Posted in keluarga

Gedung ANTAM dan saat bersejarah bagiku (Des2007)


Gedung AnTamGedung Aneka Tambang yang terletak di jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan ini sekarang mengisi tempat di hati kami saat resepsi pernikahan Lia dan Seno. Ketiga Perusahaan yang saya pernah dan masih bekerja kebetulan berlokasi di jalan TB Simatupang. Saat memilih gedung ini pertimbangannya ya – banyak teman tinggal di kawasan ini, lokasi gedung dekat dengan rumah saya dan rumah calon besan. Apalagi jalan Tol Lingkar Luar juga membuat sudetan disini. Dekat dengan Stasiun Kereta Api (kalau mau). Jadi Klop sudah lokasi dan strateginya.

Maka satu persatu calon gedung lainnya kami rontokkan dan saya hanya terfokus kepada satu nama ANEKA TAMBANG.

Waktu kami mendatangi gedung ini H minus satu tahun lebih ternyata gedung sudah dipesan untuk pelbagai acara. Untung ibu Yetty memperlihatkan pada angka 8 Desember 2007, ada arsiran pensil menunjukkan bahwa ada yang pernah memesan tempat ini namun membatalkan pesanannya. Spontan kami “ngecup” – mememesan tempat tersebut. Jadi cari gedung dulu baru urusan hitungan hari baik, atau lainnya mengikuti. Hopo tumon.

BAYAR TUNAI

Pulang dari gedung Antam kami baru sadar bahwa pesan tempat, biaya, koordinasi dengan pihak yang terkait belum dilakukan. Kami masih baru tahap bermimpi percaya tidak percaya akan menikahkan anak di gedung tergolong semi borjuis ini. Lantas apakah Lia dan Seno kedua calon mempelai mendapatkan ijin dari kantor mereka untuk menikah. Saya sendiri belum tentu dapat ijin cuti dari perusahaan saya di Perth- Australia. Wah baru terasa komplek dari rembetan acara ini.

Mula-mula soal pembayaran.

Persoalan lain muncul. Pengelola gedung ini nampaknya hanya percaya kepada pihak bank “M” yang namanya memang terpajang segede dinosaurus di gedung ini. Sayangnya ketika kita harus mentransfer sejumlah uang, kesukaran mulai menghadang lantaran bank jagoan sang Antam menjadi tiarap tidak bisa diandalkan. Boleh percaya atau tidak dari Pondok Gede saya harus mencairkan dana di Bandung (kebetulan disana) lantaran ATM -ATM bank ini kalau hari Sabtu dan Minggu menjadi “kantong kosong” belaka. Seyogyanya pemilik gedung juga lebih “fleksible” dengan menggunakan jasa perbankan yang kalau boleh saya bilang lebih bonafide. Semoga.

Panggung AntamPelaminan ini dihias oleh perias panggung tante “Thres” – kalau yang ini dasarnya kami sudah lama mengenalnya dan pakar menurut kami sehingga tidak usah coba-coba cari yang lain. Bahkan tante Thres, demikiankami memanggilnya,  baru sembuh dari luka operasinya. Suaranya masih lirih ketika kami temui saat menghias pelaminan.

Hanya saja jarak antara pemesanan gedung dengan berdirinya pelaminan memakan waktu tidak tanggung-tanggung, satu tahun lamanya. Maklum letaknya cukup strategis.

Balangan

Acara Balangan.

Salah satu upacara sebelum resepsi dimulai adalah upacara “lempar sirih“. Hanya dilakukan sekedarnya dipandu oleh pemaes dari Surabaya, Ibu Nur yang kebetulan masih “bude” dari keluarga pengantin, Seno.

Sedikit insiden ketika lemparan sirih sang calon suami telak masuk dan bersembunyi diantara kemben anak saya Lia yang memang “botol minum” alaminya luar biasa ukurannya. Terang menimbulkan “gergeran” – sambil menahan senyum. Saya sendiri tidak melihatnya secara langsung. Lia sering menyalahkan papanya karena membuat porsi dadanya selalu bongsor. Kebetulan ibu saya almarhum juga memiliki postur yang sama.
Minum

Acara minum.Saya memberikan segelas air putih kepada putri kesayanganku disaksikan oleh pengantin pria Seno dan para kerabat.

Selendang Mayang Sampur. Selendang dipakai membebat kedua pengantin sebagai perlambang bahwa mereka berdua saat ini masih dibawah bayang-bayang dan perlindungan orang tuanya.

Acara Timbangan. Kedua pengantin duduk dipangkuanku lalu istri menanyakan “berat yang mana Pak?” dan aku harus menjawab “kedua-duanya sama berat”

Aku mendudukkan kedua anakku sekalian memberikan restu sekali dan sekali dan sekali lagi.

Semoga kalian bahagia nak! dengan pilihanmu sendiri. Sebab setelah pernikahan usai, beberapa sesepuh pada jatuh sakit sehingga kalau saja kami menunda perkawinan barang dua atau tiga bulan, boleh jadi beberapa sesepuh tidak bisa datang menghadiri pernikahan seperti sekarang ini.

Kalaupun saya sedih, ibunda sudah tidak sempat menyaksikan cucunya yang selalu dimasakkan “lele” apabila kami mengunjungi beliau di Bandar Lampung. Sementara ayah saya semenjak menikah lagi “rasan-rasan” akan memboikot pernikahan cucunya dengan cara “tidak datang.” – untunglah semua bisa diatasi. Pernikahan itu seperti perang, ada musuh tersembunyi, ada intel, ada provokator disamping banyak supporter.

Acara Kacar Kucur.
Simbolisasi pemberian nafkah lahir dan bathin oleh pengantin pria kepada istrinya. Saya dan istri di sayap kiri sementara besan pak Susilo dan ibu Tatik di sebelah kanan.

Kembul Dahar

Acara “kembul dahar” – alias suap-suapan. Ruangan ini juga dimanfaatkan untuk foto keluarga bersama. Seperti halnya foto studio mereka juga menyediakan “dingklik” – alias bangku kayu sehingga saat di abadikan kelihatannya semua memiliki tinggi badan yang sama. Jangan heran, itu akal-akalan juru foro yang kami sukai.

Ketika keluarga besar saya diundang untuk difoto bersama, termasuk ayah yang akhirnya luruh hatinya, asal istri mudanya diajak serta. (kami tidak suka itu) para juru foto langsung menyerah lantaran jumlah anggota yang luar biasa – hampir satu asrama. Sehingga sudut pandang kamera mengalami kesukaran ambil semua pihak untuk masuk ruang foto. Terpaksa pemotretan dilakukan berkali-kali untuk satu keluarga. Kelak dipanggungpun keluarga besar saya bisa memenuhi tempat dari ujung ke ujung.

Acara Rampokan.
Satrio adik kandung Lia membawa acara rampokan. Maksudnya agar para hadirin dapat ikut bersenang membawa suvenir kecil dari kami. Ingatan saya saat mas Yapto Suryosumarto (dia  ndak perlu kenal saya, tapi saya kenal dan salaman dnegan beliau)- mantu dengan salah satu kerabat kami mereka mengadakan acara rayahan di TMII. Saya ikut melompat rebutan dengan bapak Mentri Kesejahteraan Rakyat waktu itu. Sekarang saya sendiri yang menjadi penyelenggara.

Usai acara rampokan maka pengantin masuk kendaraan untuk mulai acara kirab dari pintu depan.

Kirab pengantin Didahului oleh “cucuk lampah” bapak Suyatno maka kirab pengantin segera dilaksanankan setelah waktu menunjukkan jam 19:00 WIB. Sekalipun para tamu undangan belum lengkap semuanya, namun saya kurang suka acara berjalan menggunakan jam karet. “Show must go on in time.”

Mas Yatno ini sering memanggil saya SUHU hanya karena saya pernah mengajarinya cara megolah aura seseorang di Yogya. Yang matanya tajam dan mudah tersugesti akan melihat asap mengepul diatas kepala kami. Telapak tangan. Dan peristiwa itu sepertinya sangat berkesan sehingga setiap kami mengadakan “hajat” apa saja, mas Yatno dan keluarga selalu menyempatkan untuk datang sekeluarga. Dari Yogya, saudara-saudara.

Padahal saya sendiri sudah meninggalkan ilmu semacam itu. Malas latihan meditasi sebab kata Gde Pramana – meditasi yang terbaik adalah “berbuat baik dan jujur..”

Sambutan

Kata sambutan dari dr. Yatiman yang bertindak selaku wakil keluarga putri dan putra. Ketika saya menikah pada tahun 1978-an, dr. Yatiman yang memberikan sambutan. Dan sekarang “cucunya”  juga memintanya untuk memberikan sambutan mewakili tamu.

Karena peristiwanya sudah berlangsung lama, saya tambahkan “kalimat kurang nyambung ” sebagaiu tips disini bahwa saat menyelenggarakan perhelatan, maka panitia yang kami pilih hanya kecil alias sedikit namun militan. Semua panitia disini adalah panitia yang bisa berjalan sendiri tanpa “pamrih”. Kalau tidak tegas – maka jumlah panitia akan membengkak tetapi bak gelembung sabun, sebentar pecah menjadi buih kecil.

Kalau sehari-hari anda mengenal sanak saudara yang selalu “lelet” dalam persiapan entah alasan anak belum buat PR,  pembantu pulang kampung, jalanan macet – maka sebaiknya singkirkan saja namanya dari kepanitiaan. Kelak karakter ini hanya membesar dalam angka namun tidak ada manfaatnya. Saya malahan tidak menggunakan saudara kandung saya, sebab alih-alih membantu ceramah versi “gurunya” yang saya terima.

Juga kalau anda memiliki kerabat yang “rewel” – selalu menggerutu, selalu tidak puas. Inipun akan menambah beban stress kita.

Saya mencoret keluarga yang “reseh” – ini biasanya yang baru datang kalau “disangoni” alias diberi tiket pergi pulang, minta menginap dihotel, minta jemputan seakan-akan mengadakan pesta adalah kerja sederhana sehingga saya punya waktu untuk meng-hibur- mereka di Jakarta.

Saya juga memilah-milah kerabat yang mulutnya doyan menghasut atau berbuat provokasi sehingga merasa terhibur kalau bisa bertengkar dengan sesama saudara. Biasanya saya coba memancing pihak panitia yang berpengalaman. Ada yang memberikan masukan seperti saat pengantin akan keluar ayahnya tiba-tiba ngambek tidak mau pakai “adat Jawa” – gatel. Padahal sehari-hari “bapakku cuma tani” -katanya. Selalu menurut agenda panitia, tetapi detik-detik terakhir kok rewel.

Soal uang angpau. Anak saya bercerita bahwa kalau di Singapura perkawinan biasanya dilakukan di restoran. “hanya orang Melayu mengadakan di rumah atau halaman apartemen..” – selalu saja Melayu (Malay) dibuat konotasi sedikit terbelakang, padahal orang Malay memandang kita sedikit berada level dibawah mereka. Kalau kawinnya di hotel besar, pihak yang diundang harus menakar berapa ongkos makan disana.  Jadi uang AngPau yang diberikan harusnya sedikitnya lebih tinggi daripada harga makanan rata-rata hotel tersebut. Di Indonesia saya mendengar cerita bahwa banyak orang bangga karena mengundang pejabat dan artis.  Sialnya pejabat biasanya “diberi angpau” sehingga saat diundang ya datang secara halus alias kosong melompong.

Sekalipun sudah diwanti-wanti jangan pernah mengaharapkan angpau, kan ini acara kita, tidak fair dibebankan kepada pihak lain. Namun kenyataannya pihak keluarga saya kecut juga ketika menghitung angpau. Celakanya saya paling anti kalau diajak bicara soal ini, tetapi tak urung kepingin dengar juga. Dasar saya muna(fi)k ya.

Wah kok sepertinya  repot banget ya.

Namun kalau jauh-jauh hari – sudah diantisipasi mudah-mudahan kita jadi lebih siap.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

9 thoughts on “Gedung ANTAM dan saat bersejarah bagiku (Des2007)

  1. saya ngiri banget mbaca prosesi pernikahannya putri panjenengan. betapa megah dan khusuk acaranya. pernikahan saya tercetus 15hari sebelum visa abis, jadi ndak sempet siap-siap .. undangan aja cuman lewat sms dan email .. pas nikahan ga pake riasan, baju aja minjem adek ipar .. udah gitu pas dinikahin yo kok prengesan melulu ..

    Like

  2. Whee la. Maksudnya penulisan ini adalah sebagai memoir kok mbak. Maklum kalau ndak ada yang mau pamer maka segala acara yang dipersiapkan dalam waktu setahun lebih perlahan sirna. Foto menjadi kusam. Mudah-mudahan dengan sarana blog ini bisa dibagikan suka dukanya kepada orang lain.
    Waktu kami akan mengadakan kerepotan sulit sekali mendapatkan informasi sebab semua berdasarkan ingatan dan katanya.

    Like

  3. ya ampun mas… sumpah..
    itu mempelai pria-nya temen smu saya dulu…
    waaah…dunia (maya) sempit yaa…

    apa kabar seno pak??
    titip salam dari saya yaaa…🙂

    Like

  4. Wah ibu saya cuma terima foto dari juru potret. Akibatnya yang dipotret hanya muka dan wajah kita kita saja…

    Like

  5. Wah, walau persiapannya penuh liku-liku, alhamdulillah akhirnya berjalan lancar nikahan anaknya ya pak🙂 jadi nostalgia mengenang persiapan & nikahan saya hmpir 4 th lalu yg persiapannya cuma 2 bulan & budgetnya tak banyak sebab berasal dr dana patungan saya & suami saja, tapi saya rasa yg terpenting adalah kehidupan setelah pernikahan itu sendiri… bukan begitu pak? Salam kenal, ikut berbahagia utk mbak Lia & mas Seno (salam kenal jugaa) Semoga rumah tangganya sakinah, berkah, & selalu dipenuhi cinta sampai akhir hayat nanti, amin🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s