Posted in evakuasi, siklon

Artikel #1354 – Mengungsi Lagi


Peta Cuaca

Hari ini Jumat 8 Februari 2008, sambil mengetik blog sebetulnya sedang bersiap meninggalkan kapal Pengeboran Minyak Ocean Bounty lantaran ada ancaman Siklun Tropis lagi. Adanya ancaman tersebut bisa dilihat secara terus menerus (online) mula-mula berupa noktah dengan simbol “L” berarti ada kawasan dengan tekanan rendah.  Kalau ada perbedaan tekanan, seperti juga air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, maka arus udara akan berperilaku sama. Lama-lama aliran ini makin kencang dengan mengikuti hukum diutara katulistiwa berputar searah jarum jam, di selatan berputar berlawanan jarum jam. Kita mengenalnya sebagai angin puting beliung. Cuma kalau dilaut air laut dihisapnya dan seperti membentuk dinding air berjalan dengan kecepatan 120-130km perjam.

Tadi malam saya melihat banyak sekali lumba-lumba pada bermain sekitar kapal. Kata orang pertanda Siklun belum dideteksi oleh mahluk tersebut. Namun nyatanya siklun harus datang dan berlalu.

Kesibukan terlihat di rig pengeboran. Barang yang mudah lepas ditambat. Pipa-pipa bor pada diikat agar jangan sampai terlempar pada saat rig bercanda dengan alam melakukan tarian siklun tropis yang kelak akan diberi nama Nicholas.

Setiap container harus dijepit dan di las satu sama lain. Akibatnya ketika saya perlu mengambil sesuatu, kecele sebab container sudah disegel dengan las-lasan..

Repotnya kejadian ini bersamaan dengan perpindahan dari perusahaan Woodside ke Chevron sehingga semua informasi dari kastamer sebelumnya harus dikirim kepada yang berhak dan tidak boleh ada yang ketinggalan. Padahal ada beberapa contoh batuan yang kami jemur belum kering sehingga tidak bisa dibungkus dan dikirim ke kantor pusat. Semua gara-gara paceklik matahari dan surplus hujan. Sementara alat pengering tidak boleh dipergunakan lantaran merusak struktur dan fossil batuan.

Data perminyakan/pengeboran dikenal sebagai data klasifikasi “tight hole.” – tidak boleh diceritakan kepada pihak lain. Pasalnya sepotong batuan atau catatan yang tertinggal dari perusahaan bisa merupakan informasi “buka dapur” bagi perusahaan minyak lainnya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Artikel #1354 – Mengungsi Lagi

  1. kok ya ndak pas panjenengan bilang ngungsi, karena buat dalem ngungsi itu identik dengan tingggal di tenda, minim fasilitas kacau balau .. la panjenengan ngungsinya kok ke hotel bintang jeh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s