Posted in australiana

Ketika pengeboran berjalan lemot gara gara Chert


ChertDiantara kedalaman sampai 3km rata-rata mata pengeboran di offshore mampu menembus lapisan dengan kecepatan 60meter per jam. Semakin dalam semakin lambat, misalnya menjadi 25 meter per jam pada 3000 meteran. Alasannya pada saat jauh masuk ke perut bumi, batuan digencet oleh beban batuan diatasnya sehingga menjadi kompak, liat dan sukar di bor.

Namun ada kalanya pada kedalaman 2000 meter pengeboran kami berjalan lelet sekali. Dari 60meter perjam kadang turun drastis menjadi 0,6m/jam. Hal ini terjadi kalau kami menembus batuan rijang atau chert atau flintstone.

Batuan rijang yang kerasnya ngaudubilah ini semula dari fosil binatang karang yang mengalami proses pengayaan kadar silika sehingga dari binatang lunak menjadi kepala batu keras pula. Padahal tebalnya paling 100-200meter tetapi menjadi batu penghalang beneran untuk kemajuan pengeboran.

Untuk mengatasinya beberapa orang pintar diperusahaan minyak belum sepakat mana yang terbaik. Biasanya mereka memilih mata bor yang terbuat dari intan (PDC), tujuannya kalau batuan lain saja “rawe-rawe rantas” apalagi cuma chert. Namun teori ini masih kurang cespleng menghadapi benteng pertahanan sang Chert.

Ada perusahaan lain yang malahan menggunakan mata bor bergigi macam gir sepeda. Mata bor ini sebetulnya pemotong batuan lunak tetapi kalau dipakai batuan keras dia malahan efektip sekalipun usianya teramat singkat.

Nampaknya Australia tidak bisa lepas dari keberadaan batu rijang ini. Dikalangan orang Aborijin dijadikan pahat, atau alat menyukur jenggot dan rambut.

Saat membuka lubang pertambangan biji besi di Pilbara (Australia Barat) para ahli menemukan situs bekas manusia tua Aborijin berupa goa panjang 10x8m dengan ketinggian goa 1,5m. Spekulasi para ahli manusia aborijin kuno ini tinggal 2 meter dibawah permukaan tanah. Lalu selain sisa arang, ditemukan batu chert yang dipakai untuk memotong rambut, janggut mereka.

Hasil penelitian Carbon menunjukkan bahwa usia batuan sekitar situs tersebut adalah 35.000 tahun. Sekarang benda yang seperti tak berharga menjadi koleksi Rio Tinto dan Hancock.

Gambar Chert dari wikipedia.org

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Ketika pengeboran berjalan lemot gara gara Chert

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s