Posted in gaya hidup, Uncategorized

Waktu hujan pagi-pagi di Singapura


Sekali tempo pernah ada quiz di radio swasta, mengapa saat hujan menimbulkan lalu lintas macet di ibukota. Jawabnya, karena sandal (ban) mobil dan motor terbuat dari karet sehingga harus mereka harus berjalan perlahan agar tidak tergelincir.

Selama ini marek-matek alias seprono-seprene alias seumur-umur sandal yang terhebat dimataku adalah cap burung Sriti (dulu) dan tidak pernah mau tahu ada sandal dengan kulit bertotol-tolol macam kodok buduk, lalu diberi nama indah sandal buaya yang harganya berlipat sandal cap Sriti.

Apalagi para teman di rig kadang pakai sandal dengan bagian depan tertutup mengerikan ketimbang keindahan. Tapi namanya mode sulit diperdebatkan. Apalagi para ibu-ibu yang mengantarkan putra-putrinya berenang saling berlomba mengenakan buah hatinya sandal dengan model terbaru sekalipun terkadang keluaran Butik PaUl alias Pasar Ular.

Bulan April ini saya dikepung hujan lebat (tanpa banjir) dikota Singapura sekalipun pada tahun 1950-an dikabarkan mampu meluapkan banjir nggegirisi alias dahsyat entoh saja trotoir jalanan menjadi licin sehingga sepatu keds saya tidak mampu mencengkeram badan jalan.

Sambil berjalan pelan-pelan kedua tangan saya kembangkan bak para trapez berjalan diatas seutas tambang. Kalau saja hujan turun selama berabad-abad mungkins saja keturuan saya kelak berevolusi dari sisi kepala mereka akan tumbuh sirip tambahan untuk membantu keseimbangan. Ups.. Lia belum memberikan cucu ding, boro-boro akan berevolusi.

Lantas saya disodori sandal karet yang nggak ada cantik-cantiknya pisan. Begitu jleg saya pakai, lho terasa sekali lunaknya material sandal ini. Lalu saya mencoba berjalan mindip-mindip perlahan pada lantai yang basah. Luar biasa, daya cengkram sandal ini memang paten.

Konon pernah perusahaan sandal ini sesumbar, barang siapa menggunakan sandal buaya ternyata masih kepleset juga maka akan diganti biaya rumah sakit.

Sekali waktu ada klaim atas sandal yang masih bikin celaka. Ternyata setelah diselidiki, sandal celaka tersebut berasal dari Buaya karet Jejadian alias bajakan dari Cina dengan harga yang memang sepersepuluh miring.

Dont judge the sandals from its face!

Selamat datang di era Safety Sandals. Harganya memang sama dengan sebuah safety shoes kelas medium.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s