Posted in australiana, seni

Bunga Cipta (sampah plastik) Lestari


bunga_plastik.jpgKetika orang akan bepergian jauh entah menggunakan jalan darat, laut maupun udara ada kebiasaan membawa bekal entah makanan, minuman, obat-obatan. Mengingat kedai di jalan mungkin tidak terjaga kebersihannya. Lihat saja saat mudik di stasiun kereta api, bis, penyeberangan laut bahkan di Bandara. Atau saat muktamar, rapat raksasa yang sekarang judulnya macam-macam, maupun latihan koor disebuah gereja menghadapi Paskah, misalnya. Semua membawa pengana n yang terbungkus rapi umumnya dalam kantong plastik.
Namun manakala makanan selesai disantap orang tidak merasa ingat lagi akan dikemanakan pembungkus bekal berupa plastik kresek tadi. Kebiasaan menyampah seperti menjadi ciri khas bangsa kita. Seperti kembali kemasa purba bahwa urusan sampah dikembalikan ke mother nature untuk mengolahnya kembali.

Junko Maruyama melihat bahwa sampah plastik memiliki kesamaan dengan “rakyat” sebuah perkotaan. Sampah plastik terdiri pelbagai ras plastik dengan angka kelahiran yang sangat tinggi namun angka kematiannya mendekati nol.

Kalau dulu sebelum SMS ditemukan ada slogan bagi kaum Melayu sendirian kita menyanyi, berdua kita tarik papan catur. Sementara bagi sebagian orang Jepang kalau sendirian menciptakan Honda, Yamaha, Suzuki, Mie Instan maka seorang Junko Maruyama melihat celah untuk merangkai bunga yang terbuat dari kantong kresek. Ia menamakan instalasinya sebagai Field of Silence Flower

Hasilnya, bagaimana saya tidak histeris ketika melintas disebuah lorong yang (rada) gelap tanpa bergandeng tangan ujug-ujug melihat mawar putih tak berduri bermunculan pada tangkai lemah bagaikan seekor kupu-kupu lucu kemana hendak terbang. Kalau di Indonesia mestinya dia akan membuat mawar hitam sebab tas kresek yang populer (tapi baunya sengak) warnanya hitam

Yang Maruyama belum tahu, disebuah negara ada kembang-kembang kertas yang dibuat dari uang. Mungkin sekali pemiliknya sudah over stock, sehingga melihat uang daluwang (kertas) seperti kita melihat sampah plastik.

junko_maruyama.jpg

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s