Posted in rig, rig pengeboran

Bubble Watch bukan mainan anak-anak


Dalam pengeboran kami mengenal istilah Bubble Watch alias mengamati gelembung (udara). Ini biasanya dilakukan saat orang pertama kali menancapkan mata bor didasar laut. Kami menyebut istilah bor pertama kali ini dengan sebutan “tajak” atau spud in.

Persoalannya sekalipun maksud mengebor mungkin ingin mencapai kedalaman 5000 meter, kadang diluar perhitungan pada kedalaman 10-50 meter orang sering terperosok menembus lapisan gas dangkal atau gas rawa (shallow gas). Gas yang tidak diharapkan ini bisa menyembur dengan kekuatan dahsyat bisa berakhir kebakaran rig dan bahaya lainnya. Di darat, teman dari Pertamina menyebutnya Gas Rawa atau lebih mudah dipahami “kantong gas“.

Untuk itulah saat mata bor menancap pertama kalinya, disekeliling rig ditempat orang yang bermata tajam. Tujuannya hanya mengamati permukaan laut sekitar mata bor ditancap. Kalau ada gejala gelembung gas nampak dipermukaan. Mereka akan segera teriak “gas,gas,gas” lalu dipompakan “lumpur pembunuh” atau Kill Mud – kedalam lubang yang berpotensi bahaya semburan liar atau blowout tersebut. Sebuah teori setengah matang mengatakan bahwa saat terjadi gelembung akibat kantong gas, maka kemampuan air laut mengangkat kapal (bouyancy) menjadi berkurang akibat campuran gas. Kalau rem hidraulic kemasukan angin, bahasanya para montir jalanan adalah ngempos – tapi kalau air laut kecampuran gas dikawatirkan keseimbangan kapal terganggu atau malahan njomplang sekalian. Seperti mobil berjalan di gurun Gobi, lalu ada kejeblos “quick sand.”

Teori bubble penyebab tenggelam kapal ini diperdebatkan sampai sekarang. Sama dengan teori mengapa dilarang menggunakan HP saat isi bensin.

Banyak gambar dramatis peristiwa tersebut namun kadang kebenarannya masih dipertanyakan sebab bisa jadi hanya sulapan kamera. Saya sendiri mengalami kejadian “kantong gas dangkal ini” cukup sering. Biasanya didahului dengan suasana senyap, tiba-tiba bledar gemuruh lumpur beterbangan kepermukaan, para roughneck yang bertemperasan cari selamat kecuali seorang “hero” yaitu driller atau juru bor sebab ditangannya yang terlatih dia akan mampu mengontrol situasi panik tersebut.

Bila bahaya masih belum bisa ditanggulangi, kapal digeser beberapa ratus meter dari tempat kejadian.

Tapi semudah itukah pekerjaan juru intip tadi. Panggung tempat mereka mengintip atau dinamakan “rig floor garis miring drill floor” nangkring 25meter dari permukaan laut yang selalu bergelora. Mata biasa melihat kejauhan 25meter saja sudah terlihat kelip-kelip. Lalu dasar laut ada di 250meter. Jika kedalaman laut 225 meter alias dua kali panjang lapangan bola, maka setiap gelembung yang keluar langsung akan terbawa arus entah kemana atau bercampur dengan buih-buih gelombang. Tidak mudah memang.

Lalu datanglah teknologi robot. Kami turunkan robot ini ke dasar laut dan mereka berenang disana sambil diatas matanya kita pasang lampu sokle yang amat gemebyar sehingga setiap anasir gelembung langsung bisa dideteksi, asal arus tidak sedang kencang sebab dasar laut menjadi keruh dan lagi-lagi pengamatan gelembung sukar dilakukan. Robot cukup dikendalikan melalui Joystick ala PS2 oleh seorang operator.

Jam 7 malam akhirnya mata bor berdiameter 914mm mulai menekan dasar laut. Sepuluh meter pertama lapisan empuk pasir dan lumpur laut bisa ditembus hanya dengan berat pipa itu sendiri. Namun lama kelamaan tanah semakin keras sehingga mata bor kami putar perlahan antara 30 sampai 70 putaran permenit. Beberapa kali terjadi puntiran balik pertanda mata bor terperosok diantara gerowongan batu gamping yang terbentuk dari binatang karang purba.

Perlahan pompa lumpur kami hidupkan. Karena masih dangkal, kami gunakan bahan mentah dari air laut yang tersedia disekeliling kami.

Pompa nomor 1 dengan kekuatan 1600HP kami jalankan dengan kecepatan 80 langkah per menit. Ini akan menghasilkan debit 400 gallon per menit atau debit yang dihasilkan 1,5 ton per menit. Karena kami memiliki tiga pompa yang sama dan dijalankan secara paralel maka total 4,5 ton air laut kami tekan diujung mata bor. Manometer tekanan gabungan ini menunjukkan tekanan mentok pada 1000 psi.

Setelah satu jam mengebor, kami mampu mengorek lobang sedalam 50meter. Untuk tahap pertama ini sudah lebih dari cukup. Sebab lubang pertama tujuannya hanya sebagai “tempat duduk dan pegangan” casing pertama yaitu casing conductor.

Diameter casing ini 762mm dipasang dengan disemen sampai sisa semen meleleh membentuk “lantai semen flor” tersendiri. Beruntung kantong gas yang ditakutkan tidak dijumpai.

Sebetulnya hasil survei seismik memang tidak memperlihatkan indikasi kantong gas, namun demi keselamatan kerja, operasi dilakukan seakan-akan “pasti” menghadapi kendala. Inilah yang dalam perminyakan disebut teori “expect unexpected.

Terry pengawas lapangan kami baru bangun dari tidurnya. Setengah terjaga, dari layar monitor ia melihat gelembung-gelembung begitu banyak bermunculan. Sempat panik, diambilnya kacamata bacanya. Gelembung tadi diamati dengan seksama ternyata jutaan ikan putih keperakan, seperti gereh petek, sedang bermain didepan lampu sehingga terkesan gelembung udara.

Hampir pensiun aku kerja di Rig, masih bisa ditipu oleh ikan-ikan kecil..”

Tapi sepanjang perjalanan panjang sebagai mudlogger kejadian menghadapi kantong gas sudah sering saya temui.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Bubble Watch bukan mainan anak-anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s