Posted in gaya hidup, kriminal

Jalanan Rusak dan para pengutip pajak jalan


Rasanya mata dan telinga sudah pada tahap “budek” lantaran melihat parahnya jalan mencapai setadium tiga diseantero penjuru negeri.

Petugas berompi jingga ini tugasnya memunguti pajak jalan para supir angkot, truk – tanpa tanda terima tentunya. Kadang kalau ada mobil box yang mensuplai barang-barang ke mini market setempat penguasa jalan ini memungut cukai entah berupa satu renteng kopi bungkus atau apa saja yang diberikan oleh supir mobil box.

Foto ini diambil saat kendaraan saya harus berhenti dan berjalan bak keong tut-tut melewati jalanan menganga lebar dengan tulang-tulang besi mencuat disana sini.

Kalau ditanya tugasnya tentu sangat mulia, di bawah terik matahari beliau memunguti pajak untuk pembangunan daerah termasuk jalan tentunya. Tanpa tanda terima, tanpa audit maka yakin saja uang jerih payah supir angkot, truk tadi akan menjadi setan gentayangan sehingga si pemberi pajak hidup berkeringat sampai mengalir ke pantat, sang pemungut bukan rahasia umum hidup berkecukupan. Cilaka bagi sang supir angkutan, diujung jalan berjarak kurang dari 100 meter, ada pos serupa dengan karakter tak berbeda.

Ketika berada di Riau, dalam perjalanan antara Pakanbaru – Duri ada beberapa pos yang hanya dijaga oleh bocah-bocah. Mereka yang akan naik ke dalam Truk memungut cukai jalanan. Dengan menggunakan joki-cukai maka terkesan lebih elegan. Hallah ngomong elegan segala.

Membaca berita dimedia kasus seorang Mayor Polisi yang bertahun-tahun memalaki toko, pemakai jalan dan ternyata adalah palsu, maka tidak ada salahnya yang berwajib sesekali melakukan operasi apakah mereka memang petugas aseli pengemban suci dawuh negara. Apalagi rompi tersebut cocok sekali untuk menyembunyikan identitas.

Sesekali bicara pelan diantara tulinya peduli masyarakat, sekedar pelepas frustrasi.

Advertisements
Posted in gaya hidup, karung guni

Menjual Buku Managemen, Bahasa Inggris, Elektro seharga 1 dollar 10 sen


Di flat anak saya #05-62 di Singapura sedang terjadi kesibukan luar biasa. Mereka harus pindah pada akhir April08 ini lantaran pewaris pemilik flat sudah menjual miliknya kepada orang lain. Mobil lorri untuk pindahan sudah dihubungi dengan biaya angkutan sebesar 150 dollar. Sayapun datang dari Jakarta menjadi kuli panggul anaknya.

Persoalan yang muncul pertama kali adalah dimana mencari kardus bekas untuk membungkus barang pindahan. Ketika menghubungi supermarket macam Cold Storage ternyata mereka menunjuk kontraktor tertentu yang berwewenang memberikan bantuan berupa 10 dollar per kardus bekas. Mujur, Acay seorang penghuni flat memiliki jalur untuk mendapatkan kardus secara gratis.

Persoalan kedua adalah ternyata selama ini banyak shampoo, sabun, makanan , odol, obat-obatan yang selama ini belum pernah dibuka namun saling bertumpuk di gudang. Belum lagi buku, majalah yang pasti akan memenuhi seantero kardus.

Acay yang nama aselinya Prasetyo menghadapi kendala buku-bukunya. Sekitar tiga tumpuk tinggi buku managemen, teknik, bahasa Inggris koleksi pelajar kita saat mereka kuliah dahulu. Semalam dua temannya dari Indonesia datang kekamarnya. Semula saya pikir mereka membantu Acay mengepak barang-barangnya, ternyata setelah mendapatkan satu dua buku yang dicari, keduanya pamitan. Urusan mengepak barang, kerja sama antar penghuni flat mungkin hanya ada dalam filem Ayat-ayat Cinta.

Lalu ketimbang membuang buku yang kadang bikin persoalan dengan bagian kebersihan saya menawarkan diri menjadi relawan penjual “burukan” kata orang Palembang, atau loakan kata orang Jakarta.

Sekitar jam setengah tiga siang, saya dengan suara terompet pencet “towet..towet” dibunyikan pertanda kehadirannya. Saya masih belum membuka pintu. Kok suara main menjauh, semula ingin mengejarnya namun biasanya empeh tua ini ini akan beredar diseantero flat.

Benar saja, saat towet-towet disertai suara sandal bergesek makin mendekat, pria separuh baya kurus dengan baju kumuh lengan pendek dan celana pendek kali ini cuma membawa karung goni kecil. Belakangan saya tahu isinya adalah tali rafia dan timbangan gantung.

Dia saya cegat, semula wajahnya sedikit takut. Bahkan terompetnya dicoba untuk disembunyikan. Padahal pandangan bersahabat lho. Lebih dekat pandangan mengharap.

Karung gunny?” kata saya.

Matanya bersinar saat melihat buku management masih mulus dan tebal. Setelah diikat dengan rafia, buku ditimbang pakai dacin, alias timbangan saku. Sebentar ia berbalik dan tangannya merogoh saku kirinya memberikan kepada saya dua keping koin. Satu kekuningan bernilai nominal 1 dollar dan yang lain 10 sen.

Diliriknya meja didalam lalu dia bilang “laptopnya nggak sekalian, atau TV,” – wah repot juga kalau laptop kantor dihargai 10 dollar.

Selamat jalan buku ratusan dollar yang sekarang dikonversi menjadi 1 dolar 10 sen.

Karung gunny…karung gunny…

Posted in keluarga, Uncategorized

Mengantar Orang Lampung ke Tanah Suci (2)


Petugas membagikan passport, tapi ada yang belum ambil juga lantaran asik ngobrol kekiri ke kanan

Menjelang keberangkatan Umrah, bapak tiba-tiba mendekati mantunya sebut saja Hajah Dr. Usmanawati yang biasa kami panggil wong ayu Sala itu sebagai “Iuk”. Ibu saya almarhum mengomentari gerak geriknya sebagai “nginjak kotoranpun tidak gepeng”- perlambang orang yang berjalan bak macan luwe (lapar) banget.

Tangaku gatal, minta Amoxcyclin dong..” kata bapak.

Terang saja sebagai seorang dokter, Iuk akan bengong apa hubungannya antibiotik dengan alergi? tapi saya tanggap isyarat. “Uk, bapak dikasih Feminax saja sembuh kok..” – kata saya.

Sebelum sampeyan buru-buru mengecap saya kurang ajar, maka dari belakang terdengar gemuruh tertawa adik-adik saya. Terutama Hajah Utami. Dia mengiyakan bahwa kalau pusing ayah datang, obat anti hamilpun diminum dan ndilalah pusingnya hilang. Apalagi Utami pernah kehilangan pil KB-nya beberapa butir sehingga kelabakan. Bapak hanya merenges sambil bilang “tak ombe mau isuk” – saya minum tadi pagi.

Dari saya kecil, ingatan saya bapak sering membeli satu kaleng besar pil berwarna putih, kalau dibuka baunya asam. Jaman dulu namanya pil ada yang Nasppro, APC, kalau yang puyer ya Bintang Toejoe. Itulah minuman harian ayah saya disamping “nguntal” telor ayam kampung mentah. Dasar militer, sekali waktu telur ayam yang dipecahnya nampak ada janinnya. Beliau hanya terdiam sedetik lalu tak lama kemudian bayi ayam tadi sudah masuk kedalam tenggorokannya.

Ketika Naspro dan APC sudah awarahum bin almarhum. Kesukaannya akan obatan pindah ke Refagan. Semula kami kuatir akan terjadi gangguan pada hatinya. Tapi alih-alih bapak yang banyak minum obat, ibunda yang jarang sekali minum kecuali terpaksa malahan terkena kanker hati sampai ajal menjemputnya.

PAKAI PEMPERS

Saya pernah bilang bahwa bapakku sehat. Giginya belum ompong, rambutnya kecuali tipis belum sebotak saya, matanya masih tajam, pendengarannya sekalipun sedikit berkurang namun masih belum memerlukan alat bantu.

Tapi pernyataan ini kurang tepat 100% sebab bapak belakangan sering ngompol kecil. Untuk mengatasi gangguan selama penerbangan Jakarta – Jedah, maka oleh Utami dibekali pempers. Sebelumnya uji coba dilakukan kepada suaminya seorang Kombes Polisi yang pekerjaannya dibidang Intel (hallah apa hubungannya dengan kepangkatan?).

Maka betapa terkejutnya Utami ketika saat mencoba dari kamar mandi bapak teriak-teriak pampersnya kekecilan. Terpaksa sebagai tim SAR Utami menengok apa yang terjadi. Rupanya lubang satu kaki oleh bapak diperkosa untuk dua kaki berbarengan.

Aku ndak ndagel lho Ut..,” kata bapak. Sebab biasanya kalau cuaca lagi cerah bapak suka melucu.

Solusinya setiap pampers diberi tulisan Depan, Kaki Kanan, Kaki kiri, dan Belakang.

Posted in gaya hidup, keluarga, keponakan

Sejak Kapan Ki Daus jadi dalang?


Rupanya keponakan saya Gilang Perdana dalam foto Gemuk dan berkaos hijau kehabisan akal menjawab pertanyaan dari gurunya mengenai nama dalang wayang kulit kondang di Indonesia. Dengar-dengar nama dalang biasanya diawali dengan sebutan Ki seperti Ki NartoSabdo, Ki Manteb sehingga tanpa pikir panjang dia menjawab Ki Daus.. Tokoh dalam variety show di salah satu TV Swasta Indonesia yang selalu menjadi pelopor acara menarik, namun dibelakang hari kedodoran sendiri sehingga hilang pamornya.

Posted in gaya hidup, handphone, Uncategorized

Handphone saya ingin diwawancarai sebuah Media


Terang saja saya terkaget, seorang wartawati koran besar di Jakarta ingin mewawancarai saya soal handphone outdoor yang saya miliki. Sebetulnya masalah ini salah sambung sebab saya hanya memiliki N9500 yang masa kini sudah jadul. Tapi sejujurnya saya bangga juga nama saya masuk dalam nominasi Koran nya Gunawan Muhamad sebagai nara sumber.

HP saya memang “kadang-kadang”  dipakai untuk akses email dari Yahoo. Tapi yang tidak nahananin (harusnya saya tahu), apapun judul iklan yang disampaikan, maka berinternet menggunakan HP adalah perbuatan melobangi pundi uang anda.

Akhirnya praktek tersebut saya hentikan dan dengan sendirinya batal sudah saya merasa sebagai orang yang mengerti mengenai Handphone.

Untuk tidak mengecewakan sang JuruWarta saya katakan bahwa ia memilih orang yang salah untuk diwawancarai. Sayang memang. Kesempatan datang tidak dua kali, namun jujur harus diuji berkali-kali.

Posted in gaya hidup, singapore, singapura, Uncategorized

Suatu pagi di pasar tradisional jalan Holland Singapura


Ibu-ibu di Singapura dengan tertib antre untuk dilayani penjual. Tidak nampak orang yang seakan-akan terburu-buru sampai tega menyerobot antrean. Semua tertib berbaris menunggu giliran. Akankan korupsi dinegara kita bisa dihilangkan cukup dengan menertibkan diri agar mau antre?
Los ikan basah, tanpa bau amis, tanpa bau lalat. Bisakah pasar tradisional kita meniru hal yang serupa?
Kakek menikmati semangkok bubur sambil kaki jegang diangkat ke kursi. Pemandangan para senior atau pensiunan pegawai di Singapura menikmati hari tua mereka.
Carrot Cake yang ternyata adalah semacam kwetiau yang kita kenal di Indonesia. Para gangster jaman dulu pantang makan kwetiau sebab dipercaya memperlambat luka bacok dalam perkelahian.
Posted in gaya hidup, keluarga

Mengantar Orang Lampung ke Tanah Suci (1)


Inilah wajah ayah saya R. Soeratman. Kelahiran TelukBetung -Lampung. Disebelah kanannya adalah Vivi (ungu) memeluk putri sulungnya Arwa (biru muda).

Vivi adalah adik paling bungsu (no 10), tercantik namun paling judes sekeluarga. Menikah dengan Janggam sang suami yang lebih banyak “iya” kepada istrinya ketimbang tidak. Setelah menikah Vivi diajak tinggal di Amerika sampai lahirlah Arwa, Tabhina, dan Ashraf. Bulan Desember 2007 mereka sekeluarga ke tanah air untuk menunaikan ibadah haji.

Lho kok tiba-tiba permohonan Visa Amerika mereka langsung ditolak sehingga daripada kelamaan menunggu sang suami langsung ke Aceh bergabung dengan FAO.

Lantas cewek berkacamata dan jilbab coklat adalah keponakan saya Shita yang mengeluh kalau mengajar para Abdi Negara selalu dihadapi wajah mengantuk atau pertanyaan yang lebih banyak menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki antusias pada mata pelajaran bahasa. Mungkin keponakan saya Shita masih ingat pengalaman menjengkelkan sehingga tanpa disadari mulutnya mecucu (monyong).

Di sebelah Shita adala Nyonya Budi Utami ( Coklat) adik saya nomor empat. Bapak sering menyebut bahwa adik saya ini seperti representatif saya. Ia dengan mudah menarik kulit mukanya, melucu, persis saya kakaknya. Kebetulan sang suami bernama Budi Sarjono sehingga pasutri Budi Kwadrat ini membuat keponakan saya yang lain lagi Ashraf berkomentar dalam bahasa Inggris Amerika tempat ia dibesarkan “are you planned ?” – maksudnya apakah nama keduanya memang direncanakan.

Budi Utami memiliki mantu yang bekerja di Boston – Amerika. Lalu mereka menikah di di Palu, Sulawesi, seperti pasangan Vivi dan Janggam, sang mantu mengajak istrinya ke Amerika. Lagi-lagi Visa mereka ditolak sampai sekarang.

Lalu disamping Nyonya Utami adalah keponakan saya Meggi jilbab putih.

Usianya ayah mendekati 80tahu kurang sedikit. Giginya masih utuh, matanya masih jelas menatap pertandingan bola, penyakitnya ya masuk angin. Dengan usia segitu tak heran mulai pikun, kekanakan dan mudah sekali mengambek. Ia seperti Bom Waktu susah dideteksi kapan meletus. Habis bercanda, bisa saja tiba-tiba beliau “minggat” meninggalkan arena pembicaraan. Rupanya ada yang tidak berkenan dihatinya. Itu termasuk jika kami mengeritik Amerika, misalnya.

Akhirnya permainan hidup kami ganti, saya menjadi figur seperti ayah sementara ayah kami tempatkan sebagai anak paling bungsu sehingga setiap kemauannya sepanjang masuk akal kami ikuti saja.

Dari istri pertamanya (ibu saya) Ayah mendapatkan anak 10 dengan saya sebagai anak tertua. Hidupnya mustinya kepomo bahasa jawa lumayan dengan pensiunan sebagai bekas pejabat, bantuan sekedarnya dari anak-anaknya.

Namun kelemahan ayah seperti juga kakek saya adalah tidak bisa melihat perempuan cantik. Hanya dua minggu ibunda meninggal ia sudah kecantol Janda beranak enam hidup dengan dengan dua cucu dan mantu yang tak seorangpun berpenghasilan tetap. Malahan belakangan ada anak tirinya yang tersangkut perkara Narkoba. Duh…

Singkat kata sekalipun kami anaknya belum legawa, namun ayah tetap keukeuh harus kawin dengan mantan biduan dangdut Lampung dan sebetulnya teman kami bermain. Kami masih egois ingin ditemani ayah tentunya menolak ibu transplantasi ini.

Bapak masih beranggapan kami anak kecil sehingga ia langsung gedruk bumi dan merapal mantra “rawe-rawe rantas malang-malang putung” – Kami anak-anaknya bereaksi negatif. Tapi dalam hati saya menertawakan diri sendiri. Ternyata mengucapkan dalil seperti para ustad di TV bahwa menolong Janda dan anak Yatim pelaksanaannya tidak semudah mengedipkan mata dan membalikkan telapak tangan.

Di usia senja Ayah yang seharusnya menikmati masa tuanya bersanjo (palembang bertandang) kerumah anak dan cucu, terpaksa harus berakrobat mencukupi kebutuhan anak dan cucunya yang baru.

Saya sempat berujar “masa senja harusnya sibuk mencari jalan pepadang (jawa pencerahan), kok baapakku sibuk cari jalan bayi (vagina).” – kalau saya yang menyentil berbalut humor biasanya beliau ngakak.

Alhasil, tabungan untuk naik haji berdua ibunda ludes. Dengan cepat cincin emas, permata yang semula disimpan di kotak perhiasan ibu entah kemana rimbanya. Duh..

Ayahpun ogah kalau diajak bicara soal naik haji. Ternyata kakekpun kalau jatuh cinta persis anak ABG. Kami sampai bosan mendengarkan cerita ayah soal kehebatan istri barunya. Lha kami tahu “pok bengkong” ulah dan karakter sang “bidadari ayah” sejak masa anak-anak di tangsi polisi Duren Payung -Tanbjung Karang dahuku. Dari dulu kami memandangnya sebagai orang yang tidak diperhitungkan. Kok ndilalah berhasil masuk mulus dalam kehidupan keluarga kami melalui ayah.

Sampai suatu ketika beliau seperti ngebet sekali ingin naik haji. Jalan keluarnya sementara ini kemauannya kami plintir dengan mengumrahkan beliau kebetulan adik saya Utami saat ini didapuk (menjabat) sebagai IMF keluarga. Dia bersedia menalangi ongkos perjalana Umroh bapak dengan seorang pendamping. Maklum makin senja usia, ayah justru makin menjadi hobbi ngobrol keseantero tetangga.

Lha kalau di tanah suci, bisa berabe kesasar dari pasar seng ke pasar Chop-chop. Andai saja bapak mengenal internet, bakat mengobrolnya bisa disalurkan melalui milis atau blog.. Halah ini ngomongi bapaknya atau aku sendiri sih?

Maka tatkala para rakyat Indonesia merayakan hari Kartini, kami sudah berada di terminal udara Cengkarang mengantar ayah.

Dan pada kesempatan yang langka ini, sejenak sebelum masuk keruang pemberangkatan, bapak yang ngotot minta baju seragam umroh dijahit mirip jas, berfoto diapit saya dan adik. Adik saya Utami kebagian “pulung” menjahitkan bahan seharga 50 ribu menjadi jas dengan biaya jahitnya tak kurang 15 kali lipat biayanya.

Sayapun spesial mengenakan kemeja dan sepatu sebab dimata ayah, sepatu keds dan T-shirt adalah pakaian olah raga dan tak patut dipakai dalam acara setengah resmi sekalipun.

Diantara mereka bertiga saya terang lebih unggul. Pertama saya berbadan lebih besar dan berambut lebih irit.

Adik saya, dr. Agus, karena disiplin ilmunya banyak menjadi penasihat kesehatan keluarga.

Mudah-mudahan, sepulangnya dari Umroh ayah menjadi lebih sabar.

Rasanya kepingin punya figur ayah yang dikangeni, ditunggu setiap kedatangannya oleh anak dan para cucunya. Mendongeng masa kecil putra-putranya agar bisa menjadi contoh bagi yang lebih muda. Bukan ditakuti dan dijauhi karena mudah marah.

Mungkin anda bertanya, yang mana “bidadari” yang sedang digandrungi ayah? – rupanya perempuan itu tahu diri sehingga tidak ingin mengganggu kebahagian kami dengan kehadirannya yang tak dikehendaki. Memang dilema bagi bapak. Tapi itulah resiko yang harus diambil.