Posted in australiana, gaya hidup

Kenaikan harga


Bip..bip emailku berbunyi.”Mimbar, terlampir itinerary – daftar perjalanan dari Jakarta ke Perth menggunakan Garuda 730 langsung tanpa singgah di Denpasar. Hotel sudah di pesan di Emerald jalan Mount, semalam 144 dollar. Keesokan harinya Checkin jam 04:45 di loket 19 Perth Domestic menggunakan National Jet 1990 ke pulau Barrow – Chevron – tinggal tunjukkan kartu HUETT (sertifikasi lulus pelatihan peyelamatan di laut).”

Lalu email dengan lampiran jadwal perjalanan dan harga tiket ditutup dengan emocion orang tertawa.

Inilah SOP “Standar Operasi” menyuruh saya kembali bekerja ke Australia. Cukup melalui email sehingga internet menjadi benda untuk “cari makan”.

Ingatan saya pada gadis bule bertubuh sedikit lebih tinggi dari saya, centil, berambut pirang terurai sebahu. Dialah salah satu sekretaris yang masih bertahan belum pindah perusahaan. Namanya “Tori” – yang kadang kancing bajunya seperti kurang satu sehingga bagian dalamnya sering mengintip. Namun giliran spannya terlalu kekecilan satu nomor sehingga lebih tepat menjadi gadis penjaja kosmetik, pasti salah ketik.

Cuma ada nggak enaknya, di bagian PS, kok diberi tahu bahwa sewa kamar semalam 144 dollar. Ah paling juga salah tulis, maklum saja si Tori lebih lincah mengikir kuku ketimbang mengetik surat.

Lalu saya email kembali (HP mereka hanya untuk pribadi), “Tori.. kamu salah ketik harga ya

Naah, memang mulai Mei ada kenaikan 40 dollar… ” – email berbalas.

Sesampainya di Perth, betul saja Naho, sang Resepsioni, gadis sipit tetapi semlohei ketika saya protes mengapa sewa kamar naik apakah ada tambahan service. Perempuan berdarah Jepang namun jauh dari gambaran tokoh Novel Kembang Jepun ini menjawab: “Solly (sorry) SeLvice is the same only late (rate)  up…” – Naho bicara denga kamu genal satu jam saya leher saya bisa salah bantal.

Waduh biyung di Indonesia kalau ada kenaikan selalu dijanjikan Service ditingkatkan, nanti kalau perusahaan beruntung maka harga di normalisasikan. Janji saja sih.

Lho kok seperti kebetulan, Mei 2008 saya mengantar anakku Lia berbelanja di Fair Price – Ang Mo Kio Hub Singapura.

Beras Shong Hie – cap Bangau sosohan dari Siam yang sebelumnya bertengger tenang diangka 8 dollar per goni plastik isi lima kilogram, kini membuat mata terbelalak dengan 13 dollar per karung kecil. Konon beras ini sudah dipoles agar kelihatan berkilat dan tentu harum baunya, sementara beras “patah-patah” disingkirkan sebagai beras kelas dua.

Saat di Fair Price saya ngeces berat pada pemanas air mandi (heater) yang diobral dengan harga 99dollar. Nyaris saya gaet, namun ketika penjual berkata 3000-5000 watt konsumsi listriknya langsung sang heater seperti dialiri alistrik membuat saya cepat-cepat meletakkannya di jalan yangbenar

Sekalipun tertera pembayaran listrik di rumah dengan daya tercantum 3500 watt, tetapi nyatanya menyalakan ketel listrik 1000 watt saja semua peralatan rumah tangga lain harus dicabut.

Lantas macet kemana yang 2500 watt tersebut. Dan herannya selalu ribut ingin menaikkan tarif dasar listrik juga. Oalah…Disini nggak enaknya.

Sementara di Singapura – mau pakai mesin cuci, mesin pemanas air, mesin setrika, mesin kopi, tiga buah AC, TV, Laptop, lampu penerangan, silahkan asal mampu bayar tagihan.

Ketika meliwati pom bensin dengan merek SPC (Singapore Petroleum Company), atau Esso – yang juga milik Fair Price saya lihat bensin oktan 85 senilai 2,1 dollar per liter mengisi sendiri. Di negeri kita dengan uang segitu kita sudah mendapatkan tiga liter, dilayani gadis cantik berbaju merah pakai topi cricket sambil berkata ramah “dari nol ya Pak.” – Kok ya masih enak di negeri sendiri kalau soal yang satu ini.

Sekembalinya dari Supermarket Paman Kim sang supir Taxi bercerita bahwa mereka mendapatkan bonus dari pemerintah yang sedang panen duit, masing-masing sebesar 800 dollar. Terang saja antrian ular naga bukan kepalang bisa disaksikan pada saat itu (saya tidak), namun uang segitu kemana saja bakal dibela-belain.

Seterusnya paman Kim cerita bahwa uang segitu hanya habis dibelikan PDA untuk anaknya.

Supir Singapura, seperti halnya beberapa kusir kuda besi di Australia, rata-rata orang berpendidikan akademis. Bahkan diantaranya pernah menduduki jabatan penting sebelum pensiun jadi ketika anaknya minta PDA mereka tidak serta merta mengatakan “husz belum bisa cari uang kok beli PDA”

Foto: wikipedia.org

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Kenaikan harga

  1. Saya copy paste dari Ibu Arfi Selandia Baru (Mimbar)

    Mas M,

    di Selandia Baru beberapa waktu yang lalu pasang papan pengumuman kalau harga beras akan naik. Sekarang sudah ada tambahan baru kalau harga bahan bakar juga akan naik. Nanti lama kelamaan harga baju bahkan nail polish pun bakal naik. Semua naik-naik ke puncak gunung. Alhasil dari world food crisis. Ga bisa ga, bakal lewat NZ! Bayangkan, harga daging topside bisa mencapai puluhan dolar, sementara di tahun 2002 harga daging baik beef maupun lamb masih dalam satu dijit. Kami sempat sontak karena harga lamb mendadak turun drastis, satu lamb dihargai 2 dolar saja, padahal dulu harganya dua dijitan. Jadi, sebagai penduduk kampung yang memelihara domba dan sapi, kami terpaksa harus home-kill (lumayan suami saya bisa latihan menyembelih hewan cara halal). Kalau soal sayuran kami memang home-grown, jarang sekali membeli sayuran dari supermarket. Cuma kalo beras, ya musti beli toh ya. Nanti-nanti kalau beras sudah kelewatan naik, kami harus irit dan musti makan kentang Maori hehehe…

    Salam dari Onewhero,
    Arfi Binsted

    Like

  2. Ini dari mas Sugeng Hartono via email

    Bung Mim,

    Wah, Sampeyan kok mirip maaf, bajing loncat saja. Kemarin di grogol, lalu ke Bekasi, tiba-2 sudah beli beras di Ang Mokio (dulu ini kawasan elit lho),
    tiba-2 sudah check ini di hotel Perth, lalu ada di rig. Semoga tetap sehat dan enerjik.
    Saya masih di sumur eksplorasi, bbrp hari lagi selesai dan pulang.
    Soal harga mahal, waha saya dapat pengalaman lagi. Kemarin kirim email ke kantor Jambi, bahwa saya akan pulang hari Sening, sementara return tiket saya
    sudah ditulis tanggal 30 Mei (masa sebulan) karena tidak boleh beli open dated. Apa yang saya kawatirkan menjadi kenyataan lewat email balasan:
    Pak SH, menurut agen airline, hari Senin tidak ada class K, adanya class B jadi bapak mesti nambah biaya upgrade sekian ribu, jelas diatas seratusan ribu.
    Apa bolah buat. Oyha, Sambu malam para penumpang Sriwijaya Jakarta-Surabaya dan Malang mengamuk karena tidak ada kepasatian berangkat.

    Sekain dulu, salam hangat.
    sugeng

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s