Posted in gaya hidup, rig, rig pengeboran

Uji Coba Kompor Raksasa


Tentu yang dimaksud adalah kompor dengan sumbu sepanjang 4000 meter, diameter sumbu 24,4cm dan BBM-nya gas alam yang berada diperut bumi dengan kemampuan produksi jutaan kubik kaki.

Lidah apinya terkadang 15-20meter, suaranya masih satu saudara kalau kereta-api senja masuk terowongan mendekati Kroya lalu dipasang microfon. Lha kompor tekan minyak tanah untuk menggoreng KweTiaw saja suaranya “gemrebeg” – menderu-deru, apalagi “biangnya“.

Panasnya yang dihasilkan juga “utz” alias “minzalik” – sampai-sampai didatangkan satu tim pendingin rig yang pasang terpal anti panas, semprotan air yang di “setem” maksudnya di beri tekanan pada spuyernya sehingga berbentuk kabut untuk menghela panas. Satu perusahaan bercoverall merah menamakan dirinya “RigCool” -rata rata anak-anak muda lulusan uni yang memang tampan-tampan. Cool Mate!

Dengan lidah api “molak-molak-mongah-mongah” ada kesulitan sedikit bilamana helikopter akan mendarat di rig kami sebab bisa saja gara-gara salah memperhitungkan arah angin lantas Heli di barbeque oleh sang nagabumi sekalipun selama ini belum terjadi.

Saya memotret “sembunyi-sembunyi” pada suatu subuh. Tapi ketahuan juga oleh si Svinsky – ini bule Australia sehari-hari pangkatnya “DogMan”. Sial bener, dapat peringatan.

Pada saat uji coba produksi berlangsung seluruh kegiatan dihentikan sehingga terjadi surplus tenaga yang terdiri dari para RoughNeck, DeckCrew. Para Pengangguran ini sementara dialih tugaskan menjadi patroli “fire watcher.” – Mereka berkeliling TKP sambil membawa senter kalau malam hari dan gas detector. Barang siapa tidak berhubungan dengan tugas (termasuk saya) dilarang mendekat. Tugas utamanya menyirami kawasan sekitar api agar tidak terjadi panas yang merusak.

Saya sih punya alasan hendak mengecek kadar gas H2S dan gas Hidrocarbon resikonya air yang disemprot kadang terbawa angin laut bak hujan sehari menghapus bedak semalaman.

Ketika sumur “dinyalakan” maksudnya sudah barang tentu hendak dipelajari karakter sumur tersebut, apakah mampu diproduksi secara maksimum, atau dengan kecepatan sedang-sedang saja. Caranya diatur dengan jepitan. Kalau jepitan diperkecil, produksi menjadi kecil begitu sebaliknya. Kenapa tidak dibikin maksimum saja? – mungkin demikian pertanyaan di benak kita.

Sumur yang disedot secara besar-besaran sama halnya bunuh diri sebab lambat laun yang disedot adalah air purba. Tapi siapa tahu kelak ada SPBU sekalian perusahaan air kemasan dari perut bumi.

Setelah dinyalakan cukup lama, sumur lalu ditutup untuk diamati. Saat penutupan akan didapat informasi penting yaitu pengamatan terhadap kecepatan naiknya tekanan gas. Bila tekanan gas naik dengan cepat, maka sumur ini termasuk sumur favorit, tidak rewel. Namun bilamana saat ditutup tekanannya naik perlahan, perlu dilakukan beberapa perawatan tambahan.

Juga bisa diperkirakan kemampuan sumur “menyedot” minyak disekitarnya.

Umpamakan anda menghadapi segelas sirup markisa dengan butiran es batu maka saat sedotan dimasukkan sirup yang anda sedot adalah cairan berada disekitar sedotan. Lain halnya bila permukaan sirup sudah menurun, kemampuan menyedot anda akan berkurang karena masiha da sisa sirup bersembunyi dibalik es batu kendati anda sampai ngorok menghisapnya.

Pengetahuan akan “radius pengurasan sumur” dibutuhkan agar supaya saat mengebor sumur selanjutnya kedua sumur tidak rebutan lahan kalau terlalu dekat juga tidak mubadzir akan lahan kalau terlalu jauh.

Jadi buka tutup sumur sama pentingnya dalam operasi Uji Produksi sumur.

Dengan selesainya testing alias uji produksi, maka kemampuan produksi sebuah lapangan mulai terkuak. Satu pertanda bahwa explorasi digalakkan adalah dengan seringnya melihat kompor-kompor ini di lapangan-lapangan minyak. Indonesia sudah melewati masa kejayaannya. Sumur minyak dan gas kita lebih banyak memproduksi air ketimbang yang diharapkan. Kalau para politisi masih teriak “kita punya banyak minyak,: jangan-jangan sering membolak balik sejarah Majapahit dan Sriwijaya raya.

Lain kali kalau anda didekati seseorang lalu menunjukkan “peta jaman baheula” – yang mungkin katanya peninggalan Jepang atau Belanda, jangan keburu kepincut. Minyak atau Gas tidak bisa dideteksi dengan cara asalan. Minyak harus dibuktikan dengan pengeboran, harus di uji kandungan, baru bisa bilang produksiku sekian juta barrel. Jangan percaya berita burung yang mengatakan dengan satelit semua isi bumi bisa diketahui. Paling mereka ingin mengetahui isi kantong anda.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

6 thoughts on “Uji Coba Kompor Raksasa

  1. Gas alam, condensate, sedikit minyak jadi ndak bisa dipilah-pilah kecuali nanti di pabrik penyulingan/pengolahan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s