Posted in tsunami

Tsunami Lampung 1883


Tsunami Krakatoa 1883
Location: Teluk Betung - Bandar Lampung Indonesia. Monumen Tsunami di Teluk Betung yang nyaris dilupakan orang

Location: Teluk Betung – Bandar Lampung Indonesia.
This part of buoy was flushed ashore by Krakatoa Tsunami on August 1883. Beside the relief on monuments no explanation found here.  Poor maintenance

Bekas pelampung (buoy) ini terbawa gelombang Tsunami akibat letusan gunung Krakatau lama pada Agustus 1883. Tingginya sekitar 1,5 meter dengan diameter berkisar 2m.  Sebelum disemayamkan di tempatnya sekarang yaitu taman Dipangga (Dipangga’s Park) lampu ini pernah berpindah tempat. Persis di depan Monumen ini kami pernah mencoba berusaha membuka warung kecil, berjualan arang, kayubakar dan keperluan sehari-hari.

Taman Dipangga terletak di kawasan Kupang Kota, Teluk Betung. Dekat dengan taman ini ada kawasan bernama Cimeng yang bagi para junkies adalah sandi jadul untuk obat penenang. Bersebelahan dengan Cimeng dahulu ada pabrik es batu bernama Petojo.

Ketika gemuruh dan ledakan kendaraan yang protes digeber habis kemampuannya untuk mengatasi tanjakan Kupang, maka sebuah taman rimbun membelah jalan seakan memberi peringatan kedahsyatan gemuruh dan ledakan fenomena alam bernama tsunami 1883- yang mampu mengangkat setinggi dan membawa buoy sampai berkilometer jauhnya ke sebuah kampung yang sekarang bernama Kampung Bero (asal kata berouw), di Sungai Way Kuripan Atas,  perbatasan antara Kelurahan Negeri Olok Gading, Kecamatan Telukbetung Barat dan Kelurahan Sumur Putri, Kecamatan Telukbetung Utara.

Pada tahun 80an, besi-besi rongsokan kapal dan mesin kapal yg berupa besi yang berukuran kurang lebih lemari baju 3 pintu masih bisa kita lihat dari jembatan. Tapi sekarang sudah ludes diambil tangan jahil dan sebagian terbawa aliran sungai.

Menurut Tokoh Masyarakat Kampung Kuripan, Bapak Raden. Masih ada pelampung kecil dan beberapa besi-besi bagian kapal yang berada di daerah Kampung Baru, Kelurahan Kuripan, Kec. Telukbetung Barat.

Pelampung besi yang sebagian dimakan karat ini menjadi saksi bisu kedahsyatan ledakan Krakatau yang diikuti dengan Tsunami saat kejadian pada Senin pagi 27 Agustus 1883.  Tidak ada prasasti, atau penjelasan lain yang menghidupkan monumen sehingga mampu bercerita kisah “hidupnya” – semua serba memprihatinkan.

Sebetulnya, kedatangan “buoy” atau  masih ada hubungannya dengan sisa rerongsokan kapal perang uap berbendera Belanda bernama Berouw yang terbawa ke darat.  Menurut informasi sesepuh jauh ke gunung di kawasan Tanjung Karang. Kapal ini berkekuatan 30 tenaga kuda empat meriam merupakan kapal “besar” pada jamannya.

Menjelang ajal sang Kapal Berouw (remorse – Inggris) kapten sempat mengetuk kawat atau morse kepada rekannya kapal Loudon bahwa “arus terlalu luar biasa keras sehingga amat berbahaya merapat di pelabuhan Telok Betung” sehingga ia memutuskan tidak merapat dan turun jangkar.

Lalu kesaksian penumpang Loudon bahwa hari Senin jam 7:45 pagi 27 Agustus 1883,  kapal Bearouw terangkat gelombang dan terbanting keras sampai ratusan meter ke sungai Kuripan.  Ternyata bantingan tersebut belum berakhir. Pada jam 10:45 gelombang lebih dahsyat mampu mengangkat kapal setinggi 50 kaki (15m) dan sejauh dua mil (4km) dari awal terdampar.

Diduga semua awak kapal perang yang terdiri dari 4 Eropa dan 24 pribumi tewas.  Jasad kapal hebatpun sudah menyatu dengan tanah, lantaran dimakan karat yang dibawa tetesan air sungai Kauripan.

Tio Tek Hong seorang Tajir dari kawasan Pasar Baru – Jakarta masih ingat ketika ia berusia enam tahun tiba-tiba menyaksikan jendela dan pintu bergetar. Ibu memeluknya erat-erat sementara “tante dan bujang wara-wiri memindahkan beras, hanglo dan barang lain ketempat yang kebih tinggi.

Dasar bocah, saat pegangan ibunya mengendur sekeja ia sudah berada di pinggir sungai Pasar Baru. Ia menyaksikan banyak orang keluar rumah sambil berusaha memperkuat bantaran sungai. Rupanya air mengalir cukup besar. Jalan raya, genteng-genteng di Jakarta penuh dengan abu vulkanik berwarna abu-abu.  Abu-abu tersebut dibasahkan dengan air dan dibuat semacam kelereng lalu untuk adu gundu. Pengusaha alat-alat berburu dan gramofone ini masih ingat teman-teman yang lebih besar bercerita bahwa di Pasar Ikan, air di muara telah meluap dan banyak perahu terdampar.

Di laut, banyak batu mengapung memenuhi Selat Sunda sehingga kalau orang memasang papan diatasnya, mereka bisa berjalan kaki dari Merak sampai Panjang – Teluk Betung. Banyak mayat nyangsang (menyangkut) di pohon kelapa. Kemudian hari ia baru tahu  bahwa semua ini akibat meletusnya gunung Krakatau di Selat Sunda (26-28 Agustus 1883).

Kemudian terciptalah lagu dan nyanyian sendu Gambang Kromong – Kramat Karem. (Tio Tek Hong – Keadaan Jakarta Tempo Dulu, Penerbit Masup Jakarta)

Satu-satu peninggalannya adalah Monumen Tsunami Dipangga. Konon ada cerita tambahan yaitu lampu ini terdampar bersama sebuah jangkar. Namun setiap saya mencoba mencari tahu cerita ini selalu angkat bahu yang saya peroleh.

Seperti juga sikap kita menyikapi setiap bencana. Histeris, mengutuk, menyalahkan, meyuruh orang lain bertobat lalu lupa.

Namun letusan gunung berapi yang paling dahsyat adalah Gunung Tambora 1815. Pada 1812 kaldera mulai nampak aktifitasnya. Baru pada 5 April 1815 terjadi letusan. Ledakan Tambora diperkirakan pada skala tujuh dalam index gunung berapi. Diperkirakan 100 km kubik piropklastik disembur dari tenggorokannya. Menurut ahli Vulkanologi, dr. Indyo Pratama, dua kerajaan musnah, dan menewaskan 12000 jiwa lebih.

Tapi tahukan anda bahwa ledakan gunung berapi dipercaya para ahli ikut mendinginkan permukaan bumi yang mengalami pemanasan global.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

5 thoughts on “Tsunami Lampung 1883

  1. cerita nenek saya yg usianya 98 tahun,sekarang masi ada.dia sering cerita masalah guntur yang terjadi terhadap neneknya,yang saya hitung 2 kelahiran antara 1872 1876,yang terjadi di daerah gunung dahu cikunir tasikmalaya.dia bercerita bahwa datang air dari arah selatan yang mereka sebut guntur.yamg besarnya sangat sangat besar.dan masih ada bukti akar pohon yang terseret gelombang guntur.masih ada sekarang. padahal ketinggian kota tasikmalaya 400 meteran diatas permukaan laut.konon tadinya d\ada sungai kecil yg bisa di lompati orang dewasa,yag ketika datang guntur datang setelah menggenangi kampung guntur surut.sungai tersebut erosi terbawa surutnya guntur.menyebabkan sungai tersebut menjadi dalam dan lebar.yg kita kenal dengan sungai cikunir. yang ada di kecamatan singaparna.tasikmalaya jawa barat.dan kalau saya amati.usut ust asal keturunan dan cerita dari rekan nenek dan masih kearabat yang usianya ngak jauh jauh beda dengan nenek.ada kesamaan persi cerita mereka.dan saya menyimpulkan bahwa kejadian yg mereka anggap guntur itu adalah tsunami hasil dari goncangan letusan gunung krakatau 27 agustus 1883.saya percaya karena nenek menjelaskan cerita dari neneknya, bahwa waktu kejadian guntur langit diselimuti awan yang sangat gelap.dan yang lebihmenarik adiknya buyut saya melahirkan diatas bukit ketika mengungsi, guntur melahirkan anak perempuan namaya teh iong yang artinya darurat kalau bahasa sundanya.masih ada tanda dan bukti 2 kuat bahwa tsunami krakatau sampai ke daerah tasikmalaya, yaitu sebuah batu kokol (kentongan red)yang waktu trjadi guntur bunyi katanya pindahan terbawa air.dan ada juga beberapa nama kampung sekitar guntur yang di namai gunung agra ( artinya penjaga air guntur atau batas air guntur tidak sampai lewat)dan beberapa nama kampung yg diambil dari kejadian guntur tsunami.saya bicara ini aatas dasar cerita dari nenek saya yang alhamdulillah masih sehat walafiat.dan kalau cerita tentang guntur ,beliau sangat semangat sekli.sekian terimakasih.

    Like

  2. Jadi ingat film nasional “Krakatau” yang dibintangi WD Mochtar dan Dicky Iskandar. Sebenarnya sih film ini film silat, tapi jadi nyambung dengan postingan ini karena jalan ceritanya dengan berlatar belakang Tsunami 1883 ini.

    Ceritanya WD Mochtar jadi murid (senior) perguruan silat yang berpadepokan di Pulau Krakatau, tapi dianya “murtad” dan melarikan diri dari perguruannya, dan sembunyi di desa yang kelak dibanjiri Tsunami Krakatau. Dicky Iskandar dikirim oleh gurunya yang merupakan kakak seperguruan WD Mochtar untuk mencarinya dan menyeretnya pulang kembali ke padepokan.

    Ada sedikit aksi investigasi a la detektif bagaimana mencari orang, ada sedikit aksi sembunyi underground a la Sandinista, dan tentu saja aksi silat plus adu kesaktian khas film Indonesia 80-an.

    Menariknya adalah problem yang muncul di akhir film dan tidak terjawabkan sampai sekarang yaitu sekalipun orangnya ketemu dan berhasil dibekuk (tentu saja lewat adu kemahiran silat dan adu ajian mirip-mirip Rog Rog Asem-nya “NS dan SI” ‘kali ya?), tapi mau dibawa pulang ke mana? Bukankah padepokan jadi hancur lebur jadi debu di kaki Gunung Krakatau? Jangankan sekadar padepokan silat, seluruh pulau Krakatau aja dilemparkan ke udara jadi debu yang dihembus angin sampai ke Eropa sana?

    Kualitas aktingnya sih tidak luar biasa mengingat nama besar WD Mochtar dan Dicky, tapi toh film ini nikmat sebagai tontonan. Apalagi nontonnya waktu itu di TVRI, sehingga kalo diingat-ingat sekarang jadi indah karena aroma nostalgianya.

    Om Miem pernah nonton juga?

    AD
    (yang belum terlalu tua, tapi tahun 80-an sekalipun masih anak-anak udah suka nonton film silat)

    Like

  3. Koreksi untuk Artikel.
    Bahwa kapal tersebut bukan terdampar di kawasan gunung – Tanjungkarang.
    Tetapi di Kampung Bero (asal kata dari berouw), di Sungai Way Kuripan Atas, Perbatasan antara Kelurahan Negeri Olok Gading, Kec. Telukbetung Barat dan Kelurahan Sumur Putri, Kec. Telukbetung Utara. Pada tahun 80an, besi-besi rongsokan kapal dan mesin kapal yg berupa besi yang berukuran kurang lebih lemari baju 3 pintu masih bisa kita lihat dari jembatan. Tapi sekarang sudah ludes diambil tangan jahil dan sebagian terbawa aliran sungai.

    Menurut Tokoh Masyarakat Kp. Kuripan, Bp. Raden. Masih ada pelampung kecil dan beberapa besi-besi bagian kapal yang berada di daerah Kampung Baru, Kelurahan Kuripan, Kec. Telukbetung Barat.

    Like

  4. Terimakasih sekali untuk komentar bapak Cahya Kurniawan, akhirnya sedikit demi sedikit ada yang sumbang saran berita tsunami Lampung sebelum dilupakan orang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s