Posted in rig, rig pengeboran

This is a drill. This is only drill


Kata-kata melalui pengeras suara ini selalu kami dengar pada saat minggu pagi. Dipimpin oleh seorang OIM singkatan dari Offshore Install Manager maka berlarianlah orang rig yang sedang tidur sambil mengenakan baju kerja, sepatu kerja, helm, kacamata, penutup telinga menuju stasiun yang ditentukan. Suara Steve Earl Greene warga Amerika yang berkepala selalu plontos nampak nyaring : “This is a drill, only drill. Simulated fire on Engine Room. Backup fire team…..” dan selalu diikuti suara alarm yang kring kring kring.

Latihan ini terdiri dari tiga perkara. Pertama ecek-ecek ada kebakaran. Lalu kebakaran “ecek-ecek” tidak bisa diatasi sehingga harus meninggalkan kapal dengan cara evakuasi. Ada perbedaan sirine kebakaran dan sirine meninggalkan kapal.

Sementara pekerja Rig langsung membentuk satuan pemadam kebakaran, kami yang bukan pekerja langsung ambil bagian berbaris lima-lima di stasiun yang sudah ditentukan. Sebuah papan absen berisikan kartu yang satu sisi berwarna merah, sisi lainnya berwarna biru.

Tugas kita adalah menambil kartu yang semula berwarna merah dan menampakkannya warna biru. Dengan demikian bisa dilihat siapa yang ketinggalan dalam latihan ini.

Oim dan stafnya selalu melihat pada jam, berapa menit diperlukan seluruh awak siaga dalam keadaan mengantuk sampai siap di tempat aman. Sambil dan mengenakan pelampung kami mengecek apakah peluit, senter mungil dan peralatan keselamatan lainnya masih lengkap.

Bila latihan dirasakan sudah memuaskan alias memenuhi standar. Pengawas rig akan membunyikan alarm dan mengucapkan “stand done drill..thank you”

Malamnya setelah makan malam, kami masih harus mengikuti safety meeting mingguan. Senangnya kalau ada acara ini berarti satu minggu sudah terlewatkan di rig.

Posted in australia, australiana, DST

Jamku dimajukan lagi satu jam


Tepat pukul 03:00 dinihari Minggu tanggal 30 Maret, arloji ditanganku harus saya atur yang semula jam 03:00 menjadi 02:00. Selama ini perbedaan waktu dengan Jakarta GMT+7 dengan Perth adalah GMT+9 tapi sekarang diganti lagi untuk selama enam bulan menjadi GMT+8. Kerjaku yang 12 jam, menjadi molor 13 jam gara-gara perubahan ini.

Yang repot adalah komputer kami yang selalu mencatat data per 5 detik saat jam dimundurkan maka dalam display muncul semacam data ganda selama satu jam. Tapi itulah resiko DST – day light saving times.

Posted in rig, rig pengeboran

Pengalaman pertama dengan Kantong Gas


Lalu ingat pengalaman pertama berkenalan dengan “shallow gas” pada tahun 1985-an. Kami mengebor di lapangan ARCO Laut Jawa dengan perabot bor jenis “jackup” bernama B2 (tapi bukan singkatan nama daging) melainkan Brinkerhoff II. Jenis ini menggunakan tiga kaki yang menancap di dasar laut sementara kegiatan operasi penunjang dilakukan dari tongkang.

Pagi itu minggu pertama saya diangkat menjadi supervisor lapangan mengajari para insinyur geologi kita bagaimana teknik yang baik memonitoring sumur.

Operasi pengeboran saat itu baru saja memasang dan menyemen casing diameter 20in alias masih dipermukaan. Lalu setelah selesai menyemen mereka melanjutkan mengebor dengan mata bor yang lebih kecil lagi. Sisa kotoran semen saat itu sedang dibor sehingga kami belum menggunakan lumpur berat melainkan air laut yang memiliki berat jenis sg=1.04.

Rupanya saat penyemenan, casing sudah sedikit berada diatas kantong gas sehingga begitu mata bor nyelonong memasuki kantong gerilya sang gas tak ayal isinya mengalir kepermukaan dengan kecepatan seperti super sonik.

Salah satu anak baru sedang dilatih untuk mengambil contoh batuan alias drill cuttings mengatakan belum ada serbuk bor alias drill cuttings di shale-shaker.

Shale shaker adalah ayakan lumpur yang besar gunanya membersihkan/mengayak lumpur kotor yang berasal dari pengeboran.

Padahal yang ingin saya tunjukkan kepadanya adalah diperlukan waktu cukup lama untuk perjalanan secuil serbuk pengeboran dari bawah lubang mencapai permukaan – alias lag time. Jadi tidak “sakdegsaknyet” – maksudnya tidak begitu batuan dihancurkan oleh pahat, maka langsung muncul kepermukaan melainkan harus ada travel time-nya.

Baru beberapa detik dia mengatakan tidak ada cutting, tiba-tiba saya lihat parit lumpur mbludak diikuti dengan suara semacam ribuan kembang api roket begitu gemuruh lumpur muncrat ke lantai bor.

Pagi yang hening dan senyap seketika berubah panik untuk mengatasi kejadian semburan gas dari laut Jawa. Lantai bor langsung seperti baru kehujanan lumpur sementara werpak para pekerja yang memang sudah kotor makin menjadi-jadi.

Tidak lama juru bor menutup kerangan sumur BOP alias blow out preventer. Suaranya mendesis dan bergemuruh sebab harus adu kekuatan dengan tenaga bawah permukaan yang sedang mendesak keluar. Kalau kerangan BOP berhasil ditutup dan tidak bocor seperti dicerita koran mengawali bencana pengeboran, maka gas yang terperangkap didalam sumur harus secara metodis dan sistematis dikeluarkan.

Caranya dengan memompakan lumpur pembunuh melalui saluran khusus yaitu Kill Line sambil berharap gasnya jangan liar lalu bertamasya dikaki rig seperti yang masih hangat menjadi berita di media kita.

Pasalnya tidak perduli berapa panjang casing dipasang, seringkali gas-gas nakal bergerilya mencari titik lemah seperti rekahan batuan untuk diterobos kepermukaan. Kalau kasus ini terjadi orang menamakannya “underground blowout” atau semnburan gas dibawah permukaan, sekalipun nantinya sampai juga detumannya di telinga kita.

Lalu saya ingat sebuah foto hitam putih menggambarkan semburan kantong gas di Kalimantan. Nampak pada gambar pipa casing yang beratnya ton-tonan melayang seperti kapas (tapi bukan). Sebuah pemandangan dramatis dalam fotografi, namun amit-amit sebaiknya jangan mengalaminya sendiri bisa jantungan.

Posted in rig, rig pengeboran

Bubble Watch bukan mainan anak-anak


Dalam pengeboran kami mengenal istilah Bubble Watch alias mengamati gelembung (udara). Ini biasanya dilakukan saat orang pertama kali menancapkan mata bor didasar laut. Kami menyebut istilah bor pertama kali ini dengan sebutan “tajak” atau spud in.

Persoalannya sekalipun maksud mengebor mungkin ingin mencapai kedalaman 5000 meter, kadang diluar perhitungan pada kedalaman 10-50 meter orang sering terperosok menembus lapisan gas dangkal atau gas rawa (shallow gas). Gas yang tidak diharapkan ini bisa menyembur dengan kekuatan dahsyat bisa berakhir kebakaran rig dan bahaya lainnya. Di darat, teman dari Pertamina menyebutnya Gas Rawa atau lebih mudah dipahami “kantong gas“.

Untuk itulah saat mata bor menancap pertama kalinya, disekeliling rig ditempat orang yang bermata tajam. Tujuannya hanya mengamati permukaan laut sekitar mata bor ditancap. Kalau ada gejala gelembung gas nampak dipermukaan. Mereka akan segera teriak “gas,gas,gas” lalu dipompakan “lumpur pembunuh” atau Kill Mud – kedalam lubang yang berpotensi bahaya semburan liar atau blowout tersebut. Sebuah teori setengah matang mengatakan bahwa saat terjadi gelembung akibat kantong gas, maka kemampuan air laut mengangkat kapal (bouyancy) menjadi berkurang akibat campuran gas. Kalau rem hidraulic kemasukan angin, bahasanya para montir jalanan adalah ngempos – tapi kalau air laut kecampuran gas dikawatirkan keseimbangan kapal terganggu atau malahan njomplang sekalian. Seperti mobil berjalan di gurun Gobi, lalu ada kejeblos “quick sand.”

Teori bubble penyebab tenggelam kapal ini diperdebatkan sampai sekarang. Sama dengan teori mengapa dilarang menggunakan HP saat isi bensin.

Banyak gambar dramatis peristiwa tersebut namun kadang kebenarannya masih dipertanyakan sebab bisa jadi hanya sulapan kamera. Saya sendiri mengalami kejadian “kantong gas dangkal ini” cukup sering. Biasanya didahului dengan suasana senyap, tiba-tiba bledar gemuruh lumpur beterbangan kepermukaan, para roughneck yang bertemperasan cari selamat kecuali seorang “hero” yaitu driller atau juru bor sebab ditangannya yang terlatih dia akan mampu mengontrol situasi panik tersebut.

Bila bahaya masih belum bisa ditanggulangi, kapal digeser beberapa ratus meter dari tempat kejadian.

Tapi semudah itukah pekerjaan juru intip tadi. Panggung tempat mereka mengintip atau dinamakan “rig floor garis miring drill floor” nangkring 25meter dari permukaan laut yang selalu bergelora. Mata biasa melihat kejauhan 25meter saja sudah terlihat kelip-kelip. Lalu dasar laut ada di 250meter. Jika kedalaman laut 225 meter alias dua kali panjang lapangan bola, maka setiap gelembung yang keluar langsung akan terbawa arus entah kemana atau bercampur dengan buih-buih gelombang. Tidak mudah memang.

Lalu datanglah teknologi robot. Kami turunkan robot ini ke dasar laut dan mereka berenang disana sambil diatas matanya kita pasang lampu sokle yang amat gemebyar sehingga setiap anasir gelembung langsung bisa dideteksi, asal arus tidak sedang kencang sebab dasar laut menjadi keruh dan lagi-lagi pengamatan gelembung sukar dilakukan. Robot cukup dikendalikan melalui Joystick ala PS2 oleh seorang operator.

Jam 7 malam akhirnya mata bor berdiameter 914mm mulai menekan dasar laut. Sepuluh meter pertama lapisan empuk pasir dan lumpur laut bisa ditembus hanya dengan berat pipa itu sendiri. Namun lama kelamaan tanah semakin keras sehingga mata bor kami putar perlahan antara 30 sampai 70 putaran permenit. Beberapa kali terjadi puntiran balik pertanda mata bor terperosok diantara gerowongan batu gamping yang terbentuk dari binatang karang purba.

Perlahan pompa lumpur kami hidupkan. Karena masih dangkal, kami gunakan bahan mentah dari air laut yang tersedia disekeliling kami.

Pompa nomor 1 dengan kekuatan 1600HP kami jalankan dengan kecepatan 80 langkah per menit. Ini akan menghasilkan debit 400 gallon per menit atau debit yang dihasilkan 1,5 ton per menit. Karena kami memiliki tiga pompa yang sama dan dijalankan secara paralel maka total 4,5 ton air laut kami tekan diujung mata bor. Manometer tekanan gabungan ini menunjukkan tekanan mentok pada 1000 psi.

Setelah satu jam mengebor, kami mampu mengorek lobang sedalam 50meter. Untuk tahap pertama ini sudah lebih dari cukup. Sebab lubang pertama tujuannya hanya sebagai “tempat duduk dan pegangan” casing pertama yaitu casing conductor.

Diameter casing ini 762mm dipasang dengan disemen sampai sisa semen meleleh membentuk “lantai semen flor” tersendiri. Beruntung kantong gas yang ditakutkan tidak dijumpai.

Sebetulnya hasil survei seismik memang tidak memperlihatkan indikasi kantong gas, namun demi keselamatan kerja, operasi dilakukan seakan-akan “pasti” menghadapi kendala. Inilah yang dalam perminyakan disebut teori “expect unexpected.

Terry pengawas lapangan kami baru bangun dari tidurnya. Setengah terjaga, dari layar monitor ia melihat gelembung-gelembung begitu banyak bermunculan. Sempat panik, diambilnya kacamata bacanya. Gelembung tadi diamati dengan seksama ternyata jutaan ikan putih keperakan, seperti gereh petek, sedang bermain didepan lampu sehingga terkesan gelembung udara.

Hampir pensiun aku kerja di Rig, masih bisa ditipu oleh ikan-ikan kecil..”

Tapi sepanjang perjalanan panjang sebagai mudlogger kejadian menghadapi kantong gas sudah sering saya temui.

Posted in Uncategorized

Ada anak ngrasani orang tuanya.


Berita tersebut saya dengar melalui menantuku, “Papah Utiku (eyang putri) sakit keras di Bandung, tapi hari ini keadaan membaik, padahal saya sudah hampir ke Bandung menengoknya…” – Dasar mulut anak sekolah nggak pernah tuntas, mengalir saja informasi dari mulut tanpa diduga “Sebaiknya kamu menyiapkan hati untuk keadaan tak terduga. Banyak kejadian pasien kelihatan bugar, keluarga senang beberapa hari kemudian melorot sampai menutup mata…“.

Betul saja, beberapa jam setelah pembicaraan tilpun, ada gmail masuk. “Papah Utiku meninggal dunia…doakan ya agar arwahnya diterima oleh Yang Maha Kuasa. Tapi karena papa sudah bilang sebelumnya maka Seno tidak terlalu kaget.”Sebetulnya yang saya ceritakan bukanlah karena saya punya ilmu gaib, melainkan ilmu titen. Mulai dari almarhum ibuku sendiri yang baru mencium cucunya, tersenyum tiba-tiba tiba-tiba mak sek. Atau almarhum adik bapak yang dirumah sakit minum teh manis panas ;” seger eh” lantas tek sek, menghadap sang khalik. Dan banyak lagi…

Akhirnya Maret 2008 anakku Lia dan Seno suaminya memutuskan berkunjung singkat langsung ke Bandung untuk takziah (mendatangi) keluarga sungkawa semalam. Dan ke Jakarta pada keesokan harinya untuk selanjutnya ke Singapura melalui Batam.

Malam saat mereka saya tahu ada di Bandung saya tilpun keluarga yang kesripahan (berduka cita). Maksudnya mengucapkan ikut berduka cita, sekalian memonitoring keadaan anakku. Maklum rasanya dimata saya, dia adalah bocah gemuk baru berjalan berjalan terjatuh-jatuh sehingga saya harus menjaganya hati-hati, sampai sudah menikahpun perasaan dia adalah anak kecil belum bisa saya enyahkan.

Saya pikir akan suasana penuh haru. Tak dinyana besan bercerita bahwa saat dipemakaman Lia menceritakan kekonyolan bapaknya ya saya ini pak Mimbar.

Katanya saat mengantarkan jenasah ke pemakaman di kawasan Karet Jakarta, saya menyempatkan mencari makam kerabat. Baru saja jongkok membaca papan nama dia sudah digruduki pengasong doa yang berjas dan berpayung hitam lalu pencabut rumput yang tanpa dikomando langsung srag-sreg bekerja pada gundukan tanah tersebut.

Saat mereka sibuk saya pindah ke makam lain yang tidak saya kenal dan lagi-lagi berpura-pura jongkok. Mereka masih belum sadar korban keisengan saya. Pada putaran ketiga mereka sadar pria gemuk botak dan berkacamata tidak serius.

Saat melihat wajah kecewa campur marah. Lalu saya panggil mereka sambil menunjuk.

Yang ini betul,” mula-mula mereka ragu-ragu, seorang bocah sambil pegang sapu lidi malahan berbisik kepada temannya “nanti dibooingin lagi..” – namun setelah saya yakinkan maka transaksi doa, cabut rumput berjalan lancar. Sejujurnya mereka tidak tahu bahwa makam itupun bukan kerabat saya.

Ternyata dari Jakarta anakku berdua kepentok montor mabur model “mabur-maburan” dan tertunda 4 jam sampai tiba di Batam sudah kemalaman dan Ferry ke Sinagpura sudah lama tutup. Ibarat dari niat irit terbitlah kacepirit.

Masih naskah lho

Posted in australia, australiana

Obat Flu atau Anti Hamil?


Baru saja mendengar bahwa siklon Pancho bergerak dari arah barat Australia menuju lokasi kami, saya sudah keburu pilek duluan. Pasalnya hujan angin sambar menyambar sementara ruang akomodasi seperti hendak mengawetkan mayat dinginnnya.

Akibatnya sekalipun belajar ilmu menyembuhkan diri sendiri (sesuai iklan di depan Gramedia), saya adalah anak pertama dari seorang bapak yang kalau bangun pagi selalu uwahing (bersin), kalau kena angin sedikit kepalanya pusing. Semula saya melecehkan ayah saya sebagai pribadi yang tidak tahan uji dan dimanja oleh perasaan. Kalau cuma pusing, flu harus dilawan dengan selfhipnotis.

Buktinya saat hujan di rumah, saya bahkan mandi-mandi dengan alasan mengecek got. Ternyata malamnya …ya panas badanku, meriang. Kacang tidak jauh dari lanjarannya. Buah tak jauh dari pohonnya. Apalagi sang buah baru merayakan usia ke55lebih sedikit.

Supaya jangan kebablasan sakitnya, kali ini saya pergi ke Sick Bay Room, sebuah istilah untuk klinik. Agak tertegun juga sebentar didepan pintu klinik yang tertutup. Bukan Chris karena sang medik (dari Amerika) masih mengunci kamar prakteknya. Tapi papan nama di depannya ditulis Autopsy Room.

Cuman kalau lihat sepanjang lorong besi memang ada suasana masuk rumah sakit. Tapi saya masuk saja dan tanpa banyak cingcong saya diberi obat berwarna warni dan permen Vics.

Lorong yang tidak gelap

Perasaan cuma flu biasa kenapa dikasih tablet KB. Rupanya yang malam hari diberi obat semacam sedatif sehingga tidur menjadi pulas sementara kapsul pagi dan siang berbeda komposisinya. Sekali waktu saya sakit perut di Perth sementara padahal sudah sempet minum anti mencret, bahkan imodium yang sangar terhadap sakit perut juga kewalahan. Lantas saya cari antibiotik sendiri. Celakanya tak satupun rumah obat yang mau menjualnya kecuali dengan resp dokter.

Lalu ingat waktu kecil alm ibu juga meminum tablet KB berwarna. Siang merah misalnya, malam biru. Hasilnya ada Mimbar, Endang, Ratri, Agus, Tanti, Utami, Mini, Dewi, Virgo dan Vivi. Total sepuluh anak. Dua adik saya sudah dipanggil duluan. Nggak ngaruh rupanya. Atau diminum bersamaan dengan pembuahan.

Posted in rig, rig pengeboran

Mengintip kamar mandi Rig Pengeboran.


Ruang Mandi Pekerja Rig

Potret saya ambil pada rig level bawah dari tiga level. Locker atau lemari bercat hijau telur bebek manila adalah milik orang Rig.

Jumlahnya sekitar 200 lemari. Padahal penghuni Rig sekitar 100 orang dan beberapa diantaranya bukan penghuni tetap sehingga tidak memerlukan locker. Namun kenyataannya semua locker terisi penuh. Akhirnya setiap 3 bulan sekali dibuat daftar kepemilikan locker. Setelah tiga bukan berikutnya ternyata tidak ada yang mengklaim maka gembok gembok mulai dipotong. Locker saya nomor 8, di bawah dengan sticker Wikimu.Diujung gambar yang bercat putih adalah tempat duduk merenung alias toilet. yang bersih dan tidak berbau karena selalu dijaga kebersihannya dan sang pemakai tidak jorok serta tidak nangkring diatas kloset duduk. Setiap toilet diberi sebotol dodoran untuk menjaga kesegaran ruangan.

Nah umumnya kalau ada pendatang baru dan maaf dari Asia akan cepat ketahuan kelakuannya saat berhajat besar. Oud sang janitor saat membersihkan toilet bakal menemui jejak jejak orang jongkok di toilet duduk. Pasalnya jongkok di toilet duduk bisa menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan seperti benda keramik tersebut pecah dan melukai pemakainya. Lagian dilarang merokok diruang akomodasi.

Cream

Nah yang ini adalah krim yang dioleskan tangan atau bagian lain saat bekerja hendak bersentuhan dengan lumpur pemboran (barrier cream) botol berwarna merah muda sementara botol yang lain adalah afterwork cream ertuliskan hijau adalah krim yang dipakai setelah habis bekerja. Yang menempel pada dinding paling kiri adalah sabun cuci tangan. Lapangan minyak kami ini dibor dengan menggunakan lumpur yang tidak mirip dengan lumpur Sidoarjo atau lumpur yang menempel pada ban sepeda ontel anda.

Kami menamakan lumpur Synthetic Oil Mud (SBM) yang bahan dasarnya adalah minyak sintetik.

Bahan ini jahat terhadap mata, pernapasan, sulit dibersihkan dan yang paling penting menimbulkan iritasi pada kulit kalau dibiarkan menempel terlalu lama. Baunya persis cabai merah keriting yang membusuk dipasar sementara rasanya dikulit seperti ketempelan getah keladi tua. Makin digaruk, makin gatal dan panas.

Yang peka malahan menjadi gerakan 3A, sayangnya bukan slogan jaman dulu Jepang Pemimpin, Pelindung dan Cahaya Asia. melainkan  Abang, Abuh dan Anget.

Maka sebelum bekerja, setiap dua jam sekali kita harus mengolesi tangan dengan krim tersebut dan saat berangkat tidur mengoles sekali lagi krim After Work. Sebetulnya masih ada satu cream yang tersedia disini yaitu Sun Screen yang baunya macam kelapa di panggang (harum). Kalau diikuti prosedurnya sekali cuci tangan anda harus menghadapi empat botol cairan kimia padahal anda sudah pakai sarung tangan segala.

Keranjang Baju Kotor

Selesai kerja umumnya pekerja Rig yang bergelimang lumpur minyak sintetik bajunya sudah kuyup seperti kucing garong masuk comberan. Tulisan SBM adalah singkatan Synthetic Base Mud

Bagi anda yang tidak terkena SBM maka baju kerja cukup dimasukkan kedalam kantong gandum yang memang tersedia disetiap kamar.

Baju ini dikumpulkan pada keranjang khusus karena akan dicuci dengan air panas dan deterjen khusus penghilang minyak. Akibatnya enam bulan sekali para pekerja Rig mendapat jatah sepasang baju kerja.

Lalu kenapa minyak yang mahal tetapi jahat ini dipakai sebab mereka memang super ketimbang lumpur air biasa. Pengeboran bisa lebih cepat, lubang yang diiris lebih halus, dan mampu menolak beberapa penyakit pengeboran. Kalau pengeboran selesai minyak ini dipompa kembali ke kapal untuk diproses ulang.