Posted in microwave

Ledakan MicroWave Oven gara-gara mie instan


Waktu saya bermaksud checkin pagi tadi sang resepsionis perempuan demplon berwajah Asia dengan nada sengau “ng” dibelakangnya seperti umumnya orang Jepun bicara mengatakan kamar siap pada jam dua. Ternyata setengah tiga sore saya kehotel tersebut sang semok Jepang yang selalu berbaju putih menepuk dahinya isyarat “lupa.” Tapi dia tidak alpa saat menanyakan kartu kredit saya.

Arloji tangan saya menunjukkan bahwa Rabu 20 Februari 2008 Hotel Emerald adalah hotel terakhir yang saya diami selama mengungsi dalam bulan Februari ini mulai 8 Feb 2008 dari Hyatt, Joondalup Resort, Pacific, Rydges, Intercontinent Burswood atau hotel Casino, meluncur lagi ke Swan Valley Oasis lalu hotel Emerald sebagai penutupnya. Kesempatan menarik menikmati hotel hotel Australia.

Sebelum meneruskan artikel ini saya bisiki bahwa keseluruhan cerita adalah mutlak kesalahan saya. Gara-gara sudah dua minggu di pengungsian – tropikal siklun Nicholas – maka saya nyidam rasa nasi yang baik dan benar. Entah mengapa mulai dari orang Rig Pengeboran sampai ke restoran segede Intercontinental, kalau saya memesan satu mangkuk nasi putih akan didatangkan nasi “nglethis” alias makanan separuh matang. Mungkin dikiranya perut buncit saya adalah anyaman blarak (daun kelapa). Masuk beras mentah pada pagi hari keluar jadi ketupat.

Namun karena memasak nasi bukan masalah sederhana maka saya lampiaskan ke toko sebelah nasi yaitu mi instan yang paling mudah didapatkan dan dimasak. Sebagai pelengkap saya juga membeli sekotak telur ayam. Sampai di hotel baru sadar bahwa kompor tidak tersedia padahal Hotel Emerald selalu komplit dengan Kompor, Microwave, Toaster dan Ketel air segala.

Daripada bingung beliung maka mi instan dan telur ayam kampung (Australia) saya masukkan kedalam mangkok plastik dan proses selanjutnya diserahkan kepada microwave. Saya set timer pada hitungan lima menit dan temperatur maximum.

Lho kok baru berjalan sekitar 4 menit mendadak terdengar letupan “blub” dengan suara bariton dan nada dasar sepertinya G Mayor, lalu suara ting nyaring dan pintu microwave “glodak” terbuka. Rupanya oleh kekuatan tak kasat mata mangkok plastik sudah terbalik sehingga isinya pada mengalir ke lantai jauh sampai ke karpet hotel. Buru-buru saya ambil handuk kamar mandi untuk membersihkan kesalahan kerja sehingga lagi-lagi lupa mengabadikan (potret) kebodohan saya.

Lalu ingat dirumah-rumah famili saya sering lihat para nyonya, asisten, anak-anak, pembantu dengan bangga dan suka cita menghangatkan kopi, mie, roti segalanya pakai microwave. Padahal aturan keselamatan melarang pemanasan cairan didalam microwave. Selama ini memang belum terjadi kecelakaan seperti yang saya alami, namun kedepan hendaknya praktek-praktek tersebut distop dan menggunakan peralatan sebagaimana mestinya. Sudah hampir celaka, menasehati lagi..

Perth Feb 2008
Artikel # 1449
http://www.mimbarsaputro.wordpress.com

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Ledakan MicroWave Oven gara-gara mie instan

  1. Masa bisa meledak sih? Aku sering lho bikin mie instan ama telor di microwave tapi selama ini baik baik ajah tuh dan aman tenteram. Mungkin microwave disana terkejut dengan jenis makanan bulat dan keriting seperti telor dan mie, begitulah! he he….

    Like

  2. Jadi inget manasin sambel goreng tersi di microwave. kelamaan jadi gosong + bulenya pada komplain bau….. + untung ngga pake alarm kebakaran nyala…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s