Posted in kawin emas

Perkawinan Emas


Enam September 2007 yang baru lalu mertua saya merayakan perkawinan emas (setengah abad) hidup berbrayan – berumah tangga. Lalu tugas memberikan sambutan diberikan kepada saya, namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, saya harus segera ke Perth, dan baru kembali pada hari perayaan berlangsung namun telat dua jam, alias pesta sudah berakhir.

Maka sebagai jaga-jaga saya menulis sambutan yang akan dibacakan oleh salah satu keluarga. Belakangan jangankan dibacakan, mereka sibuk dengan jalannya upacara yang lelet.

Bapak dan Ibu yang terhormat.

Di sebuah kota tinggallah pasangan yang telah menikah selama setengah abad. Sepuluh repelita. Untuk merayakan pesta emas pernikahan mereka sesuai dengan tradisi yang dianutnya, maka dimasaklah seekor ikan emas yang besar. Menurut ujar orang tua, emas adalah simbol keabadian, kemenangan, dan cinta yang tak lekang kena panas, tak luntur kena hujan.

Saat yang dinantikan tiba. Upacara memotong ikan emas. Setekah ditetak dua, Suami mendapatkan kepala dan sebagian perutnya sementara pasangannya mendpatkan sisanya yaitu perut sampai ekor. Sambil menerima pemberian suami terkasih, isteri menangis sesnggukan sehingga para tamu ikut larut dalam haru.

Lalu istri mengatakan “sudah lima puluh tahun kita menikah, selalu suamiku yang mendapatkan kepala dan perutnya,  padahal ketahuilah bahwa dari dulu saya tidak suka bagian perut sampai ekor.”

Para hadirin sekalian…

Di depan kami duduk pasangan yang berbahagia. Mereka adalah orangtua kami. Mereka tekah lima puluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Kalau kapten kapal berkata hijau maka “tulang rusuknya” akan mengatakan hijau. Seperti dalam cerita diatas, sekalipun menginjak lima puluh tahun sebetulnya kita tidak bisa serta merta mengatakan  sudah seratus persen memahami perangai satu sama lain. Ada karakter tertentu yang dipendam, demi kelangsungan hidup pernikahan agar tidak selalu dilanda ombak pertengkaran.

Untuk gamblangnya, saya ceritakan satu rahasia. Eyang kakung, mertua, ayah kami hanya mengenal satu masakan paling super duper mak-nyus didunia ini adala Bakmi yang dijajakan di kedai di bilangan jalan Gajah Mada. Kami coba memberikan Bakmi Alternatif, dan komentarnya singkat “lebih joss yang di jalan GajahMada..” – jangan katakan kalau diajak makan daging Steak, alasannya selalu repot mengirisnya. Kalau masakan ikan-ikanan, repot terlalu banyak durinya.

Sementara Eyang puteri bukan kelompok bermahzab “azas tunggal kuliner” beliau fleksibel dalam segala cita rasa makanan dan gampang bosan kalau dalam sebulan mengunjungi masakan yang sama.

Toh dalam kehidupan sehari-hari, tulang rusuk selalu mengalah dan mengikuti kemauan sang Kiyai Juru Mudi, sementara pihak luar sering gampang menuding, eyang puteri sangat dominan dalam keluarga.

Sehari-hari ibunda atau eyang puteri adalah sosok ibu yang trengginas, cerdas dan keras. Kalau bekerja selalu “sewat, sewet, tuntas.” – masalah hari ini harus diselesaikan hari ini. Ia tidak suka menyelesaikan sesuatu secara menggantung. Beliau adalah “Im” keluarga. Lalu eyang kakung, adalah Yang. Ia selalu mengompensasi langkah ibunda bilamana dirasakan terlalu cepat, menekan pedal rem rumah tangga bilamana dirasakan terlalu lembat. Filosofinya bekerja adalah IM dan istirahat adalah YANG. Maksudnya jangan mencampur kedua tenaga dahsyat itu secara bersamaan.

Ayah, eyang kakung seperti Werkudoro dalam dunia Pewayangan.

Tokoh wayang kulit yang tersungging diruang tamunya. Bicaranya hanya sesekali, sehingga setiap beliau mengatakan sesuatu, maka “direwangi nunjang palang” – anak-anaknya akan memenuhinya. Termasuk rasan-rasan “kawin lima puluh tahun ini langka, perlu dirayakan..

Ibu, bapak, eyang kakung dan eyang puteri. Kami bangga menjadi keturuanmu. Kalian adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tetaplah sehat, tetaplah semangat, kami masih memerlukanmu sebagai contoh dan acuan kami. Semoga tauladan yang telah kalian berikan menjadi pelita, kompas bagi kami yang masih tertatih-tatih mengarungi biduk rumah tangga.

Rasanya kami belum puas melihat demonstrasi tenaga Im dan Yang yang telah disuguhkan kendati sudah memasuki masa putar lima puluh tahun. Amin.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s