Posted in gito rollies

Obituary Gito Rollies


Kalau bumi ini digali”
“Terus terus digali..”
“Dimana kita sampai?”

“Di rumah sakit Gila,”

Banyak generasi sekarang pasti akan garuk dagu kalau diingatkan sepenggal lagu yang pernah dilantunkan oleh duet Gito Rollies dan Farid Hardja. Dua-duanya penyanyi hebat yang saya kagumi. Terbayang bagaimana vokal Gito ketika meneriakkan kata Gila, meninggi, serak tetapi tebal.

Tahun 1971an adalah tahun pertama saya di kota Yogya. Layaknya mahasiswa yang baru disuatu tempat maka Malioboro dan sekitarnya adalah kawasan nongkrong saya. Suatu hari disepanjang jalan Malioboro ada spanduk-spanduk dan baliho besar promosi pagelaran musik grup dari Bandung bernama Rollies. Lokasi band manggung adalah Shopping Centre Yogya. Masih dalam bentuk bangunan semi permanen. Sebelumnya majalah Bandung Aktuil sudah gencar mengobarkan kedahsyatan band tersebut tidak lupa dengan perbandingan agak berlebihan bahwa suara penyanyinya kadang satu oktaf lebih tinggi dari aselinya di barat sana. Malam ini hampir 40tahun lalu adalah malam pembuktian.

Maka diantara hujan yang rintik saya memarkir motor 90CC tapi apa daya uang saku tak becus menembus harga tiket. Tapi jangan kekurangan akal. Seorang Provost Mas Sumarno namanya nampak berjaga disana. Dengan kode mata ia lalu mendekati saya dan mengatakan secara kode “tunggu sampai acara dimulai baru masuk.”

Saat saya masuk dipanggung nampak seorang penyanyi berambut keriting pencilakan dengan membawakan lagu Spinning Wheel dari Blood Sweat and Tears, sementara musik tiup mengiringinya.

Saya bisanya bengong… musik naon eta? Aya-aya wae. Mengapa begitu gegap gempita iklannya di Radio-radio.

Lalu nomor selanjutnya ada penyanyi berkacamata mirip John Lennon menyanyikan Gone All the Songs of Yesterday, saya sedikit bisa menikmatinya. Maklum lagu slow. Lagu yang dinyanyikan Delly masih saya kunyah.

Sebelum sekolah di Yogya saya berasal dari Teluk Betung, tanah tumpah darah adik-adik saya saat kiblat musik cuma dari radio swasta yang isinya melulu The Cats, The Hollies, BeeGees, Beatles, Koes Plus. Dari sektor dangdut Rhoma Irama masih merangkak dengan lagu sedih bercerita Adik yang diusir kakak yang sudah kaya. Saya lupa judul lagu tersebut kecuali liriknya “Bang.. aku datang Bang…” lalu dijawab “Abang…. Haha.. aku tak punya adik seperti kau,…pergi…

Maka jelas saya glagepan dijejali musik ala BST dengan musik “brass”Tiup. Istilahnya musik begitu ramai ditelinga saya terasa sepi.

Dulu penonton tidak sehisteris sekarang. Kalau ada lagu menarikpun kami hanya bertepuk tangan seusai lagu. Berjoget mengikuti irama musik masih seperti diharamkan. Kadang kalau permainan band memukai kami malahan terbengong. Teriakan tercekat ditenggorokan.

Lha sekarang, penyanyi bersuara maha fals tetapi penonton bisa goyang asik, kadang teriak histeris. Istilahnya musik ke BaratDaya, yang bergoyang ke TimurLaut.

Saat pertunjukan selesai saya duluan keluar ruangan ingin menyaksikan pemain yang garang dipanggung menunggu jemputan. Jadi belum musim pemain band masuk dari sisi lain dengan pengawalan ketat agar tidak terjamah penggemarnya.

Mereka para pemain Band The Rollies umumnya berselimut mantel hitam sutera dan disambut pelukan para mojang geulis. Tetapi yang saya herankan waktu itu mengapa mereka yang garang perkasa ketika didarat jalannya macam orang penulis blogger usia 55tahun dipaksa marathon 55km, terhuyung dan nampak renta. Baru tahu itulah paket pemain musik Rock, Ganja salah satunya.

Itulah gambaran pertama saya atas kelompok the Rollies. Pertama mendengar saya tidak mengerti, namun sejalan dengan waktu musik tersebut baru menyusup ke tulang sumsum. Semua gara-gara almarhum Gito Rollies menyanyikan lagu I Feel Good, Spinning Wheel.

Sampai sekarang kalau dengar lagi tersebut maka yang terbayang adalah sosok Gito Rollies. Bahkan sampai kematiannyapun dia seperti masih beraksi didepan mata saya. Gayanya berputar, bergeser dari ujung panggung ke panggung lain, masih selalu segar. Tak heran Titik Puspa sering merujuk penyanyi baru kalau ingin belajar aksi panggung tirulah Gito Rollies.

Selamat jalan Mas Gito.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s