Posted in madura, rak piring

Rak Piring ala Sampang


Rak Piring Sampang

Perkara kemampuan orang Madura menjalankan prinsip hidup ulet yang sering disebut orang  “Ker-Ker-Rip” alias apa yang bisa di-eker-eker (kais) pasti memberikan penguripan (kehidupan) sudah banyak dikenal orang.

Yang paling legendaris adalah cerita mengenai pedagang besi bekas yang datang ke toko mobil untuk beli sedan Mercy dengan uang cash. Kalau anda kebetulan mau merenovasi rumah atau gedung, panggil saja pedagang barang bekas rumah, maka dalam sekejap rumah tinggal puing hasil bongkaran (dan anda dapat uang material dari mereka), karena material hasil bongkaran bisa tertata dengan rapi mulai dari bata, keramik, genteng sampai kusen rumah, dan semua masih ada harganya.

Salah satu inovasi teknologi yang saya lihat di Sampang adalah saat pihak catering mempersiapkan hidangan.

Pesta pernikahan di Sampang umumnya dimulai selepas shalat Magrib, yaitu jam 19:00 dan selesai satu setengah jam kemudian (20:30). Perkara batasan waktu ini memang tertib sekali.

Begitu jam 19:00 maka rombongan pengantin tiba, mulailah berbondong-bondong undangan mengisi Aula Trunojoyo di jalan Rajawali, Sampang. Tidak ada acara isi mengisi buku tamu (terlalu ribet, sudah mau kondangan kok disuruh isi formulir seperti coblosan), dan tamu langsung diberi kenang-kenangan (satu toples kue kering) atau satu kotak besar roti manis.

Saya agak kaget menerima satu toples plastik plastik kue, tapi makin heran lagi ketika setiap undangan menerima yang sama termasuk jika mereka membawa anak kecil.

Didalam aula, para tamu dipisahkan antara undangan wanita di sisi kiri dan undangan pria di sisi kanan. Ini berlaku bagi semua pasangan, baik pengantin baru atau manula. Soal ketepatan waktu ini pula yang berimbas kepada ketepatan hidangan.

Telat lima menit saja dari acara “hidangan” maka para undangan akan segera tolah-toleh kiri kanan sebelum akhirnya meninggalkan arena perjamuan. Dan ini aib besar bagi sang penyelenggara. Untuk itulah sebelum memasuki ruang resepsi, para tamu undangan dibekali sepotong roti besar dan segelas minuman kemasan. Tidak ada gelas beling terlihat dalam perjamuan. Semua minuman disajikan dalam kemasan plastik.

Guna menopang kelancaran jalannya “daharan” alias logistik, maka panitia katering sudah menyiapkan piring yang berisi hidangan berupa nasi (malam itu nasi goreng), dengan lauk pauk ala kadarnya. Ukuran porsi nasinya terasa kecil pagi perut kami. Nasi dan lauk-pauk ini disusun kedalam kerangka-besi yang terbuat dari besi slop 4 mm. Bentuknya persis kerangka untuk rantang, tetapi bagian rantang bisa memuat 5 piring nasi.

Kalau seorang pramusaji membawa dua susunan kerangka besi, maka sekali jalan ia bawa 10 piring nasi untuk dibagikan secara berantai kepada para undangan. Nampaknya pramusaji rumah makan Padang mendapatkan saingan cara membawa makanan. Cuma kalau yang ini lebih “bisa dilakukan oleh setiap orang.”

Dengan ukuran nasi yang kurang banyak bagi tamu luar, maka tamu yang masih lapar bisa meminta tambah lagi kepada pramusaji, sekalipun hal ini jarang terjadi. Akibatnya dalam waktu sekejap semua piring licin disikat tandas. Lagi-lagi praktek “berhenti makan sebelum kenyang” diterapkan dengan konsekwen di kawasan ini.

Berbeda dengan pesta di kota lain, yang selalu berhiaskan sisa makan yang belum sempat dihabiskan oleh undangan, sebab mereka segera ingin mencoba hidangan lain. Akibatnya sisa makanan berceceran dimana-mana. Maka semua piring tandas isinya.

Hidangan penutup adalah agar-agar pudeng yang diberi pecahan es batu diatasnya. Tidak ada hidangan berupa “desert” atau “coca cola”.

Sambil menikmati hidangan maka band organ tunggal mulai memperdengarkan musiknya didiringi dua biduanita yang membawakan nomor lagi Siti Nurhalizah “Cintaku di atas kertas” atau “Memory” nya Uthe Sahanaya serta tak lupa tentunya dangduut.

Pengantin berganti pakaian sampai 2 kali. Pertama adalah Dodot (yang pria telanjang dada), dan kedua setelan beskap. Pas jam 20:30, pengantin berjalan di pintu gerbang keluar dan para tamu undangan mulai menyalami pengantin sambil berpamitan. Dan berakhirlah suatu perhelatan yang mungkin sudah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Selamat menjalani hidup baru keponakanku Mawan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Rak Piring ala Sampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s