Posted in apartemen

Apartemen Singapura


Belakangan anakku Lia seperti kebakaran buntut, saya pikir dia hamil. Menurutnya pemilik apartemen meminta mereka mengosongkan huniannya. Padahal dia sudah betah tinggal di apartemen dengan kawasan cukup strategis yaitu di jalan Holland, Singapura. Dua ratus meter sudah sampai MRT (Mass Rapid Transportation), diapit dua pasar tradisional dan pusat perbelanjaan. Sekitar 20 meter ada kolam renang kelas olimpik. Lalu ada minimarket murah yang salah satu pegawainya orang Jembatan Lima. Belum lagi kedekatan dengan ColdStorage yang mirip KemChiknya Jakarta dan banyak fasilitas lainnya.

Bulan Maret 2008 ini ia didatangi anak pemilik Apartemen yang disewanya selama ini . Mereka memberitahukan bahwa apartemen milik orang tua mereka yang belum lama sign out dan ditutup buku amalnya ini akan dijual. Lalu mereka menawarkan kesempatan pertama kepada anakku untuk membelinya. Emang apartemen kecil seharga 1 M boleh dibayar pakai daun.

apartemen 1 MKalau anda melihat foto bagaimana besarnya apartemen tiga kamar yang ditawarkan sampai 1 M mungkin tsck..tsck anda mendesah sebab garasi mobil dirumah bisa jadi lebih besar.

Maka menurut aturan Singapura, pemilik apartemen yang meninggal dunia tidak bisa mewariskan miliknya kepadda anak-anaknya yang sudah memiliki apartemen sendiri. Jalan satu-satunya apartemen dijual dan hasilnya dibagi kepada anak-anaknya. Hanya sejak itu rumah menjadi kurang privasi sebab saban waktu ada orang datang menaksir rumah termasuk melongok ke kamar-kamar pribadi. Sudah itu orang Singapura rada kurang sopan santunnya terhadap bangsa Indon. Sial bener.
Mudah-mudahan Lia kamu cepat mendapatkan apartemen atau rumah dengan orang sebaik induk semangmu yang sekarang. Terbayang hilang kesempatan saya makan Laksa ala Katong, berenang, belanja daging di kios babah gemuk yang selalu menanyakan “kapan daging akan dimasak..?” sebuah pertanyaan menjebak sebab kalau anda menjawab “besok pagi,” sang baba yang kalau pakai baju kaos selalu diluntung (gulung) bagian perutnya sampai naik keatas puser ini akan bilang : “kalau begitu datang besok sebab daging yang sudah dijual disini harus dimasak pada hari yang sama…

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Apartemen Singapura

  1. Nyuwun sewu, abis baca tulisan ini..saya kok agak tertarik untuk tau dimana apartmentnya berada.. siapa ya yang bisa dihubungi. Kebetulan saya sedang mencari apartment di Singapura.. berapa harga pasnya? Bolehkah saya minta alamat atau no telp yang bisa saya hubungi..Matur nuwun. Evi Steelyana

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s