Posted in gaya hidup, singapore, singapura

Meninggalkan rumah kontrakan bagian 2


Sebelum kontrakan lama di jalan Holland Avenue kami serahkan kepada pemiliknya, sudah barang inventaris dari pemilik lama diusahakan kembali seperti saat kami sewa. Misalnya kamar tamu sudah digebyur air, vim, pembersih lantai. Masih saja di komplin. Sial bener.

Peringatan kepada anak-anak Indonesia yang akan kos atau sewa kontrakan di Singapura untuk membaca kontrak dan melihat sendiri barang yang ditawarkan pemilik. Kalau anda melihat sebuah lemari es besar, pastikan misalnya dibalik lemari tidak ada tembok yang bocel atau berlobang.

Mesin Cuci melayani kami selama 4 tahun tanpa masalah. Kalau anda perhatikan, lantainya cukup putih bersih. Tetapi masih dipersoalkan oleh pemiliknya.

Kompor Gas – tidak bermasalah selama ini. Pemilik puas.

Kamar mandi dengan heaternya. Lantai antara kamar mandi dengan toilet saling berhubungan. Kalau kita bersih-bersih di toilet, sebagian air kotor masuk ke lantao kamar mandi dan sebaliknya. Pintu kamar mandi karena sering terkena air lama kelamaan muncul noda hitam jamur. Dan inilah yang dilihat oleh pemilik rumah dengan mengklaim sebagai kerusakan.

Toilet, perasaan kami tinggalkan dalam keadaan baik dan bersih. Saya sendiri yang menggosoknya dengan pelbagai bahan kimia. Namun ada bagian tegel yang memang entah kenapa sebagian seperti menghitam mungkin terkena cairan kimia tertentu. Pemilik rumah mengklaim bahwa tegel toiletnya dikembalikan dalam keadaan berubah.

Internet Wireless, melayani selama 4 tahun. Sayang provider StarHub mematok harga 2400 dollar untuk biaya instalasi di tempat baru (jalan Telang). Terpaksa kami harus “dadah” kepada Star Hub dan bermesaraan dengan Singtel yang hanya mematok 22 dollar per bulan dan nol dollar biaya instalasi.

Barang-barang yang tak terpakai seperti meja komputer, rak piring, lampu baca sekalipun masih berfungsi terpaksa harus direlakan demi tempat yang terbatas. Aduh kalau saja di Indonesia, bakalan dimanfaatkan.

Melihat kotak pos terakhir kalinya. Sekalian mengingatkan penghuni untuk segera melaporkan kepindahan ke kantor polisi.

Laporkan kepindahan ke kepolisian setempat. Jangan lupa bawa dokumen pendukung. Polisi biasanya menanyakan rekening tilpun anda di alamat yang baru. Jadi urus semua dokumen sebelum melaporkan kepindahan ke polisi.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s