Posted in gaya hidup

Garuda dan Ibu Osie yang kecewa (sedikit)


Sebuah judul basi, apalagi dalam benak terbiasa menerima kenyataan bahwa pelayanan sektor transportasi kita memang terkesan acak-acakan.

Disebelah saya seorang ibu dan putranya yang nyinyir bertanya ini dan itu. Begitu pesawat Garuda lepas landas di Rabu pagi yang sudah mulai dipeluk musim dingin sang anak yang duduk dekat jendela mulai menunjuk ini dan itu.

Ibunya menjawab dengan sabar. Namun namanya anak-anak selalu bertanya dan selalu mempertanyakan kenapa begini kenapa begitu. Rupanya ibu yang berbluose putih sambil membaca majalah model Check and Richeck kita sempat ngedumel “stop it its iritating..”

Waktu makan belum tiba, namun pramugari mulai membagikan makanan pesanan khusus bagi yang sedang diet atau karena alasan agama tertentu. Sang ibu agak ragu menerima baki sebab muncul pertanyaan “ini untuk vegetarian?” – dan dijawab oleh pramugari sesuai dengan list komputer yang ia terima.

Makanan diterima, piring persegi panjang dibuka dan mukanya berkerut. “tapi ada telur didalamnya. .” – Pramugari menjawab “iya itu kan vegetarian..”

Bisa dibayangkan dua pendapat berangkat dari cara gebyah uyah. Menyamaratakan. Bahwa setiap vegetarian, pokoknya tidak makan daging dari satu pihak sementara pihak lain kurang explisit mengatakan bahwa bukan Vegetarian yang ditonjolkan namun “alergi telurnya” yang dipermasalahkan.

Saya dengar sang anak sudah berbisik kepada ibunya “kalau ikan ayam saya mau ma, jangan repot..”

Namun sang ibu adalah dari negeri dimana kata Jalan Macet, aturan Lalu Lintas di sepelekan sampai harus tiap persimpangan dijaga dua satgas khusus, tidak terdapat dalam kamus bahasa mereka. Ia tetap memegang teguh haknya sebagai konsumen yang merasa telah menilpun pihak Garuda bahwa anaknya Vegetarian sekaligus Anti Telur.

Badan saya pepetkan lengket ke kursi agar duel sapa menang sapa salah berlangsung seru. Tapi kuping saya lebarkan dan pesan dalam memori otak dihapus agar bisa menerima masukan baru….

Sang pramugari akhirnya mengeluarkan jurus “saya tidak tahu, sekedar petugas menyampaikan.”

Menyadari bahwa dia ada dipihak yang harus menerima dogma “saya sadermo melaksanankan tugas,” sang Bule mencoba berwinwin solution dengan mengatakan bisa nggak ditukar dengan “masakan ayam..”

Cuma pramugari keburu menjawab tegas, “kami tidak punya cadangan makanan untuk ditukar…” Sambil meninggalkan medan adu silat.

Hampir saya menengahi sekalipun melakukan telepati, hallah telepati opo” – Cuma mbatin saja kok sejujurnya, bahwa saya bersedia masakan ayam diganti Omelet.

Beberapa detik, pramugari kembali dengan wajah mulai menurun level merahnya dan menawarkan “kami ada ikan ayam, mau tidak..”

Baru terasa uap tekanan kemarahan mulai menipis. Napas saya terasa lega. Entah kenapa kalau ada pertengkaran selalu saja aura yang marah menginduksi kepada saya … hallah …

Saya lihat sang anak langsung “telap.telep” menghabiskan makanannya. Sementara ibu menikmati omeletnya sampai ludes. Tidak lama filem diputar, mereka mencoba headsetnya kelihatannnya sedikit mengalami gangguan. Untung hanya sebentar sebab saya lihat kedua anak beranak sudah mulai berteriak mengikuti adegan dalam filem.

Suasana semakin gembira termasuk seluruh penumpang ketika Laut Bali bergelora seakan menyambut kedatangan mereka untuk berlibur ke negeri kayangan ini. Ibu langsung mencopot blusenya, dan tinggalah pakaian dalam berupa penutip dada dan tali tipis dibahunya yang nampak terpelihara baik. Mereka sudah siap menghitamkan kulitnya di udara Bali.

Sementara menunggu pesawat dari Denpassar ke Jakarta, yang saya lihat adalah kelesuan para toko-toko di bandara. Terus terang selain harga yang mahal saya tidak melihat nilai tambah dari sebuah bandara Internasional kita ini.

Padahal Singapura bisa membuat suasana Bandara seperti kawasan yang berapa jam kita menunggu hanya suasana betah dan nyaman yang ditemuai.

Pertanyaan basi lagi. Kapan bandara Ngurah Rai kita bisa seperti Bandara Changi.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Garuda dan Ibu Osie yang kecewa (sedikit)

  1. Hi,
    I have questions.
    please excuse me for ask my questions here, i can’t read your language.
    I saw a post on your blog about BOPLO, i have a site (it’s still OFF) http://boplo.ir , i want to know what is meaning of BOPLO in your language and what is your language and country?
    please answer me!

    thanks

    Like

  2. Hi… My Country is Republic of Indonesia. You just click on Australia, then North of Australia you can find a heaps of Island. Thats my country. I am Indonesian, my language Indonesian, my Nation Indonesian.
    Boplo the originally came from Dutch Real Estate Company who run business in Indonesia de BouwPloeg ata 1920-1930. Then my Indonesian dialek slowly change to Boplo. I dont really know the meaning in Dutch. Mimbar Saputro

    Like

  3. Thank you alot,
    nice to meet you my Indonesian friend😉

    your answer is very good and useful for me!

    thank again my new friend😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s