Posted in gaya hidup, singapore, singapura

Menghibur diri dengan Sampah


Rumah Kontrakan Sembawang

Gara-gara Meidy menulis foto berita mengenai kota sampah di kelurahannya, saya seperti kejawil untuk memberikan tanggapan serupa.

Inilah ujud rumah kontrakan anak kami dan teman yang lain. Tong sampahnya cuma satu tetapi ceritanya banyak.

Mereka pindah ke kawawan Sembawang ini pada Mei 2008. Seumur-umur rumah yang konon terletak di kawasan elit ini tidak dihuni orang. Hanya sebagai gudang sepeda, motor dan mobil. Pendeknya berfungsi sebagai bengkel oleh anaknya.

Sang pemilik mempunyai cucu yang ia ingin disekolahkan di sebuah sekolah Favorit di kawasan Upper Thomson. Padahal, mereka tinggal jauh dari lokasi sekolah sehingga tidak termasuk pihak yang “berhak” memilih sekolah tersebut. Rupanya nenek tidak pendek akal, dibelinya rumah ini sekedar mendapatkan bukti domisili. Dan ia berhasil.

Sekarang nilai rumah dengan tiga kamar tidur ini sudah mencapai 1 juta dollar. Berkali-kali sang pemilik (Nenek) menyuruh anaknya mengiklankan rumah ini agar disewa. Maksudnya dengan ongkang-ongkang kaki sang anak dengan mantab ada uang sebesar 2000 dollar mengalir kedalam koceknya.

Kira-kira siapa yang tidak napsu mendengar dollar bergemerincingan saat kita tertidur. Dasar anak manja yang sejak kecil semua serba tersedia, mana mau mereka bersusah payah cari penyewa, mending ikut balapan sepeda atau balap motor yang lebih “fun” dan gaul. Anakpun diserahkan kepada pembantu, satu hal yang di Singapura adalah pertanda golongan “the Haves”.

Setelah cukup lama rumah menganggur akhirnya mereka bertemu dengan anak saya dengan grupnya. Lalu biaya kontrak rencananya dibagi berlima. Namun saat kontrak akan diteken seorang calon penghuni sehari-hari bekerja sebagai Presenter tetap TV Swasta Jakarta, namun kepingin cari pengalaman di Singapura karena alasan keluarga belum bergabung disini.

Antene TV tersebut mampu mengundang RCTI dan SCTV ke kamar kami.

SAMPAH HARUS DIBUNGKUS KANTONG PLASTIK

Tong sampah didepan rumah adalah domain saya. Kalau pagi, saya bungkus sampah dapur yang 90% adalah umbel anak-anak. Anakku, mantuku, dua penghuni rumah lainnya seperti sudah tanda tangan darah kalau pagi hari harus Hatsyi Hatsyi seperti judul lagunya Rif – LuTuYe, sambil cari tisu.

Tugas lain saya adalah membolak balik jemuran.

Di Singapura saya melakukannya dengan Gusto (gembira) – anggap-anggap hiburan dimasa liburan. Tergantung bagaimana kita menyetel jalan pikiran.

Berrekreasi tidak harus makan enak di kafe – atau belanja di Orchard Road. Membuang sampahpun bagi saya satu kegembiraan sendiri.

Maka saya sempat ngambek kepada Lia gara-gara dia tidak setuju setiap hari saya mencuci baju (dan pakaian mereka). Padahal saya menganggap sebagai olah raga dan rekreasi. Tentu tidak langsung diucapkan didepan saya melainkan melalui ibunya.

Belum genap dua minggu saya meninggalkan domain ini, anak saya sudah berkotek, “pa.. masak tong sampah didepan ada belatung dan lalat hijaunya..” – jelas akan terjadi sebab membuang sampahpun harus dengan perasaan bahagia sebab kalau tidak sisa makanan akan dikais si Mpus atau Tikus Rumah dan berceceran lalu membusuk dan mengundang lalat.

Tukang Sampah Ber-Ipod

Sampah tidak boleh dimasukkan kedalam tong tanpa dibungkus sebab pemungutnya hanya akan menenteng plastik-plastik didalam tong untuk dibuang ke truk sampah. Kalau telat menyetor sampai dibawah jam sembilan pagi alamat akan diangkat truk sampah dengan cat yang kuning terang bertuliskan “recycle sekarang untuk kehidupan hari esok” pada keesokan harinya.

Ciri-ciri truk sampah datang diawali dengan suara tutup tong dibuka “bledak” lalu setelah bungkusan sampah diambil tong ditutup kembali “bleduk” – Orang yang mengambil sampah tersebut masih muda dan kupingnya disumpel headphone MP3 Player.

Dibelakang pemuda ini adalah truk dengan suara mirip tank. Pemandangan setiap hari ini mengingatkan saya filem perang dunia dimana pemuda ber-Ipod adalah kasukan Infanterinya dan truk sampah bak tertutup adalah Tank perangnya. Cuma yang mereka jihad-i kali inji adalah sampah-sampah.

Kenapa saya sampai kesudian mengangkat sampah, hanya karena melihat mengapa di negeri kita rantai sampah begitu komplek sehingga mulai sampai didepan rumah bau busuk sudah tidak ketulungan akibat sampah tidak terangkat dengan alasan ban bocor, mesin rusak.

Dan mungkin karena konotasi sampah, maka mobil sampah, gerobak sampah selalu dipakai barang rongsokan juga belum menganggap sampah adalah hal yang serius.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Menghibur diri dengan Sampah

  1. Kalo disini tiap rumah musti beli kantong khusus di supermarket. Seminggu sekali ada mobil sampah keliling perkelurahan. Misalnya saja hari selasa adalah penjemputan sampah untuk kecamatan Langgasse, rebonya adalah kecamatan Hunibach, dll.

    Lantaran kantong ini mahal harganya, warga bener2 ngeman2. Sampah organik dibuang di kompos, karton, kertas dan botol disendirikan. Jadi kantong itu isinya bener2 sampah.

    Nantinya kertas dan karton akan dijemput tiap 2 minggu sekali, sedangkan botol dibuang ditempat buangan botol yang masih juga dipisah menurut warna, ijo, putih atau coklat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s