Posted in gaya hidup, singapore, singapura

Sebuah hutan di tengah kota


Gambar ini saya jepret di belakang rumah kontrakan anak-anak. Sebuah hutan, dipelihara sebagai paru-paru kota. Tidak ada yang “gatal tangan” ingin menjadikannya bermanfaat daripada lahan tidur lalu dibuat mall atau hunian lainnya.

Ketika saya memotret hutan ini. Tercium beberapa aroma tanaman segar, ada yang seperti pandan, atau wangi namun tidak jelas namanya. Herannya kadang saya malahan seperti mencium bau sperma (maaf). Tak jarang tercium sedikit pesing dari daunan yang membusuk. Luar biasaya karena proses secara alamiah hidung saya nyaman-nyaman saja menerimanya.

Beberapa ekor monyet kadang nampak bergelantungan. Namun sebaiknya jangan pernah mengganggu dan memberi makan kepada mahluk ini, kalau tidak dikemudian hari dia akan menagih “jatah preman..” – dan lebih parah lagi lalu mengobrak abrik isi rumah.

Beberapa orang pejalan kaki mulai mencurigai saya. Wajahku kata orang ke-Araban, menyandang ransel lalu memotret kiri kanan didalam hutan, jelas sikap yang aneh.

Lalu saya ingat tayangan di stasiun MRT, agar mencatat, berbisik-bisik, bilamana ada orang dengan perilaku tidak wajar. Nampaknya saya termasuk dalam katagori tersebut (barangkali).

Tahu diperhatikan orang, saya malahan pasang aksi menyusup diantara pagar belakang rumah sebelum masuk ke rumah kontrakan. Aha orang yang mencurigai saya nampak membuntuti pelan sambil mengintip-intip, namun karena saya tidak keluar rumah, mereka bosan dan meninggalkan saya.

Episode singkat mengingatkan saya bahwa warga Singapura begitu perduli pada lingkungan. Kalau tidak mungkin sudah lama kota tersebut diobrak-abrik pengacau.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Sebuah hutan di tengah kota

  1. wahai warga singapura, hirup dalam-dalam udara bersihmu. Dan untukmu warga jakarta, nikmatilah polusi yang kau ciptakan sendiri ..

    Like

  2. mas mimbar apa khabar. Setuju kompanye perlindungan hutan. Mungkin sekarang saatnya kita memberi perhatian serius kepada hutan yang telah menjadi paru bumi. Isu pemanasan global bukan barang bagus, informasi tentang hutan sedikitnya akan memberi pengaruh supaya kita jaga hutan dengan serius…

    Like

  3. Kota-kota di Indonesia rata-rata kasusnya sama. Kota yg panas, ruwet, berdebu dengan sedikit pohon. Karena para pemimpin negri ini punya selera yg rendah thd alam. Pikirannya dangkal. Tahunya cuma duit, pajak & investasi instan. Hutan disulap jadi ruko, mol, tempat parkir, pabrik. Karena benda2 tsb diatas dianggap bermanfaat karena menghasilkan duit. Manfaat=duit. Pohon, hutan kota, alun-alun, taman tidak menghasilkan duit, sehingga tidak perlu ada. Betul-betul BODOH!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s