Posted in gaya hidup, Uncategorized

Good Boy – lalu terdengar tepuk tangan


Hari-hari pertama mengikuti pindah kontrakan di Sembawang saya dan keluarga sering menghabiskan waktu di halaman belakang ini. Pertama karena ternyata ada beda cuaca antara hunian lama di Apartemen Holand Drive yang mungkin karena lokasinya di lantai lima dan sudah dihitung angka FengShuinya maka angin sembribit – semriwing mengalir masuk tak henti-hentinya. Sayang di rumah Sembawang hal itu tak terjadi, udara seperti orang flu tidur tertelentang.

Seharusnya tidak terjadi namun anak manja pemilik rumah ini ternyata tidak sanggup memindahkan barang-barang gudangnya yang menyita satu ruang makan dan ruang dapur tanpa campur tangan sang ibu. Betul-betul anak mami.

Akibatnya mulai dari memasak, menjemur pakaian dilakukan di halaman belakang.

Menjelang siang ketika semua berangkat kerja, dari tetangga sebelah saya mendengar suara orang melakukan monolog dalam Mandarin.

Semula kami kira serangkaian upacara agama sebab di apartemen terdahulu kami dikepung penganut agama yang setiap pagi dan malam bernyanyi sambil bertepuk tangan karena sudah selamat badan beta dari jilatan api neraka.

Yang mudah dimengerti dalam setiap pembicaraan yang bernada memerintah selalu diakhiri dengan “senggakan” akhiran “we” – untuk mudahnya suara pemuda tadi saya sebut Pemuda We-We. Seperti kita mengucapkan Ya, dalam akhir kalimat.

Kadang pemuda Wek seperti menyanjung “Ah Good Boy” dan diakhiri bertepuk tangan seperti layaknya bercanda dengan anak kecil atau anjing melakukan sesuatu.

Tidak terdengar Salak Anjing atau Bayi Menangis

Lucunya selama beberapa hari tidak pernah mendengar anjing mengaing, bayi menangis, binatang menggonggong atau pendek kata suara yang menyiratkan bahwa ada anjing dipelihara tetangga sebelah.

Pada suatu hari (keponakan saya yang dari Amerika cepat belajar bahasa Indonesia dengan selalu membuka cerita – Ma Pada Suatu Hari…”) saat istri sibuk memasak, maka dari balik tembok rumah sang instruktur “we” sedang melatih “anjingnya.”

Mungkin karena mencium bau masakan asing yang padat akan belacan pemuda misterius tadi mencoba mengintip dari balik pagar yang mudah dilihat. Cuma karena kebetulan beradu pandang dengan saya dia nampak malu-malu. Anaknya ternyata ganteng, rambut diberi gel seperti tikus baru keluar got lalu menggoyang tubuh sehingga bulu basahnya berdiri semua. Kalaupun mengganggu sedikit dia menyilangkan tas kain sehingga terkesan feminim.

Sampai disini saya belum melihat anjing misterinya.

Pada suatu hari siang (ikutan Arwa keponakan saya) misteri terbongkar ketika ia kepergok melongok kearah kami dia dan mak jegagik nampak kikuk lalu bersembunyi dibalik tembok bercat merah bata.

Dan … astaga.. ia memasukkan jempolnya kedalam mulut dan dikenyot seperti anak-anak kecil.

Maka terbongkarlah rahasia bahwa pemuda ganteng berusia hampir dua puluh tahun ini masih kekanak-kanakan sekalipun pernah saya lihat dia naik bis dengan mengeluarkan dompet dan memeriksa kartu abonemen bis “EZLink.”

“AaaCui…AaaCui..”

Seperti diketahui bahwa penghuni rumah ini seperti sepakat untuk koor bersama dalam melakukan bersin.

Dimulai ritual pagi hari didahului oleh suara polyphonic dari pesawat HP mereka, lalu klesak-klesik suara mereka terbangun keluar dari selimutnya dan tidak lama kemudian terdengar bel, pertanda AC dimatikan. Untuk menghemat biaya listrik AC hanya hidup dari jam 23:00 sampai jam 06:00 – itupun untuk kalangan tertentu anak Indo ini boros listrik.

Kalau suara bersin saling bersahutan tandanya sudah dimulai hari baru.

Pemuda Kwe rupanya terpicu akan suara Hoca Haci penghuni sebelahnya. Lalu tanpa sebab ia menirukan suara bersin ala Indonesia. Maka setiap kali ada bersin aseli Haatsy dia langsung menimpali dengan gaya Singapura “AaaCuuui…AaCuuui” – biasanya duel diakhiri jika sang Mama langsung melarang anaknya berbuat kekanakan.

Tapi sekalipun demikian pemuda Kwe adalah satu-satunya penduduk yang langsung mencoba berkenalan kepada kami di kawasan tersebut dengan caranya yangkhas.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s