Posted in unta

Tiga Unta Dari Timur


Hari masih nampak terang, padahal arloji menunjuk bahwa magrib di Jakarta sudah lama berlalu. Pengamen berpantomin seperti badut kaku yang kesetrum arus petir lalu pemain musik Aborijin juga sudah lama meninggalkan lokasi.

Beberapa tokok-toko di kawasan kota Perth sudah mulai tutup pintu dan memajang tulisan “Sorry We Are Close” – Di Perth, rata-rata toko hanya buka sampai jam enam sore. Tetapi pengunjung masih sungkan meninggalkan taman-taman di lapangan.

Di pojok utara nampak anak-anak muda punk yang ditindik seluruh wajahnya mulai dari lidah, bibir, hidung, pusar entah apa lagi. Mereka biasanya berpakaian serba hitam, ada yang gedomboran, rambut di vaseline bergaya jengger ayam Pelung Sukabumi. Lalu entah mengapa wajah mereka juga bisa dirias pucat dengan kacamata hitam sehingga mengesankan anak Vampir yang sudah beradaptasi untuk tidak takut matahari. Di Bekasi saya sering melihat komunitas serupa yang keluar masuk kampung kami. Bedanya “warna” penampilan baju mereka selain tidak seragam juga lebih kusam dan didominasi celana super ketat, sepatu mirip para kurcaci.

Tiba-tiba terdengar teriakan gempar dari arah Timur. Jelas bukan berasal dari suara para pemabuk “spare me coin Buddy.” – Bagi saya uang recehan.

Saya menengok ke arah suara tersebut. Terang saja para pengunjung mall di Perth mendadak gempar karena kehadiran tiga ekor unta dan beberapa ekor biri-biri gemuk. Salah satu mahluk berpunuk yang kondang sebagai Four Wheel Drive dari PadangPasir ini kencing dengan wajah dingin membuat beberapa orang tertarik untuk mengabadikannya. Karena hewan ini terpelihara baik. Menyentuhnyapun tidak tercium aroma tak sedap. Termasuk biri-biri yang kondang beraroma “prengus.”

Saya sempat kecele, ternyata mereka bukan akan dijadikan kurban pada Idhul Adha nanti (kalau sampai iya kan seru ceritanya). Unta dan biri-biri adalah bagian dari “panggung gembira” warga Perth menyambut Hari Natal dan Tahun Baru 2008. Pasalnya tak jauh dari situ ada ada Gladi Resik atau Gladi Kasar anak-anak sekolah khusus perempuan.

Namanya anak perempuan yang berkumpul, tidak henti-hentinya mereka berceloteh sekalipun diatas panggung. Rupanya kesabaran sang pengarah menipis sampai terdengar kata “animal dont talk” – kepada para pelaku yang nanti berperan sebagai biri-biri. Namun nadanya tetap datar. Apalagi pakai diakhiri “I love you.”

Kota Perth seperti kota besar lainnya di dunia memang menunjukkan kesibukan luar biasa dalam menyambut Natal dan Tahun Baru. Saya sempat memasuki beberapa toko buku seperti Angus Robertson, Dymocs dan Borders. Yang saya saksikan beberapa buku yang biasanya tergeletak begitu saja saat ini nampak habis diborong sebagian sebagai hadiah Natal dan Tahun Baru kepada sanak keluarga mereka. Bergembira sekaligus mendongkrak minat baca.

Kendaraan asal unta didatangkan

Perth 19 Desember 2007 (besok Hari Raya Kurban)

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Tiga Unta Dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s