Posted in kabisat

Kutu Kabisat


Teman saya. Merry, yang bekerja pada sebuah usaha penyediaan daging potong bercerita bahwa tadi pagi Jumat 29 Feb 2008, semua komputer di kantornya lumpuh. Mereka menduga serangan virus. Ternyata software yang mengaku paling akurat ternyata kedodoran memperhitungkan tahun kabisat. Bahkan menurut teman tadi enteng saja pihak Technical Support yang dihubungi menyarankan agar ganti saja tanggalnya menjadi 1 Maret 2008.

Akibatnya semua surat, invoice sudah dicetak sehari lebih awal mirip peringatan Serangan Oemoem Janur Kuning yaitu 1 Maret.

Lanjut pihak penjual software tersebut dan berjanji akan memperbaiki program. Dalam suratnya Merry menulis salut terhadap kesigapan juru IT langganannya. Lho kok salut?

Lalu saya merespons dengan mengatakan inilah negeri kita. Toleransi yang begitu besar sekalipun seorang programer kelas sedang-sedang dengan IQ pada suhu kamar harusnya mengetahui bahwa setiap empat tahun sekali bulan Februari berjumlah 29 hari.

Lagian menulis ulang program bukan pekerjaan semalaman sebab biasanya satu baris program diperbaiki kutu program lainnya muncul. Bagaimana kalau kesalahan tersebut terjadi pada instalasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Waktu mendekati tahun 2000, bukan main hebohnya dunia sampai-sampai banyak orang mengeduk untung dengan mengobarkan semangat “Awas, Hati-hati Kutu Milenia” – ada yang berfantasi orbit satelit akan bingung dan saling bertabrakan, dunia menjadi gelap gulita. Untunglah semua dilalui dengan mulus.

Sayangnya ketika terjadi pergantian tahun Kabisat, banyak yang terlena dan seperti teman saya berjam-jam mereka kebingungan menyangka ada kerusakan pada komputer mereka.

Advertisements
Posted in australiana

Kucoba menembak Roo, Burung kudapat


burung_joondalups.jpgNiatnya menembak (kamera) ROO alias kangguru yang kata petugas lapangan golf banyak berkeliaran disekitar padang golf dibelakang hotel saya menginap.

Tetapi hari itu saya kurang beruntung. Kalau dicerita wayang, mustinya langsung tersesat di sebuah pondok ketemu puteri yang cantik sekali. Cuma bedanya saya bukan Raden Pandu dari Astina. Sekalipun demikian “putri” cantik yang saya temui adalah seekor burung yang malu-malu mengawasi saya yang celingukan mencari Roo di siang bolong

burung_joondalups_action.jpgTetapi begitu melihat kamera atau melihat wajah saya yang kuciwa“, burung ini seperti menaruh empati lalu dia bersedia bergaya didepan kamera.

Pertama tama tanpa suara dia meluncur ke rerumputan lalu “cubles” paruhnya seperti membetot sesuatu, mungkin cacing mungkin serangga lain. Habis itu dia bertengger disebuah batu dan siap berpose dengan gaya semanis mungkin seperti hendak meledek “saya tunggu sampai kamera bututmu siap tembak.

Hari itu memang saya kehabisan baterei sehingga adegan sang putri berbulu meluncur dari pokok kayu menyambar mangsa tidak sempat saya abadikan. Maklum kamera digital usianya sudah lebih dari satu repelita, boros dan pilih-pilih baterei. Mbelgedhes kalau memang dini niyat ingsun mestinya bisa ganti. Apalagi Kamera buat sekedar unggah (upload)  gambar ke internet. Tapi kadang dihantui pikiran, lha wong kamera masih bisa berfungsi apa ya harus diganti… Kalau saya sigap dan berdarah jurnalis tulen mestinya setiap saat siap grak dengan kamera.

Komentar dari pembaca “Hartono” saya ambil dari wikimu.com :”wah, hebat pak, itu burung kookaburra yang suaranya nyaring menyerupai suara monyet tertawa, koo-koo-koo-koo-kaa-kaa-kaa-kaa, sehingga disebut Laughing Kookaburra. Salut sekali lagi, Bapak bisa memotret burung itu.”

Posted in gaya hidup, toilet

Adegan Bukan Pornografi tentang Ranjang dan Toilet Hotel


Kalau tidak jadi mudlogger mimpipun tak pernah akan menginap seminggiu disini, gratis pula
Kalau tidak jadi mudlogger mimpipun tak pernah akan menginap seminggiu disini, gratis pula

Gara-gara kuatiran akan serangan badai di rig pengeboran laut, saya dan teman-teman menginap di hotel Hilton Perth – Australia ini dari 8 Februari sampai 14 Feb 2008.

Sempat beberapa malam lalu diminta keluar lantaran hotel sudah penuh karena dipesan oleh pelanggan jauh-jauh hari, biasanya menjelang weekend. lalu kami checkout dan check in lagi ke hotel yang sama tapi  kamar berbeda.

Hanya kali ini saya bergabung (sharing) kamar dengan teman mudlogger yang lain.

Lalu tanggal 14 Februari 2008, pagi-pagi sekali saya pergi ke Perth Domestic Airport maksudnya untuk kembali ke Karratha, lalu ke Rig Ocean Bounty di lepas laut Australia.

Setelah checkin di Qantas (Loket21-23) dan sekali lagi mengoreksi data pribadi saya seperti marital status saya yang dikosongkan, (agama tidak pernah ditanyakan, lalu berat badan saya yang rasanya cuma 82kilogram tetapi menurut timbangan terbaru adalah 85kg.  Ada sedikit pertanyaan mengapa membawa barang sampai 16kilogram bukan 10kilogram bagasi yang disyaratkan. Lha laptop (dengan baterei dan tas)  saja tak kurang 7kilogram bobotnya.

Lobby hotel diberi semacam tugu katanya mengambil dari jaman Mesir kuno.
Lobby hotel diberi semacam tugu katanya mengambil dari jaman Mesir kuno.

Urusan setelah urusan beres, tas dibuka oleh satpam dan digeledah kalau-kalau membawa benda tajam, dan sekarang ditambah lagi membawa DVD bajakan. Tempo hari ada teman dari Filipina  membawa VCD bajakan termasuk game komputer dalam jumlah melebihi jari pada kedua tangan, langsung disita oleh petugas.

Masih terkantuk-kantuk sambil menikmati cappuccino seharga 5dollar tiba-tiba dipanggil melalui pengeras suara “Mr Saputro report to Qantas’s desk immediately“.

Ternyata akibat mas TC Nicholas masih bertengger dikawasan dekat rig sekalipun belum memuncak maka kami diinstruksikan untuk pulang.

Dan ini adegan ranjangnya dengan toilet ada di latar belakang. Laptop yang merupakan pabrik dongeng saya masukkan dalam ransel yang tergeletak diranjang. Namun masih ada laptop lain tergeletak paling kanan. Milik perusahaan Woodside.

Gara-garanya Mr Bill Fawcett seorang konsultan wellsite geologist hanya punya waktu satu jam di Perth sebelum ia terbang ke Sydney. Terpaksa dia minta-minta kepada saya untuk diserahkan kepada Kepala Operasi Pengeboran di markas Woodside di Perth.

Dasar orang Jawa mudah digelembuk (bujuk) orang kulit putih, ya gampang saja saya termakan kata-kata manisnya sehingga saya suka rela membawakan laptop 7kilogam beserta data konfidential sebuah Sumur Bor.

Hari Senin Pagi saya serahkan laptop tersebut kepada Steve Townsend. Selama setahun kami berkomunikasi melalui tilpun dan suara, baru sekali ini berkesempatan temu muka.

Catatan penulis : saya heran mengapa tulisan ini banyak dikunjungi pembaca, apa karena ada kunci pornografi dan ranjangnya ya

Posted in toilet

Adegan Toilet di Joondalups Resort


joondalups_resort.jpgTentunya Hotel dari kejauhan

ranjang_joondalup1.jpg Lantas inilah adegan ranjang yang saya maksud..

toilet_joondalus.jpgRenungan toilet disini. Masak air panas dan mi instan disini sekalipun tidak sampai menimbulkan endog mbledoz (telur meletup)

Tetapi di Joondalups juga kami masih harus bertukar ranjang sebab, ranjang pertama kami sudah dibook penghuni lain.ranjang_jondalups_2.jpgDan inilah ranjang kedua yang kami tempati di hotel yang sama. Ternjadi insiden kecil saat harus checkout sebab pihak hotel katanya belum mendapat pemberitahuan tertulis mengenai status para pengungsi di hotel tersebut. Akibatnya untuk dua malam berada disana harus menggunakan uang pribadi sebesar hampir seribu dollar. Kalau saja semalam belum gajihan yang ditransfer melalui bank Australia bisa celaka kami sebab Kartu Kredit sudah OL.

Posted in gothic

Gothic People


404547840_06c54744e2.jpgSudah sejak lama saya melihat sekelompok anak muda di Perth berpakaian unik. Misalnya menggunakan baju dengan warna dominan hitam, atau sekalinya berwarna dengan warna menyolok seperti pink, ungu. Kadang pemudanya mengenakan topi mirip dipakai Depp dalam Chocolate Factory.Wajah mereka penuh dengan tindikan mulai dari telinga, hidung, lidah, bibir, dagu, bagian alis. Biasanya wajah mereka di make-up dengan bedak putih sehingga mirip mayat. Lalu rambut biasanya disemir warna merah darah atau ungu demikian juga warna lipstick bibirnya.

Lelaki maupun perempuan mengenakan sepatu boot seperti milik DLLAJ namun sol sepatunya dibuat sangat teramat tebal. Kalau mengenakan korset, talinya sama ribetnya dengan tali bola sepak. Jaman saya kecil bola sepak diberi ban dalam dan untuk menutup bagian pentil yang teruka biasanya diikat tali sepatu.

Ciri lain kelompok ini adalah jari-jari yang dipenuhi cincin mulai dari jempol, kelingking, jari manis. Kalau mengenakan celana panjang hitam dari bahan tebal biasanya mulai dari pinggang sampai matakaki diberi asesori berupa rantai, paku sehingga kalau berjalan “cring..cring..cring” tanda aku seorang kapiten Gothic.

Kalau pas pulang malam lalu berpapasan dengan mereka terkadang saya berfantasi bertemu dengan manusia Vampire yang keluar pada malam hari (siang hari mereka pakai kacamata hitam), lalu menghisap darah melalui nadi sementara saya kejet-kejet. Tetapi pada kenyataannya orang-orang ini ramah dan tidak suka berbuat onar.

Source Picture

Posted in mudlogger

Wajah Para Mudlogger


depan_gereja_tua1.jpg

Sekali sekali bergaya. Biasanya kalau kami para mudlogger hendak melakukan rendezvouz maka kami tunjuk satu landmark yaitu Gereja Tua. Di lokasi ini pekerja dari pelbagai negara seperti Indonesia, India dan Filipina pada berkumpul dan mengobrol bersama. Gara-gara strategisnya maka para pemabuk, pencari dana, demo suka sekali mengambil tempat dipojokan ini. Kadang berkumpul pula para “laskar Gothic.”

Dengan bersosialisasi demikian kadang informasi mengalir deras. Ada barang murah, makanan enak. Saya mengajak mas Bambang melihat toko Buku Borrders, lalu saya tunjukkan buku Da Vinci Code karangan Dan Brown yang edisi luks bergambar. Harga aselinya A 60 namun diobral menjadi dua dollar. Saya langsung mengambil buku tersebut sementara mas Bambang masih pikir-pikir karena memang bobot buku tebal ini mendekati satu kilogram. Beberapa hari kemudian kami datangi, buku tersebut sudah habis terjual. Seperti kata orang “Pak Pos tidak pernah Kring-Kring dua kali..

mudlogger_tua_tanpa_perut2.jpg

Kadang kami mengaso sambil berbincang soal anak-anak yang sudah mulai besar. Lalu ia menceritakan putranya yang HANYA jurusan SOSIAL tiba-tiba kepingin masuk jurusan Teknik Mesin yang notabene dari haruis SMA eksakta. Kenyataannya sang anak sekarang menjadi asisten di perguruannya. Sebuah bukti bahwa penggolongan jurusan di SMA hanya menimbulkan diskriminasi dan pembunuhan bakat seorang anak. Lalu bapak yang ketiga anaknya lelaki semua ini bercerita anak bungsunya yang tidak disangka-sangka menjadi salah satu Gitaris terbaik di Yogyakarta.

Saat kami berbincang, ia mendapat SMS dari sang istri mengatakan ada puluhan mungkin ratusan kendaraan bermotor parkir di halaman sekitar rumahnya untuk mendukung festival band se Jawa Tengah. Namun saat mas Bambang menyampaikan bahwa anaknya mendapat urutan terakhir tiba-tiba keplotot (seperti odol) ucapan tanpa saya sadari : “wah juri dan penonton keburu jenuh.. kurang menguntungkan posisi nomor urutnya..” Mudah-mudahan putranda mendapat nomor dalam ajang bergengsi ya Mas.