Posted in australiana

Mangga


Kebetulan seperti di Indonesia, dikenal pula musim mangga di Australia, dan lalatnya tentunya.

Yang lucu mangga Australia ini tidak dimakan dengan cara dikuliti. Cukup disayat beserta kulitnya satu mangga menjadi empat sayatan. Lalu cara makannya dengan disendok seperti mendulang pepaya kepada bayi.

Mangga gemuk jenis R2E2 dijual di supermarket macam Woolworth perbutir dengan bobot sekitar 750gram. Tapi rasa mangganya memang luar biasa manis sekalipun aromanya hampir tidak ada. Texturnya tidak berserat sehingga tidak kuatir menjadi selilit digigi. Ada yang rasanya seperti madu (bukan dimadu). Sehingga tak heran namanya mangga madu. Makan mangga belum nyamnyam kalau belum melumat habis bagian biji (pelog)nya. Saya harus kecewa sebab bagian tersebut sudah dibuang. Sampai kepikiran orang Australia apa tidak tahu justru bagian sekitar biji itu yang plus nilainya?

Baru memuji rasa madu mangga, teman saya Shenal dari India berkomentar “Mangga India lebih besar dan lebih manis.” Amjaad Ali dari Pakistan menukasi “Naaah, mangga Pakistan lebih jozz.” Saya pikir apa ini yang menyebabkan kedua saudara ini berperang pada 1947 sehingga muncul negara Pakistan.

Eh kok keesokan harinya Andriano dari Philipina menyombongkan mangga Pilipina terkenal didunia.

Lalu saya bilang, kalian sebetulnya homesick saja. Lalu saya cerita mangga Indonesia. “mulanya (rasa) biasa saja, akhirnya jatuh cinta.” – seperti lagu cadel Meriam Belina. Namun begitu menyelesaikan etape pertama, ada rasa ketagihan seperti sensasi menikmati popcorn sambil menonton filem horor. Bayangkan dilayar putih, pemainnya malam-malam berjalan di gang becek dan hanya ada penerangan lampu sekadarnya. Lalu saat ada bunyi klotak ia malahan berteriak memanggil dan mencari suara yang dikira temannya. Sementara itu sang pembunuh berantai sudah menunggu dengan pisau jagal yang tajam ditimpali musik lambat jreng-jreng. Tanpa disadari kita seperti diperintah memasukkan butir popcorn kedalam mulut dengan jumlah dan volume bak sepeda motor saat pergantian lampu merah ke hijau di perapatan Olimo.

Itulah sensasi mangga Indonesia. Nikmatnya baru muncul setelah mangga tertelan habis dalam mulut. Lalu kita akan mencari sisa mangga yang lain lagi. Dan populerlah dengan nama “Mana Lagi.”

Yang bikin saya bersiul Garuda Pancasila adalah perbandingan harga yang “nonjok” kalau melihat mangga yang dijual dari Pasar Minggu sampai Bekasi diobral tiga kilogram sepuluh ribu rupiah (etc satu dollar lebih sedikit). Padahal di Perth untuk bobot yang sama kita harus merogoh 20 dollar (150 ribu rupiah bukan sepuluh ribu rupiah). Itu sudah harga “Roll Over” – bahasa sana untuk diskonto besar-besaran.

Inilah yang membuat saya di Bekasi bertingkah bak kesurupan jin Iprit. Pagi sore ngejus mangga. Perkara sedikit masam karena mangga memang sudah dipetik sebelum matang tolensi sedikitlah.

Menurut penjualnya jika “Tunggu matang puun (pohon) keburu disulap jadi sandal jepit” – mangganya diganti dengan sepotong sandal jepit bodol yang putus tali saat pencuri mangga terburu-buru mengangkut jarahannya.

Advertisements
Posted in keluarga

Cucu


Tanggal 8 Desember 2007, pernikahan usai. Kedua orang tua mempelai baik dari Lia (Mimbar Bambang Seputro+Erni) atau Seno (Susilo dan Tatik) berpesan dalam tangis haru. Segera berikan kami cucu, jangan ditunda lagi. ASAP. Tanggal 25 Desember istri saya mengabarkan bahwa Lia mengeluh kram pada perutnya, dan menstruasi belum juga datang. Dokter Singapura memberikan sejumlah obatan, namun pihak lain mengatakan “tanda-tanda kehamilan” – Sayangnya test pack yang dibilang supercanggih tidak berhasil menandai adanya perubahan hormon dalam tubuh anakku.

Ibu (alm) saya tergolong kelinci, sepuluh anaknya ceprot dilahirkan. Saya sering bergurau, lha sendal jepit ibu ketindihan sandal bapak saja sudah “tek dung tralala.” Namun kalau dari pihak istri saya, ada gangguan dalam rahim sehingga untruk menghadirkan seorang anak, dperlukan usaha medik cukup lama.

Mudah-mudahan sebentar lagi aku memperoleh momongan dan alangkah indahnya mendengar mulut mungil menyanyikan lagu Garuda Pancasila akulah kumur-kumur (pendukungmu).

Posted in keluarga

Terimakasih Lula,6th, kepada Tante-tante dan Oom-Oom di Wikimu


“Kami sekeluarga sampai menundukkan kepala, terharu atas perhatian yang diberikan para Wikimuer terhadap Lula,” demikian tutur sang Nenek bercerita ketika ditemui Lia dan suami dalam satu kesempatan mengunjungi Lula di Singapura. Lalu Lia bercerita bahwa surat merah muda yang ditulis oleh Lula,6, saat pernikahan mbak Lia dan mas Seno dimasukkan kedalam situs Wikimu.

Dengan antusias Lula ingin melihat bagaimana tulisan tangannya bisa muncul di Internet. Saat yang sama ia mengetahui bahwa betapa banyak orang memberikan doa bagi kesembuhan sakit Lula di Wikimu. Mereka juga tahu ada puluhan mungkin ratusan doa disampaikan hanya tidak berujut tulisan sebagai tanda empati.

Yang Lula tidak sangka, suratnya yang sederhana dengan kalimat tulus anak-anak yang sedang belajar menulis namun mampu membuat setiap pembacanya larut dalam emosi yang seperti membuat tenggorokan tersekat dan mata memerah.  

Apalagi setelah ia baca cerita seorang bocah putra mas Aloy, menyempatkan diri menanyakan keadaan mbak Lula kepada ayahnya yang baru pulang kantor. Padahal mereka tidak saling mengenal.

Hari itu Lula sedikit rewel. Efek kemo membuat rambutnya harus dipangkas. Bahkan anak ini sempat depresi tidak ingin ketemu dengan siapapun. Untunglah ketika mbak Lia dan Seno datang sambil membawa boneka Barbie yang bisa berganti wigs, Lula menjadi terhibur. “ini kan boneka yang aku minta sudah lama, tapi tidak dibelikan mama, sebab mahal.”

Lalu sang Nenek yang masih cantik dan modis ini bercerita bahwa Tuhan menyayangi anak yang sabar seperti Lula. Lula memang tidak pernah mengatakan kepada mbak Lia suka kan Barbie, namun doa Lula didengarkan Tuhan sehingga kebetulan mbak Lia “krenteg” tergerak hatinya menghadiahkan boneka Barbie seperti yang kamu idaman sudah lama. Dengan adanya Barbie, Lula seperti ada teman senasib.

Lula sempat bertanya setelah mbak Lia menikah, apakah aku harus panggil Tante Lia, tidak boleh mbak. Dia masih menengok berganti-ganti kearah nenek dan Lia, ketika diberitahu bahwa panggilan tidak berubah sekalipun orangnya sudah menikah.

Seandainya Lula mau menuliskan surat dan mengirimkannya kepada oom-oom dan tante di Wikimu, pasti teman Lula makin bertambah banyak.

Posted in oil rig

Ketika TC Melanie mulai jaipongan.


Teman-teman di rig setiap hari mendengarkan berita mengenai perkembangan tekanan udara rendah yang mulai melanda beberapa kawasan di Australia. Pasalnya TC Melanie dikabarkan sudah mulai turun ketengah arena memperlihatkan tarian alamnya yang mampu berputar dengan kecepatan tinggi. Sekalipun jarak arena tari sampai hari ini Jumat 28 Desember masih pada jarak aman 610km kearah pantai dengan kecepatan langkah 8km/jam tentu sebelum kebagian sampur, kami harus buru-buru meninggalkan arena.
Ada beberapa pertimbangan bahwa sebentar lagi pengeboran akan menusuk titik berbahaya, sekaligus titik menentukan karena disitu perut bumi menyimpan harta karunnya. Lha kalau sedang asik mengebor, tiba-tiba air laut meloncat-loncat setinggi enam meter maka bisa berbahaya untuk keselamatan pekerja pengeboran. Tinggi gelombang enam meter memang membuat rig tidak jaipongan tetapi “rock and roll.” Celakanya kadang angin yang keras sering mampu meniupkan air laut kedalam kabin kami. Tahun lalu seperangkat alat komunikasi kami langsung tidak perlu dicolok listrik sebab sudah “dut” gara-gara air laut. Belum lagi kursi dan kasur basah semua.

Lalu ingat pengeboran dikapal di Tailand dengan operator bor orang Amerika yang sedikit arogan. Mereka berpatokan pada keberhasilan menaklukan laut ganas semacam Laut Utara. Apalagi saat itu seperti terjadi perlombaan “kapal mana yang mengebornya lebih cepat.” – Akibatnya faktor keselamatan di nomor kuncikan.

Satu bulan setelah saya tinggalkan negara gajahputih apes datang.

Taifun beneran datang, kapal terjungkal dan memakan jiwa 90 orang lebih yang semuanya bisa berenang tetapi tidak mampu melewati masa kritis hypotermia.

Yang menawarkan hati, pemerintah Australia sangat berhati-hati dengan keselamatan pekerjanya.

Mulai hari Jumat 28 Desember memang nampak kesibukan. Beberapa personel sudah dikirim kedarat. Pipa pengeboran segera dicabut, diurai dan ditidurkan dikapal. Lubang bor yang terbuka disumbat dengan penyekat bernama “Packer” – sumbat ini dipasang sekitar dasar laut pada kedalaman 235meter.

Hari-hari yang biasanya hanya dikunjungi satu helikopter sehari, sekarang bisa setengah lusin berdatangan. Maklum 100 penumpang, kalau satu Superpuma mengangkat 16 penumpang, berapa kali Chopper harus bolak balik Karratha – Rig.

Hanya bedanya, evakuasi kali ini tidak disertai jerit histeris, perlawanan masa. Ka para pengungsi malahan senyum-senyum gembira.

Peristiwa evakuasi adalah semacam bonus bagi kami. Tetap dibayar sewa penuh tetapi kerjanya hanya melingkar di tempat tidur hotel yang ditunjuk. Apalagi menjelang Tahun Baru. Semua berkat tarian TC Melanie alias Tropical Cyclone Melanie.

Posted in oil rig

Kapal Pemboran Jackup


JackupJenis lain dari pengeboran yang banyak dipakai di Indoensia adalah Jackup atau dongkrak. Syaratnya, kedalam air tak lebih dari 100meter. Kalau ada lima atau sepuluh peralatan ini berendam di laut, maka bayangan robot dalam filem StarWar seperti mendekati kenyataan.

Posted in oil rig

Melihat proses pembuatan sebuah Rig Laut


Pertama tentunya para investor yakni perusahaan pengeboran (Oil Drilling Company) akan melongok bola kristal alias meramal kemungkinan proyek pengeboran pada masa mendatang. Sebuah perkerjaan yang membutuhkan kerja mirip intel sebab selalu balapan karung dengan pihak kompetisi.

Lalu bila memang sudah ada lampu hijau, dibuat sebuah maket agar para awam dan orang kaya yang tidak mau dipusingkan dengan gambar teknik akan mudah untuk memvisualisasikannya.

Dan seperti tampak pada gambar di bawah ini adalah saat pengerjaan sebuah rig. Biasanya dibangun badan atau kotak besi untuk ruang akomodasi. Atau orang bilang “hull” kapal.

Kemudian meningkat pembuatan kolom-kolom rig yang separuhnya akan terendam kedalam laut namun tidak sampai menyentuh dasar laut (melayang) sehingga dari sini datang nama “semi submersible

Untuk perbandingan antara sedang Rig Pengeboran (kiri) yang sedang dibangun dan yang sudah siap tempur (kanan).

Kapal pengeboran jenis ini adalah kelas “Jumbo Jet” dalam dunia aviasi. Sewanya mahal sehingga hanya perusahaan bonafid yang mampu memanfaatkannya.

Kisah penemuan rig jenis ini sangat sederhana, pernah saya ceritakan sebelumnya. Mereka membuat miniatur, lalu diapungkan disebuah kolam renang tetangga karena mereka belum setenar sekarang. Bahkan karyanya diejek, disingkirkan karena terlalu berbahaya. Penemunya harus kesana kemari mencari dana untuk mewujudkan cita-citanya. Sekarang semuanya berubah drastis. Dunia masih bisa bersinar karena kapal pengeboran mampu menjelajah ketengah laut sementara orang lain masih tidak memikirkannya.

Posted in keluarga

Tim Sukses 7-8 Desember 2007


Tim Sukses 7-8Des2007

Foto ini diambil didepan rumah kami di jalan Pendidikan no 73 Bekasi, Kelurahan JatiMekar, Kecamatan JatiAsih Bekasi. Sesaat setelah selesai upacara Jawa, bleketepe.

Inilah salah satu tim sukses kami melakukan pernikahan Lia dan Seno pada 7-8Desember 2007. Anak saya mungkin tidak sempat menyatakan terimakasih namun melalui media dini nama mereka akan saya abadikan. Namun sampai menutup mata jasa mereka tidak akan saya bisa lupakan.

Dari kiri adalah Pak Azis. Kami memanggilnya papa Trio Kwek Kwek hampir Kwartet malahan.

Lalu pak Yatno, kepala sekolah dari Yogyakarta. Mendalami spiritual dan ilmu seluk beluk penganten. Berikutnya anak saya bungsu Satrio Wicaksono, kemudian Mas Wahyu yang berada sedikit dibelakang yang mengojok-ojoki saya dengan keris pusaka luk tujuhnya.  “Dik Miem kan dengar sendiri kerisku bisa kothekan (berbunyi) kalau malam Jumat, kok ya nggak mau dipakai sih?” –

Lalu istri saya Erni, di Internet cukup kondang dengan pengobatan alternatif keladi tikus ia dikenal Ibu Erni.

Berikut bapak Sumarwi, Ibu Sumarwi pasangan yang September lalu merayakan pesta emas (50tahun) pernikahannya. Kedua orang ini nampak seperti kakek dengan anaknya karena penampakan Ibu Marwi yang selalu gembira, temperamental sehingga nampak selalu muda. Orang kadang mengira ia istri saya kalau dilihat penampilannya yang masih segar dan menthel.  Ada ciri khas kedua pasangan ini yang sangat diingat oleh kerabat. Setiap sang suami berbicara , sebelahnya selalu mengoreksi dan akhirnya mengambil alih pembicaraan. Entoh kerikil kecil ini dengan mudah diatasi dalam bahtera kehidupan mereka.

Lalu yang berbatik, eng ing eng, saya sendiri, diteruskan mas Pardi tukang batu yang kalau sudah jam enam seperti robot, bekerja dan bekerja sampai jam enam lagi.  Sekalipun dibayar harian, ia pantang bermain jam kerja. Baginya cepat selesai lebih baik lantaran ia sudah di “booked” keluarga lain.

Pardi budek kami memanggilnya, ia berjasa ketika tegangan listrik naik turun ia merasakan ada yang aneh pada lemari es dan lampu-lampu kami. Spontan kulkas, pompa air, mesin cuci dimatikan. Dan itulah yang menyelamatkan kami dari kerusakan lebih parah akibat pelayanan PLN yang parah namun sangat garang kalau menagih rekening. Pardi pernah dirawat di rumah sakit jiwa.  Mungkin stress. Namun sampai sekarang dia merupakan pekerja jujur dan rajin. Terus terang tanpa kehadirannya bisa jadi rumah saya sudah terbakar. Kalau ingat disana pingin saya memeluknya.

Lalu pak Supar, dulu ibunya sampai jompo ikut pada keluarga orang tua istri. Supar sendiri mengajar istri saya lalu iapun memberi les pada anak saya. Jadi dia guru keluarga. Seminggu sebelum hari “H” dia tinggalkan warung yang menghidupinya sehari-hari lalu menginap dirumah kami. Sebegitu dekat hatinya kepada anak-anak saya.

Dan yang terakhir, paling kanan adalah pak Har kami dapuk, daulat menjadi pimpinan proyek ini. Pak Har kami pilih sebab sebelum pensiun dari Angkatan Udara, pekerjaannya adalah logistik persiapan upacara militer.  Pak Har sudah seperti perlakukan seperti ayah saya sendiri. Kadang untuk mengisi waktu luangnya saya meminjamkan buku-buku yang pernah saya baca. Tim inilah yang tidak pernah muncul kepermukaan namun bukan main sepak terjangnya.