Posted in listrik

Stroom – insentif dan deinsentif


Heboh pro dan kontra  insentif dan deinsentif PLN di televisi kadang menggemaskan.

Kalau diparodikan mirip aturan kerajaan entah berantah yang mengatakan warga berbobot kurang dari 70kg bakalan diganjar hadiah dari raja sementara yang diatas 70kg bakalan didenda. Skornya jelas, anda akan didenda sebab rakyat memiliki bobot rata-rata 70,5 kg. Sebuah akal-akalan tidak cerdas.

Padahal ketimbang menaikkan sewa listrik mengapa tidak membenahi misalnya pencurian listrik yang banyak dilakukan oleh pabrik-pabrik besar, instansi pemerintah, sampai ke desa. Padahal sisi ini jelas-jelas pemborosan energi dan uangnya tidak masuk kocek PLN.

Lalu saya melirik negeri serumpun yang kita kerap mencemooh “negeri kecil,” yaitu Singapura. Baru-baru ini mereka membuat usulan insentif sebesar 120dollar per bulan untuk tagihan listrik dan air karena satu perusahaan.

Di Singapura sebuah keluarga kecil, rata-rata mengeluarkan biaya listrik dan air dan gas perbulannya pada kisaran 150 dollar.

Dengan insentip yang ditawarkan pemerintah Singapura warga perbulan hanya mengeluarkan biaya 40dollar (termasuk gas).

Dan insentip ini dilakukan terhadap semua warganya sebab selama ini perusahaan listrik di Singapura merasa sudah mengambil untung berlebihan.

Lha kapan kita bisa mengikuti “negeri kecil” yang tidak punya sumber daya alam seperti gas alam, minyak, air, batubara , tidak perlu menenggelamkan KedungOmbo untuk kebutuhan listrik

Apa karena “negeri kecil” tadi mereka bisa makmur?

Juga negeri ini sedang rasan-rasan memperkenalkan listrik dengan sistem “pra-bayar” sehingga berapapun rumah tangga memerlukan listrik tinggal beli voucher di gerai-gerai listrik lalu masukkan kode dan selesai.

Seperti pernah saya katakan. Negeri serumpun kita ini banyak sekali stok ide mengganggu kita, termasuk membuat saya iri terhadap mereka.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Stroom – insentif dan deinsentif

  1. Saya melihat dari latar belakang mengapa PLN memberlakukan sistem insentif disinsentif ini tidak lain adalah agar rakyat melakukan penghematan.

    Lalu satu sisi banyak pertanyaan, “kok PLN malah nyuruh hemat?!?”
    Jika kita analogikan sama saja dengan pedagang tahu yang memberitahukan agar pembeli tidak memborong tahu.. wow ga mau untung gede neh ceritanya?!?!

    Ternyata bukan begitu…
    Sebagai perbandingan, biaya produksi untuk menghasilkan 1 kWh (1000 watt dalam waktu satu jam) rata2 sebesar 1600 rupiah..
    sedangkan yang dijual ke pelanggan rata2 sebesar 500 rupiah per kWh..
    artinya setiap 1 kWh yang digunakan pelanggan, PLN merugi 1100 rupiah..
    nah teruss dari mana gaji pegawai dan kebutuhan lainnya??

    PLN mendapatkan SUBSIDI dari pemerintah..
    Mengapa PLN tidak menaikkan Tarif Dasar Listrik(TDL)?
    itu karena yang menentukan harga adalah PEMERINTAH dan PLN tidak berhak memutuskan.
    Mengapa pemerintah tidak menaikkan TDL?
    entahlah…

    Karena itulah digalang mekanisme insentif disinsentif ini… karena masih banyak rakyat yang ternyata menggunakan listrik tidak sesuai kebutuhan mereka..
    Bila diperhatikan, kelompok yang mendapat disinsentif atau diharuskan membayar lebih adalah pelanggan menengah ke atas, artinya yang menggunakan listrik lebih besar (mungkin dapat diartikan pelanggan yang berkemampuan lebih) seperti pelanggan bisnis maupun industri.

    udah akh kepanjangan..
    klo mo dibandingin ma singapura sih… sapa yang ga iri..🙂

    Like

  2. sebetulnya kita sedang mengalami penjajahan energi.
    solusinya sangat simple, bikin saja PLTN, saat ini PLTN sudah memasuki generasi ke-4 yang sudah jauh lebih aman dibandingkan dengan chernobyl yang merupakan reaktor generasi ke-1 dan tanpa pengamanan yang memadai, selain itu chernobyl jg meledak karena “disabotase” oleh negara pesaingnya.

    Mengapa kita tidak diperbolehkan membangun PLTN?
    1. Chevron, Exxon, dll akan mengalami kebangkrutan, setidaknya cabang di indonesia karena pemakaian BBM kita akan turun drastis

    2. Dengan PLTN harga listrik semakin murah, dan murahnya listrik maka perekonomian negara akan lebih maju dan jauh berkembang, ini yang tidak disukai pihak tertentu. Padahal limbah nuklirnya masih bisa diproses oleh reaktor menjadi energi yang lebih efisien lagi.

    wah.. gimana nih negeri kita… salah urus….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s