Posted in telegram

Mencoba Menapak Dunia dengan Inggris ala Telegram


Agustus 1980, belum genap setahun rasanya bekerja disebuah perusahaan nasional. Di sebuah mess BUMN Prabumulih, seorang teman memberikan kartunama tertulis „Panjilaras” seorang mudlogger dengan alamat Orchard Tower 2002.
Coba deh melamar kesana, mereka sedang butuh pekerja,” pesan teman tersebut. Dimana-mana metode cespleng mencari kerja adalah radio dengkul alias getok tular.

Hati saya langsung bergetar sebab ini nama perusahaan asing yang konon berkantor di jantung kota Singapura, Kata jantung sebetulnya sekedar gagah-gagahan lha wong saya belum tahu ujut ginjal maupun paru-paru negara yang selalu diremehkan sebagai kecil tetapi tetap Singa ini. Apalagi saya ragu kemampuan bahasa asing yang masih seputar telegram, maksudnya patah-patah lantaran banyak stop (memikirkan maksud dan merangkaikannya dalam vocab), ketimbang nyerocos. Tapi bukankah bahasa Inggris bisa dibesut halus setelah banyak praktek nantinya?.

Dahulu saya pernah memasukkan lamaran ke perusahaan-perusahaan asing namun dijawabpun tidak. Lantas ingat nasihat bapak Thabrani guru bahasa di SMA2 Tanjung Karang. Ujarnya „tidak bisa masuk lewat pintu depan, coba pintu belakang, kalau gagal juga, bongkar genteng” – saya pikir bapak ini bercanda. Tetapi ketika dari seorang guru SMA, naik sepeda-onthel mirip Tuan Oemar Bakri lalu bermetamorfosa dikawal sepeda motor Voorrijder lantaran ia menjadi Walikota ucapannya sakti mandraguna.

Sayangnya dalam menyikapi hidup saya belum tersentuh mantra-mantra seperti dalam kitab-kitab para ahli „Pembinaan Diri” bahwa manusia harus punya mimpi. Apalagi katanya mimpi adalah doa. Saya sadermo (baca sekedar) mengikuti arus mengalir.

Hanya waktu itu senior pada berkata bahwa bekerja di perminyakan maka akan memasuki peradaban dan peradatan Bule, sekalipun dikemudian hari baru tahu bahwa Perminyakan Indonesia pada 1970an masih hampir 100% asing.

Singkat kata, saya melamar ke perusahaan tersebut. Dengan bahasa Inggris yang dicubit dari buku sekretaris dan buku-buku murah menulis lamaran. Maka ketika sebuah kabar telegram datang keharibaanku, rasanya membuka sampulnya seperti menggesek voucher isi ulang yang empat hurup terakhir bakalan berhadiah kalung emas.

Maka ketika lamaran kedua diterima melalui telex sayapun tidak tahu sampai keluarga mengirimkan surat tersebut ke mes tempat saya tinggal

Dear Mr. Seputro, please proceed to have your passport ready. Upon completing the passport, proceed to apply an exit permit. Meet you soon in Singapore. Lim Yok Bing.

Sejatinya, ada beberapa hari telex tidak terjawab, pasalnya saya bekerja di rig pengeboran milik Pertamina di kawasan MusiRawas – Sumatera Selatan.

Untung saja sekalipun tidak rela, perusahaan saya yang lama melepas kepergianku.

Memang pernah terjadi „selisih paham” lantaran beberapa saat sebelumnya saya pernah menanyakan diskriminasi mengapa seseorang dengan peringkat sama mendapatkan penghasilan tinggi sebelah. Dan dijawab telak „take it or leave it.” Kalimat keramat teramat populer dikalangan HRD sampai Direktur.

Mudah-mudahan belum ketinggalan kereta, telegram saya balas Dear Mr. Bing dst. Kali ini saya diselamatkan oleh era telex dan telegram sehingga kesalahan bahasa, struktur kalimat bisa dilempar dengan alasan bahasa telex harus patah-patah.

Begitu semua surat menyurat beres sampailah saya di kota Singapura. Kepada supir taxi sedan warna hitam gede yang berpendingin sejuk dan berbau daun pandan saya berikan alamat alamat Orchard Tower.

Saya perhatikan bilamana kecepatan pacu melebihi 80km per jam, taxi mulai memberikan peringatan Juga taxi-taxi ini gemar sekali menaruh bola-bola kayu yang berfungsi sebagai alat refleksi punggung mereka. Bahkan sabuk pengamanpun dilengkapi bantalan empuk sehingga tidak menimbulkan rasa tak nyaman bagi pemakainya. Tahun 1980-an di Jakarta hanya menemukan taxi sekelas Presiden Taxi warna kuning.

Selama dalam perjalanan, saya mulai mempraktekkan bahasa Inggris pertama kalinya.

Gangguan mulai terasa bahwa bahasa Inggrisku masih mirip “telegram” dua kata mati, tiga kata titik. Saya mirip Sicifus yang diperintah dewa mendaki gunung terjal dengan beban batu dipundaknya. Bahasa Inggrisku banyak melorot ketimbang menanjak.

Karena dalam surat disebut Orchard Tower 2002, sampai tujuan langsung menyeret dua kopor fiber besar tanpa roda memasuki lantai dua yang ternyata komplek pertokoan semua. Kamar 002 hanya menyediakan jam kelas wahid. Dewa Panik sepertinya sudah merangkul saya dari gunung Olimpus.

Tapi tidak ada salahnya menanyakan petugas keamanan yang umumnya jatah orang India di negeri ini. Sambil menggeleng kepala ia bilang tidak ada perusahaan “Belok Kiri Jalan Terus” disini.

Maka keluarlah ilmu yang saya pelajari selama ini, “cara bodon” – bodoh-bodohan yaitu mendatangi lift dari satu lantai naik ke lantai lain sampai akhirnya seseorang menyarankan agar saya langsung ke lantai 20. Jleg, begitu sampai didepan kamar dimaksud, sebuah papan nama bertuliskan “Belok Kiri Jalan Terus.”

Byur, adem rasanya kepala ini.

Orang yang saya cari adalah Bapak Kepala Personalia yaitu Bapak Lim Yok Bing. Dan eng ing eng menyembullah sosok tokoh yang merekrut saya dari lumpur Sumatera Selatan ke lumpur entah mana lagi..

Cuma kali ini muka saya yang sudah merah dan keringatan langsung beralih bak kaleng sardencis Botan lantaran yang berdiri didepan saya sambil senyum-senyum adalah Kartini tulen bukan Kartono. Lho kok beliaunya selama ini hayuh saja dipanggil Mister dalam surat-surat saya. Gimana to sampeyan Ibu Bing.

Maklum di Yogya ada foto studio bertajuk “Bing” lalu ada penyanyi Bing Slamet dan terakhir kang Ibing (maksa) sehingga tertanam nama Bing mutlak milik Kartono.

Hujan mengiringi kepergian saya dari kantor tersebut untuk ke penginapan yang sudah dipesan oleh perusahaan. Dalam perjalanan mencari hotel Merah, saya berjanji akan mencabut kepongahan menaruh “Pernah Kursus Bahasa Inggris di Lembaga “Cepat Ahli Bahasa Hanya 10 Jam” dalam CV saya.

Ingatan Desember 198o

Advertisements
Posted in lalat

Sayembara Lalat


Bagaimana mungkin, kami yang berada ratusan mil dari darat bisa digruduki lalat berjuta-juta rasanya. Apa mereka terbang?Ternyata mahluk imut hitam ini menjadi pendatang haram diantara kargo kapal-kapal suplai yang merapat di rig kami. Dan saat kapal suplai angkat sauh, mereka malahan menyelinap ditubuh saya.

Lalu, karena cara membunuh dengan insektisida sejenis Baygon amat terlarang di kawasan ini, apalagi kami sering melihat paus seliweran, terpaksa dipakai cara kuno, misalnya perangkap yang terbuat dari kardus atau plastik bekas susu.

Lho kok ada manusia iseng bikin sayembara. Bunyinya barang siapa bisa membuktikan bahwa ia membukukan 50 ekor lalat, akan diberi hadiah. Kalau lelaki diberi hadiah. Sebaliknya kalau perempuan ya hadiah juga. Emangnya dongeng kerajaan pakai dikawinin segala.

Ada beberapa hari sayembara ini dianggap lalat lewat. Toh siapa perduli berurusan dengan mahluk kalau dipithes baunya “prengus-campur masam” macam sarung sebulan tidak kena panas ?

Terkecuali saya yang seharian hanya dapat 10 ekor lalat, lalu kami lem di kertas HVS. Teman saya melihat keisengan ini mendapatkan beberapa puluh dan akhirnya terkumpul juga 50 ekor lalu difoto dan kami serahkan kepada pembuat sayembara iseng.

Untuk itu kami dapat hadiah 100 dollar dan berupa voucher belanja. Rupanya satu lalat dihargai dua dollar. Namun kami semua berempat sehingga entah sampai dimana uang seharga 25 dolar ini. Jangan-jangan sesampainya di Supermarket Myer atau Target, kami membelanjakan sepuluh kali lipat lebih banyak. Seperti umumnya kalau dapat hadiah, bukan untung malahan buntung.

Posted in tidur

Dikira pakai ilmu “ghost”


Kamar istirahat di Rig umumnya dihuni oleh dua orang. Kalau satu bekerja yang lainnya beristirahat. Chris yang berambut gimbal macam orang Maori yang sehari-harinya adalah Room boy bakalan mengetuk pintu manakala sudah jam 10:30 (pagi) atau 10:30 malam tidak nampak kegiatan didalam kamar mengingatkan kami waktunya untuk bangun.

Namun karena ranjangnya bertingkat maka dalam keadaan darurat, kamar bisa dihuni oleh empat orang. Keadaan darurat muncul kalau mode “pengeboran” berpindah ke mode “perampungan sumur” atau “well completion.”

Saat uji produksi begini rig bakalan digruduki oleh banyak orang ahli terutama spesialis pernyelesaian sumur yang akan membangunkan sumur dari tidurnya agar bisa diperas isi perutnya yang gemuk akan minyak dan gas.

Saya kebagian sharing dengan dua ahli detonator bernama Scott dan Mike dari perusahaan Perancis. Begitu mereka memasuki kamar tiba-tiba ranjang saya main di “cup.” Padahal jelas-jelas mereka sudah lihat diatas lampu baca teronggok Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor (belum saya baca) kiriman ibunda Ollie penulis di Wikimu sekaligus pemilik toko buku Online.

Untung saya sempat masuk kamar dan menjelaskan bahwa “kamu tidur di peringkat atas.” – Mukanya langsung ditekuk sebab tahu resiko tidur diatas, kepala bakalan kejeduk atap dan naik tangga berulang kali. Apalagi plafon kamar kami masih pakai Asbes buatan James Hardi yang sempat membawa korban Bernie akibat terlalu banyak menghirup serat asbes. Lalu saya tanya mereka akan bekerja pada shift yang mana.

Kalau dalam keadaan “normal” mengebor shift kerja adalah (twelve to twelve) artinya 12 siang sampai 12 malam maka dengan kedatangan tamu ini terpaksa kami mengalah menyesuaikan jam kerja mereka Six to six 6 pagi:6 sore. Tidak mudah mengubah jadwal kerja dan tidur sebab perlu penyesuaian jam dalam tubuh.

Pernah kami nekad mempertahankan jadwal 12-12, celakanya kamar selalu padam lampunya, dan room boy tidak pernah bisa mengganti seprai, handuk dan merapikan kamar bisa dibayangkan keringat yang menempel dikamar hasil kristalisasi manusia sosis dengan manusia mie instan. Tapi untunglah dengan latihan menahun saya terbangun dengan bantuan arloji baterai tangan saya, bahkan seringkali sudah mendusin beberapa menit sebelum beker berbunyi. Lalu diam-diam menyelinap keluar kamar.

[Kalau anda bekerja di offshore jangan lupa jam beker atau setidaknya membawa jam digital yangdilengkapi dengan alarm sebab Handphone dikumpulkan di ruang radio dan tidak boleh disentuh sampai menjelang kita kembali ke darat]

Rupanya kelakuan saya diperhatikan mereka berdua. “Baru kali ini sepanjang saya bekerja di rig, ketemu orang yang bisa bangun, bergerak dan keluar kamar tanpa saya ketahui.”

Oh itu karena saya pakai ilmu tikus,” kata saya bergurau.

Saya pikir kamu pakai ilmu “siluman” – hampir tidak terdengar sama sekali gerakanmu. Suara alarm jam tanganmu memang terdengar tetapi waktu saya lirik tirai sudah terbuka dan kamu sudah hilang. Tahu-tahu ketemu diruang makan.”

Tidur dengan orang lain dikamar juga membutuhkan latihan. Apalagi teman kulit putih ini kalau tidur sekalipun ruang ac segitu dingin, mereka nekad telanjang.

Hanya belakangan mereka pakai celana boxer sebab melihat kami tidur seperti hendak senam pagi, lengkap dengan celana panjang, kaos panjang, kaos kaki.

Juga seperti manusia lainnya mereka mengorok, menyumpah-numpah dalam keadaan tidur, ngegas (keluar gas), mengadu gigi sampai berkerot-kerot. Ada juga yang tidur bak pangeran.Saya sendiri kalau sehari absen berjalan kaki di lapangan heli, maka malamnya AC akan terasa menyiksa. Kaki terasa dingin dan maunya pipis. Manfaat olah raga sekalipun cuma berjalan kaki bisa dirasakan langsung bahwa darah memang dipacu sehingga daya tahan tubuh terhadap dingin meningkat.

Seperti diketahui. Saat mengebor, biasanya kami menidurkan sumur agar tidak buru-buru mengucurkan minyak. Caranya dengan menggunakan lumpur bor yang dibuat sedikit lebih berat daripada air biasa. Dengan lumpur yang berat maka terjadi ketidak seimbangan tekanan antara sumur dengan tekanan di dasar lubang.

Orang menyebut ini dengan keadaan “over balance” sehingga bisa dipastikan sumur akan tertidur dan kecil kemungkinan terjadi semburan gas atau “blow out.” Bahkan dengan kejam, sumur juga dipenjara dengan cara memasukkan pipa casing baja kedalam lubang, lalu disumbat dengan bubur semen sehingga praktis tidak ada cairan atau minyak atau gas curi start kedalam lubang bor.

Salah satu dari ahli tersebut adalah peledak sumur. Orang ini akan merangkai peluru-peluru khusus lalu diturunkan kedalam sumur. Pada kedalaman dimana diidentifikasikan sebagai sarang minyak, peluru ditembakkan yang langsung membentuk semburan mirip api las.

Peluru ini akan membuat luka menganga pada dinding baja, lalu menembus beberapa meter kedalam tanah sehingga terjadi “sudetan” mini yang mengalirkan minyak dari perut bumi kedalam lubang bor.

Tetapi sebelum upaya peledakan, cairan sumur diganti dengan “cairan komplesi” yaitu air garam. Lumpur sudah tidak digunakan lantaran kurang kompatibel dengan minyak bumi. Jangan-jangan dianggap cairan penidur sehingga mereka enggan ditarik ke permukaan.

Agar sumur lebih mendusin, dipompakan sedikit cairan solar (minyak buatan) kedalam sumur sekitar 40-50 tong. Minyak buatan ketemu saudaranya minyak liar dari perut bumi membuat mereka mudah berinteraksi dan menggalang persatuan muncul kepermukaan.

Ternyata dipuji begitu saya senang sekali, soalnya di rumah saya kesohor paling gaduh riuh kalau tidur dengan suara mirip masak bubur ketan. Blubuk-blubuk, gor (mengorok).

Posted in pemilu

Howard Just Ended


Hari Minggu begini biasanya papan tulis di Rig Pengeboran terlihat sepi dari coretan. Maksudnya tidak ada jadwal penerbangan pada hari Minggu. Padahal pada hari biasa papan ini penuh dengan daftar nama petugas yang mendapatkan cuti rig dan nama petugas segar yang datang lalu diberi keterangan pesawat heli yang akan digunakan biasanya dari jenis Puma atau Sikorsky.  Namun diluar kebiasaan, ada dua baris nama tertera disitu. Pertama bertuliskan John Howard (OFF) dan Kevin Rudd (ON). Off maksudnya Off The Rig alias pulang kampung, dan ON sebaliknya penggantinya.

Di Rig meninggalkan kesatuan tanpa pengganti bisa masuk delik desersi.

Mohon jangan dianggap serius bahwa Perdana Menteri Australia bekerja di Rig Pengeboran, juga jangan buru-buru melaporkan ke polisi soal pencemaran nama baik bahwa perdana menteri dilecehkan sebagai kuli pengeboran. Mereka para pekerja pemboran sekedar ikut meramaikan suasana pemilihan perdana mentri yang bebas dari polusi Satgas bergaya militer atau pidato yang selalu berbohong, “aku menang biaya pendidikan gratis.”

Saya hanya melihat Howard berkampanya bahwa “Bangsa ini (Australia) sudah menuju arah yang betul. Agar arah ini dipertahankan, maka pemimpin bangsa tidak perlu diganti.” 

Ada satu peristiwa Kevin Rudd berbicara dalam satu acara perjamuan makan siang. Usai berbicara, Rudd diberi hadiah oleh ketua kelompok tersebut sebuah jam. Spontan anggota kelompok yang beberapa diantaranya ethnis Tionghoa berbisik-bisik riuh. Pasalnya memberi jam seperti dianggap “your time is up” – waktumu sudah habis.

Untung Rudd tidak terpengaruh dengan “isyarat ghoib ini” dan menganggapnya hadiah adalah hadiah dan tidak perlu dibahas. Seperti kita ketahui bersama, pada Sabtu 24 November, Rudd dari partai buruh ini memenangkan pemilihannya sekalipun semua orang bilang kalau presiden Amerika datang ke Australia, ia akan mencoblos untuk John Howard sang shohibnya.

Posted in kebaya

Kebaya


Sudah setahun dua lalu orang rumah mulai menabung untuk menikahkan anak pertama kami. Salah satu tabungannya adalah membeli bahan kebaya yang kelak akan dibagikan ke sanak famili terdekat.

Bagi perempuan Jawa, kalau belum pakai kebaya dan kain wironan yang “mlithet” menjerat dan mencekik tubuh, lalu berjalan berjingkat seperti memakai sepatu satu  nomor kekecilan, mereka bak anak kecil kehilangan dot tapi bahagia dan seksi. Padahal mau tidurpun harus tertelungkup agar sanggulan (konde) tidak rusak berantakan.

Ada tiga titik kebaya yang kami serbu.

Pertama kawasan Citraland yang umumnya dikuasai kelompok keturunan Inspektur Thakur, lalu kawasan Passer Baroe yang juga oleh Inspektur Sanjay dan yang ketiga kawasan Tanah Abang yang dipegang oleh para Halak Hita dan Putri Gurun Gobi.

Saya tidak begitu hapal berapa pastinya panjang kain kebaya. Pasalnya orang rumah sekarang sudah mulai pasang ancang-ancang GTM alias gerakan tutup mulut manakala saya menanyakan “urusan perempuan” – Barangkali ia sudah paranoid bahwa cerita rumah tangga bakal di “ewer-ewer” alias diumbar ke internet. Emangnya kami sekumpulan bin(a)tang selebritis, komentarnya singkat.

Katakanlah sebuah kain diperlukan satu tiga perempat meter. Setelah putus harga.

“Bret,”  kain diukur pakai meteran kayu yang warnanya sudah kecoklatan dan berbau antara formalin dan jangat manusia serta lemaknya. Lalu “jreng” kebaya kami bayar.

Cekatan sekali tangan para asisten toko tersebut bekerja. Kain bal diglundungkan, lalu didepan kami barang diukur dan sebuah gunting besar tajam memotong dengan presisi setara mesin potong laser.

Karena beli dalam jumlah banyak, dengan nuansa perkawinan akan dibuat “ungu” maka kami mendapat diskon cukup lumayan.

Nah, setahun kemudian, mendekati bulan B, kebaya mulai dikirim ke penjahit, beberapa dikirim kefamili dan kami mendapatkan respon, bahwa selain mendapat diskon harga, panjang kebaya juga didiskonto. Dan beberapa menemukan kebaya hanya satu setengah meter.

Ini masalah pelik, karena corak kebaya dari tahun ketahun selalu berubah. Konon tidak mudah mencari tambalannya. Dengan kain secarik kurang satu strip maka semua urusan jahit menjahit kacau. Kecuali nekat menjahit kebaya model tank top.

Lantas ketika akan diklaim, persoalannya nota pembelian yang secarik kertas merah kecil hasil tindasan kertas karbon sudah entah dimana ujudnya. Saya pernah mengalami hal yang sama untuk bahan celana saya, Ketika saya komplain mereka dengan mudah menampik “barangkali tukang jahit bapak yang salah ukur.” – Dia masih menahan mulut untuk tidak mengatakan “penjahit geblek.”

Inilah faktor yang belum pernah masuk hitungan.

Apakah karena bahan kebaya yang begitu lentur sehingga ketika dijembreng – ditarik keras, mereka mulur seperempat meter. Atau terjadi mis-ukur (salah ukur).

Posted in hidung

Hidung


Saat memasuki kabin kerja kami, cuping hidung pemuda Philipina ini kembang kempis pertanda membaui sesuatu tidak sedap. Sementara waktu menunjukkan tengah malam, waktunya ia mengganti posisi shift saya, dan saya giliran menikmati 12 jam istirahat.

Dia bilang bau masam, seperti H2S, padahal saya hanya mencium bau mirip asap generator.

Sempat kecut hati ini juga, jangan-jangan olesan produk Oriflame yang ditawarkan ibunya “Kwek-Kwek” di ketiak saya sudah luntur sehingga melebar kemana-mana. Perasaan sih saya mengolesnya lebih tepat seperti mengecat. Tak seperseribu milimeter persegi bebas dari sapuan deodoran.

Saya termasuk paham bahwa siapapun manusianya pasti ada pabrik cairan masam dilipatan ketiaknya. Dan ketakutan saya bau keringat melebihi ancaman Pemanasan Global.

Ini Rig Pengeboran, maka bau solar, peti kayu apek, ketiak lalat kecil yang tak henti menggerakkan lengannya, bau masakan bakalan bertumpuk menjadi satu. Herannya saya tidak membaui hal yang aneh. Apalagi saya paling membanggakan soal kepekaan penciuman. “Jin lewat saja saya bisa cium jenis cutex kukunya.”

Eladhalah dia keukeuh mulai melakukan investigasi seantero rig mencari asal muasal sumber bau. Ya sudah silahkan diteruskan sebab saya sudah mulai menguap mengantuk. Padahal masih harus menjalani terapi 10000 langkah sehari, yang biasanya 100 menit berjalan kaki.

Keesokan harinya saat pembacaan kartu STOP, ini program HSE setiap manusia di Rig Pengeboran fardhu hukumnya untuk menyumbang satu kartu setiap hari berisikan ulasan berkaitan dengan keselamatan kerja. Rommel, nama Filipino ini mendapatkan penghargaan dan konon uang yang „glek nyem nyem jumlahnya.

Anak seorang Jendral Filipina dengan wajah mirip Anak Jepang ini besar di Amerika sehingga bahasa Inggris akses ala Filipina sudah lenyap sama sekali. Mendapatkan penghargaan?

Ternyata hidungnya menunjuk pada sebuah kamar di ruang mekanik. Ia menemukan sekelompok Aki sedang di isi (charge), tetapi lantaran sudah „over charge“ – cairan baterei mulai bergejolak mengeluarkan aroma asam sulfat.

Kalau saja keadaan dibiarkan berlarut bisa jadi aki bakalan meletup, dan bahaya selanjutnya bisa diduga, kebakaran atau kecelakaan kerja bagi orang malang yang bekerja didekatnya.

Rommel merupakan pekerja pinjaman dari Rig Pengeboran lain. Mereka kelompok yang tidak punya rig lantaran Rignya terbakar dan harus mengalami perbaikan berat. Gara-garanya sederhana. Tukang Las di rig sedang bekerja disebuah lantai. Peraturan keselamatan, setiap ada pekerjaan las, harus didampingi seorang „Pemantau Api“ yang dilengkapi dengan pemadam kebakaran jinjing.

Cuma, lantaran pekerjaan ini pada galibnya duduk bengong berjam-jam pendeknya membosankan maka diserahkan kepada anak muda yang masih „plontos“ di rig. Matanya anak baru ini memang mengawasi si tukang las, namun saat api memercik sebuah isolator dan mulai terbakar ia melihatnya sebagai bagian dari pesta tukang las, sampai akhirnya api membesar dan rig terbakar.

Bagusnya Rommel, belajar dari trauma dan peristiwa kebakaran tersebut sehingga pengalamannya dapat menyelamatkan kami dari kecelakaan lebih lanjut. Sementara kita lebih senang menyebut sebuah kecelakaan dengan „takdir dari sono“, apalagi diimbuhi cerita mistis bahwa sebelum kebakaran terjadi, ada bintang besar mendekati bulan, ada lintang kemukus melintas dan pelbagai peristiwa alam kosmis sehingga ujungnya seperti hendak mengatakan „sudah diperingatkan dari alam sana, jadi kalau akan terjadi terjadilah.“

Dan kali ini saya sekali lagi diperingatkan agar jangan pernah meremehkan „yang muda yang belum boleh bicara.“

Pelajaran lain, men”charge” aki ternyata bukan pekerjaan boleh dilakukan serampangan secara berlebihan. Ada bahaya yang mengintip.

Posted in Hormat

Lalat


Mosquito_Net

Mungkin anda pernah kelimpungan berbicara dengan orang Australia yang nyempreng dan beraksen nggak jelas ditelinga. Para ahli bahasa menemukan jawab bahwa penyebabnya adalah saat berbicara mereka sekaligus menghembus lalat yang menerobos alat pernafasannya. Banyak orang percaya bahwa binatang kebanggaan Australia adalah Kangguru, terbukti mahluk berkantung ini dipakai sebagai bendera perusahaan penerbangan Qantas. Tetapi banyak yang tidak percaya bahwa binatang yang paling hebat di negeri ini sebetulnya lalat, sehingga orang meledek sebagai “National Bird of Australia”. Bahkan perilaku lalatpun banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di negara lain termasuk Indonesia, cara menghormat ala militer dilakukan dengan telapak tangan sejajar badan dan bergerak mendekati kepala seperti hendak melakukan pukulan “chop” dalam karate (tapi bukan). Namun di Australia, orang memberi hormat dengan dengan menggerakkan tangannya didepan muka sehingga terkesan mengusir lalat. Body Languange itulah kelak disebut sebagai “Australian Salute“. Dan belum ada Kangaro’s Salutes.

Bahkan orang yang dianggap pintar “bukan lantaran minum jamu” melainkan bersih dari lalat diwajahnya. Dan kondanglah peribahasa “No flies on him” – sebab sehebat orang pasti bertekuk lutut atau malahan “girap-girap” apabila berhadapan dengan mahluk kecil ini. Lagi-lagi belum ada “No kangaro’s on him”.

Sementara peribahasa yang kita kenal adalah “Sekali Tepuk Tujuh Lalat,” – sebuah petuah yang menghalalkan segala cara potong kompas guna memperoleh suatu kenikmatan.

Tapi paling asik menyaksikan lalat hijau berusaha menyerbu kamar. Entah sudah kejedut berapa kali kepala menabrak kaca transparan tetapi dia “hayuh” saja mencoba masuk padahal jendela sebelahnya sudah dibuka lebar.