Posted in resensi pelangi

Laskar Pelangi – cerita masa anak-anak yang sudah langka


Kalau anda pernah membaca kisah petualangan empat sekawan, mungkin Laskar Pelangi memang seperti mengambil tema persahabatan masa anak-anak.

Cuma ke sepuluh tokoh dalam cerita ini memang unik. Tokoh Lintang misalnya, ngelaju (pergi-pulang) naik sepeda 40 kilometer setiap hari ke sekolah pakai sepeda, mungkin cerita biasa bagi anak-anak Yogya puluhan tahun lalu, namun bagi anak Melayu Belitung, adalah ujian mental.

Mau sekolah terus atau kembali membantu perekonomian orang tua dengan menjadi kuli parut kelapa seperti abang-abang mereka.

Lalu kekonyolan Lintang sekalipun bukan tokoh utama, ketika rawa yang akan dilaluinya sudah ditunggui penguasa rawa yaitu seekor buaya besar.  Ia memperkirakan jarak berdiri dengan buaya sekitar 15 meter. Lalu ia mulai berhitung mempraktekkan rumus energi massa Einstein bahwa kalau dia melaju dengan kecepatan setara dengan kilat beserta sepeda rongsoknya maka sesampainya di seberang rawa, buaya bodoh tidak akan mampu mencecarnya. Namun ketika ia mendekat berjarak 13 meter, ia sedikit ragu sebab dapat mendengar nampaknya perut buaya sudah mendekur pertanda lapar. Disaat anak kecil yang tak mengenal marabahaya ini ragu, muncul manusia rawa yang bolot lantaran kerap menyelam di sungai, namanya Bondenga. Bondenga dengan sabar memegang punggung buaya dan membisikkan sesuatu. 

Ajaib buaya menggerakan ekornya seperti Scooby Doo melihat kue taart, lalu melompat masuk rawa dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari kilat yang diperkiraan Lintang.

Bondenga disebut pawang ular sebab ketika ia masih kecil, sang ayah terjun ke rawa penuh buaya. Saat ditemukan, ada sepotong kakinya tersisa. Tidak lama kemudian di rawa muncul buaya besar berkaki buntung.

Kalau saja Lintang nekad merangsek buaya dengan adu cepat menyeberangi rawa, mungkin ia sudah berada di perut buaya, dan orang hanya menemukan sepeda rongsoknya.

Untuk mendemonstrasikan kegunaan sekolah, Lintang pernah bertanya kepada bapaknya sang Cemara Angin, lantaran tubuhnya yang kurus kering. “Empat kali empat berapa ayahanda?”.

Sang ayah yang buta hurup langsung menghilang lari ke balai desa mencari jawaban yang tepat. Secepat pelanduk sang ayah sudah ada didepan Lintang dengan napas tersengal dan senyum bak kucing garong habis mencuri peda. “Empat belas anakku, tak kurang tak lebih.” Usut punya usut ayah lebih terpaku pada jumlah keluarga yang ditanggungnya, ketimbang angka yang diberikan aparat desa.

Atau saat sekolah mereka SD Muhamadiah papan bawah, dengan semangat sekolah macam Lintang ikut perlombaan cerdas cermat di kota. Persis seperti cerita filem ala “sister act” anak-anak desa ini berusaha mempertunjukkan kebolehannya agar nama mereka tidak dilecehkan. Dan yang terpenting sekolah tidak ditutup karena kekurangan murid.

Karena anak desa tidak terbiasa dikerumuni orang banyak, tidak terkecuali Lintang yang paling dijagokanpun terkena demam panggung sehingga mustahil akan memenangkan perlombaan. Menekan belpun ia tak sanggup.

Maka bukan alang kepalang sorak sorai pendukung SD Muhammadiah ketika Lintang mampu meraup semua pertanyaan juri. Tak terkecuali teman mereka Harun yang tak henti-hentinya bertepuk tangan dengan keras. Sayang wajah Harun selalu menoleh ke luar jendela. Rupanya ia memberikan semangat anak perempuan bermain kasti di luar ruangan.

Lain halnya dengan Mahar. Manusia kreatif yang seperti tidak habisnya menggagas ide aneh. Biasanya karakter demikian sering menyerempet hal-hal berbau esoteris. Misalnya, setiap menonton penampakan Pelangi, Mahar akan berceloteh bahwa benda berwarna warni adalah lorong waktu untuk berhubungan dengan leluhur mereka orang Sawang Purba.

Mahar mempunyai monyet yang dilatihnya dengan sabar sehingga mampu meniru gaya pelatih binatang komidi topeng monyet. Dan Mahar menggantikan fungsi monyet dalam topeng monyet yang jumpalitan sambil menarik pedati dan membawa payung pergi kepasar.

Saya banyak ngikik dengan perbendaharaan yang dibuat penulis. Untuk badan lunglai seperti kalau mengharapkan sesuatu tidak kesampaian, misalnya, pengarang buku ini melukiskan „bak tulang masuk presto”

Sebetulnya buku ini seperti menceritakan masa ke Timahan, pulau Belitong tempat mereka bermain mencelupkan tangan ke tanahpun sudah mendapatkan timah. Sampai kehancuran rumah-rumah Gedong milik Stap (staf) setelah harga timah anjok di pasaran.

Cerita mengalir dengan gaya kedaerahan aseli Sumatra sehingga bagi pembaca asal Jawa mungkin sedikit berkeringat membayangkannya. Kalaupun ada hak yang sedikit saya kritik, penulis seperti hendak mengumbar ilmu gado-gado dari majalah semacam Trubus sampai ke buku Sci Fi yang lainnya yang mungkin didapat dari Wikipedia, Encarta, Iwan Gayo kedalam ceritanya. Jadi kadang berkerut membaca istilah latin yang diumbar habis disini.

Yang pasti saya seperti digitik-gitik ke masa kecilku.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

5 thoughts on “Laskar Pelangi – cerita masa anak-anak yang sudah langka

  1. pak mimbar, resensi yang keren banget dengan flashback ke diri bapak sendiri🙂 kalau empat sekawan itu yang mana ya? saya pas kecil dulu bacanya lima sekawan [the famous five] yang dari inggris itu. samakah?

    Like

  2. Mbak Ari, hehehe anda betul. Rasanya saya sudah kabur antara memory yang kurang ram, lalu software jawa yang sekawan = papat jadi papat nggih sekawan.

    Like

  3. Sama dong sama mbak Ukirsari…lima sekawan mania!

    Omong-omong blog atau web nya mulai beranak ya pak?! Anaknya sekolah di almamaterku toh…(beda jurusan he…he…he…tapi yang di geo biasanya ganteng2 he..he..he..ketahuan dulunya tukang ngeceng! Tapi nggak berhasil tuh!)

    Like

  4. cerita itu menggambarkan anak-anak masa dulu yan fselalu akrab dan sekarang jarang ditemukan begitu.karena oranf tua sudah sering melarang anak-anak untuk keluar rumah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s