Posted in gaya hidup, keluarga

Antara Sembawang – Cengkareng (2)


Sampai di luar bandara, beberapa penumpang pada maju tak gentar membuntuti kami. Rupanya mereka-pun sama kebingungannya. Seorang bapak yang baru dioperasi matanya di Singapura nampak kebingungan dan kesakitan. Anaknya mengusulkan tunggu air surut di bandara yang langsung di”slantap” oleh ayahnya – Emang ini Changi! – sabar Pak, jangan-jangan jahitan operasi di mata bisa putus lho.

Yang mengganggunya itu lho para calo transportasi merubung kemana kita pergi macam lalat mencium koreng.

Lalu datanglah truk Bung Polisi kita, penumpang yang hanya membawa sedikit barang memang bisa langsung diseberangkan ke Pulo Kapuk (dalam arti kata Betawi kalau ada tanah menonjol di antara badan air, sebut saja pulo).

Hidup pak Polisi.. – saya tulis Polisi sebab ibu Kapolda di salah satu belahan Sumatera katanya sering baca blog ini

Kepada pengikut kami yang maju tak gentar lantaran bingung, kami sarankan ikut truk. Namun bukan saya yang punya enam potong bagasi. Mereka memang akhirnya meninggalkan kami untuk naik truk militer. Jadi ingat masa kecil waktu sekolah sampai waktu disunat dinaikkan truk gedubrakan brisik yang per-nya bikin ambeien melorot. Yang saya ingat, ibu marah besar sewaktu saya di sunat pada 14 November 1966, bapak tidak menunggui saya.

Tujuan saya hanya satu yaitu Bus Damri, entah kemana saja asal keluar Cengkareng!

Sebuah DAMRI tujuan Pasar Minggu segera saya masuki. Andai Bus ini ke Bogorpun tak jadi mengapa.

Maka mulailah perjalanan merayap. Kernet disela-sela ketiak para penumpang yang nekad bergelantungan mulai menariki penumpang seorang 20 ribu, masih jauh lebih murah 510ribu panjar taxi di Bandara. Pengalaman menjengkelkan dengan pemuda perwakilan perusahaan taxi, saya memberikan dua kali lipat ongkos (waduh pamer). Buang jengkel.

Diperlukan hampir satu jam untuk lolos dari Bandara sampai Terminal Kalideres. Kami memutuskan dimana tempat terdekat bis berhenti menurunkan penumpang (walau tidak boleh). Niat melanggar aturan sudah mulai menyelimuti saya dengan dalih “orang lain juga melakukan yang sama..” – atau “namanya juga banjir..

Ketika Melanggar Aturan itu Enak

Sampai di kawasan Kalideres, tiba-tiba “deg..” bis seperti oleng menabrak sesuatu, menanjak lalu goyang menurun. Herannya wajah penumpang malahan gembira. Rupanya supir Damri kehabisan sabar lalu mengkuti Kopaja didepannya yang nekad memotong separator jalan lalu masuk ke jalus BusWay.

Mungkin kalau wajah tersebut diterjemahkan mereka berteriak “horee kita melanggar, perjalanan jadi tidak macet..”

Biasanya saya ikutan memaki Non Busway yang mengambil jalur bukan haknya. Tetapi sekali lagi, makian saya berubah menjadi pujian lantaran saya salah satu penumpang Damri. (maafkan saya)

Melanggar aturan ternyata enak dan mudah ketimbang mengikuti aturan. Tak heran politisi kita yang teriaknya kencang mengecam mahluk tak nampak yang bernama Korupsi, Suap, ketika tiba pada gilirannya, sama seperti kejadian saya. Selalu berusaha membenarkan tindakan pribadi.

Seorang ibu baru nyadar rumahnya kelewatan (maksudnya dilewati Bis, ia bangun dan minta stop) – Tapi supir keberatan.

Di bawah patung dirgantara Pancoran yang sudah tidak jelas mana Patung Semen dan mana Jalan Layang Semen, bis menurunkan penumpang dan saya dengan cepat ikut dalam arus yang melanggar peraturan tetapi “kok rasanya enak..” – sebuah perjuangan tersendiri menurunkan bawaan yang seharusnya digotong oleh dua trolley sekarang harus dinaik turunkan berdua.

Arloji sudah menunjukkan setengah jam menuju jam kantor bubar. Betul saja, taksi yang lalu lalang semuanya terisi penumpang.

Dalam keputus asaan, sebuah taksi “RT” berhenti diantara penumpang lalu terjadi tawar menawar dan saya lihat para penumpang mundur teratur. Rupanya taxi sedang pasang aksi, tidak mau pakai Argo kuda sekalipun.

Begitu taxi mendekati kami, istri kali ini muncul kejantanannya . Ia meloncat dan menyetop taksi. Dengan wajah yang mirip orang Sumatera Utara tapi bukan dan suara yang cenderung “barking” – dia menunjuk supir “kamu nggak mau pakai Argo kan?” – pengalaman lemah lembut di Bandara mengharuskan kami ganti peranan.

Kini Supir malahan nampak gugup, lalu kevacuman ini diisi dengan “saya mau bayar kamu bukan meteran, bisa nggak antar saya ke Cilangkap…

Bukan cuma supir melainkan saya sendiri suaminya herman-(pakai m) sebab kami tidak punya saudara atau rumah di Cilangkap.

Cilangkap mana bu?”, tanya supir

Komplek AU, berapa ?” – kata istri saya

Terserah ibu mau kasih berapa,” kata supir. Permulaan yang bagus.

Begitu mobil bergerak, baru kami bilang “saya ganti pikiran, kita menuju Grogol sebab kendaraan saya di sana.

Supirpun menurut. Jalanan memang macet. Sampai di jalan Muwardi Raya, supir buru-buru membukakan pintu dan menolong kami menurunkan bawaan barang. Uang seratus ribu mengalir ke tangan supir sambil istri mengatakan “suka sama suka ya pak!

Dalam rentang 3 jam pertama kami diperlakukan seorang anak muda penjaga stand taxi seperti orang yang tidak tahu membedakan kompresor dengan alat menerobos banjir. Tetapi mulai dari Damri sampai Taxi RT -kami diperlakukan seperti layaknya penumpang.

Ini Karma atau karena suara atau karena ada kata sakti Cilangkap dan Komplek AU (Angkatan Udara)

Sampai di rumah, istri saya bilang “Pak, kalau tadi supir taxi sampai bertanya Komplek AU mana aku bingung lho menjawabnya.

Enteng saya menjawab “Bilang saja komplek A.U ..Auklah Gelap..”

Dia ngakak, nyangka suaminya bercanda..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Antara Sembawang – Cengkareng (2)

  1. salut saya untuk istri anda (boleh juga gebrakan idenya paman, patut ditiru tuh, hihihihihihi).

    Ngomong2 kalo tidak menyebut kata sakti komplek AU, bakalan digetok berapa ya kira-kira?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s