Posted in gaya hidup, singapore, singapura

Kesetrum tas di Orchard Road


Sebetulnya saya paling malas kalau keluarga mengajak bepergian ke pusat perbelanjaan macam Orchard Road. Tapi karena Lia merengek terus ya sudahlah saya mengalah paling nanti saat mereka windows shopping saya membeli setangkup es-potong.

Rupanya sudah ada perjanjian poros Singapura- Indonesia sebab tidak lama kemudian beberapa kerabat pada menilpun sambil berpesan “titip mata – kalau ada bigsale ” – salah satu yang perlu ditengok adalah sebuah tas kulit dengan tulisan seperti perusahaan ekspedisi kirim baju bekas.

Kalau bisa yang limited edition..” – dalam sebuah SMS mereka. Ibu-ibu ini kalau arisan pandai betul mereka mengeluh harga naik, presiden nggak becus urus rakyat, demo dimana-mana, tetapi kalau mendengar kata “Orchard Road” lupa segala urusan sembako.

Yang menarik perhatian saya saat menyentuh tas tangan tiba-tiba tangan mereka ditarik kembali seperti disengat aliran stoom kecil.

Aku kesetrum harganya,” maksudnya melihat harga yang mautz – maka tas diletakkan seperti barusan mengangkat kuali panas. Gairah segede gentong harus disesuaikan kemampuan kantong, kira kira begitu.

Kalau tas semacam Aigner saya bisa maklum popularitasnya, namun mengapa para wanita seperti keranjingan tas mirip negara dikoyak perang saudara Bosnia tanpa hurup “s”. Rupa-rupanya semua bermula dari tokoh pujaan para ibu-ibu yaitu KD dalam suatu kesempatan menyandang tas tersebut. Waktu itu KD sepertinya diturunkan Tuhan ke Indonesia sebagai Diva, sebagai contoh istri yang baik, setia kepada suami, menyanyi saja sambil bawa bayi dalam gendongan. Coba perempuan mana yang nggak kepingin seperti KD. Namanya melihat Kuda dari Giginya.. ya.

Namanya mode, maka menjadi riuh rendah nama tas tersebut disebut dalam upacara, senam, arisan bahkan disela pengajian.

Lupakanlah label merek segede gajah yang mirip bacaan orang katarak. Jadi kepikiran kalau para artis mempertontonkan tingkah laku yang baik dan santun, mudah-mudahan bisa ditiru oleh penggemarnya, bukan cuma sandangannya.

Bukan cuma tas, ucapan KD seperti “Bagus Banget” – ternyata di Malaysia dijadikan ungkapan gaul anak-anak nongkrong sama dengan kalau mereka menirukan dialog Cinta Laura.

Boleh-boleh saja puan asal jangan dibelakang hari diklaim bahwa kata “banget” berasal dari nenek moyang negeri Malaysia.

Gambar situs resmi bonia.com

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Kesetrum tas di Orchard Road

  1. wakakak…ampun…aku bernostalgia Singapura. Dulu ayah saya pernah tugas disana dan saya dan adik-adik sering jadi kurir surat, karena apartemen dekat Orchard ya mainannya ke Orchard Rd. Window shopping, sebenarnya enakan pakai bahasa Perancis yang artinya kurang lebih menjilat jendela he…he…he…nempelin mata ke jendela tapi nggak beli apa-apa…

    Omong-omong ini kok nggak bisa milih judul yak? Mosok aku harus baca semua posting? Weleh…diktator juga nih pak dhe…

    Like

  2. kalo barang begituan saya ndak seberapa demen, tapi kalo sudah lewat depan toko yang jualan Catterpilar, dijamin saya jalannya bak putri solo .. pelannnnn sambil muas2in mata melihat sesuatu yang ndak kebeli.

    ps : ndak kebelinya lantaran ukurannya ndak ada yang pas dengan kaki saya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s