Posted in Uncategorized

Jual mobil ala teman Filipino


Begitu tilpun ditaruh, kawan saya di rig namanya  Osias ngikik menahan tawa.

Lalu ia berbagi cerita bahwa 3 tahun lalu di Selandia Baru ia berhasil memenangkan lelang Honda CRV seharga 6500 dollar NZ, sebuah harga yang dibawah patokan harga terendah sehingga pemiliknya melepas dengan berat hati.

Bukan Mei 2008 saat sang suami berada di Rig, istrinya sudah berniat bulat seperti bola pingpong untuk menjual kembali Honda CRV dengan harga 4500 dollar. Sudah beberapa bulan ditawarkan kemana-mana akhirya ada juga yang berminat.

Namun ada partai tambahan.  Beberapa hari sebelum kedatangan calon pembeli, dalam satu pertemuan arisan ala warga Filipino di rumah Osias maka bergeserlah gossip sampai ke urusan jual beli mobil. Tahulah kalau orang banyak berkumpul, ada saja kompor meledak.

Salah satunya mengatakan “mobil saya lebih buruk daripada kepunyaanmu laku seharga $6500”

Betul saja ketika hari yang dijanjikan tiba, ternyata istri teman tadi berubah pikir dan mematok harga menjadi 5500 dollar. Tentu saja calon pembeli menjadi marah, pasalnya ia sudah menarik uang dari bank dan kini harus dikembalikan ke bank lagi.  Saya tidak tahu moral dari cerita sebab teman saya kelihatannya setuja dan setuju alias setuju bangget gitu lho atas sikap yang diambil oleh istrinya.

Advertisements
Posted in oil rig

Tali Pencekik dan Tali Pembunuh pada Rig Pengeboran


Saya memang cuma cari sensasi, pipa (bekas)putih yang menggeletak di halaman saya bermain di kapal pengeboran ini sedang menjalani pemeriksaan. Namanya pipa Riser. Tugasnya menghubungkan bagian lubang di dasar laut ke permukaan air (kapal). Dicat putih lantaran mudah dilihat kalau sedang berada didalam air. Biasanya bagian paling bawah akan bertengger diatas alat lain yang disebut BOP alias blow out prevention.

Panjangnya perbatang 12 meter, garis tengah dalamnya 50cm. Kalau kedalaman  laut  120 meter misalnya  ya dibutuhkan paling tidak sepuluh batang pipa riser. Kadang ada saatnya pipa yang dibutuhkan sangat nanggung, misalnya cuma lima meter. Maka dicarikan pipa “poni” – mungkin diambil dari kuda mini (poni).

Lalu disamping pipa ada pipa kecil anakannnya dan inilah yang dinamakan tali pembunuh atau “Kill Line” sementara disebelahnya (tertutup pipa besar) ada pasangannnya yaitu “tali pencekik”.  Kalau ada satu hal terjadi gangguan misalnya sumur harus dimatikan atau ditutup, maka anak pipa riser yang kecil cuma berdiameter 3inci ini dipakai sebagai terowongan pasukan lumpur pembunuh menyelinap untuk menutup sumur. Dari situlah keluar kata Kill Line. Sementara kembarannya (seperti sinetron Raam Punjabi), diberdayakan untuk membuka dan menutup kerangan (valve) yang dipasang di alat BOP nun jauh didasar laut sana. Dan itulah fungsinya Choke Line.

Posted in Uncategorized

Foto Pekerja Rig di Pengeboran Darat


Teman saya ini (jongkok pakai coveral) aselinya penulis. Beliau lebih dahulu menulis ketimbang saya. Lebih dahulu bekerja di Pengeboran. Sudah lebih dahulu pensiun tetapi masih “ngglidik” ngampung.

Kalau dia bosan makan di rig darat, maka makanan “mewah” tersebut dibawa keluar lokasi. Saat ada petani sedang makan ia dekati dan menukar menunya dengan menu petani. Wah sarapan bersama petani di sawah huenak tenan.

Dalam foto, Sugeng sedang mendatangi pasar tumpah dipinggir sungai di kawasan Senyerang , 50km Kuala Tungkal Jambi.

Yang berdiri adalah Gao Zhi pekerja dari perusahaan mudlogging SBK asal Cina daratan yang kini juga menyerbu Indonesia. Persaingan pasar di Indonesia makin ketat sebab tahu sendiri Cina kalau dia bisa memasok Jiang Ling dari negaranya maka persoalan MudLogging – seperti pekerjaan saya bukan hal yang sukar. Bahkan modal-modal Cina satu persatu membeli saham perminyakan Internasional. Amerika sudah wanti-wanti menyebutnya sebagai “The Rising Star Milenia”

Saat mereka bekerja di Indonesia, menurut teman saya ini, tidak satupun dari mereka bisa berbahasa Inggris, namun melewati beberapa waktu, sekalipun terpatah-patah mereka belajar dengan tekun dan akhirnya bisa menguasai bahasa asing tersebut.

Negara yang amat banyak penduduknyapun ternyata bisa dipercaya menyelenggarakan Olimpiade. Maksud saya, kalau melihat Singapura lebih maju dari kita – selalu kita ngeles – ah negara kecil, dikencingi sudah banjir. Tetapi bagaimana dengan China negara besar dengan rakyat banyak. Apa kita ndak maju karena negara tanggung, ya rakyatnya ya arealnya.

Posted in Uncategorized

Satu meter didepan Ratu Ngebor


Kejadian lama 23 April 2003

Pak mau nonton pameran produk Canon di hotel Melia- Senayan malam ini saya ada undangan untuk dua orang orang…,” demikian bisik-bisik seorang teman di kantor saya.

Lho tiketnya emang berapa?” – saya pikir wanita bermata tajam dengan rahang keras ini bermaksud menjual tiket. Gebleknya sudah tahu tiket cuma ada dua saya bertanya mengulang.

Nggak kok, Tiketnya gratis dari DataScript. Tapi ada satu lagi yang bapak pasti senang, hiburannya Inul Daratista.”

Bagaimana saya tidak seperti langkah tegap diiringi tambur dan sangkakala. Rupanya dia tahu saya anggota FBI, sehingga rela tiket yang dimilikinya diberikan kepada saya.

Tiket langsung saya sambar 45 menit sebelum bubaran kantor saya sudah melesat. Tidak lama kemudian jam 18:30 (ini April 2003) saya sudah ada di ruang Ball Room Hotel Mulia Senayan. Saya datang terlalu dini memang. Setelah mengisi buku tamu dan melempar kartu nama untuk door prize maka saya digiring ke ruang pameran karena memang tujuan utama adalah pameran.

Malam itu memang DataScript sole distributor Canon sedang mengadakan pameran dengan judul “The Rising Star”, ini judul kok pas dengan negara asal pembuatnya, Jepang. Tapi mestinya ada sesuatu dibalik pemilihan judul tadi.

Segala produk dari Scanner, Portable Printer, MultiMedia Projector dipajang habis.

Saya memperkenalkan diri wakil dari perusahaan saya. Tidak lama kemudian seseorang mendekati saya dan memperkenalkan diri sebagai Marketing Manager, namanya Zaki. Lalu saya diberi label yang tersemat didada dengan sticker simbul Bintang warna hijau.

Lho kok tiba-tiba saya jadi BrigJen (bintang satu) , oh ternyata ini bukan pangkat melainkan tanda “VIP.”

Ketika jam menunjukkan jam 07:00, naiklah Farhan dan Indi Barens yang bunting. Oh rupanya ada acara 10 door price pengocokan kartu nama . “Saya missed” -memang nggak hoki rejeki kocokan.

Selanjutnya para undangan dipersilahkan menikmati hidangan dan duduk ke ruang lain yang cuma disekat dengan board-board pameran.

Disini adat bangsa kita kelihatan. Pintu masuk dibuka blak, toh menerobos melalui papan-papan penyekat. Suasana sedikit kacau. Beberapa tarian diperagakan diselingi dengan presentasi produk unggulan Canon.

Datascrip perlu merayakannya sebagai The Rising Star sebab pangsa pasar digital yang semula 24.1% tahun 2000, sudah bisa disabet menjadi 60% pada tahun 2002 suatu prestasi yang tidak mudah dicapai.

Istilah the rising star juga pernah dinobatkan oleh majalah Times kepada Letjen Prabowo Subijanto karena kalau tidak ada aral melintang maka Times meramalkan karirnya akan melesat.

Farhan dan Indi Barens mengadakan kuis, yang ditanya adalah isi seputar presentasi seperti nama produk Kamera Digita untuk Profesional, Scanner yang paling laku dsb…

“saya missed lagi…. Yang menang mestinya ya para penjual elektonik di kota”

Pukul 21:25, rombongan Band pendamping mulai diganti dengan band “dangdut” dan muncullah yang sosok yang dinanti-nantikan “Inul Daratista” dengan seragam senam ketat berwarna hijau tua dan diberi sulaman benang emas.

Langung ia menggebrak dengan nomor “I wanna be free”, lagi-lagi penonton memberikan applause ketika ia memutar tubuhnya dengan cepat, persis Sakatonik Grenk.

Engkoh sebelah saya berbisik, biasanya Inul cuma muncul “setengeh jem” – maksudnya setengah jam, enam lagu. Kalau sampai tambah satu lagi, naik sewanya.

Satu nomor rock “I want to break free” selesai dilantunkan lalu Inul menyapa penontonnya.

Ada keharuan ketika ia mengatakan “Selamat Malam Para Hadirin Sekalian, Terimakasih Anda masih bisa menerima kehadiran Inul, Saya……. [suara Inul tercekat, nampaknya ia harus mengatasi emosinya baru saja di “haramkan” di publik]. Oleh seseorang yang sangat-teramat dikaguminya. Saya pernah menulis kisah Raden Ajeng Kartini di dzolimi RM Ario lantaran berani mau menuntut ilmu ke Belanda pada 1903. Pengkritik, yang sangat dikaguminya ini mengecam Kartini sebagai “pengingkaran kodrat sebagai wanita

Saat Kopi Dangdut ia minta 3 pasangan penonton naik kedepan, diajari bagaimana cara goyang ngebor. Enteng saja Inul bilang, kalau belum bisa belajar saja dari VCD bajakan saya. Kok boro-boro mau bawa pengacara atau polisi, dia malahan menganjurkan beli bajakan….

Kira-kira ada nggak penyanyi “sopan” lain dengan perangai serupa?

Dari Kopi Dangdut, Pelangi di Matamu (aha my favourite), Goyang Dombret. Saat ber “Goyang Dombret” Inul mendekati Dewi Motik, yang belakangan ini lalu meraih mike sambil bilang “Inul Kamu Terus Maju Ya

Satu request dari Dewi Motik dinyanyikan Inul yaitu “Takut Sengsara” atau Jatuh Bangun”. Lagi-lagi Inul menyebut lagu Jatuh Bangun yang biasa dinyanyikan oleh Mbak Kristina dengan penuh hormat.

Beda kalau Kristina menyebut Inul selalu dengan penuh cemooh, sebagai “cuma bisa goyang erotis, suara nol besar…”

Kelihatannya lagu ini diluar skenario sebab nampak Inul mendekati pimpinan orkes sambil memberikan beberapa petunjuk.

Usai lagu “Jatuh Bangun,” Dewi Motik naik ke pentas membawakan sekuntum bunga putih untuk Inul The Rising Star. Lagu berikut adalah lagu rock yang didangdutkan menggema. “Whats Going On.”

Enam lagu sudah usai. Farhan dan Barens naik ke panggung. Farhan bilang, Inul Semoga Kamu Segera mendapat Label Halal” (kok seperti mie instant), sementara Indi Barens minta Inul sekali lagi goyang ngebor untuk anak yang dikandungnya.

Dasar Inul, dibilang manusia “haram”, dia malahan menambah sebuah lagu penutup “Terajana”, ciptaan siapa lagi kalau bukan sosok yang amat di kaguminya, sekalipun untuk itu dia dihujat habis. Sepertinya hujatan kuharamkan laguku untuk dinyanyikan Inul,” dianggap enteng saja oleh Inul. Mungkin pikirnya, urusan mengharamkan manusia bukan pekerjaan manusia.

Dengan 6 lagu utama (plus satu lagu tambahan), maka berakhirlah perhelatan tadi konon menurut engkoh samping saya bisa bernilai Rp. 30.000.000 untuk honor Inul, yang berarti setiap lagu yang ia bawakan nilainya sekitar Rp. 5 000.000. Tapi ada yang bikin saya merah kuping si engkoh dengan sok tahu mengatakan, orang menyanyi kayak Inul pasti pakai obat yang bikin tahan lama.

“Ekstasi ?” – tanya saya. Dia ngeles “ya semacam gitulah”. Kalau sudah begini saya merasa tinggal di pacenongan, sebab gosip apa saja cepat dan tercipta dari minum kopi, makan bakmi dan transaksi dagang.

Terajana… terajana..

Dan saya harus berterimakasih kepada seorang kepada gadis bernama Aryani yang telah memberikan tiket kepada saya.

23/4/03

Posted in gaya hidup

PaUl bukan pentolan Beatles


Sekali tempo saya mengantarkan mantan model pernah juga menjadi bintang filem kendati cuma satu serial, ke Paul alias Pasar Ular. DIsebut ular apakah dahulunya banyak ular atau barang yang kelihatannya aseli tetapi ular punya “palsu”.

Saya kurang sreg kalau ular selalu dikonotasikan binatang penghancur kehidupan umat manusia. Coba kalau Adam dan Hawa tidak diganggu ular. Sampai sekarang kita ada disurga. Mau makan baru mikir sudah “regedeg” ada didepan. Ada sungai dengan kolam susu yang kebetulan saya malahan mencret kalau meminumnya. Mungkin senang tetapi kok rasanya membosankan. Lha tidak ada perjuangannya.

Empat puluh ribu tahun lalu, orang Aborijin malahan berpendapat pencipta dunia ini ya dewa ular pada jaman “dreamtime” mereka.

Tapi sudahlah, bicara pasar ular yang tidak ada ularnya maka saat mereka pada sibuk mencari model sepatu, tas, kacamata, ikat pinggang, backpack saya menyibukkan diri melihat seorang penjual dawet yang memanggil beberapa pengemis yang lewat untuk diberi sebungkus dawet seorang.

Lalu dari kejauhan tampaknya keluar masuk toko di kawasan Jakarta Utara tersebut seorang lelaki bagus, dandan dandy, wajah dan rambut sangat teramat terawat, diikuti oleh para perempuan belia yang kalau dilihat postur tubuhnya yang “bangkok” pasti model. Beberapa pengawal seperti menjadi palang dada didepan sang tokoh. Lalu saya ingat seperti gaya karikatur di Kompas Minggu kalau menyindir pejabat Kerajaan melakukan “turne” kedaerah.

Ternyata mereka saling mengenal setelah bertukar salam – lalu sang lelaki bertanya “masih jalan?” yang dijawab langsung

Ah nggak mas, sudah tua kok..

Sampai disitu saya baru ngeh, bahwa barang yang dipakai para model nampak begitu kinclong dipanggung jangan-jangan keluaran PaUl.

Bukan tas berharga mahal yang dilihat, namun kemampuan menyandang, mematut, yang membuat sebuah benda imitasi nampak mencorong..

Posted in anekdot, humor

Penyembuh Alternatif


Seorang penyembuh alternatif menggelar acara penyembuhan besar-besaran di sebuah aula. Sang penyembuh hanya meminta penderita mengacungkan tangan kearahnya, lalu tangan diusapkan kebagian yang sakit.

Seorang nenek yang sudah menderita Asma langsung menarik suaminya dan melakukan seperti yang dianjurkan oleh tabib tadi.  Sang suami melakukan hal yang berbeda sebab ia mengusap dibagian selangkangan.

Nenek lalu menggamit lengan suaminya :”Kek, tabib itu hanya bisa menyembuhkan yang sakit, bukan yang sudah mati macam itu…”

 

Posted in anekdot

Joni Indo


Joni Indo dari Perampok, Preman menjadi Pendakwah
Joni Indo dari Perampok, Preman menjadi Pendakwah

Di acara Kick Andy, Jhoni Indo menceritakan pengalamannya menjadi penjahat, mencoba lari dari Nusakambangan sampai akhirnya tertarik menjadi pendakwah.

Sebagai santri magang, maka sehari-hari ia mengikuti Kiyai Zainuddin MZ berceramah. Dalam suatu acara yang tidak disangkanya, seorang panitia penyelenggara menyelipkan amplop tebal kesaku Jhoni dan ke saku Kiyai Zainuddin.

Rupanya pertama kali mendapat honor berceramah membuat hatinya bertanya mengenai isi amplop. Sepanjang perjalanan dia gelisah. Sebentar-sebentar dirabanya kantung yang menggembung karena amplop tebal.

Akhirnya ia tidak tahan godaan lalu permisi kepada pak Kiyai untuk ke toilet yang sebetulnya hendak melihat isi kantongnya.

Ternyata isi amplop tadi cukup banyak sekitar 3 jutaan. Namun saat dibalik-balik, tertulis nama “Untuk Bapak Kiyai H Zainuddin MZ” – jelas salah alamat.

Saat keluar dari toilet ia menemui kiyai sambil menceritakan apa yang terjadi, tetapi kiyai bilang “ambilah, itu rejekimu sebab saat kamu ke toilet saya juga melihat amplop saya dan tertulis nama Jhoni Indo.”

Dalam sebuah tayangan TV, sejak jadi juru dakwah Johni mulai diundang ceramah di beberapa tempat. Satu tempat dikawasan Guci, ia diperlakukan seperti raja. Makanan lezat tersedia, bahkan uang saku yang diberikan kepada Jhoni pun boleh dibilang tebal.

Belakangan Jhoni terhenyak sampai bersimpuh menangis di kaki sang pemilik rumah. Ia adalah salah satu dari pemilik Toko Emas yang di rampok oleh Jhoni. “Anda bukan manusia – anda malaikat,” kata Jhoni dalam isak keharuannya. Bagaimana mungkin orang yang sudah pernah disakiti olehnya, hartanya dirampok, etnis minoritas, ternyata malahan berbuat baik kepadanya.

Bulan Agustus 2008 di Terminal 1A saya beruntung melihat sosok ini berjalan didepan saya.

Langkahnya perlahan mirip terhuyung-huyung sambil menghembuskan rokok kretek. Kecuali tatapan matanya yang memang masih terasa berat, dan lirikan penuh waspada maka praktis kehebatan fisik Joni Indo sudah tidak nampak bekasnya. Segera kamera saku saya siapkan dari dari kejauhan, Joni Indo saya amati gerak geriknya dan saya abadikan. Sekalipun tidak sempurna, namun setidaknya wajah JI bisa dipaparkan di situs ini.