Antara Sembawang – Cengkareng (2)


Sampai di luar bandara, beberapa penumpang pada maju tak gentar membuntuti kami. Rupanya mereka-pun sama kebingungannya. Seorang bapak yang baru dioperasi matanya di Singapura nampak kebingungan dan kesakitan. Anaknya mengusulkan tunggu air surut di bandara yang langsung di”slantap” oleh ayahnya – Emang ini Changi! – sabar Pak, jangan-jangan jahitan operasi di mata bisa putus lho.

Yang mengganggunya itu lho para calo transportasi merubung kemana kita pergi macam lalat mencium koreng.

Lalu datanglah truk Bung Polisi kita, penumpang yang hanya membawa sedikit barang memang bisa langsung diseberangkan ke Pulo Kapuk (dalam arti kata Betawi kalau ada tanah menonjol di antara badan air, sebut saja pulo).

Hidup pak Polisi.. – saya tulis Polisi sebab ibu Kapolda di salah satu belahan Sumatera katanya sering baca blog ini-

Kepada pengikut kami yang maju tak gentar lantaran bingung, kami sarankan ikut truk. Namun bukan saya yang punya enam potong bagasi. Mereka memang akhirnya meninggalkan kami untuk naik truk militer. Jadi ingat masa kecil waktu sekolah sampai waktu disunat dinaikkan truk gedubrakan brisik yang per-nya bikin ambeien melorot. Yang saya ingat, ibu marah besar sewaktu saya di sunat pada 14 November 1966, bapak tidak menunggui saya.

Tujuan saya hanya satu yaitu Bus Damri, entah kemana saja asal keluar Cengkareng!

Sebuah DAMRI tujuan Pasar Minggu segera saya masuki. Andai Bus ini ke Bogorpun tak jadi mengapa.

Maka mulailah perjalanan merayap. Kernet disela-sela ketiak para penumpang yang nekad bergelantungan mulai menariki penumpang seorang 20 ribu, masih jauh lebih murah 510ribu panjar taxi di Bandara. Pengalaman menjengkelkan dengan pemuda perwakilan perusahaan taxi, saya memberikan dua kali lipat ongkos (waduh pamer). Buang jengkel.

Diperlukan hampir satu jam untuk lolos dari Bandara sampai Terminal Kalideres. Kami memutuskan dimana tempat terdekat bis berhenti menurunkan penumpang (walau tidak boleh). Niat melanggar aturan sudah mulai menyelimuti saya dengan dalih “orang lain juga melakukan yang sama..” – atau “namanya juga banjir..

Ketika Melanggar Aturan itu Enak

Sampai di kawasan Kalideres, tiba-tiba “deg..” bis seperti oleng menabrak sesuatu, menanjak lalu goyang menurun. Herannya wajah penumpang malahan gembira. Rupanya supir Damri kehabisan sabar lalu mengkuti Kopaja didepannya yang nekad memotong separator jalan lalu masuk ke jalus BusWay.

Mungkin kalau wajah tersebut diterjemahkan mereka berteriak “horee kita melanggar, perjalanan jadi tidak macet..”

Biasanya saya ikutan memaki Non Busway yang mengambil jalur bukan haknya. Tetapi sekali lagi, makian saya berubah menjadi pujian lantaran saya salah satu penumpang Damri. (maafkan saya)

Melanggar aturan ternyata enak dan mudah ketimbang mengikuti aturan. Tak heran politisi kita yang teriaknya kencang mengecam mahluk tak nampak yang bernama Korupsi, Suap, ketika tiba pada gilirannya, sama seperti kejadian saya. Selalu berusaha membenarkan tindakan pribadi.

Seorang ibu baru nyadar rumahnya kelewatan (maksudnya dilewati Bis, ia bangun dan minta stop) – Tapi supir keberatan.

Di bawah patung dirgantara Pancoran yang sudah tidak jelas mana Patung Semen dan mana Jalan Layang Semen, bis menurunkan penumpang dan saya dengan cepat ikut dalam arus yang melanggar peraturan tetapi “kok rasanya enak..” – sebuah perjuangan tersendiri menurunkan bawaan yang seharusnya digotong oleh dua trolley sekarang harus dinaik turunkan berdua.

Arloji sudah menunjukkan setengah jam menuju jam kantor bubar. Betul saja, taksi yang lalu lalang semuanya terisi penumpang.

Dalam keputus asaan, sebuah taksi “RT” berhenti diantara penumpang lalu terjadi tawar menawar dan saya lihat para penumpang mundur teratur. Rupanya taxi sedang pasang aksi, tidak mau pakai Argo kuda sekalipun.

Begitu taxi mendekati kami, istri kali ini muncul kejantanannya . Ia meloncat dan menyetop taksi. Dengan wajah yang mirip orang Sumatera Utara tapi bukan dan suara yang cenderung “barking” – dia menunjuk supir “kamu nggak mau pakai Argo kan?” – pengalaman lemah lembut di Bandara mengharuskan kami ganti peranan.

Kini Supir malahan nampak gugup, lalu kevacuman ini diisi dengan “saya mau bayar kamu bukan meteran, bisa nggak antar saya ke Cilangkap…

Bukan cuma supir melainkan saya sendiri suaminya herman-(pakai m) sebab kami tidak punya saudara atau rumah di Cilangkap.

Cilangkap mana bu?”, tanya supir

Komplek AU, berapa ?” – kata istri saya

Terserah ibu mau kasih berapa,” kata supir. Permulaan yang bagus.

Begitu mobil bergerak, baru kami bilang “saya ganti pikiran, kita menuju Grogol sebab kendaraan saya di sana.

Supirpun menurut. Jalanan memang macet. Sampai di jalan Muwardi Raya, supir buru-buru membukakan pintu dan menolong kami menurunkan bawaan barang. Uang seratus ribu mengalir ke tangan supir sambil istri mengatakan “suka sama suka ya pak!

Dalam rentang 3 jam pertama kami diperlakukan seorang anak muda penjaga stand taxi seperti orang yang tidak tahu membedakan kompresor dengan alat menerobos banjir. Tetapi mulai dari Damri sampai Taxi RT -kami diperlakukan seperti layaknya penumpang.

Ini Karma atau karena suara atau karena ada kata sakti Cilangkap dan Komplek AU (Angkatan Udara)

Sampai di rumah, istri saya bilang “Pak, kalau tadi supir taxi sampai bertanya Komplek AU mana aku bingung lho menjawabnya.

Enteng saya menjawab “Bilang saja komplek A.U ..Auklah Gelap..”

Dia ngakak, nyangka suaminya bercanda..

Antara Sembawang dan Cengkareng (1)


Akhirnya selesai juga masa liburan di tempat anak di Singapura. Tepatnya menjadi TKI tambahan membantu mereka pindah kontrak.

Anak-anak sudah mapan mencari jalur bis yang melewati tempat mereka. Bedanya kalau selama ini hanya membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit ke tempat kerja – sekaranag menjadi sembilan puluh menit lantaran harus menaiki bus 169 yang akan stop di Ang Mo Kio Hub, lalu ganti bis lain ke tempat kerja.

Pagi ini barang-barang sudah dikemas dan ditimbang agar tidak kelebihan beban. Lia ngotot untuk mengantarkan kami ke Bandara sehingga dia minta ijin untuk setengah hari. Sebuah dilema sebab kalau makin pagi di Bandara, semangkin baik lantaran semangkin banyak yang dilirik.

Taxi pun dipanggil. Kata sang operator perlu sepuluh menit baru sampai TKP. Nyatanya lima menit dia sudah mecungul (nongol) di depan rumah.

Lalu supir ikutan menyusun kopor kami. Bahkan dia mengingatkan bagian kopor dengan “handle” dihadapkan ke arah kita – agar saat mengambil menjadi mudah.

Lha kok 55tahun lebih menghirup udara baru kali ini saya sadar bahwa selama ini kalau menaruh kopor di bagasi saya seenak udel-bodong-ku sendiri. Makasih uncle Kim

Begitu “mak Jleg” masuk kabin saya langsung duduk disamping pak supir yang sedang bekerja mengendarai taxi supaya baik jalannya. Sekalian menyaksikan jati diri sang supir.

Nama yang tertera didashboard adalah Kim Seng. Lalu disebelah papan nama sebuah layar monitor memberitahukan agar ia menjemput penumpang di Jalan Telang (yaitu TKP). Belakangan kami tahu bahwa dia tidak tahu dimana jalan Telang tersebut.

Begitu masuk perseneling satu, Uncle Kim Seng – di Singapura saya doyan panggil semua lelaki Uncle semua perempuan Auntie. Menengok kepada saya dan bertanya apakah passport, ticket, dokumen lain tidak tertinggal? – ah peringatan yang sangat simpatik.

Lalu kami mengatakan alamat tujuan kami yaitu terminal dua, Changi pesawat Philippine Airline yang cukup murah, tepat waktu dan diberi makan pula.

You Swim or Sampan

Kok tiba-tiba dia bilang dengan tenangnya “you swim? or Sampan?”

Wah kok jadi ngeledek supir ini, sekalipun dia bilang “sorry joking” – katanya dia dengar kabar Airport Jakarta kebanjiran padahal sebagai warga republik selama ini yang kami dengar – adalah rasan-rasan para pekerja Bandara untuk membanjiri demo mogok, namun ketinggalan soal tanggul yang dadal-duwel (ancur-ancuran) di lantak banjir. Kami jelas ketinggalan langkah.

Terpaksa pada hari kamis 8 Mei 2008 – kami dengan pathetic tilpun sana-sini ke Jakarta dan dijawab dengan jawaban tegas hujan saja tidam (ditempat yang menjawab tilpun) bagaimana akan banjir. Jangan-jangan saya dikira mimpi basah kebanjiran.

Kalau sudah begini terpaksa kami minta mereka melihat internet. Tetapi baru sadar – bahwa daripada keluar uang untuk Internet dengan alasan baku nanti disalah guna membuka situs porno mendingan mereka ganti mobil dan hape baru, seakan-akan yang dua belakangan selalu suci dari noda berbau porno. Apalagi kalau ada yang ikutan menyebar email merah.

Untunglah anak-anak kos di Singapura cepat tanggap. Mereka melakukan pengecekan di detik.com yang memuat data dengan akurat bahwa di lokasi yang sama jalan raya Negara Republik Indonesia – kebanggaan bangsa kita, lagi-lagi dadal. Air 90cm menggenang jalan kebanggaan kita.

Maka perjalanan kali ini harus disiapkan menghadapi macet total, atau bermalam di hotel. Roti BK (Burger King) yang sebetulnya untuk keponakan, buah anggur hitam tetapi manis memabukkan langsung masuk tas kabin. Saat darurat paling buruh harus dipersiapkan sebab pada bulan yang sama 1998, saya pernah tertahan di Bandara dan menderita sepanjang perjalanan pulang akibat banjir manusia mengamuk dan menjarah.

Menjelang memasuki ruang tunggu, dua serdadu Ghurka dengan seragam hitam, tipe ras Mongol, bertubuh kecil namun liat nampak berpatroli di dalam ruangan.

Saya bergetar ketika melihat golok Kurki-nya terselempang dibelakangnya. Tentunya masih sehubungan dengan “ghoib”nya mas Selamet (di Singapura Selamat) yang pincang tapi kok ajaib bisa melompati tembok. Kalau melihat pisau aneh, selalu saya ingin mengoleksinya sekalipun seprana-seprene (sampai kini), saya hanya memiliki sebuah pisau baja putih keluaran Bandung.

Di ruang boarding E-22, petugas setengah membentak, “coba kau tanya kepada temanmu sana!” gara-gara si mbak kelihatannya TKW tidak bisa menunjukkan dokumen perjalanan yang dibutuhkan. Maka riuhlah suara dalam bahasa daerah saling menasihati dan saling menyalahkan teman yang kebingungan.

Mendadak Haid

Hanya beberapa menit menunggu pesawat PAR 503 sudah siap berangkat. Lho kok di ruang terowongan belalai gajah, salah satu mbak teriak “waduh aku lupa beli pembalut.

Teman lainnya menjawab dalamn bahasa daerah yang sama, “piye iki – bagaimana kamu kok bisa lupa, bisa digerayangi petugas di Jakarta nanti…

Pasangan monogami saya (hampir 53 juga), tanggap situasi, lalu berbicara dalam bahasa yang sama, masih dalam hidung gajah: “nih aku punya pembalut, butuh berapa?” – Tapi si mbak masih bingung, “lalu Bu saya pakainya dimana?

Ya jangan disini, nanti di Toilet…” – kata istri saya menahan geli atas keluguan mereka. Belakangan istri berbisik dia bawa paling tidak 20-an.

Episode ringan menjelaskan betapa para TKW kita begitu ketakutannya manakala hendak kembali ke tanah air, sampai sampai mereka harus berpura-pura “datang bulan” – agar tak digerayangi sesama bangsa yang konon menjarah uang hasil kerja yang disembunyikan mereka.

Di ruang pengambilan bagasi, para TKW ini masih tidak akan lolos dari sergapan aparat (saya lihat wanita bertubuh subur dan bermata tajam) yang menyaring mereka agar keluar melalui pintu tertentu.

Lantas apa artinya spanduk segede Dinosaurus “Selamat Datang Pahlawan Devisa” – kalau sebetulnya kita masih mengkastakan mereka sebagai sapi perahan.

Tidak ada petunjuk banjir

Keluar bandara, semua nampak aman dan terkendali. “Tata Tentrem Kertaraharja..” Mirip wajah para pengelola Warnet “andai” Bill Gates memberikan lisensi penuh kepada mereka untuk menggunakan produk Microsoft gratis sampai jontor.

Di ujung jalan yang memecah ke kanan setelah pemeriksaan duane saya berhenti disebuah loket “resmi” biasanya menggunakan simbol warna sebagai merek dagangnya.

Berapa sewa dari Bandara Cengkareng ke Grogol?” – tanya saya.

Petugas bertubuh kerempeng, memakai seragam biru dengan dasi gemuk, berpura-pura sibuk lantas dia menjawab dalam bahasa Inggris patah-patah :”saat ini kami sibuk, tapi tunggu sebentar…”

Ada 60 detik dia beracting menengok daftar lalu menengok kepada saya kali ini dalam bahsa Indonesia setelah saya bilang “aku ndak ngerti kalau sampeyan bahasa Inggris mas”

Uang muka Taxi sebesar 510 ribu rupiah. Setiap jamnya dikenakan biaya 170 ribu rupiah.

[Ini perjalanan Cengkareng-Grogol.. Broer. Normalnya sekitar 75ribu rupiah termasuk ongkos tol].

Seperti hendak mengetes apakah pembuluh darah jantung saya masih kuat menerima beban stress dia bilang jumlah gila-gilaan tersebut belum termasuk tarif tol.

Selera humor saya lagsung dilibas dengan gaya mencekik lehernya, tadinya saya hampir bilang – kenapa nggak sekalian uang bensin dan uang makan supirnya di ajukan anggarannya kepada kami.

Tilpun berdering lagi dari adik ipar “jangan naik taxi – Metro TV melaporkan penumpang yang diperas habis oleh kaum oportunitis.” – Kami langsung menjawab : “lha ini saya didepan loket taxi XX hampir kena juga..” – Rupanya pemuda ceking berdasi lebar merasa tersindir sehingga dari balik loket di masih menjual kecap. “mobil kami memiliki kompresor sehingga bisa menembus banjir.” – Jangan-jangan pemuda didepan saya ini aslinya kaum Tambal Ban pinggir jalan.

Ah inilah kalau pemimpin kita kebanyakan membodohi rakyat, giliran rakyat saling membodohi satu sama lain..” – keluh saya dalam hati. Di Tipi ketahuan berbuat jahat, menggelapkan uang negara tetapi gayanya seperti Achilles baru memenggal Hector.

Tawar menawar Durian di Supermarket


Di Supermarket seperti Giant atau Fair Price umumnya durian sudah diangkat dari kulitnya dan dikemas kemas dalam kotak styrofoam. Masing kemasan ditulis dalam aksara Mandarin, lalu diberi tulisan latin semisal D-24 yang disebut juga durian alpukat atau durian X-O karena jenis ini kondang dengan kandungan alkoholnya. Harganya amat bervariasi. Pagi hari S$20, menjelang siang diturunkan menjadi S$10. Sementara durian juru kunci alias tanpa nama dihargai 3 kotak lima belas ringgit. Tapi masih ditanggung manis dan pulen. Orang Malaysia menyebut satu dollar adalah satu ringgit padahal saya terbiasa diberi pelajaran satu ringgit adalah dua setengah rupiah.

Di tanah air, entah CarreFour, entah Giant apalagi supermarket lain – pengalaman membeli durian beda tipis dengan Pilkada. Berharap cemas mendapatkan yang lebih baik, dibela-belain para pendukung tawuran berdarah-darah. Hasilnya setali tiga uang. Sarana jalanan tetap hancur, sarana ekonomi sami mawon.

Maka, saat di Singapura, nafsu saya akan durian sudah sampai ke leher hampir naik ubun-ubun. Apalagi di blogger ditulis durian menurunkan kadar kolesterol anda.

Saat membeli cuma satu styrofoam sebagai obat penawar rindu, anehnya sang penjual berbisik, sekalipun hari belum terlalu malam, kalau beli 9 kotak harganya dimurahkan dari $90 menjadi $40. Tetapi kami menawar 12 kotak seharga $50 dan ternyata tidak diberikan.

Maka malam itu sembilan kotak durian kami santap bersama anak-anak di rumah (kontrakan).

Luar biasa, baru dua kotak semua sudah mundur menggigil menghadapi si kuning tembaga nan semekel, lembut memabukkan bagaikan anggur durian. Akhirnya diperlukan waktu seminggu untuk menghabiskan durian tersebut.

Saya tidak habis pikir bagaimana penjual durian bercincai-cincai dengan pihak supermarket dalam menentukan harga. Tapi Itulah uniknya Singapura.

Pengalaman enak mengembalikan barang di Ikea


Coba saja anda melihat pameran mebel, ranjang, barang rumah tangga lainnya. Dijamin selalu ada tulisan “ngenes” – Jangan Pegang, Jangan di duduki bertebaran dimana-mana. Tapi di Ikea malahan nyentrik sebab ranjang, mebel seperti kursi, meja malahan disuruh diduduki sepuasnya. Hopo tumon.Selama ini kita sudah seperti tanpa reserve menerima bon pembelian barang dengan catatan kaki berhurup sans serif 7point “barang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan..” – dan tulisan ini bakalan sebesar Dinosaurus tatkala apesnya anda harus mengembalikan ke pedagang. Belum lagi kalau penjual setengah membentak “baca syarat tertera pada bon ini nggak?

Lho kok IKEA malahan melawan arus dengan menulis poster ramah “Its Okey You Change Your Mind” lantas ada simbol jantung dengan dua saluran. Lalu spesial counter Penukaran dan Pengembalian barang dipajang setelah lantai pembayaran. Niat apa bangget sih.

Masuk ruang pamer Ikea kita disuguhi pemandangan yang sekaligus mendidik kita. Mereka menyediakan pensil pendek, meteran dan kertas. Anda tinggal menulis nama barangnya, lalu serahkan kepada penjaga untuk diambilkan dari gudang (bukan gudang milik tetangga).

Yang membuat saya ck..ck..ck adalah anak-anak, ibu, teteh, kakak, oom, tante mengambil pensil, meteran seperlunya saja tidak perlu memboyong benda tersebut mumpung gratis ke rumah. Selesai dipakai, dengan tertib peralatan tersebut dikembalikan. Apalagi ada poster menyebut, gunakan benda ini seperlunya, bantulah kami melestarikan lingkungan hidup.

Ini rupanya menjelaskan mengapa hanya di bandara Sukarno Hatta, yang namanya mencari sekeping kartu embarkasi sama sulitnya mencari emas. Sementara Publik Singapura sudah terdidik untuk tidak ber-aji mumpung. Mumpung gratis, mumpung tersedia.

Aha sebuah kran air imut-imut menarik perhatian saya. Apalagi ingat dirumah punya kran wastafel yang bocor. Kraan ini saya temukan pada sebuah design kamar mengandai anda punya ruang 10 meter persegi tapi kepingin ranjang, meja belajar, kulkas, Tv semua tumplek bleg disitu. Ikea mampu menawarkan solusi sehingga anda seperti hidup di Sputnik ruang angkasa.

Cuma repotnya barang yang dipajang Ikea banyak masih terbungkus dengan kata dari Swedia seperti Lagan – bahkan ditempat lain saya melihat nama peralatan dapur SILIT (maaf). Alasannya “No Body Like To Buy Open Box” – jadi kalau tidak jelas tanyakan kepada staf kami. Kata Ikea.

Merasa pakar soal keran ledeng, gengsi kami tidak mengijinkan untuk bertanya ini-ono-onu kepada pegawai. Apalagi tidak ada penjaga disekitar rak. Zonder banyak cakap, kami tulis merek dagang kran tersebut “LAGAN” lalu diambil di counter lain dengan harga sekitar 25 dollar (norak nggak sih harga pakai disebut).

Jrenggggg! baru kaget seperti anak sekolah disuruh mengarang oleh bu Guru, sampai di rumah ternyata kran ini diperuntukkan untuk air panas dan air dingin. Ada dua pipa tembaga kecil sehingga mempersulit pemasangan. Bagaimana menyambung pipa setengah inci ke pipa yang jauh lebih kecil.

Apa boleh buat, keesokan harinya kami harus berSMRT (naik bis) ke kawasan IKEA Alexandra. Bis seperti latah ikutan berposter “mau hidup berwawasan hijau, naik bis saja..” – Di tengah perjalanan naik seorang Mr. Chang, ternyata seorang kontrolir karcis. Maka tanpa ampun seorang nenek yang menggunakan kartu pelajar langsung didenda ditempat.

Seharusnya sesampai di TKP saya cabut kupon antrean. Namun apa salahnya pura-pura “beydon” dan bertanya bagaimana cara mengembalikan barang. Petugas konter tanpa cingong langsung mengambil kraan dan bertanya ramah.

Padahal pengalaman melayani toko besi GajahSora, kalau ada orang mengembalikan barang, sebisanya kita usahakan agar barang yang sudah dibeli jangan dipulangkan pada orang tuaku.

Mau dikasih voucher belanja, atau cash?” – rasanya gengsi juga kalau terima cash sehingga saya menjawab ragu, “voucher will do..”

Akhir cerita, voucher malahan ditukar penggorengan Tepal. Saya tahu di rumah sudah menunpuk barang beginian. Tapi setidaknya pulang dari menukar barang di Ikea saya seperti anak sekolah diberi pengumuman “Ujian Mengarang dibatalkan, kalian boleh pulang saja…”

Menikmati siaran RCTI dan SCTV di Singapura


Di luar dugaan selama kami di Singapura bisa menangkap beberapa siaran televisi swasta seperti RCTI dan SCTV dengan antene aerial biasa dan sama baiknya dengan kami di Bekasi.

Maka selama berada di kawasan Sembawang acara semacam Indonesian Idol dan SCTV – Fitri – tetap digeber habis.

Kalau diperhatikan nampaknya antene biasa dipakai di Indonesia yaitu PF Goceng yang dipopulerkan oleh Mandra seperti belum populer disini. Mereka menggunakan antene seperti di Indonesia beberapa tahun silam.

Saya tertarik pada “mounting holder” yang dilekatkan pada wuwungan (bumbungan) rumah, dibantu dengan kawat sling kecil. Sayangnya sampai sekarang di daerah saya beberapa toko “hardware” memperlihatkan pandangan bengong kalau ditanya antene holder.

I dont want your money – Tisu Paipel


Di sebuah blog seseorang pernah menulis keluhan pengunjung di sebuah pusat jajan Amoy Singapura. Mereka kerap didatangi seorang gadis penjaja kertas tisu yang “maksa” dan tidak akan beranjak pergi sebelum kita membeli tisunya.

Perbuatan yang mengganggu kenyamanan pengunjung ini lalu dilaporkan.

Di jalan-jalan besar Singapura seperti Orchard Road lebih khusus lagi d idepan Mall Takashimaya selain dijumpai penjual Es Potong kegemaran saya, anda akan menjumpai para penjual tissue sedollar tiga yang umumnya dijual oleh para penderita cacat seperti buta, tuna wicara.

Saya selalu kesulitan mendengar teriakan mereka “tisu paipel, tisu paipel, ” mereka kecuali melihat tiga bungkus tipis kertas tisu yang diacung-acungkan kepada para pejalan kaki.

Kalau anda memberikan sejumlah uang maka biasanya mereka akan berseru gembira sambil mengucapkan “thank you, god bless you..

Kadang ada beberapa pejalan kaki yang iba hati dengan memberikan sejumlah uang seperti lima atau sepuluh dollar tanpa mengambil tisu yang ditawarkan.

Di luar dugaan orang-orang ini akan tersinggung sehingga terlontar kata-kata “I dont want your money..” – jadi manakala anda ingin berbuat baik terhadap mereka, ambilah tisunya dan berikan uang serelanya dengan demikian mereka tidak merasa menjadi pengemis atau mereka berhutang karma terhadap anda.

Namun ada juga para bekas anak wayang (Cina) – yang karena sepi yang “menanggap” sehingga terpaksa mencari nafkah dengan menjual keahliannya bermain alat petik Cina sambil mempertontonkan foto saat mereka berjaya menjadi Raja Lenong.

Penjaja mainan spiderman yang bergelantungan seperti cecak mabuk, juga bisa dijumpai di Orchard Road

Meninggalkan rumah kontrakan bagian 2


Sebelum kontrakan lama di jalan Holland Avenue kami serahkan kepada pemiliknya, sudah barang inventaris dari pemilik lama diusahakan kembali seperti saat kami sewa. Misalnya kamar tamu sudah digebyur air, vim, pembersih lantai. Masih saja di komplin. Sial bener.

Peringatan kepada anak-anak Indonesia yang akan kos atau sewa kontrakan di Singapura untuk membaca kontrak dan melihat sendiri barang yang ditawarkan pemilik. Kalau anda melihat sebuah lemari es besar, pastikan misalnya dibalik lemari tidak ada tembok yang bocel atau berlobang.

Mesin Cuci melayani kami selama 4 tahun tanpa masalah. Kalau anda perhatikan, lantainya cukup putih bersih. Tetapi masih dipersoalkan oleh pemiliknya.

Kompor Gas – tidak bermasalah selama ini. Pemilik puas.

Kamar mandi dengan heaternya. Lantai antara kamar mandi dengan toilet saling berhubungan. Kalau kita bersih-bersih di toilet, sebagian air kotor masuk ke lantao kamar mandi dan sebaliknya. Pintu kamar mandi karena sering terkena air lama kelamaan muncul noda hitam jamur. Dan inilah yang dilihat oleh pemilik rumah dengan mengklaim sebagai kerusakan.

Toilet, perasaan kami tinggalkan dalam keadaan baik dan bersih. Saya sendiri yang menggosoknya dengan pelbagai bahan kimia. Namun ada bagian tegel yang memang entah kenapa sebagian seperti menghitam mungkin terkena cairan kimia tertentu. Pemilik rumah mengklaim bahwa tegel toiletnya dikembalikan dalam keadaan berubah.

Internet Wireless, melayani selama 4 tahun. Sayang provider StarHub mematok harga 2400 dollar untuk biaya instalasi di tempat baru (jalan Telang). Terpaksa kami harus “dadah” kepada Star Hub dan bermesaraan dengan Singtel yang hanya mematok 22 dollar per bulan dan nol dollar biaya instalasi.

Barang-barang yang tak terpakai seperti meja komputer, rak piring, lampu baca sekalipun masih berfungsi terpaksa harus direlakan demi tempat yang terbatas. Aduh kalau saja di Indonesia, bakalan dimanfaatkan.

Melihat kotak pos terakhir kalinya. Sekalian mengingatkan penghuni untuk segera melaporkan kepindahan ke kantor polisi.

Laporkan kepindahan ke kepolisian setempat. Jangan lupa bawa dokumen pendukung. Polisi biasanya menanyakan rekening tilpun anda di alamat yang baru. Jadi urus semua dokumen sebelum melaporkan kepindahan ke polisi.

Barang-barang faulty dalam rumah kontrakan [baru]


Anak saya dan teman-temannya ketika memasuki apartemen di Holland Vista, hanya manggut-manggut saja ketika acara serah terima kunci. Kendati melihat beberapa peralatan yang tidak berfungsi diam-diam mereka memperbaikinya. Namun ketika kami serah terimakakan kunci pada hari Minggu 4 May 2008, gantian sang pewaris main klaim lantai kotor, serep keramik yang disimpan di bawah bak cuci piring katanya menghitam , ,dinding kamar mandi berlumut, kran tidak seperti 4tahun lalu dan mereka menagih 600 dollar untuk sarana membersihkan lantai dan dinding.

Belajar dari kesalahan yang kerap menimpa mereka, kebetulan kami ada di Singapura. Setelah “cabut” dari Holland Avenue dan “tancap” di jalan Telang maka saat memasuki rumah Talang tak lupa setiap setiap sudut yang tidak sesuai dengan kontrak didokumentasikan agar pemilik tidak bisa mengelak dikemudian hari. Sebetulnya secara instink – kami tidak suka dikatakan rewel. Namun manusia tidak satu sama lain sulit diramalkan.

Sewa rumah 2000 dollar per bulan bukan jumlah kecil. Sikap kooperatif sering disalah artikan sebagai kelemahan. Pikir-pikir tidak heran mereka memiliki banyak rumah dan apartemen dimana-mana kalau bukan raja tega.

Kotak pos ternyata tidak memiliki kunci dan tidak terkunci

Tidak ada anak kunci pada pintu masuk. Hanya digunakan rantai dan kunci gembok kuningan ATS.

Tidak ada kunci belakang pada gerbang geser. Diganti oleh gembok “tricycle” 263

Mesin cuci semula Toshiba AW-A5550E ternyata gagal untuk spinning dan membuang air. Diganti oleh merek lain Fisher&Paykel DC09 pada akhir April 2008.

Toilet Cover tidak aseli terlihat dari warna penutup yang kekuningan. Kran disebelah kiri kami ganti dengan kraan shower terutama untuk keperluan membersihkan toilet.

Pemanas Air bekerja dengan baik tetapi kraan sudah “loncer” – alias goyah dari kedudukannya

Kunci Pagar belakang tidak memiliki anak kunci lantaran sudah berkarat diganti dengan gembok kuningan Trcicycle 264 yang juga berkarat. Terpaksa dibelikan kunci putih ABUS.

Kran Taman sudah loncer (oglek)

Dinding tembok yang pada ngelotok- terkelupas

Wastafel bocor dengan serep ubin dibawahnya. Masalah biasa, mudah diperbaiki namun namanya anak-anak kos, justru yang biasa ini yang diabaikan sehingga bertahun-tahun sang kebocoran mencadi malapetaka ketika reaksi kimia sabun, lemak, kotoran menempel erat-erat dengan ubin dan sulit dipulihkan.

  • TV Panasonic yang tidak memiliki remote dan hanya bisa diatur dari channel (-) bukan channel (+)
  • AC bekas dengan satu kompresor untuk tiga kamar. Kamar pertama didepan bahkan mengalami kebocoran dan tidak dingin sehingga harus dipanggil teknisi. Ketika kami datang, tiga AC kamar tidak memiliki remote control – mungkin penjual AC bekasnya belum mendapatkan seken-nya.

  • Dan inilah canggihnya. Begitu masuk halaman semua keuangan harus beres-res. Bonusnya barang pemilik rumah dionggokkan di halaman depan dan menyiita kamar makan. Dia minta waktu 2 bulan untuk mengambil barangnya, tapi nol minggu bagi kami memberesi rekeningnya.

Lemari dapur sudah mulai berlubang.

Tak berdaya melihat KDRT didepan mata


Tin.tin..” tiba-tiba mobil ini membunyikan klakson sambil lewat didepans aya yang sedang membungkus sampah dengan plastik hitam agar besok pagi bisa dengan mudah diangkut oleh truk sampah Singapura.

Setelah bermanuver sebentar mobil van tua dengan ban gundul semua ini diparkir didepan rumah kami.

Slerek,” pintu samping kendaraan dibuka oleh pengemudinya seorang lelaki kekar dengan berkaos dan celana pendek sampai dengkul.

Rupanya didalam kendaraan ada seorang bocah perempuan. Lalu sang pengemudi berbicara dalam bahasa Mandarin. Hanya sebentar sebab suara lelaki ini tiba-tiba meninggi dan ditingkahi suara “klepak” tangan mendarat di tubuh sang anak.

Terdengar teriakan dalam bahasa Mandarin, sekalipun tidak paham sama sekali suara ini lebih cenderung mengiba mohon ampun seorang bocah kesakitan.

Saya menghitung dalam hati “perlukan ikut campur dalam urusan ini..” -

Tapi saya baru baca seorang penumpang terlibat baku hantam dengan supir taxi karena sang penumpang yang Jurnalis memukul duluan, maka si pemukul terkena denda 1000 dollar.

Dua anak saya Lia dan Satrio belum pernah sekalipun saya tangani dengan kekerasan. Cukup hardikan mereka sudah mengerti. Sekalipun demikian ada juga tetangga menganalisa bahwa saya termasuk pelaku KDRT – sial bener.

Rupanya sang lelaki, mungkin ayah anak sadar ada yang memperhatikannya. Ia mendekati saya. Lalu dia mulai bertanya “baru pindah ya, dari mana?” – Dan gantian saya bertanya “yang kamu pukuli tadi anakmu?” – eh dia menjawab “iya?” tanpa rasa salah.

Lalu ia menjelaskan bahwa kedatangannya adalah mengambil anak-nya yang les “tuition” bahasa Inggris. Gantian dia tanya saya dari mana. Lalu aku bilang dari Hollanda Village, matanya masih belum memperlihatkan peta virtula koordinat kampung Belanda tersebut. Gampangnya, bilang saja saya dari jakarta – Indonesia. Tidak beberapa lama, anak-anak yang dijemputnya keluar rumah. Termasuk dua anak lelakinya.

Nampaknya adegan belum selesai. Kedua kakaknya yang dijemput dan langsung masuk mobil segera diburu oleh guru lesnya. Mereka berdua kelihatannya masih kena marah terlihat dari tangan sang guru perempuan mengancung dan diarahkan kepada mereka. Sang ayah dan ibu nampak tekun mendengarkan wejangan guru terhadap anak-anaknya.

Adiknya yang pertamakali dipukul oleh ayahnya dalam foto berambut panjang dan berbaju merah jambu hanya melihat dari belakang seorang perempuan mungkin ibunya.

Untung Lia sedikit banyak mengerti bahasa Mandarin. Katanya mereka bertiga tidak mengerjakan PR sehingga sang guru menjadi berang.

Menikmati layanan ala “speedy” Singapura dengan 159 ribu per bulan


Ketika mengikuti pindahan rumah anak saya di Singapura maka jauh-jauh hari saya “tegesin” – maksudnya bertanya dengan detail adakah di rumah kontrakan yang baru nantinya tersedia internet kabel “Star Hub” yang luar biasa cepatnya.

Terus terang kalau ke Singapura tugas saya bapaknya adalah kuli angkut, kuli sampah, kuli bersih-bersih kamar mandi merangkap IMF. Sementara ibunya kuli masak dan “secuil” belanja.

Namun anak saya menjawab bahwa rumah yang akan ditempatinya sebetulnya cuma “gudang” bagi seorang ibu yang hanya karena kepingin cucunya sekolah di SD favorit dikawasan yang kata orang termasuk elit.

Lalu untuk mengakali sistem rayonisasi ibu Peggy yang bukan melati Sukma membeli rumah kapasitas tiga kamar tidur, kamar mandi, kamar makan, taman, hanya untuk mendapatkan bukti pembayaran bahwa mereka tinggal di kawasan yang dekat dengan sekolah favorit tersebut.

Hari selanjutnya rumah tersebut tidak berpenghuni apalagi berinternet. Lalu Starhub yang di apartemen lama “maunya” dipindahkan ke rumah (kontrakan) baru. Celaka-sungguh celaka dikawasan ini kata Star Hub belum ada sambungan Internet Kabel mereka “ni mari” alias kemari. Dan muncullah biaya instalasi sebesar 2400 dollar plus+plus.

Pikir-punya pikir, putri saya mencoba pelayanan lain dari Sing Tel (ST) yang menggunakan saluran tilpun biasa macam pelayanan Speedy di tanah air. Nama dagang dari pelayanan ini adalah MIO. Yang menggembirakan penyedia meminjamkan modemnya sementara biaya operasi “unlimited, 3 MBPS” sebesar duapuluh dua dollar per bulan termasuk pajak, hampir mirip dengan 159 ribu rupiah.
Hari yang dinantikan, petugas ST datang untuk mengaktifkan saluran tilpun. Dalam hitungan menit, tilpun di rumah baru langsung kring. Sementara internet dijanjikan akan aktip seminggu kemudian.

Hari yang ditunggu datang. Tepat jam lima sore peralatan internet mulai dipasang. Mula-mula kami gunakan Local Area Network setelah berjalan dengan baik perlahan wireless diaktifkan.Kini lima laptop mengakses berbarengan dengan kecepatan 3MBPS dan unlimited. Kecepatan internet diuji coba dengan bermain online game, sampai sekarang sudah seminggu belum ada keluhan. Lalu saya mencoba mendownload program Linux terbaru Ubuntu 8.x sebesar 700mb dan dipulung hanya dalam waktu 50 menit pada jam sibuk. Program yang boros bandwidth macam YouTube dijalankan tanpa Anisa Bahar yaitu terpatah-patah goyangnya.

Tegasnya, internet MIO yang 159 ribuan berjalan kecepatan yang bisa dikurs dengan mengecupkan jempol dan telunjuk.

Sementara tilpunpun masih bisa digunakan untuk komunikasi suara. Kapan saya bisa menikmati pelayanan seperti ini di Bekasi sana?. Mimpi kali ye.