Posted in tarub

Bleketepe


Bleketepe Ketika suara lengkingan sapu lidi pak Supar terdengar bergesek dengan lantai “con blok”, saya seperti lagi-lagi tersadar, hari berat tetapi menyenangkan sebentar akan kami alami.

Relawan yang lain lantaran sudah semalaman nyaris bergadang mempersiapkan upacara pemasangan beleketepe bagi perkawinan anak saya. Nampak masih tertidur.

Sebagian mulai terbangun. Mereka kecapean mengatur susunan “tuwuhan” alias hiasan yang terbuat dari hasilbumi. Memang sudah mengalir “ubo rampe” acara seperti beberapa tanda kelapa, pisang raja, tebu ireng, seikat padi, buah buahan dan hasil pertanian yang ditengarai memiliki “daya linuwih.” – Namun ternyata Janur Kuning masih belum kumplit.

Malam itu juga “Deo” manjat kelapa entah milik siapa untuk diambil Janurnya. Untung para pemilik kelapa tidak tinggal disekitar kebunnya. Deo harus merelakan hari-harinya sebagai pengemudi angkot – ditinggalkan untuk membantu kami.

Famili dari luar kota mulai berdatangan, mereka khusus minta cuti kantor, sebagian bahkan menutup pintu usahanya.

Yang memiliki anak masih bersekolah tentunya akan kesulitan datang menghadiri pernikahan ini sebab masa depan anak-anak jauh lebih penting. Ada yang minta ijin karena harus memenuhi panggilan Haji.

Salah satu famili, mas Yatno minta sebuah kamar hening untuk ia bermeditasi mengharapkan berkah dari pencipta alam agar semua upacara berjalan lancar.  Dulu beliau ini saya pernah saya ajarkan cara menarik energi semesta. Namun rupanya sekarang kemampuannya meningkat bahkan bisa berdialog dengan alam bawah sadar. Sehabis meditasi dia berbisik, yang “mbaurekso” kawasan ini kurang puas dengan “caos dahar” sajen yang telah diberikan. Ada beberapa pernik yang perlu ditambahkan. Tapi saya tidak leterlijk menanggapinya.

Acara pernikahan merupakan melting point dari sebuah keluarga besar. Semua unsur bersatu. Yang percaya kepada tradisi, yang setengah percaya sampai yang tidak percaya. Mereka mengesampingkan segala perbedaan demi lancarnya sebuah perhelatan.

Gara-gara pasang tenda saya separuh menyalak kepada anak-anak tetangga untuk menyingkir dari kegiatan menurunkan tiang besi tenda. Dengan suka cita anak-anak diantara tumpukan batang besi yang baru diturunkan dari truk. Mereka mengira main rumah-rumahan. Sementara melihat cara kerja pekerja tenda yang sembrono dan sama sekali tidak memperhatikan soal keselamatan terang saja saya kuatir kalau ada kaki mungil telanjang terjepit diantara tumpukan besi.

Sekitar jam 7-an Mas Kris juru potret datang nampaknya kurang sreg dengan penampilan batu alam di lantai taman rumah kami. Semula modus operandinya hanya menyewakan peralatan musik. Namun ia cerdik menawarkan pemotretan mengingat upacara Bleketepe (pasang anyaman kelapa didepan pintu masuk) nantinya harus diabadikan.

Ia mengusulkan sehelai kain coklat dilambarkan di bawah saat upacara siraman kelak agar efek fotografinya lebih dramatis. Tentu saja saya sangat setuju. Dan inilah hasil karya kami (siapa yang mau membanggakan kalau bukan diri sendiri).  Kelak tempat seperti di bawah ini banyak didatangi ular untuk sekedar kos-kosan mengganti kulit mereka.

Taman untuk Siraman

    Jam 9 Desember 2007 pagi saya mulai upacara memasang bleketepe. Setelah didahului doa, maka dengan sebuah anak tangga saya naik sambil dipegangi istri, dan tetangga. Kata Mas Yatno perlambang bahwa untuk mengadakan hajatan, kita masih butuh bantuan tetangga.
    Mas Yatno tidak tahu bahwa barang 10m di sebelah timur kami, sebuah keluarga mati-matian membenci kami lantaran – katanya dizolimi – seperti membuka pagar terlalu berisik, suara bel terlalu berisik, kalau hujan airnya mengalir didepan halaman mereka.  Ternyata selalu manis, gampang memberikan pertolongan  kepada tetangga manakala mereka mengalami kesusahan bukan jaminan selalu (selalu lho) mendapat respons yang kita harapkan. Mudah-mudahan doa saat pemasangan bleketepe bisa menyadarkan keluarga kami dan keluarga seteru kami.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s