Posted in australiana, gaya hidup, oil rig

Smoko


Karena masih banyak pertanyaan soal makan di Rig Offshore maka saya laporkan soal “tea-break.”

Foto ini diambil menjelang jam 03:00 dinihari. Kantin sudah bersih dari makan malam jam 23-01:00 – petugas yang cuma terdiri satu jurumasak dan satu asisten cuci piring sedang mempersiapkan makanan untuk acara istirahat minum teh – yang di Australia dikenal sebagai Smoko.

Hidung saya sudah mencium harumnya pizza sedang dalam oven. Hmm.

Gara-gara Pizz perut menjadi lapar, otot perut kukuruyuk , bagaimana kalau mencoba seadanya seperti yang ada di lemari es dalam kantin ini. Gratis kok. Dihabiskan juga boleh.

Dari kiri atas nampak es teh manis dan yoghurt, dibawahnya jus buah dari merek Just Juice – ada jeruk dan apple yang diiklankan oleh bintang favorit saya Agnes Monica.

Di bawah jus ada susu full cream dan susu kacang kedelai. Orang Australia bisa “kilangan weton” alias bingung tidak karuan kalau tidak kesenggol susu sapi barang sehari. Di bawah susu ada semacam saus, mustard. Lalu pada deretan paling bawah adalah butter, coklat  untuk anda yang kepingin membuat sendiri roti panggang.

Lalu disebelah kanan lemari adalah pelbagai penganan yang saya tak paham namanya kecuali rasanya uenak dan huenak tenaan. Ada juga cocktail buah, buah segar mulai dari buah kiwi, plum, apple. Kalau nanas sebaiknya jangan dimakan, sekalipun tetengernya (mereknya) dari Siam, rasanya bukan mak-nyus tetapi mak prinding – maksudnya kita mengkirik menahan masamnya. Juga pepaya sekalipun manis tetapi ukurannya liliput.

Gambar yang tidak jelas ini adalah freeser es cream. Satu baskom isinya 10liter. Saya tidak mampu membuang embunnya, lagian kalau embunnya hilang dikira es krim plastik. Embun juga sebagai isyarat bahwa kami tidak jelas akan mengambil eskrim atau minum sari buah.

Sebelum menjepret, saya harus menyingkirkan pisang diatasnya. Orang Australia makan es krim dengan pisang sebab untuk membantu pencernakan makan mereka.

Seorang teman karena ingin berbagi rasa es cream dengan temannya lalu mencari merek ini di Supermarket WoolWorth – dan membawanya pulang 5 liter ke Tangerang. Mudah-mudahan belum keburu encer.

Masih kurang selera?, anda masih bisa membuat popcorn sendiri (2menit sudah cukup), lalu boleh pilih makanan macam cornflake, kacang goreng, jambu mete, kurma kering, semua ada disini.

Lalu ada pertanyaan “kok juru masaknya sedikit?” – lha yang banyak itu kan orang kita, mau masak saoto/sroto saja bibi pembantu harus gandeng-ceneng (berada tidak jauh setengah meter), lalu supir harus standby kalau ada kekurangan bahan, suami suruh duduk diam-diam cincang daging. Pendeknya padat karya.

Saran saya kalau suatu saat bekerja di offshore, sering periksa kadar kolesterol dan tekanan darah anda. Kalau tidak makanan lezat ini bisa jadi memala alias “penyakit” – Ikuti nasehat saya, tapi jangan ikuti kelakuan saya sebab nyatanya saya lap-leb membabat habis apa yang ada di depan mata dan jarang periksa ke dokter.

“Smoko” (also “smoke-o” or “smoke-oh”) is a term used in Australian English, New Zealand English and Falkland Islands English for a short, often informal, cigarette break taken during work or military duty, although the term can also be used to describe any short break such as a rest or a coffee/tea break.
The term is believed to have originated in the British Merchant Navy,[1] and was in use as early as 1865.[2] The tradition of a smoko in the Australian sense seems to have begun amongst sheep shearers in the 1860s.[3]
Although a slang term, the word “smoko” has been used in government writing and industrial relations reports, to mean a short work break. [4]

.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Smoko

  1. sekali waktu saya bakal pamerin foto keller (basementnya) mertua saya. Segala macem makanan ada. Di swiss ada hukum tak tertulis dari jaman jebot, agar warganya nyetok makanan.

    Jadi *sewayah-wayah* terjadi perang, bahaya kelaparan bisa diminimalisir.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s