang saya tangkap cuma “motorna gedubrak ceunah.” Motornya jatuh tuh.

Memang menakjubkan melihat Bandung setelah semalam disiram hujan lebat. Warga berduyun berolah raga, beberapa diantaranya sudah pulang kerumahnya sambil menenteng tas plastik berisikan makanan. Biasanya membuang 150 kalori dengan olah raga, lantas dicharge dengan 1500 kalori (bubur, sate usus, teh botol, dan penganan manis lainnya). Jelas surplus terus.

Sebuah lapak Brownies saya dekati. Maksudnya beli sebungkus sambil wawancara kecil-kecilan. Rupanya ia merangkap pengecer majalah. Sayang lapak ini tak berpenghuni. Saya celingukan kok tidak takut dicuri seperti di Sinetron Fitri saat Norman meninggalkan warung lantaran diimingi dibelikan sepatu. Dan warung ludes dijarah maling.

Tidak lama kemudian, pemiliknya seorang perempuan, datang tergopoh-gopoh sambil menenteng brownies kukus baru, dan entah apa lagi dikedua tas plastik tersebut.

“Saya kira mbak diculik aliran sesat,” kata saya membuka kata-kata. Ini juga gara-gara baca halaman depan memperlihatkan wajah seseorang hilang yang diduga dari kelompok aliran sesat.

Dia ngakak “punten, bisa saja bapak.” katanya. Hebat, Kartini ini, langsung menangkap humor saya.

Tetapi pengucapan S menjadi Z, menyiratkan ibu muda ini bukan “mojang Priangan” -jika saya berhadapan dengan perempuan subur ini sepuluh tahun lalu. Akibat gelaknya dan berita Krakatau, saya lupa mewawancarai soal Browniesnya. Apalagi awan tebal sudah menggelendot manja diatas sana. Sial bener.

Posted in imigrasi

Petugas Imigrasi atau Biro Perjalanan


Tayangan Infotainmen memperlihatkan Fauzi Baadila geram lantaran istrinya di palak petugas imigrasi sebesar lima juta rupiah dengan alasan dokumen keimigrasian bermasalah.

Lalu bapak Dirjen Imigrasi menyatakan bahwa bisa jadi oknum yang berada di dalam ruang Immigrasi adalah orang lain bukan petugas yang sah.

Jadi kepikiran, itu ruang Imigrasi atau WC umum sebab bagaimana mungkin setiap orang bisa duduk dan buka lapak diruang yang angker.

Padahal kalau bapak Dirjen sekali-sekali menengok sidak, banyak petugas berpakaian immigrasi, atribut imigrasi, berlencana imigrasi, bersepatu mengkilat hitam seragam persis petugas imigrasi.

Bapak seharusnya memberikan lencana khusus kepada mereka. Karena dengan gaji yang dibayarkan negara, mereka masih rela mengerjakan pekerjaan tambahan memegangi tiket para penumpang terutama warga asing. Biasanya wanita muda, sexy.

Lalu petugas kita yang salah satunya berkulit gelap, perawakan atletis, berseragam dandy, bahkan rela “jemput bola” mencek-in kan penumpang-penumpang tersebut. Dengan takzim dan patuh berdiri disamping penumpang asing yang sedang membayar fiskal. Atau mungkin petugas Biro Perjalanan sekarang diberi seragam bertuliskan Imigrasi?

Atau petugas imigrasi yang bersaing dengan porter di Bandara, mengangkatkan bagasi dan koper para penumpang, bersikap penuh hormat kepada penumpang yang saya yakin mereka adalah para eksekutif Glodok. Kasihan para Porter aseli yang harus bersaing mata pencahariannya dengan mereka.

Tetapi mengapa masih ada yang mencoba berkelit, “itu bukan petugas kami.”