Posted in australia, australiana

Obat Flu atau Anti Hamil?


Baru saja mendengar bahwa siklon Pancho bergerak dari arah barat Australia menuju lokasi kami, saya sudah keburu pilek duluan. Pasalnya hujan angin sambar menyambar sementara ruang akomodasi seperti hendak mengawetkan mayat dinginnnya.

Akibatnya sekalipun belajar ilmu menyembuhkan diri sendiri (sesuai iklan di depan Gramedia), saya adalah anak pertama dari seorang bapak yang kalau bangun pagi selalu uwahing (bersin), kalau kena angin sedikit kepalanya pusing. Semula saya melecehkan ayah saya sebagai pribadi yang tidak tahan uji dan dimanja oleh perasaan. Kalau cuma pusing, flu harus dilawan dengan selfhipnotis.

Buktinya saat hujan di rumah, saya bahkan mandi-mandi dengan alasan mengecek got. Ternyata malamnya …ya panas badanku, meriang. Kacang tidak jauh dari lanjarannya. Buah tak jauh dari pohonnya. Apalagi sang buah baru merayakan usia ke55lebih sedikit.

Supaya jangan kebablasan sakitnya, kali ini saya pergi ke Sick Bay Room, sebuah istilah untuk klinik. Agak tertegun juga sebentar didepan pintu klinik yang tertutup. Bukan Chris karena sang medik (dari Amerika) masih mengunci kamar prakteknya. Tapi papan nama di depannya ditulis Autopsy Room.

Cuman kalau lihat sepanjang lorong besi memang ada suasana masuk rumah sakit. Tapi saya masuk saja dan tanpa banyak cingcong saya diberi obat berwarna warni dan permen Vics.

Lorong yang tidak gelap

Perasaan cuma flu biasa kenapa dikasih tablet KB. Rupanya yang malam hari diberi obat semacam sedatif sehingga tidur menjadi pulas sementara kapsul pagi dan siang berbeda komposisinya. Sekali waktu saya sakit perut di Perth sementara padahal sudah sempet minum anti mencret, bahkan imodium yang sangar terhadap sakit perut juga kewalahan. Lantas saya cari antibiotik sendiri. Celakanya tak satupun rumah obat yang mau menjualnya kecuali dengan resp dokter.

Lalu ingat waktu kecil alm ibu juga meminum tablet KB berwarna. Siang merah misalnya, malam biru. Hasilnya ada Mimbar, Endang, Ratri, Agus, Tanti, Utami, Mini, Dewi, Virgo dan Vivi. Total sepuluh anak. Dua adik saya sudah dipanggil duluan. Nggak ngaruh rupanya. Atau diminum bersamaan dengan pembuahan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s