Posted in australiana

Posko Baru Kami


SharkSetelah setahun lamanya kami mondar-mandir Perth – Karratha, maka awal tahun 2008 ditandai dengan pindah majikan, berarti pindah posko. Posko kami kali ini adalah pulau Barrow yang masih masuk wilayah Australia Barat.

Pulau gersang yang hanya ditandai dengan semak-semak ini disukai kelompok rayap yang mampu membangun sarang sehingga menyerupai gunung atau bukit mini.

Namun gara-gara si anai-anai ini maka sekeliling ruang tunggu air strip diberi pagar kawat dengan tulisan “Pengunjung dilarang keluar pagar“, kuatir sepatu mereka iseng merusak rumah rayap seperti yang biasa kita lakukan bilamana melihat gundukan rayap atau semut, atau malahan membawa insekta baru kedalam komunitas tersebut.

sanket-088jpg.jpgPulau kecil ini seperti surga tumbuh-tumbuhan langka dan hunian para binatang seperti sejenis cecak dengan panjang mencapai dua meter “Perentie.”sanket-089jpg.jpg

Perth di dini hariPerjalanan dari Perth ke Pulau Barrow menggunakan Jet charter memakan waktu sekitar dua jam. Tetapi yang tidak nahanin, check in timenya pagi sekali jam 4:45 sehingga jam 02:00 dinihari saya sudah harus siap-siap panggil taxi ke airport. Foto saya ambil sekitar jam 4 dinihari yang jelas belum nampak kegiatan disana.

Ruang Checkin SpecialBiasanya kita cukup melapor kepada petugas dengan menunjukkan kartu HUET. Ini semacam KTP masuk rig. Bedanya disitu diberitahukan pelatihan yang sehubungan dengan penyelamatan di udara dan air. Saat melapor, setiap bagasi digeledah oleh petugas. Lalu badan kita ditimbang. Caranya, anda menginjakkan kaki pada ubin yang berwarna gelap didekat petugas checkin. Sudah selesai? belum. Napas anda masih harus dicek dengan analisa alkohol. Bilamana kedapatan masuk pada ambang batas tinggi, jangan harap diperkenankan naik pesawat. Dan mereka memberi kesempatan kedua, yaitu bekerja pada perusahaan lain yang mau menerima anda.

Di pulau Barrow, kami langsung ditentir penyelamatan udara, selesai langsung masuk helikopter. Cuma seperempat jam lebih sedikit penerbangan dari air strip Pulau Barrow, kami sudah melesat ditengah kesunyian lautan yang didalamnya mengandung minyak dan gas bumi.

Maka tiap hari tidak jemu-jemunya kami mendengar pengumuman melalui pengeras suara mengenai kedatangan Hiu atau Paus mendekati lokasi. Kapan waktu saya dengar ada ikan Duyung berenang (tapi saya belum mendapatkan fotonya). Setiap kehadiran binatang langka tersebut harus didokumentasikan sebagai petunjuk bahwa alam sekitar masih belum terpolusi oleh industri.

Menjadi keharusan bagi setiap orang yang melihat keberadaan mamalia ini untuk melaporkan kepada pihak berwajib disertai ciri-ciri dan kalau bisa dengan fotonya.

Namun kedatangan mahluk tak diundang ini terkadang menimbulkan masalah sebab kegiatan seismik harus ditunda sampai mereka tidak kembali lagi. Atau ditakuti dengan ledakan sekala kecil cukup membuat ikan paus tidak kerasan dengan getaran ledakan yang ditimbulkan. G0rdon seorang Filipino bergumam: “di Jepang kalian sudah menjadi santapan ragawi..”

Lalu ingat saya begitu semangatnya mengajak anak-anak melihat tempat ayahnya bermain di sungai Musi sambil memandang ikan kecil bertanduk “juaro” sebagai petugas janitor alam karena kebiasaan makan apa saja. Namun betapa kecewanya ketika Musi Tour yang saya lakukan hanya untuk melihat air semakin keruh dan binatang air semakin menghilang kecuali sampah yang menggunung.

Crew Pekerja rekan MimbarKeterangan Gambar:
Seekor anak paus mendekati rig pada hari Kamis 20 Maret 2008 jam 13:00 dan para pekerja rig sambil mengamati paus juga bergaya di depan kamera

Sumber http://www.rescuebarrowisland.org.au/About_Barrow/About%20Barrow%20Island.htm

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Posko Baru Kami

  1. wah, kalau piaraan pak Mimbar dari yang sak hohah sampai sk ipet nyerah deh,
    kalah kebon binatang mini saya
    mau ikut ngingoni kok belum beli laut ya saya

    titip salam saja buat si ikan, apa pak Mimbar berani ngajak main?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s