Posted in gaya hidup, singapore, singapura

Pak Andi


Ketika pindahan dari kawasan apartemen Holland Drive ke kawasan perumahan Sembawang – Singapura  mau tidak mau diperlukan jasa pengangkutan.

Atas rekomendasi teman-temannya, anak saya Lia menilpun sebuah perusahaan pengangkutan sebut saja pak Andi. Konon pak Andi (50th) ini aseli Cina Perantauan yang totok dan hanya bisa Inggris dan Mandarin.

Menurut perusahaan pak Andi, pemilik perusahaan pengangkutan bersedia menekan harga menjadi $150 sekali angkut.  Harga ini tergolong miring sebab seorang teman lain dikenai biaya $300 dengan iming-iming barang dikemas oleh perusahaan pengangkutan. Tetapi anak saya berpendapat ibu dan bapaknya datang sebagai kuli panggul, tukang masak, merangkap IMF, apalagi yang yang dia kuatirkan sehingga dia pilih pak Andi.

Setiap kardus harus diberi keterangan dalam bahasa Inggris, misalnya barang pecah belah, TV agar bisa diperlakukan sebagaimana mestinya. Pesan lain berbahasa Inggris dengan pak Andi yang Totok Sanget (sangat totok akan bahasa Rasnya), harus perlahan-lahan dan fungsional. Artinya kembangan-kembangan bahasa sebaiknya dipangkas. Sikat padat. Misalnya mau bilang mau ya sebut saja “Want,” kalau menolak cukup “don’t want”.

Ternyata pada hari H-nya yaitu Sabtu 26 April 2008 jam 10:00 pagi belum ada tanda pak Andi datang sementara mendung sudah menggelayut diatas kota Singapura. Kami kuatir, mebel, kasur, TV bakalan rusak akibat kehujanan. 

Baru sekitar jam 15:00 pasukan pak Andi datang. Sudah tentu tidak perlu membuang abab (nafas) dengan bertanya mengapa terlambat. Dengar-dengar rumah lain yang pindahan ternyata barang bawaannya sangat banyak sehingga pak Andi “terpaksa senang” hilir mudik mengangkut barang pelanggannya.

Ternyata setelah ditimbang dengan seksama kapasitas truk Nissan pak Andi tidak bisa mengangkat barang dalam satu trip. Berarti anak-anak harus mengeluarkan extra 150 dollar lagi untuk trip tambahan.

Akhirnya terjadi negosiasi atas kebijaksanaan pak Andi biaya angkutan dua trip menjadi $250. Perjalanan menuju rumah yang baru membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Tapi sekalipun lemari bermunculan, sepanjang tidak membahayakan lalu lintas, pihak DLLAJ dan POLANTAS tidak ambil pusing.

Sampai ditujuan, truk harus masuk secara “ahtret”. Nah lho, ketika memberi aba-aba kepada pak Andi, para kenek dan asistennya teriak “terus..terus… kanan… pelan..setop..” dalam bahasa yang diucapkan oleh Pak Karno maupun nona Efiel yang bergigi platina.

Usut-punya usut, pak Andi punya istri “lain” berasal dari orang Tanjung Balai – Indonesia. Mungkin istri made in Indonesia ini yang mampu mengelola keuangan disaat luang menunggu “giliran-sunah Rasul.” – dan tabungan dibelikan satu truk lantas menjadi dua dst. Pria muda berambut ala “hamseng” – preman- Malaysia adalah keponakan dari istrinya. Dan pria yang tak kami ketahui namanya ini berbahasa Indonesia dengan kami.

Dengan cerdiknya pak Andi sekarang bergantung kepada usaha istri “Indonesianya” yang lebih prospek. Kami tidak bertanya lebih lanjut pekerjaan pak Andi sebelumnya.

Bagi pak Andi, banyak istri, banyak pula tenaga yang membantunya kelak dimasa tuanya selain ya itu tadi “halalan thayiban” –

Sehari dia bisa angkat lima rit. Kalau satu rit bernilai 150 dollar, minimal dia mengantongi 750 dollar perhari.

Selesai transaksi, seperti perjanjian membayar 250 dollar. Tak disangka pak Andi mengembalikan 20 dollar. Lho kan janjinya 220 dollar.

No.. this for you lah..

Tapi ada tapinya.. sebelum berpisah pak Andy sempat bilang “next time if you need Lorry, call me and tell operator you from Indo, I give you discount”

Mungkin inilah alas an mengapa pak Andi tidak tertarik beriklan di Straight Times. Dia lebih percaya dengan iklan mulut ke mulut. Dan yang tidak ia sadari, ia memberikan surprise harga disaat-saat pembayaran sehingga kami terkesan.

Lalu otak “studi banding” saya bekerja. Di Indonesia bertransaksi demikian “ada keharusan tak tertulis” yaitu memberi tips kepada kuli-kulinya. Tetapi pak Andi memberikan tips kepada kami

Atau, jangan-jangan  20 dollar tadi adalah uang kuli karena kami juga ikut “otong-otong” barang kami sendiri.

 

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s