Posted in gaya hidup, singapore, singapura

Di Singapura – Mobil pelat merah bukan milik pegawai negeri lho


Malam tadi kami kedatangan tamu seorang ibu 37-an, saya taksir BMI (Body Mass Index) masuk skala 19,2 dari skala 18,9-24.9 dengan celana legging biru memperlihatkan kaki selangsing kijang, saya agak sulit membayangkan antara Jessica Simpson atau Jennifer Hewitt maklum bekas manekin.

Wanita berkulit cerah dengan suara sedikit berat mendesah umumnya memiliki anugerah membuat lelaki “klepek-klepek“. Turun dari sedan warna silver gadingnya ibu yang sudah turun mesin dua kali ini nampak terengah-engah.

Baru saja sepatu stiletonya dilepas, perempuan berbackless ini langsung berceloteh bahwa dalam perjalanan ke rumah kami dia menerobos lampu merah dan sempat dipotret oleh kamera. Ia sudah membukukan satu kali pelanggaran lalu lintas. Masih punya kesempatan untuk menerobos lampu merah atau pelanggaran lain sebelum SIM-nya dibekukan untuk satu tahun.

Ooo itu to yang membuah tubuhnya berkeringat seperti mendapat serangan jantung tahap perkenalan.

Sambil melihat body dan catnya yang aduhai, maksud saya body kendaraan sedan dan bukan cat kuku warna ungunya, mata saya terpaku pada nomor pelat mobilnya yang unik yaitu pelat merah dengan tulisan putih. Kalau di Indonesia pelat nomor ini milik kendaraan dinas pegawai negeri.

Padahal ibu muda ini pekerjaan utamanya klabing, pekerjaan kedua ke salon, pekerjaan ketiga manicure -pedicure dan pekerjaan sampingannya adalah ibu rumah tangga. Sang suami yang beda 20tahun usianya lebih tua, bukan seorang pegawai negeri melainkan pebisnis – Bank. Lantas mengapa ia menyetir kendaraan mirip inventaris PN.

BOLEH DIPAKAI JAM NON SIBUK

Guna mengakomodasi nafsu memiliki mobil yang berlebih bagi warga Singapura yang kelebihan uang, atau para pelaku ekonomi yang keuangannya pas-pasan namun keukeuh ingin punya brum-brum ngeng maka Singapura memberlakukan mobil yang dibatasi ruang geraknya hanya pada hari-hari non puncak dengan iming-iming pajak kecil.

Misalnya mereka hanya boleh dijalanan setelah jam 7 malam sampai jam 7 pagi, pada hari biasa. Lalu saat hari Sabtu boleh keluar jam 3 sore. Sementara pada hari Minggu dan hari besar lainnya, mobil ini bebas berkeliaran sepanjang hari.

Yang sedikit sukar mereka harus mengikuti lelang untuk mendapatkan Sertifikat atau semacam Nomor Pelat Kendaraan kesohor dengan nama “week end car” atau Off Peak Car.

Menurut Badan Transportasi Singapura pada 1994 sekitar sepuluh ribu kendaraan didaftarkan sebagai mobil akhir pekan. Pada 2000 jumlahnya menurun separuhnya.

Data yang tercatat pada 2002 hanya sekitar 1000 kendaraan yang tersisa sebagai mobil akhir pekan. Kelihatannnya orang lebih suka membayar pajar tinggi ketimbang punya mobil cuma nongkrong di garasi.

Namun kalau anda masih kebelet ingin bepergian pada hari diluar yang ditentukan. LTA mengeluarkan kupon seharga 20dollar Singapura. Beres deh.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s