Posted in kebaya

Kebaya


Sudah setahun dua lalu orang rumah mulai menabung untuk menikahkan anak pertama kami. Salah satu tabungannya adalah membeli bahan kebaya yang kelak akan dibagikan ke sanak famili terdekat.

Bagi perempuan Jawa, kalau belum pakai kebaya dan kain wironan yang “mlithet” menjerat dan mencekik tubuh, lalu berjalan berjingkat seperti memakai sepatu satu  nomor kekecilan, mereka bak anak kecil kehilangan dot tapi bahagia dan seksi. Padahal mau tidurpun harus tertelungkup agar sanggulan (konde) tidak rusak berantakan.

Ada tiga titik kebaya yang kami serbu.

Pertama kawasan Citraland yang umumnya dikuasai kelompok keturunan Inspektur Thakur, lalu kawasan Passer Baroe yang juga oleh Inspektur Sanjay dan yang ketiga kawasan Tanah Abang yang dipegang oleh para Halak Hita dan Putri Gurun Gobi.

Saya tidak begitu hapal berapa pastinya panjang kain kebaya. Pasalnya orang rumah sekarang sudah mulai pasang ancang-ancang GTM alias gerakan tutup mulut manakala saya menanyakan “urusan perempuan” – Barangkali ia sudah paranoid bahwa cerita rumah tangga bakal di “ewer-ewer” alias diumbar ke internet. Emangnya kami sekumpulan bin(a)tang selebritis, komentarnya singkat.

Katakanlah sebuah kain diperlukan satu tiga perempat meter. Setelah putus harga.

“Bret,”  kain diukur pakai meteran kayu yang warnanya sudah kecoklatan dan berbau antara formalin dan jangat manusia serta lemaknya. Lalu “jreng” kebaya kami bayar.

Cekatan sekali tangan para asisten toko tersebut bekerja. Kain bal diglundungkan, lalu didepan kami barang diukur dan sebuah gunting besar tajam memotong dengan presisi setara mesin potong laser.

Karena beli dalam jumlah banyak, dengan nuansa perkawinan akan dibuat “ungu” maka kami mendapat diskon cukup lumayan.

Nah, setahun kemudian, mendekati bulan B, kebaya mulai dikirim ke penjahit, beberapa dikirim kefamili dan kami mendapatkan respon, bahwa selain mendapat diskon harga, panjang kebaya juga didiskonto. Dan beberapa menemukan kebaya hanya satu setengah meter.

Ini masalah pelik, karena corak kebaya dari tahun ketahun selalu berubah. Konon tidak mudah mencari tambalannya. Dengan kain secarik kurang satu strip maka semua urusan jahit menjahit kacau. Kecuali nekat menjahit kebaya model tank top.

Lantas ketika akan diklaim, persoalannya nota pembelian yang secarik kertas merah kecil hasil tindasan kertas karbon sudah entah dimana ujudnya. Saya pernah mengalami hal yang sama untuk bahan celana saya, Ketika saya komplain mereka dengan mudah menampik “barangkali tukang jahit bapak yang salah ukur.” – Dia masih menahan mulut untuk tidak mengatakan “penjahit geblek.”

Inilah faktor yang belum pernah masuk hitungan.

Apakah karena bahan kebaya yang begitu lentur sehingga ketika dijembreng – ditarik keras, mereka mulur seperempat meter. Atau terjadi mis-ukur (salah ukur).

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s