Posted in gaya hidup, keluarga, singapore, singapura

Meninggalkan rumah kontrakan bagian 1


Satu persatu penerangan dalam apartemen #05-62 maksudnya lantai 5 kamar nomor 62 dikawasan Holland Vista kami padamkan. Besok lampu masih akan ada disana namun tangan yang biasa menekan butang (tombol) On dan Off sudah tidak ada lagi, setidaknya dalam seminggu mungkin ada sidik jari lain yang mengakrabinya.

Kami kencangkan kran-kran air ledeng yang sangat keras debitnya, kadang shower kamar mandi sering kalah perkasa dibandingkan terhadap tekanan air PAM kota Singapura yang juga boleh diminum langsung tanpa harus direbus terlebih dahulu.

Lalu sekali lagi kraan gas kami tutup. Disini gas dijual tanpa botol melainkan disalurkan melalui pipa-pipa baja ke pelanggan. Jadi ingat masa kecil ketika menghuni rumah di komplek Pertamina BagusKuning-Plaju dimana air ledeng, penerangan dan roti saat itu masih berlimpah ruah.

Didepan sebuah alat menantu saya ingin buru-buru mematikan dan mencabutnya. Untuk mengatasi rasa seperti kehilangan akan sebuah perpisahan saya minta waktu memberi hormat kepada alat yang sampai sekarang di Jakarta apalagi Bekasi belum bisa ditemui. Apalagi kalau bukan Wireless Modem dengan kecepatan teramat mengagumkan.

Lalu kami pandangi kardus-kardus yang berisikan barang-barang untuk dipindahkan. Nanti jam 11 siang, sebuah perusahaan pengangkutan barang akan memindahkannya dengan biaya 150 dollar Singapura per trip. Konon biaya ini paling miring ketimbang seorang teman anak yang dikenai biaya dua kali lipat untuk jarak yang sama dengan namun kardus disediakan oleh perusahaan pengangkutan tersebut.

Perasaan meriang macam menjelang kena flu seperti menerpa saya. Padahal saya bukan penghuni tetap apartemen ini. Padahal tinggal di Bekasi jauh lebih “menjadi orang” ketimbang di apartemen anak yang AC baru boleh hidup setelah jam 23:00 dan kembali mati pada jam 07:00 – itupun konsumsi listrik mereka, dua kali lipat rata-rata penghuni apartemen. Pasalnya kebiasan orang singapura kalau cuaca gerah, mereka pakai kolor tipis, ote-ote (buka baju), berkipas dan kalau perlu tiduran diluar flat. Selain nyaman yang jelas tagihan listrik tidak jebol.

Didepan kantor polisi Bouna Vista yang masih tutup kendati waktu menunjukkan pukul 10 siang, sebuah taxi kami panggil.

Anakku menyebut alamat, Jalan Telang. Supir menrendahkan kecepatannya “where about” – lalu anak saya menyebut Upper Thomson dengan akses dari jalan Leban. Supir nampaknya masih kesulitan. “You tell me Lah”

Maka meluncurlah taxi dengan hening kecuali suara “ting..ting” meningkahi perjalanan. Belum lama saya menggunakan Taxi di Jakarta dengan Bodi lumayan mulus. Tapi begitu Taxi Jakarta lepas landas suaranya lebih mirip Taxi Landing. Suara gemuruh mesin jet, getaran keras seperti saya berada dibawah sebuha turbo kurang minyak. Di jalan Tol yang mulus, taxi seperti dikendarai orang mengantuk kadang cepat, tiba-tiba lambat.

Sepanjang perjalanan Lia anak saya kasih komando “Uncle on SPC there take left turn,” “Uncle go straight an the end of the road,” “Uncle turn right” – tidak sia-sia ketika dia masih baru bisa berjalan saya bawa ke Singapore, saya biasakan mendengar percakapan bahasa Inggris di kantor. (bangga nih ye)

“Ciiit, rem kendaraan ditekan.”

Rupanya kami sudah sampai di jalan Telang. Ternyata jalan ini buntu sehingga Taxi atau kendaraan lain harus memutar balik untuk kembali ke pangkalannya.

Supir tiba-tiba bertanya dalam bahasa Indonesia, “dari mana?”
“Jakarta..”
“Jakarta Barat Ya..?”
Ternyata dia masih orang Jakarta Barat.

Karena sama-sama Jakarta walaupun bukan memihak Persija, maka barang bawaan dalam bagasi dengan sukarela ia turunkan.

SPC = Singapore Petroleum Company

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s