Posted in rig, rig pengeboran

Ketika Musibah menimpa teman di Rig


Beberapa hari ini teman saya kerja sebut saja Exi kelihatan murung. Untuk anak seumuran dia memang dasarnya pendiam. Namun kali ini dia bilang “saya tidak bisa konsentrasi bekerja..

Rupanya sang ayah sakit keras. Biasanya kalau mendengar berita begini saya hanya diam saja, namun bahasa bathin yang ikut bersimpati. Tapi seperti biasa berita keluarga, mula-mula dikatakan sakit, mendadak ia ditilpun lagi, wajahnya berubah dan sesenggukan didepan saya. Berita buruk sudah diterimanya. Sang ayah meninggalkannya sebelum melihat puteranya menikah.

Daripada melihatnya berduka sekalipun ia baru saja duduk dikursi, langsung posisnya saya ambil alih dan saya persilahkan Exi masuk kamar menumpahkan kesedihannya.  Rupanya saking sedihnya ia sampai ketiduran. Tapi itu jauh lebih baik.

Orang-orang rig langsung bersimpati dan malam itu juga koordinator lapangan di tilpun mengatakan bahwa sekalipun belum waktunya maka Exi harus dipulangkan. Masalahnya, mencari penggantinya bukan perkara mudah.

Akhirnya saya menggantian Exi jauh sebelum waktunya dan ada dua hari seperti lek-lekan alias begadang menunggui sumur yang saat itu memang sedang sibuk mengebor lubang 445mm.

Untunglah hanya sekitar 19jam sumur selesai mencapai kedalaman 1500meter. Pahat bisa dicabut untuk mekeksekusi program selanjutnya yaitu pasang Casing 340mm.

Dengan demikian saya  bisa beristirahat setelah menyerahkan kewajiban seperlunya kepada para yunior.

Dan pagi-pagi sekali helikopter membawa Exi ke terminal Pulau Barrow untuk pindah pesawat Jet Air Australia ke Perth dan selanjutnya ke Manila. Masih diperlukan sekitar semalam ia menginap di Perth. Mudah-mudahan Exi tidak dapat halangan diperjalanan menghadiri pertemuan terakhir dengan sang ayah yang dikasihininya.

Untunglah (lagi-lagi) teman saya Craig yang memang tinggal di Perth bersedia menjadi tambal sulam kekosongan tersebut sehingga saya tidak perlu nunjang palang- jungkir balik menjaga mata agar tidak mengantuk.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Ketika Musibah menimpa teman di Rig

  1. membaca postingan ini teringat ayah saya yg dulu bekerja di storage tanker. ayah saya tidak pernah menceritakan pekerjaannya di kapal, jika ditanya dia cuma bilang engko lek tak kandani le awakmu gak kolu mangan…
    juga saat beliau meninggal saya sedang survey dijambi, terlambat 5 menit saya tiba di RS. teringat janji saya kepada beliau yg belum sempat saya selesaikan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s