Anak Pandai Biasanya Suka Berbohong


Sebuah iklan di majalah Montreal cukup meyakinkan :”Apakah anak anda dapat membedakan antara bohong dengan jujur– Orang tua mana yang tidak menganggap anaknya jujur, kalaupun suka berbohong, mereka akan menyebutnya “cerdik, banyak akal..

Alkisah seorang ayah membawa anaknya, sebut saja, Nick berusia enam tahun ke lembaga yang memasang iklan bombastis tadi. Kepada para pelatih, sang ayah Steve mengatakan : “saya belum pernah melihat anak saya berbohong.

Tapi gagasan bahwa anak usia enam tahun sudah mulai belajar berkata tidak jujur dan membuatnya kecanduan untuk lebih meningkatkan kemampuan berbohong, membuat gundah hati ayah Steven, 31, tersebut.

Di lembaga ini, Nick kecil hanya bermain saja. Lawab bermainnya dua pengasuhyang baik hati. Namun sebuah kamera tersembunyi merekam gerakan mereka dan kedua lawan tandig tadi adalah mahasiswi doktorat yang sedang melakukan riset.

Nick sudah memenangkan sebuah mobilan, satu bungkus dinosaurus dan setiap orang memberinya tepukan atas keberhasilannya memenangkan permainan.

Lalu tibalah permainan yang disebut paradigma-godaan.

Kali ini Nick bermain dengan teman sebayanya Cindy. Seperti main petak umpet, Nick diminta membalikkan badannya menghadap tembok sementara Cindy membunyikan sesuatu yang harus ditebak oleh Nick.

Babak pertama suara sirine mobil polisi dan bayi menangis mudah saja ditebak oleh Nick yang memang pandai. Lantas Cindy membawa sebuah bola yang diletakkan diatas tumpukan kartu bekas mereka bermain. Kartu tadi diacak, lalu terdengarlah lagu Fur Elise.” Kali ini si cerdas Nick terperangah. Rupanya bingung menentukan hubungan suara dengan lagi. Saat yang bersamaan Cindy ingin ke toilet.

Hanya 13 detik Nick bertahan menghadap dinding, tidak lama kemudian ia mengintip benda apa yang berbunyi “tidak lazim..” – sebelum Nick sempat kembali ke posisi semula, Cindy kembali dari “toilet” – dan otomatis Nick menjawab “Bola Kaki..” – Tapi anak cerdas ini lalu ragu, apa hubungannya antara Fur Elise dengan suara Bola Kaki…

Cindy membenarkan tebakan Nick, tetapi gadis cilik tadi sempat bertanya “kamu tadi mengintip ya? dan dijawab cepat dan tegas Tentu tidak.. – saat berbohong, senyum lebar nampak jelas pada kamera yang tersembunyi. Anak ini sudah mendapatkan kepuasan dari berbohong.

Lalu Cindy bertanya bagaimana caranya Nick tahu tanpa melihat, maka sang kancil kecil mulai berfantasi bahwa suara music tadi mirip dengan suara bola yang biasa ia mainkan di kelas yaitu ketika bola ditendang.

Percobaan ini telah membuktikan bahwa anak-anak cenderung berbohong, dan mereka berkemampuan untuk mengembangkan kebohongannya.

Licikkah Nick kecil ini? – ternyata dari hasil penelitiana da 76% anak-anak cenderung berbohong, yaitu mengintip benda yang harus ditebak manakala ada kesempatan. Anak yang kedapatan melakukan kecurangan 95% akan membantah melakukannnya.

Padahal sebelum melakukan test tebak-tebakan, para instruktur mendongeng tentang Anak dan Lolongan Serigala yang berakhir dengan baik anak maupun domba dimakan serigala karena berbohong.

Buku dongeng lain yang dibacakan adalah George Washington dan Pohon Cherry, dimana George mengakui kesalahannya menebang pohon kesayangan ayahnya dengan pisau barunya. Lalu sang ayah mengatakan “George saya lebih suka kamu memotong pohon tersebut ketimbang kamu berbohong tapi ayah memiliki seribu pohon cherry..

Ternyata cerita orang berbohong akan mendapat hukuman, adalah cerita yang terlalu sering mereka dengar dan tidak ada pengaruhnya terhadap kepribadian mereka, sementara cerita nasihat ayah George Washington membuat sebagian kecil dari mereka menghentikan kebiasaan berkata dusta.

Lalu para psikolog menawarkan jalan keluar, bahwa menjadi orang tua sebaiknya meniru ayah George Washington. Jangan menghukum anak yang telah jujur mengakui kesalahannya.

Sayangnya banyak orang tua justru bangga ketika anaknya “berbohong putih,” maksudnya berbohong dengan cara yang tidak ngotot, mengalir seperti menceritakan sebuah kebenaran. Dan bohong adalah bohong, apapun alasan dan caranya. Anak boleh membawa kendaraan sekalipun usianya belum cukup dewasa, “asal jangan ketangkap polisi.” – adalah bentuk kebohongan putih.

Anak yang terlanjur nyaman berbohong, apalagi dengan ancaman hukuman entah badan atau bentakan, cenderung akan semakin meningkatkan kepandaian berbohongnya agar tidak ketangkap basah.

Sayang Pinokio yang hidungnya panjang kalau berbohong cuma ada didunia hayal.

Kenaikan harga


Bip..bip emailku berbunyi.”Mimbar, terlampir itinerary – daftar perjalanan dari Jakarta ke Perth menggunakan Garuda 730 langsung tanpa singgah di Denpasar. Hotel sudah di pesan di Emerald jalan Mount, semalam 144 dollar. Keesokan harinya Checkin jam 04:45 di loket 19 Perth Domestic menggunakan National Jet 1990 ke pulau Barrow – Chevron – tinggal tunjukkan kartu HUETT (sertifikasi lulus pelatihan peyelamatan di laut).”

Lalu email dengan lampiran jadwal perjalanan dan harga tiket ditutup dengan emocion orang tertawa.

Inilah SOP “Standar Operasi” menyuruh saya kembali bekerja ke Australia. Cukup melalui email sehingga internet menjadi benda untuk “cari makan”.

Ingatan saya pada gadis bule bertubuh sedikit lebih tinggi dari saya, centil, berambut pirang terurai sebahu. Dialah salah satu sekretaris yang masih bertahan belum pindah perusahaan. Namanya “Tori” – yang kadang kancing bajunya seperti kurang satu sehingga bagian dalamnya sering mengintip. Namun giliran spannya terlalu kekecilan satu nomor sehingga lebih tepat menjadi gadis penjaja kosmetik, pasti salah ketik.

Cuma ada nggak enaknya, di bagian PS, kok diberi tahu bahwa sewa kamar semalam 144 dollar. Ah paling juga salah tulis, maklum saja si Tori lebih lincah mengikir kuku ketimbang mengetik surat.

Lalu saya email kembali (HP mereka hanya untuk pribadi), “Tori.. kamu salah ketik harga ya

Naah, memang mulai Mei ada kenaikan 40 dollar… ” – email berbalas.

Sesampainya di Perth, betul saja Naho, sang Resepsioni, gadis sipit tetapi semlohei ketika saya protes mengapa sewa kamar naik apakah ada tambahan service. Perempuan berdarah Jepang namun jauh dari gambaran tokoh Novel Kembang Jepun ini menjawab: “Solly (sorry) SeLvice is the same only late (rate)  up…” – Naho bicara denga kamu genal satu jam saya leher saya bisa salah bantal.

Waduh biyung di Indonesia kalau ada kenaikan selalu dijanjikan Service ditingkatkan, nanti kalau perusahaan beruntung maka harga di normalisasikan. Janji saja sih.

Lho kok seperti kebetulan, Mei 2008 saya mengantar anakku Lia berbelanja di Fair Price – Ang Mo Kio Hub Singapura.

Beras Shong Hie – cap Bangau sosohan dari Siam yang sebelumnya bertengger tenang diangka 8 dollar per goni plastik isi lima kilogram, kini membuat mata terbelalak dengan 13 dollar per karung kecil. Konon beras ini sudah dipoles agar kelihatan berkilat dan tentu harum baunya, sementara beras “patah-patah” disingkirkan sebagai beras kelas dua.

Saat di Fair Price saya ngeces berat pada pemanas air mandi (heater) yang diobral dengan harga 99dollar. Nyaris saya gaet, namun ketika penjual berkata 3000-5000 watt konsumsi listriknya langsung sang heater seperti dialiri alistrik membuat saya cepat-cepat meletakkannya di jalan yangbenar

Sekalipun tertera pembayaran listrik di rumah dengan daya tercantum 3500 watt, tetapi nyatanya menyalakan ketel listrik 1000 watt saja semua peralatan rumah tangga lain harus dicabut.

Lantas macet kemana yang 2500 watt tersebut. Dan herannya selalu ribut ingin menaikkan tarif dasar listrik juga. Oalah…Disini nggak enaknya.

Sementara di Singapura – mau pakai mesin cuci, mesin pemanas air, mesin setrika, mesin kopi, tiga buah AC, TV, Laptop, lampu penerangan, silahkan asal mampu bayar tagihan.

Ketika meliwati pom bensin dengan merek SPC (Singapore Petroleum Company), atau Esso – yang juga milik Fair Price saya lihat bensin oktan 85 senilai 2,1 dollar per liter mengisi sendiri. Di negeri kita dengan uang segitu kita sudah mendapatkan tiga liter, dilayani gadis cantik berbaju merah pakai topi cricket sambil berkata ramah “dari nol ya Pak.” – Kok ya masih enak di negeri sendiri kalau soal yang satu ini.

Sekembalinya dari Supermarket Paman Kim sang supir Taxi bercerita bahwa mereka mendapatkan bonus dari pemerintah yang sedang panen duit, masing-masing sebesar 800 dollar. Terang saja antrian ular naga bukan kepalang bisa disaksikan pada saat itu (saya tidak), namun uang segitu kemana saja bakal dibela-belain.

Seterusnya paman Kim cerita bahwa uang segitu hanya habis dibelikan PDA untuk anaknya.

Supir Singapura, seperti halnya beberapa kusir kuda besi di Australia, rata-rata orang berpendidikan akademis. Bahkan diantaranya pernah menduduki jabatan penting sebelum pensiun jadi ketika anaknya minta PDA mereka tidak serta merta mengatakan “husz belum bisa cari uang kok beli PDA”

Foto: wikipedia.org

Pasporku ada dua hijau semua warnanya


Bukan-bukan karena saya seperti di filem macam Bourne Identity yang tokohnya memiliki passport banyak lantas dar..der..dor menembak dan ditembaki orang sebatalion lecetpun tidak.

Pasalnya saat mengganti passport yang lama, Visa 457 Australiaku masih berlaku. Lantas diberi wejangan oleh para ahli bahwa sebaiknya jangan memindahkan visa yang cuma selembar “thil” tadi ke passpor baru dengar resiko dicuri. Apalagi beberapa tahun lalu pasportku didalam mobil pernah dibobol alap-alap dengan cara menebar paku menggaet tas orang.

Daripada..daripada (maksudnya daripada menanggung resiko ditanggung resiko penumpang), maka paspor lama ditandem dengan yang baru. Ketakutan teratasi.

Namun yang muncul, adalah pihak imigrasi setelah membuka paspor lama ada saja yang main tembak “kok visa kamu kadaluwarsa setahun lebih…?”

Yang bener aja Cing ! – gerutuku dalam hati.

Lalu buku baru dikebet kekanan, dikebet kekiri. Akhirnya lembar yang memiliki Visa masih valid saya tekuk dan ditempeli lidah kertas agar lebih mudah mencarinya disuatu saat.

Saya pikir persoalan sudah selesai…

Visa Bikin Yak Ubeng

Imigrasi di Perth bergumam, “passpor negeri sampeyan salah satu yang membuat saya Yak Ubeng karena sistemnya complicated..” – saya tidak ngeh apa yang membuatnya Yak Ubeng (mubeng-mubeng, Palembang, pusing tujuh kali jari-jari kali jari-jari kali empat pertujuh). Sebelumnya ada dua kali begitu mendarat di Perth saya dipanggil ke ruang khusus. Alasannya paspor saya di catat ulang, padahal saat di loket sudah ada mesin scanner yang memindai informasi mengenai saya.

Tapi selama kita dibekali dokumen lengkap, semua tidak menjadi masalah.

Kegunaan paspor lama adalah untuk bukti kepada pihak pajak Australia, misalnya, bahwa mereka menariki pajak orang yang tidak tinggal di Australia. Taunya bahwa kita bukan penduduk Australia tentu dari stempel yang blang blontheng di paspor kita.

Sebuah hutan di tengah kota


Gambar ini saya jepret di belakang rumah kontrakan anak-anak. Sebuah hutan, dipelihara sebagai paru-paru kota. Tidak ada yang “gatal tangan” ingin menjadikannya bermanfaat daripada lahan tidur lalu dibuat mall atau hunian lainnya.

Ketika saya memotret hutan ini. Tercium beberapa aroma tanaman segar, ada yang seperti pandan, atau wangi namun tidak jelas namanya. Herannya kadang saya malahan seperti mencium bau sperma (maaf). Tak jarang tercium sedikit pesing dari daunan yang membusuk. Luar biasaya karena proses secara alamiah hidung saya nyaman-nyaman saja menerimanya.

Beberapa ekor monyet kadang nampak bergelantungan. Namun sebaiknya jangan pernah mengganggu dan memberi makan kepada mahluk ini, kalau tidak dikemudian hari dia akan menagih “jatah preman..” – dan lebih parah lagi lalu mengobrak abrik isi rumah.

Beberapa orang pejalan kaki mulai mencurigai saya. Wajahku kata orang ke-Araban, menyandang ransel lalu memotret kiri kanan didalam hutan, jelas sikap yang aneh.

Lalu saya ingat tayangan di stasiun MRT, agar mencatat, berbisik-bisik, bilamana ada orang dengan perilaku tidak wajar. Nampaknya saya termasuk dalam katagori tersebut (barangkali).

Tahu diperhatikan orang, saya malahan pasang aksi menyusup diantara pagar belakang rumah sebelum masuk ke rumah kontrakan. Aha orang yang mencurigai saya nampak membuntuti pelan sambil mengintip-intip, namun karena saya tidak keluar rumah, mereka bosan dan meninggalkan saya.

Episode singkat mengingatkan saya bahwa warga Singapura begitu perduli pada lingkungan. Kalau tidak mungkin sudah lama kota tersebut diobrak-abrik pengacau.

Ngomong-ngomong soal Got


Sepintas mirik umpak-umpak sebuah candi kuno (tapi bukan).

Karena saya tinggal di kawasan Grogol yang dikelilingi got selalu penuh, mampat dan berbau sampai bingung dari mana memutus rantai “posko pembiakan nyamuk” ini karena sekalipun got dibersihkan , digelontor, diperbaiki namun saluran pembuangan di luar rumah sudah tidak bisa menampung lumpur dan sampah yang “kadang terbawa” kedalam parit serta selokan kita.

Lalu di jalan Kodau V Bekasi, orang membuat got cukup baik dan disemen. Namun setibanya di depan sebuah Sanggar Senam, got tersebut ditutup sehingga tidak bisa mengalir kemana-mana kecuali menjadi sanggar pembiakan nyamuk. Sampai nggak habis pikir, bagaimana mungkin orang-orang pintar di pemerintahan kita sanggup berfikir membuat got cukup seperti membuat liang lahat tapi panjang.

Ketika berada di Singapura, anak-anak pada terheran melihat bapaknya merenung melihat saluran air yang nampak kering dimusim hujan. Padahal saya sedang keheranan saat mereka mencuci pakaian atau piring, tak setetes airpun keluar dari saluran got tersebut.

Ternyata saluran air yang saya pelototi ini hanya difungsikan hanya kalau hujan tiba, dan dibuang ke got besar yang tersedia disisi jalan.

Got besar inipun berfungsi sebagai penyalur air hujan, bukan buangan rumah tangga atau pabrik. Kalau anda perhatikan (mau) dengan seksama, tidak nampak kotoran sampah kecuali dedaunan yang memang sengaja ditanam dipinggir jalan.

Sementara pembuangan dari rumah tangga, dibuat saluran tersendiri yang lebih dalam dan tidak nampak dari luar.

Salary Sacrifice


Di kantor kami sudah lama ada kebijakan yang memang didukung oleh pemerintah Australia yaitu memiliki Personal Laptop secara diangsur, tanpa bunga dan bebas pajak.

Kata-kata teramat sakti menggiurkan “bebas-pajak, laptop, tanpa bunga, pembayaran diangsur..” – kerja sama ini langsung disabet oleh DELL, sehingga seluruh jajaran kantor kami menggunakan Dell.

Ambil istilah jaman bapak Jendral Ali Murtopo dahulu, memasyarakatkan Laptop dan Melaptopkan masyarakat.

Teman-teman lain terutama India, Philippina yang memang sudah melek IT sejak dulu, menggenjot peraturan ini sampai-sampai ada yang baru masuk kerja sudah kredit LapTop. Teman-teman Indonesia termasuk saya bersikap bak perwakilan YLKI. Jangan boros, jangan beli yang tidak perlu.

Hampir empat tahun – saya bergeming dengan uluran tangan ini, pasalnya sekalipun tidak mentereng namun laptop inventaris kantor masih berfungsi sebatas email, selancar dan membuat laporan.

Apalagi sehebat dan semahal apapun sebuah alat elektronik semacam Laptop dalam beberapa bulan kedepan selalu saja sang pemilik merasa kurang ini dan kurang itu. Seperti juga dengan harga Laptop itu sendiri.

Hanya belakangan, DELL saya sudah disiksa dengan sambaran petir yang berakibat network card Laptop saya langsung tergantung layu sehingga saya banyak bergantung pada wireless. Lalu engsel layar mulai bergeser _ ini disebabkan aturan penerbangan, laptop harus masuk kedalam ruang bagasi helikopter – dan jelas tidak dijamin diperlakukan sebagaimana mestinya terhadap sebuah laptop. Misalnya saya sedang menulis blog dengan layar sikap sempurna, mendadak tanpa diperintah, layar sudah tertelentang gara-gara engeselnya mulai encok. Uwalah.

Maka bagaimana tidak “ngeces” pada koran terbitan 13 Mei 2008 ditawarkan Laptop bermerek dengan kemampuan masih nggegirisi saat ini dan harga dibawah 800 dollar. Padahal Laptop Dell umumnya tak bergeser dari 1500 dollar untuk kelas starter. Lupa sudah peribahasa yang saya agung-agungkan “bukan hebat laptopnya yang penting orang didepan laptopnya yang diperhitungkan…

Kali ini saya layangkan permohonan ke kantor disertai informasi barang yang saya inginkan. Pagi-pagi di Rig saya di tilpun oleh Paul Korona, manager saya. “You are unlucky” -katanya membuka pembicaraan.

Ternyata, saya telat beberapa jam sebelum peraturan tersebut dicabut. Pembelian laptop tetap harus dikenai pajak. Dan yang jelas tidak bisa beli kredit lagi.

Istilah “Salary Sacrifice” – (salar – garam, prajurit Romawi dahulu dibayar pakai Garam) bukan cuma untuk urusan kredit Laptop.

Anda bisa menentukan uang pensiun diluar standar perusahaan. Dan tiap bulan anda sudah bisa mengetahui sudah berapa banyak uang pensiun yang bakal didapat kelak.

Mungkin saja kebijaksanaan ini diambil gara-gara dampak naiknya harga BBM. Australia sudah memperkirakan akan banyak pengangguran. Di Singapura saya melihat antrian cukup panjang pemberian Sembako kepada warga yang sudah mulai puyeng akibat hantaman kenaikan harga.

Pemandangan ruang keberangkatan Bandara Internasional


Gara-gara datang kepagian ke Bandara maka saat memasuki ruang keberangkatan tak satupun petugas melakukan pengecekan tiket atau screening keamanan sebab alat yang biasanya dipasang pada koridor jalan sebelum memasuki ruang keberangkatan juga sudah disisihkan entah kapan.

Di gerbang E4 sempat ragu. Pasalnya tidak jarang di layar monitor dikatakan D4, ujuk-ujuk sudah pindah D2.

Tiba-tiba mata saya kepentok deretan kursi yang terbujur rapi, lantai mengkilat, berpendingin udara. Dan tanda larangan merokok nampak disana sini. Sepintas dipatuhi namun melihat tumpukan puntung yang disembunyikan dengan cerdiknya mungkin saja ada hari-hari tertentu ruangan pemberangkatan Internasional ini dijadikan ruang berasbak.

Lalu di kamar kecil saya lihat seorang Bule bertopi rimba sedang ngelepas-ngelepus (pas pus) merokok kretek. Karena dia tinggi besar, enak saja pantatnya disenderkan pada washtafel pojok kiri.

Sejak tanggul bandara dadal-duwel diterjang air laut, sekarang kursi dimanfaatkan sebagai tempat puntung rokok, maka tidak ada salahnya kita berucap Selamat Berkampanye Indonesia Visit 2008. – Ingin melihat Surga dimana aturan dilanggar – ya Indonesia ini tempatnya.