Posted in Uncategorized

Satu meter didepan Ratu Ngebor


Kejadian lama 23 April 2003

Pak mau nonton pameran produk Canon di hotel Melia- Senayan malam ini saya ada undangan untuk dua orang orang…,” demikian bisik-bisik seorang teman di kantor saya.

Lho tiketnya emang berapa?” – saya pikir wanita bermata tajam dengan rahang keras ini bermaksud menjual tiket. Gebleknya sudah tahu tiket cuma ada dua saya bertanya mengulang.

Nggak kok, Tiketnya gratis dari DataScript. Tapi ada satu lagi yang bapak pasti senang, hiburannya Inul Daratista.”

Bagaimana saya tidak seperti langkah tegap diiringi tambur dan sangkakala. Rupanya dia tahu saya anggota FBI, sehingga rela tiket yang dimilikinya diberikan kepada saya.

Tiket langsung saya sambar 45 menit sebelum bubaran kantor saya sudah melesat. Tidak lama kemudian jam 18:30 (ini April 2003) saya sudah ada di ruang Ball Room Hotel Mulia Senayan. Saya datang terlalu dini memang. Setelah mengisi buku tamu dan melempar kartu nama untuk door prize maka saya digiring ke ruang pameran karena memang tujuan utama adalah pameran.

Malam itu memang DataScript sole distributor Canon sedang mengadakan pameran dengan judul “The Rising Star”, ini judul kok pas dengan negara asal pembuatnya, Jepang. Tapi mestinya ada sesuatu dibalik pemilihan judul tadi.

Segala produk dari Scanner, Portable Printer, MultiMedia Projector dipajang habis.

Saya memperkenalkan diri wakil dari perusahaan saya. Tidak lama kemudian seseorang mendekati saya dan memperkenalkan diri sebagai Marketing Manager, namanya Zaki. Lalu saya diberi label yang tersemat didada dengan sticker simbul Bintang warna hijau.

Lho kok tiba-tiba saya jadi BrigJen (bintang satu) , oh ternyata ini bukan pangkat melainkan tanda “VIP.”

Ketika jam menunjukkan jam 07:00, naiklah Farhan dan Indi Barens yang bunting. Oh rupanya ada acara 10 door price pengocokan kartu nama . “Saya missed” -memang nggak hoki rejeki kocokan.

Selanjutnya para undangan dipersilahkan menikmati hidangan dan duduk ke ruang lain yang cuma disekat dengan board-board pameran.

Disini adat bangsa kita kelihatan. Pintu masuk dibuka blak, toh menerobos melalui papan-papan penyekat. Suasana sedikit kacau. Beberapa tarian diperagakan diselingi dengan presentasi produk unggulan Canon.

Datascrip perlu merayakannya sebagai The Rising Star sebab pangsa pasar digital yang semula 24.1% tahun 2000, sudah bisa disabet menjadi 60% pada tahun 2002 suatu prestasi yang tidak mudah dicapai.

Istilah the rising star juga pernah dinobatkan oleh majalah Times kepada Letjen Prabowo Subijanto karena kalau tidak ada aral melintang maka Times meramalkan karirnya akan melesat.

Farhan dan Indi Barens mengadakan kuis, yang ditanya adalah isi seputar presentasi seperti nama produk Kamera Digita untuk Profesional, Scanner yang paling laku dsb…

“saya missed lagi…. Yang menang mestinya ya para penjual elektonik di kota”

Pukul 21:25, rombongan Band pendamping mulai diganti dengan band “dangdut” dan muncullah yang sosok yang dinanti-nantikan “Inul Daratista” dengan seragam senam ketat berwarna hijau tua dan diberi sulaman benang emas.

Langung ia menggebrak dengan nomor “I wanna be free”, lagi-lagi penonton memberikan applause ketika ia memutar tubuhnya dengan cepat, persis Sakatonik Grenk.

Engkoh sebelah saya berbisik, biasanya Inul cuma muncul “setengeh jem” – maksudnya setengah jam, enam lagu. Kalau sampai tambah satu lagi, naik sewanya.

Satu nomor rock “I want to break free” selesai dilantunkan lalu Inul menyapa penontonnya.

Ada keharuan ketika ia mengatakan “Selamat Malam Para Hadirin Sekalian, Terimakasih Anda masih bisa menerima kehadiran Inul, Saya……. [suara Inul tercekat, nampaknya ia harus mengatasi emosinya baru saja di “haramkan” di publik]. Oleh seseorang yang sangat-teramat dikaguminya. Saya pernah menulis kisah Raden Ajeng Kartini di dzolimi RM Ario lantaran berani mau menuntut ilmu ke Belanda pada 1903. Pengkritik, yang sangat dikaguminya ini mengecam Kartini sebagai “pengingkaran kodrat sebagai wanita

Saat Kopi Dangdut ia minta 3 pasangan penonton naik kedepan, diajari bagaimana cara goyang ngebor. Enteng saja Inul bilang, kalau belum bisa belajar saja dari VCD bajakan saya. Kok boro-boro mau bawa pengacara atau polisi, dia malahan menganjurkan beli bajakan….

Kira-kira ada nggak penyanyi “sopan” lain dengan perangai serupa?

Dari Kopi Dangdut, Pelangi di Matamu (aha my favourite), Goyang Dombret. Saat ber “Goyang Dombret” Inul mendekati Dewi Motik, yang belakangan ini lalu meraih mike sambil bilang “Inul Kamu Terus Maju Ya

Satu request dari Dewi Motik dinyanyikan Inul yaitu “Takut Sengsara” atau Jatuh Bangun”. Lagi-lagi Inul menyebut lagu Jatuh Bangun yang biasa dinyanyikan oleh Mbak Kristina dengan penuh hormat.

Beda kalau Kristina menyebut Inul selalu dengan penuh cemooh, sebagai “cuma bisa goyang erotis, suara nol besar…”

Kelihatannya lagu ini diluar skenario sebab nampak Inul mendekati pimpinan orkes sambil memberikan beberapa petunjuk.

Usai lagu “Jatuh Bangun,” Dewi Motik naik ke pentas membawakan sekuntum bunga putih untuk Inul The Rising Star. Lagu berikut adalah lagu rock yang didangdutkan menggema. “Whats Going On.”

Enam lagu sudah usai. Farhan dan Barens naik ke panggung. Farhan bilang, Inul Semoga Kamu Segera mendapat Label Halal” (kok seperti mie instant), sementara Indi Barens minta Inul sekali lagi goyang ngebor untuk anak yang dikandungnya.

Dasar Inul, dibilang manusia “haram”, dia malahan menambah sebuah lagu penutup “Terajana”, ciptaan siapa lagi kalau bukan sosok yang amat di kaguminya, sekalipun untuk itu dia dihujat habis. Sepertinya hujatan kuharamkan laguku untuk dinyanyikan Inul,” dianggap enteng saja oleh Inul. Mungkin pikirnya, urusan mengharamkan manusia bukan pekerjaan manusia.

Dengan 6 lagu utama (plus satu lagu tambahan), maka berakhirlah perhelatan tadi konon menurut engkoh samping saya bisa bernilai Rp. 30.000.000 untuk honor Inul, yang berarti setiap lagu yang ia bawakan nilainya sekitar Rp. 5 000.000. Tapi ada yang bikin saya merah kuping si engkoh dengan sok tahu mengatakan, orang menyanyi kayak Inul pasti pakai obat yang bikin tahan lama.

“Ekstasi ?” – tanya saya. Dia ngeles “ya semacam gitulah”. Kalau sudah begini saya merasa tinggal di pacenongan, sebab gosip apa saja cepat dan tercipta dari minum kopi, makan bakmi dan transaksi dagang.

Terajana… terajana..

Dan saya harus berterimakasih kepada seorang kepada gadis bernama Aryani yang telah memberikan tiket kepada saya.

23/4/03

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s