Posted in wisata

Kontes Mirip Gagak


Camar Rasa GagakBukan Merpati.

Jumlahnya masih bisa dihitung tangan, maka burung yang seharusnya melayang dipinggiran pantai mencari ikan segar entah mengapa berganti diet menjadi berterbangan diserambi mal.

Burung camar ini nampaknya sudah terbiasa dengan remah burger, sandwich, hotdog yang kadang tersisa disepanjang pusat kota Perth. Mereka hidup berdampingan kadang “kerengan” alias berkelahi dengan burung gagak yang memang lebih dominan sebagai burung mal ketimbang burung kuburan seperti yang kita dengar masa kecil dahulu.

Kadang kami disuguhi fragmen singkat burung gagak nyolong dendeng, dan tokoh kucing digantikan sang camar. Dalam perebutan kekuasaan sang camar ingin memperlihatkan bahwa iapun punya kemampuan gagak lalu mengeluarkan suara parau mirip burung gagak.

Tentu usaha yang sukar sebab ia harus meluruskan lehernya, sedikit dibawah bahu mirip gerakan angsa siap nyosor, lalu bulu lehernya “merinding” dan sampai bergetar merem melek ia memperdengarkan suara gagak agar sang gagak aseli takut. Mungkin itu maksudnya.

Semula saya pikir burung camar ini memperdengarkan kemarahannya atau bergaya agar menarik lawan kawinnya. Namun dikesempatan lain bermain bersama burung camar, suara mereka tidak demikian sehingga saya berkesimpulan, lantaran pemuda camar ini salah gaul, maka dia mengambil cengkok burung gagak.

Gagak atau Camar

Satu saat camar salah gaul sedang memperdengarkan suara tiruannya. Tiba-tiba terdengar dua suara bersahutan mirip stereo. Hanya yang kedua suaranya lebih manusiawi ketimbang gagakiawi sehingga memaksa saya memutar kepala mencari bersuara menipu camar yang sedang meniru lagi suara gagak. Ternyata seorang pemabuk yang semula bengong di bangku taman tiba-tiba berlari ke tengah lapangan dengan mengangkat kedua tangannya seperti hendak terbang lantas ia menirukan suara gagak dan duduk kembali bengong. Mungkin ia sedang berhayal menjadi gagak dalam konkurs suara gagak-idol. Gara gara episode manusia juga gagaksia, saya kehilangan momen mengabadikan camar yang sedang bergagak ria. Sial bener,

Goak ..Goak ..

Artikel 1386

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s