Posted in optus

Aduh celaka, Prepaid-Australia ku ndak bisa roaming di Jakarta


Selama tiga tahun pergi pulang Jakarta – Perth saya selalu mengandalkan HP Jakarta saya. Namun peristiwa bulan Februari saat harus mengungsi dari satu hotel ke hotel lain yang terkadang tidak memiliki fasilitas tilpun umum membuat saya berfikir untuk memiliki HP Australia. Lagian, karena alasan tidak jelas nomor HP saya di blokir. Lengkap sudah bencana komunikasiku.


Lalu seperti biasa saya bertanya kekanan kekiri kesamping keatas kebelakang pendeknya bertanya sebanyak mungkin mana kira-kira HP yang murah tetapi tepat guna.

Disebuah gerai penyedia layanan tilpun bergerak, saya ditemui oleh sebut saja Salena, gadis asal Malaysia yang bekerja di Australia. Sebelum diberondong dengan tawaran serba wah yang terkadang tidak saya gunakan, langsung saya menunjuk sebuah HP yang dari kejauhan harganya cuma dua digit.

Harganya sekitar 69 dollar sudah termasuk SimCard bernilai tiga puluh dollar dan kredit sebesar sepuluh dollar maka dengan harga 29dollar saya sudah mendapatkan sebuah handphone yang cukup untuk menilpun, sms, senter dan alarm clock.

Lalu saya pilih opsi Turbo-Charger, yaitu saat saya membeli voucher 30dollar saya akan mendapatkan bonus sebesar 150 dollar sehingga bebas menilpun siang dan malam ke tanah air.

Begitu transaksi selesai maka tugas pertama adalah menilpun nomor 555 lantas operator membimbing kita sampai selesai. Ada pertanyaan agak aneh ditelinga seperti “apakah anda akan tetap menggunakan nomor SimCard yang lama?” – sementara di Indonesia setiap membeli SimCard maka otomatis nomor yang tertera pada kotak pembungkusnya adalah nomor tilpun kita.

Kalau pertanyaan pertama selesai, maka pertanyaan kedua adalah “apakah anda ingin pindah dari kartu CDMA ke nomor baru” – baru sedikit ngeh ketika kita bereuphoria dengan CDMA, maka di Australia pelayanan ini sudah lama diberangus. Kecuali untuk urusan internet nirkabel.

Operator tilpun meminta saya mematikan HP barang 30menit. Saat dihidupkan kembali kita akan mendapatkan nomor baru melalui SMS. Dan HP langsung bisa ber kring-kring dan menurut sang CS (Customer service) secara otomatis fasilitas autoroaming sudah aktip.

Baru saja mencoba tilpun, sebuah nomor aneh menilpun dan saya pikir urusan aktivasi HP. Begitu saya jawab ternyata suara tape recorder memberondong saya dengan penawaran-penawaran barang.

Namun saat transit di Denpasar ternyata HP saya sudah “koma” alias tidak ada kerjasama antara penyedia Australia dengan Indonesia. Sialnya negara macam Singapura, Filipina, Malaysia malah termasuk dalam kawasan roaming, tetapi bukan Indonesia.

Terpaksa saya cari gerai yang menjual Sim Card di Airport Ngurah Rai Bali. Dua buah booth telephone ala wartel nampak terpajang disampingnya. Penjual mengatakan bahwa dia sering mendengar orang dari luar negeri ternyata HP-nya langsung tidak berfungsi. Kalau begitu saya tidak sendirian di planet ini. Lalu saya memilih sebuah perdana dan setelah menunjukkan kartu identitas, sang abang langsung mendaftarkan kartu baru saya.

Dan luar biasa, harga SimCard perdana ini yang seharusnya lima belas ribu sudah termasuk lima ribu pulsa ternyata digerai ini dijual sebesar seratus ribu atau lima ratus persen. Mungkin ada ongkos khusus untuk melakukan registrasi. Seorang turis menilpun ke Perth dalam hitungan detik dan saya lihat dikenai biaya 153 ribu rupiah.

Sementara di negeri lain perusahaan macam Optus atau Vodafone langsung membuka gerai di airport dengan menawarkan selular murah meriah apalagi. Singapura “yang kecil itu” – seperti kata kita yang iri terhadap kemajuan negeri ini, pemerintahnya menjamin bahwa harga apapun di Airport lebih murah atau paling tidak sama dengan harga di luarAirport.

Tetapi di Indonesia nampaknya para pedagang di Bandara International menganggap semua dagangannya harus mahal lantas kapan kita akan bersaing?

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s