Posted in gaya hidup, singapore, singapura, Uncategorized

Tak berdaya melihat KDRT didepan mata


Tin.tin..” tiba-tiba mobil ini membunyikan klakson sambil lewat didepans aya yang sedang membungkus sampah dengan plastik hitam agar besok pagi bisa dengan mudah diangkut oleh truk sampah Singapura.

Setelah bermanuver sebentar mobil van tua dengan ban gundul semua ini diparkir didepan rumah kami.

Slerek,” pintu samping kendaraan dibuka oleh pengemudinya seorang lelaki kekar dengan berkaos dan celana pendek sampai dengkul.

Rupanya didalam kendaraan ada seorang bocah perempuan. Lalu sang pengemudi berbicara dalam bahasa Mandarin. Hanya sebentar sebab suara lelaki ini tiba-tiba meninggi dan ditingkahi suara “klepak” tangan mendarat di tubuh sang anak.

Terdengar teriakan dalam bahasa Mandarin, sekalipun tidak paham sama sekali suara ini lebih cenderung mengiba mohon ampun seorang bocah kesakitan.

Saya menghitung dalam hati “perlukan ikut campur dalam urusan ini..” –

Tapi saya baru baca seorang penumpang terlibat baku hantam dengan supir taxi karena sang penumpang yang Jurnalis memukul duluan, maka si pemukul terkena denda 1000 dollar.

Dua anak saya Lia dan Satrio belum pernah sekalipun saya tangani dengan kekerasan. Cukup hardikan mereka sudah mengerti. Sekalipun demikian ada juga tetangga menganalisa bahwa saya termasuk pelaku KDRT – sial bener.

Rupanya sang lelaki, mungkin ayah anak sadar ada yang memperhatikannya. Ia mendekati saya. Lalu dia mulai bertanya “baru pindah ya, dari mana?” – Dan gantian saya bertanya “yang kamu pukuli tadi anakmu?” – eh dia menjawab “iya?” tanpa rasa salah.

Lalu ia menjelaskan bahwa kedatangannya adalah mengambil anak-nya yang les “tuition” bahasa Inggris. Gantian dia tanya saya dari mana. Lalu aku bilang dari Hollanda Village, matanya masih belum memperlihatkan peta virtula koordinat kampung Belanda tersebut. Gampangnya, bilang saja saya dari jakarta – Indonesia. Tidak beberapa lama, anak-anak yang dijemputnya keluar rumah. Termasuk dua anak lelakinya.

Nampaknya adegan belum selesai. Kedua kakaknya yang dijemput dan langsung masuk mobil segera diburu oleh guru lesnya. Mereka berdua kelihatannya masih kena marah terlihat dari tangan sang guru perempuan mengancung dan diarahkan kepada mereka. Sang ayah dan ibu nampak tekun mendengarkan wejangan guru terhadap anak-anaknya.

Adiknya yang pertamakali dipukul oleh ayahnya dalam foto berambut panjang dan berbaju merah jambu hanya melihat dari belakang seorang perempuan mungkin ibunya.

Untung Lia sedikit banyak mengerti bahasa Mandarin. Katanya mereka bertiga tidak mengerjakan PR sehingga sang guru menjadi berang.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Tak berdaya melihat KDRT didepan mata

  1. sekali waktu saya juga menyaksikan KD dengan mata kepala sendiri. Tapi saya tidak melakukan tindakan apapun. Karena saya kok ndak begitu suka ya sama Kris Dayanti (KD)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s